Liburan Bersama Ingatan tentang Mama

Ilustrasi berasal dari kppnserang.com

Apa kabar liburan akhir tahunnya, Guys? Kemanakah kalian menginjakkan sepasang kaki kalian? Apa saja yang kalian telah lakukan? Saya berharap, akhir tahun dapat kita lalui dengan penuh suka cita. Soalnya, menghadapi tanggal dua Januari selain butuh kesadaran, juga kelegowoan, lha wong baru saja tahun berganti, besoknya kita sudah mesti berkutat dengan pekerjaan lagi. Semangat!!

Apa? Kalian tidak merayakan tahun baru? Tidak mengapa. Bagi saya, itu pilihan masing-masing. Mau kalian merayakan tahun baru dengan petasan atau tidak, juga adalah pilihan kalian. Seperti saya yang senantiasa memilih tahun baru bersama keluarga, saat mama dan bapak masih ada. Setelah kepergian mereka, selain melalui pergantian tahun di rumah, sesekali saya berkumpul dengan para sahabat rasa saudara. Di luar dari kecenderungan pilihan kita saat tahun baru. Saya sangat berharap agar kita semua memperoleh banyak kebaikan di  tahun ini. Jodoh salah satunya :p

Nah, balik lagi dengan kegiatan mengisi liburan akhir tahun. Selain melakukan perjalanan, beberapa orang juga memilih menghabiskan liburan dengan berdiam diri di rumah mereka. Jangan salah, pilihan ini memungkinkan kalian itu memiliki me time, melakukan perawatan dan melepaskan penat. Bisa juga melahap buku-buku yang selama ini sudah menumpuk. Mengembangkan bakat terpendam seperti menjahit atau meningkatkan kemampuan memasak. Bisa pula menonton film melulu.

Berbeda dengan tahun sebelumnya. Akhir tahun ini saya awali dengan kegiatan bersih-bersih rumah, sebab kota kelahiran saya dilanda banjir kemarin. Hujan deras beberapa hari berturut-turut pada akhirnya membuat seisi rumah saya dan sebagian besar kota Makassar tergenang air. 

Saya bersyukur air di kompleks kami hanya sampai mata kaki, paling dalam hingga betis orang dewasa. Penghuni perumahan kami tidak perlu dievakuasi, dan kami masih sempat menjadikan banjir sebagai status di media sosial. Kami sedang memandang musibah (banjir) dengan sudut pandang berbeda. Bahwa banjir adalah basah dan melimpahnya air sampai-sampai kaki kalian terendam genangan, bisa pula kenangan. Cekrak-cekrek dan rekaman video seputar banjir berhamburan. 

Perilaku ini membuat saya mengingat perkataan seorang sahabat, menurutnya, kemampuan mengatur kesedihan menjadi guyonan atau menanggapinya secara bijak adalah salah satu bentuk kecerdasan. Tak semua orang memilikinya. Pun tak mudah memilikinya. Sebab, manusia memiliki kecenderungan (cenderung lho yah) memaknai musibah pada hal-hal pilu, sedih, atau negatif. Baperlah pokoknya. Pada akhirnya terjerembab, hingga nyaris gagal move on, #nahlho?

Sebenarnya, kala banjir terjadi, saya dan teman serumah memutuskan untuk menginap di rumah teman kami masing-masing, rumah yang aman dari serangan banjir. Kami tak benar-benar merasakan banjir kali ini. Bagi kami, banjir dan dingin adalah musuh bersama. Tidur jelas tak nyenyak karena suhu ruangan dingin. Mana lapar melulu, alamat diet saya terancam gagal. Keputusan kami sudah bulat. 

Selama masa pengungsian, dengan meminta bantuan salah seorang tetangga yang saya daulat sebagai informan. Saya dapat memantau kondisi banjir di kompleks kami. Terima kasih yah, Kak Nang. Informasinya sangat membantu. Sebab, sebelum kembali ke rumah guna menguras dan mengepel rumah.  Saya memutuskan untuk makan dan mengisi energi sebanyak mungkin. Menguras dan mengepel membutuhkan tidak sedikit tenaga. Apalagi melupakanmu, #eh.

Selesai dengan urusan banjir. Saya memutuskan untuk menikmati liburan dengan menonton film. Awalnya sih ingin membaca buku. Tetapi hasrat menonton sudah tak terbendung. Meluap-luap. Untungnya sebelum libur tiba, harddisk sudah saya isi beberapa film dan drama Korea. Aman terkendali. Tenteramlah liburan saya.

