Primadona Pa’buka yang Tak Lekang oleh Waktu

Hidangan es pisang ijo, nikmat dan menyegarkan.
Sumber : www.hellofitriadi.blogspot.com

Sudahkah kamu berburu takjil hari ini? Jika belum, tiada mengapa. Sekadar informasi saja, sesungguhnya berburu takjil adalah satu dari sekian ihwal menyenangkan selama Ramadan.

Berburu takjil di tempat-tempat tertentu, yang pengunjungnya membeludak, misalnya memiliki faedah. Semacam arena tebar pesona, sekaligus menjaring barangkali ada yang bisa jadi tambatan hati. Eh…

Berbeda dengan yang saya lakukan, berburu takjil jarang saya lakukan. Di rumah, saya memiliki beberapa sepupu yang akan melaksanakan misi berburu takjil. Mereka ditugaskan membeli penganan, gorengan, atau es pisang ijo.

Lagi pula, Ibu saya terbiasa menyiapkan sendiri menu berbuka puasa di rumah. Jika sebatas berbuka dengan es buah, kolak —baik berbahan pisang, labu, maupun ubi, puding, bubur kacang hijau, atau es cendol— dapat dipastikan buatan Ibu yang kami nikmati.

Hingga kini, sekalipun telah tujuh tahun hidup tak bersama Ibu, saya tetap istikamah sesuai khitah yang sedari dulu saya lakukan, saya jarang berburu takjil. Mengapa? Jujur, saya cenderung takut pada jalanan yang memadat. Jalanan di waktu menjelang berbuka biasanya dihuni berderet mobil dan motor yang tak segan saling mengadu klakson —di Makassar bunyi klakson yang saling bersahutan adalah hal biasa— yang menjengkelkan tentunya bagi Anda yang belum pernah merasakannya.

Belum lagi jika tempat berburu takjil rupanya ramai atau diisi para pembeli yang berdesakan, meski ada juga yang menerapkan model antrian demi kelangsungan kesabaran dan berpuasa semua pihak.

Apalagi, saya sebenarnya gemar berbuka dengan es teh saja atau air putih. Untuk Ramadan kali ini, saya malah mengukuhkan diri untuk berbuka dengan diawali mengonsumsi 500 ml infused water. Barulah selepas Magrib —tergantung kondisi, saya makan nasi dan kawan-kawannya. Pokoknya tak ada yang manis-manis hari ini.

Sekalipun saya bukan anggota pemburu takjil garis keras. Saya tetap akan berbagi informasi tentang apa saja primadona menu takjil. Di sini kami biasanya menyebutnya pa’buka atau pabbuka di Makassar. Mengenai ragam menu pa’buka, saya menanyakannya pada seorang teman bernama Ilmi Suprianti Ilyas. Sebagai sarjana ekonomi yang kafah, Ilmi paham betul tentang hukum permintaan. Atas asas meningkatnya permintaan pembeli setiap bulan Ramadan. Disertai dengan implementasi ajaran agama, bahwa sesungguhnya setiap manusia telah ditentukan kadar rezekinya, sekalipun banyak saingan. Ibu muda beranak dua ini lalu terjun dalam barisan penjual hidangan berbuka sejak tahun 2014.

Saat saya bertanya pada Ilmi apa saja top three atau jawara barang jualannya yang kerap laris. Sebelum menjawabnya, Ilmi menyampaikan bahwa makanan yang dimaksudnya laku adalah makanan yang memiliki permintaan mencapai dua ratus buah per harinya, dengan catatan selalu terjual habis. Kalau pun ada hari dimana menu itu bersisa, sangat sedikit jumlahnya. Jenis makanan ini bahkan tak memerdulikan musim yang datang, tutur Ilmi. Kemarau atau hujan sekalipun, makanan ini tetap dicari pengunjung.

Awalnya, saya menebak pasti es buah, kolak atau dalam bahasa Makassar disebut pallu golla, es cendol, dan es pisang ijo menjadi primadona jualannya. Tetapi rupanya saya keliru. Ah, masa sih? Saya mengulang pertanyaan saya.

