Pemuda yang Mengantarku ke Sekolah Saat Telat itu Telah Pergi

Sumber foto : Mhimi Nurhaeda

Aku pertama kali mengenalnya semasa SMA dulu. Bermula saat aku masih berada di kelas 2 SMA. Di suatu pagi, ketika aku beranjak tidur setelah pukul dua dini hari. Suara mama mulai dari lembut, setengah berteriak, sampai naik beberapa oktaflah yang membuatku akhirnya meninggalkan kasurku. Sayangnya, jam di dinding sudah menujukkan pukul tujuh tepat. Telat tak terelakkan.

Berburu dengan waktu, aku mandi sesegera mungkin. Lantas berpakaian dan meminta mama memberi uang jajan lebih karena aku sudah tak sempat lagi sarapan. Setelah mengenakan sepatu dan pamit. Aku berlari dari lorong rumah sampai ke jalan raya. Berdebar menunggu angkot yang rata-rata penuh di jam segitu. Sial!

Dalam keadaan menunggu dalam gelisah itu, seorang pemuda yang sedang mengendarai motor berhenti tepat di hadapanku. Dia tanpa basa-basi menawarkan jasanya untuk mengantarkanku ke sekolah. Katanya, sekolahku dan kampusnya satu arah. Aku menatapnya setengah curiga.

Aku butuh sepersekian dekit untuk memastikan siapa gerangan pemuda ini. Dan, yah, aku mengenalinya. Dia adalah seorang pemuda yang baru saja bergabung dengan remaja masjid kami sepekan lalu. Seorang mahasiswa tahun pertama di jurusan Teknik. Memang benar, kampusnya dan sekolahku searah.

Aku menerima tawarannya cepat. Di awal perjalanan kami, dia sempat menanyakan laju kendaraannya. Menanyakan apa kecepatan kendaraannya perlu dinaikkan atau tetap pada kecepatan standar. Tentu saja aku memintanya ngebut. Aku sudah cukup telat di hari itu. Dia pun menyanggupinya.

Sayangnya, baru setengah perjalanan. Mendadak gerimis. Dia kemudian menurunkan kecepatan motornya, mencoba menepi. Aku sontak memintanya agar tetap melanjutkan perjalanan. Toh, gerimis, lagi pula, mata pelajaran pertama adalah guru idolaku. Dia sempat protes, dia takut aku tiba di sekolah dalam keadaan basah lantas kemudian diserang flu atau demam. Aku hanya tertawa dan memberi tahu bahwa aku suka hujan. Bahwa aku sudah sangat telat. Bahwa tubuhku cukup akrab dengan rinai hujan. Bahwa aku sudah sangat telat. Bahwa aku sangat ingin segera bertemu guruku di sekolah. Bahwa aku sudah sangat telat. Dia hanya diam dan fokus berkendara.

Di hari itu, aku tiba di sekolah memang dalam keadaan cukup basah. Begitu aku tiba di sekolah, sembari mengutuk dirinya mengapa sampai lupa menyelipkan mantel hujan di motornya. Dia berulang kali meminta maaf karena membuatku basah. Aku dengan cepat berujar terima kasih, kemudian dengan setengah berlari, aku berteriak bahwa aku baik-baik saja meski basah. Aku mengulangi kalimat itu setidaknya tiga kali, berharap bahwa dia tak perlu membawa rasa bersalahnya ke kampus. Bantuannya sangat berguna hari itu. Sebab, bahkan dengan menggunakan angkot sekalipun, aku tak mungkin sampai di sekolah kurang dari dua puluh menit. Dan, itulah awal aku memulai persahabatanku dengannya, Ege.

Bertahun-tahun kami bersahabat, aku, kak Mhimi, kak Nanang, kak Acang, dan Ege. Sebelumnya, di awal tahun 2000-an, kami jalan bareng dengan Arini dan Arina. Persahabatan kami terbentuk karena kami semua awalnya anggota remaja masjid. Sama-sama gokil, suka menyanyi-nyanyi di pelataran masjid. Senang buku dan musik. Gemar mencoba hal konyol, sangat kooperatif dalam menjalankan program kerja organisasi, dan tak segan-segan tegas pada siapa saja, termasuk sahabat sendiri.

Seiring berjalannya waktu. Kami hanya tinggal berempat. Ada banyak peristiwa yang kami lalui. Kegembiraan karena kami sempat menyiar di salah satu radio, meski yang terjun total seterusnya hanya Ege. Aku dan kak Mhimi pernah berhasil tergabung dalam kumpulan cerita hukum di tahun 2009. Ege yang jadi Duta Baca. Kak Mhimi dan Ege yang tulisannya kerap muncul di koran. Rina jadi atlit. Rini dan impiannya yang tercapai satu demi satu. Kak Nanang yang fotonya selalu keren. Kak Acang yang pernah mentraktir kami menonton Hantu Jeruk Purut dengan syarat, mesti jalan dari rumah ke bioskop.