Ritual menonton saya awali dengan menuntasakan movie bergenre action. Cita-cita jadi agen rahasia semasa kecil sepertinya sedang muncul. Selepas itu, saya lantas menengok dua folder drama Korea, ada Go Back Couple dan The Package. Berhubung yang beri saya file drama ini menganjurkan menonton Go Back Couple, jadilah saya menurut saja. 

Berdasarkan informasi dari sahabat yang memberikan file drama ini, film ini penuh pesan tentang hidup dan cinta. Ya mungkin ada yang enek sama kisah cinta yang medayu-dayu. Tenang saja, drama ini tidak seperti itu kok. Melibatkan Jang Na Ra sebagai Ma Jin Joo dan Son Ho Joo sebagai Choi Ban Do. Kedua tokoh utama ini mempersembahkan alur kisah menarik. 

Film berepisode dua belas ini dimulai dengan adegan sepasang kekasih yang memutuskan menikah di usia sekitaran 24 tahunan. Dimana empat belas tahun kemudian, pasangan ini sepakat untuk mengakhiri biduk rumah tangganya. Mereka mengakhiri pernikahannya dengan menyimpan lukanya masing-masing. Singkat cerita, Choi Ban Do dan Ma Jin Joo terbangun di suatu pagi dan keduanya kembali muda belia. 

Meski bertema time traveller, kisahnya tidak sampai lintas zaman, apalagi terjadi perbedaan teknologi. Sepasang tokoh utama hanya kembali 18 tahun silam. Masa dimana keduanya memulai kehidupan asmara. Titik penting bagi keduanya. 

Drama ini di setiap episodenya menyampaikan anjuran bahwa film ini diperuntukkan bagi mereka yang berusia 15 tahun ke atas. Serta meminta kebijaksaan para penonton dalam menyaksikannya. Di Indonesia sendiri, kita mengenal jenis film ini sebagai drama remaja yang perlu pendampingan orang tua/wali.

Sejak episode saat keduanya kembali menjadi mahasiswa semester pertama. Saya justru dibuatnya menangis sejadi-jadinya. Bagian dimana sang tokoh utama perempuan bertemu dengan ibunya yang begitu dirindukannya selama ini. Tanpa komando, air mata saya menetes. 

Saya memahami kerinduan itu. Kerinduan seorang putri kepada mendiang ibunya. Kerinduan yang lahir dan semakin menganga justru ketika tahun demi tahun semakin bertambah. Ahhh, menangis saya setiap kali melihat sosok ibu dari Ma Jin Joo. 

Saya mungkin belum menjadi seorang ibu, istri, dan mantan istri seperti status sang tokoh utama perempuan. Tetapi, saya tahu bagaimana seorang anak kerap mencari dan mengingat ibunya saat melalui fase-fase terberat dalam hidupnya. Mau bagaimana lagi, sang anak hanya mampu mengais-ngais kenangan semasa hidup ibunya. Mengelus dadanya sendiri, menabahkan diri, dan melalui semuanya. Meski berat.

Sesekali menangis sesegukan serta menghentikan dramanya sesaat, saya kemudian dibawa pada ingatan semasa mama masih bersama saya dan adik. Sempat terpikir bahwa saya tidak akan merasa hidup ini sukar jika sekiranya mama masih ada. Kini segalanya tambah pilu dan susah. 

Yah, seandainya mama masih ada. Beliaulah orang pertama yang dengan tangan hangatnya memudahkan segala hal yang begitu rumit di kepala saya. Terkadang, ketika saya merasa sulit, mama dan saya kerap berdiskusi perihal masalah yang melanda saya. Pada beberapa kesempatan, saya malah lebih memilih dibelainya saja. Bahkan belaian beliau serasa mengangkat seluruh kesulitan saya seketika. 

Ah, Mama, engkau memang layak untuk senantiasa saya rindukan. Selalu, selamanya. 

Begitulah saya menutup tahun 2017 dengan berlinangan air mata. Sedih sekaligus bahagia. Saya bersyukur, rupanya ingatan saya tentang mama belum memudar, bahkan semakin jelas. Saya tak menyesal menyaksikan drama ini. Terima kasih, Cimma atas rekomendasinya.

Dan, 
Selamat tahun baru, Guys. Senantiasa sehat dan dianugerahkan kebaikan. Pun kesuksesan. Berbahagia selalu.



Tabik.

You Might Also Like

0 komentar