Menurut Ilmi, es pisang ijo dan es buah memang banyak disukai para pemburu pa’buka. Akan tetapi, terkadang menimbulkan kegalauan ke para penjual. Sebab, baik es pisang ijo maupun es buah, kadang ludes terjual, kadang masih tersisa. Masalahnya, frekuensi hari dimana hidangan tersebut tersisa lebih banyak ketimbang hari terjual habis. Terlampau sering.

Saya kemudian mendesak apakah top three jualannya. Rupanya, tim gorengan semacam jalangkote (beberapa orang menyamakannya dengan pastel), panada, dan bakwan adalah idaman para pemburu pa’buka. Barulah disusul oleh es pisang ijo.

Lokasi berjualan Ilmi di jalan Abdullah Daeng Sirua. Posisi strategis, mengingat jalan ini menyambung ke daerah Antang dan Perintis Kemerdekaan. Belum lagi menembus Batua, Pengayoman, dan Pettarani. Para pembelinya adalah orang yang lalu-lalang di jalanan ini, hingga kadang kerap macet terutama di saat menjelang waktu berbuka puasa.

Sejak tahun lalu, Ilmi mengubah moda penjualannya. Tak hanya menyasar hidangan pa’buka, Ilmi juga menjual bolu, cheese cake, brownies, bakso, kue kering, dan masakan lainnya dengan memanfaatkan media sosial dan transportasi online. Pembelinya kebanyakan orang-orang yang sejauh ini sudah mengetahui kemampuan memasak Ilmi, juga teman dari temannya.

Selain bertanya ke Ilmi, saya juga menjumpai narasumber kedua saya, Rohani Muhammad. Dengan menyodorkan pertanyaan serupa, ibu berusia 37 tahun ini rupanya telah memulai berjualan sejak tahun 2010.

Hidangan pa’buka yang dijualnya sangat bervariasi. Es buah beraneka rasa, es pisang ijo, kue dadar santan, kue dadar kelapa, donat, jalangkote, panada, bakwan, pisang goreng, dan pallu golla pisang, jelas Ani —nama sapaan Rohani.

Sebelum menanyakan jawara jualannya, saya bertanya kisaran bahan baku yang dibutuhkan Ani untuk berjualan setiap harinya. “Untuk es pisang ijo, saya membutuhkan tiga sisir pisang. Sedangkan bakwan, setiap harinya saya membuat 2 – 2,5 kg. Dan es buah sekitar 100 gelas”.

Syahdan, Ani yang mempekerjakan lima orang pegawai selama Ramadan menerangkan apa saja jawara jualannya; es buah dengan beragam rasa, atau campuran buah sangat diminati pembelinya. Es buah kerap ludes setiap harinya. Disusul es pisang ijo. Meski sesekali tersisa lima sampai enam porsi es pisang ijo. Dengan posisi paling bontot, adalah bakwan.

Terakhir, sebelum menutup perbincangan kami, Ani menjelaskan bahwa hari-hari menjelang Idul Fitri tiba, dagangannya semakin laris. Menurutnya, kebanyakan penjual pa’buka memilih menutup dagangannya karena mereka mudik.

Adanya kecenderungan orang-orang —pembeli hidangan pa’buka— yang mulai diserang rasa malas menyiapkan hidangan pa’buka di rumah mereka. Atau, kesibukan para ibu yang fokus membuat kue lebaran, belum lagi mesti memikirkan banyak hal guna menyongsong lebaran. Sehingga membeli hidangan pa’buka menjadi solusi.

Sebenarnya, selain hidangan pa’buka yang telah disebutkan, di Makassar masih memiliki pallu butung, pisang epe’, sanggara balanda, barongko, cucur bayao, dan masih banyak lagi. Betul-betul menggugah selera.

Hidangan pa’buka ini rasanya tak pernah lekang oleh waktu, bahkan dengan beraneka menu pa’buka baru akhir-akhir ini. Tak percaya? Baiklah, saya tak bisa memaksakan, akan tetapi, jika kamu berkesempatan merasakan berpuasa di Makassar, cobalah berburu pa’buka. Tak sukar menemukan pedagang hidangan pa’buka, mereka bertebaran di berbagai titik di kota Makassar. Atau, cobalah sekali saja berbuka di Anjungan Pantai Losari. Ngabuburit sambil menikmati sepotong senja.


Dimuat di minumkopi.com tanggal 10 Juni 2017

You Might Also Like

0 komentar