Selain masa bahagia. Kami juga melalui tahun-tahun terberat kami. Berita ketidaklulusan Rini, kepergian bapak lalu mamaku, Ege mendadak sakit parah, kepergian bapak kak Nanang, kepergian ibu Ege, masa-masa perjuangan kak Mhimi. Kami jatuh, hancur, menarik diri. Manusiawi bukan?

Kami sering cekcok. Berdebat. Kesal. Tetapi kemudian saling mencari lagi. Saling membantu. Selalu menguatkan. Bagiku, mereka adalah keluarga. Aku selalu bersyukur memiliki mereka. Pun memiliki beberapa sahabat yang sudah menjadi keluarga, entah kini di tempat kerja, sewaktu di kampus, dan semasa di sma.

Tetapi, saat kami mengetahui Ege sakit adalah masa memilukan. Sakit itu membuat Ege mesti beraktivitas di atas tempat tidur. Awalnya tidak separah itu. Kalau soal ikhtiar berobat, jangan ditanya. Sudah beberapa kali Ege keluar masuk rumah sakit. Entah rumah sakit di Makassar, maupun di kota kelahirannya, Pangkep. Bahkan pengobatan alternatif juga ditempuh.

Sungguh, semangat hidup Ege kerap menamparku. Tak pernah sekalipun aku dan sahabatku temui Ege mengeluh atau bersedih dengan kondisinya. Ege selalu tersenyum bahagia setiap berjumpa dengan kami. Senantiasa mendoakan kami sehat agar dapat bersua lagi. Ege terus menunjukkan kesabarannya berjuang melawan penyakitnya.

Berhubung kami di Makassar dan Ege di Pangkep. Jadinya kami berkomunikasi melalui media sosial atau pesan singkat. Meski tak rutin, setidaknya, kami berupaya untuk terus saling bertukar kabar dan sapa seluangnya kami. Pada saat kami lowong, kami berkunjung ke Pangkep. Biasanya saat hari ulang tahun Ege, atau setelah lebaran, sesekali kami berkunjung karena dirundung rindu.

Sekitar dua bulan lalu, aku mendapat kabar kalau Ege sedang berada di Kolaka untuk berobat. Sayangnya, sinyal di sana cukup menganggu komunikasi kami. Kami jadi jarang bertukar kabar. Untungnya, sepupu dan tante Ege adalah tetangga kami. Jadilah kami terkadang memperoleh kabar dari mereka tentang kondisi Ege. Sejauh ini, kami selalu mendapat kabar baik. Keadaan Ege semakin membaik.

Ege sendiri juga mengabariku tentang keadaannya yang kian membaik. Aku bahkan berjanji, setelah EGe kembali dari tanah seberang. Kami semua akan bersua lagi. Semua itu terjadi tepat sekiranya dua minggu lalu. Sayangnya, itu adalah pembicaraan terakhir kami.

Tepat dua puluh empat November, kabar kepergian Ege disampaikan kak Mhimi. Hal pertama yang terlintas tentu kesedihan. Aku, kak Mhimi, dan kak Acang saling berkomunikasi menanyakan kapan dan dimana Ege akan dikebumikan. Kami berupaya memberitahukan kedukaan itu kepada semua teman dan tetangga. Sebab, Ege adalah sahabat bagi banyak orang.

Pertanyaan kami terjawab. Salah seorang sepupu Ege memberitahukan wasiat Ege sebelum wafat. Ege rupanya meminta agar dimakamkan di Kolaka. Sungguh, kami sedih. Kami tak bisa mengantarnya ke peristirahatan terakhirnya. Tetapi kami tahu, sebagai orang yang tak suka merepotkan orang lain, wasiat Ege sudah kami duga sebelumnya.

Bagiku, selain kesedihan, jauh di lubuk hatiku, tersisip sebuah pengakuan dan penghormatan. Ege memang telah pergi, tapi Ege pergi setelah berjuang sekuat tenaga selama empat tahun lebih melawan penyakitnya.

Pemuda yang mengantarku ke sekolah saat telat itu telah pergi
Pergi dengan cara kestaria
Selamat jalan, Ege
Semoga kasih sayang Tuhan berlimpah padamu, pada kehidupan yang telah kau lalui dengan ketabahanmu
Dan, kepada teman-teman yang membaca tulisan ini dan mengenalnya
Mohon sudi memaafkan segala kekhilafan sahabat kami ini dan kami berharap doa-doa terbaik selalu mengalir untuk Ege

Tabik.

You Might Also Like

0 komentar