Kamu Kapan Nikah? Yah, Menurut Ngana?

Ilustrasi berasal dari tirto.id


Cinta adalah kemewahan terakhir bagi saya. Saya tidak kapok kok. Saya juga sudah kelar sama ihwal gagal move on. Hanya mungkin, persoalan asmara menjadi kian pelik dengan berbagai kondisi saya saat ini. Untuk sementara, saya fokus menyelamatkan dunia saja. Gabung ma Wonder Woman. Saya harap, ini dapat menjawab pertanyaan kapan nikah yang kelak kalian lontarkan kala lebaran tiba. Tabik.

Tepat delapan hari sebelum lebaran Idulfitri, saya menulis sebuah status di media sosial. Apakah isi status saya tersebut? Sudah, tidak usah susah mengunjungi akun saya. Paragraf pertama dari tulisan ini, adalah status yang saya maksud.

Dari status yang saya buat itu. Berbagai macam reaksi saya peroleh. Satu di antara menyarankan saya menjawab seperti ini saat ditanya kapan nikah, “Saya berkembang biak dengan cara membelah diri. Puas.” Hahahaha. Tetapi, ada juga yang ngeyel tetap bertanya kapan nikah, mumpung belum lebaran, sanggahnya. 

Setidaknya, sebagian besar - menurut asumsi saya, para teman bermedia sosial ini menganggap saya takut dengan pertanyaan kapan nikah. Hmmm, bagaimana yah. Bukan gentar sebenarnya, saya lebih ke merasa risih saja. Semakin ke sini malahan saya makin abai saja dengan orang yang menanyakannya dan pertanyaan kapan nikah itu sendiri. Abai pada pertanyaan kapan nikah, tentu berbeda dengan abai pada pernikahan itu sendiri.

Pada beberapa orang, pertanyaan kapan nikah, terutaman bagi perempuan, erat kaitannya dengan usia. Dogma tentang masa subur atau rawannya kehamilan saat berusia kepala tiga ke atas, tak sekali dua kali saya dengar. Sering. Dari berbagai penjuru mata angin. Diwariskan turun temurun, lintas generasi. Lama-lama menjadi teror bagi perempuan - bagi beberapa perempuan. Beberapa perempuan ini kemudian memutuskan untuk segera menikah karena diserang faktor usia itu tadi. Jangan salah, beberapa lelaki juga rupanya memutuskan menikah karena menganggap usia sebagai momok. 

Kalau sudah bersinggungan dengan umur. Seketika saya mengingat seorang teman. Bagi saya, teman saya ini justru tak pernah menakuti saya dengan hantu usia. Tidak seperti beberapa lelaki yang saya temui. Dengan bekal informasi bahwa lelaki tak punya masa kedaluwarsanya, mereka doyan menakuti perempuan tentang usia produktif dan kawan-kawannya. Sekali waktu saya menanyakan pendapatnya tentang perempuan yang menikah di usia tak muda lagi. 

Menurutnya, tak ada yang salah dengan itu. Menikah yah harus karena cinta, bukan disebabkan desakan usia. Kecuali, yang menikah siap menjalani kehidupan barunya dengan segala kondisi, dan paham betul terhadap tindakan - menikah karena faktor usia - yang diputuskannya.

Saya sempat berkelakar beberapa saat, lalu mengemukakan alasan masa subur dan ihwal kehamilan. Teman saya ini memberikan respon menenangkan. Katanya, kalau yang kamu permasalahakan adalah faktor kesuburan, sekarang ini, menopause juga menyerang perempuan muda. 

Lanjutnya lagi, kalau kamu khawatir tak bisa memiliki anak kelak, di jaman dimana hidupmu berdampingan dengan teknologi, dunia medis, seperti program kehamilan juga merasakan dampak laju teknologi ini. Tapi, berbeda jika kita berbicara tentang takdir. Kondisi dimana memang seseorang tidak bisa memiliki anak, bahkan dengan berbagai upaya dan usaha.

Dia berhenti sejenak, kemudian berbicara lagi. Asal kamu perlu ketahui, tujuan menikah tak selamanya tentang memiliki anak, yah, tak melulu urusan ranjang. Ada beberapa pasangan suami istri yang memilih mengadopsi anak, bukan hanya karena mereka tak dikaruniani keturunan. Tetapi, ada yang memang memutuskan demikian. Mengenai mengapa mereka memilih seperti itu - mengadopsi anak, padahal mereka mampu untuk memiliki keturunan sendiri. Setiap orang punya alasannya masing-masing.  

Masih tentang kapan nikah. Seorang teman yang sudah menjalani kehidupan berumah tangga pernah berpesan kepada saya, lagi-lagi, betapa dia mengingatkan saya tentang pentingnya cinta sebagai dasar dalam sebuah rumah tangga. Sebab, ada begitu banyak jenis ujian yang bisa hadir dalam perjalanan pernikahan, persoalan keturunan salah satunya. Nah, dalam mengarungi semua itu, kamu butuh seseorang yang mengenalmu dan kamu kenal, tuturnya. 

Seorang lagi menasihati saya, bahwa sesungguhnya yang dibutuhkan tak hanya pasangan yang mencintaimu, tetapi juga seseorang yang mau menua dan tiada henti berproses dalam hiruk-pikuk kehidupan pernikahan. Harga matilah pokoknya. 

Kedua teman saya yang terakhir, sama-sama telah berumah tangga. Meski tetap mengingatkan saya arti penting membangun mahligai rumah tangga berasas cinta, kesiapan mental, dan finansial. Tetapi, keduanya tetap berharap saya segera bertemu pasangan hidup saya. Ingat umur, kata mereka. Asemmmmm. Pembukaannya sih oke punya, akhirnya, yah, tetep, hahaha.

Balik lagi ke ihwal kapan nikah. Sejauh ingatan saya, tak sekalipun saya berada dalam kondisi dibombardir pertanyaan kapan nikah dari 8 penjuru mata angin. Hanya beberapa, sekiranya 2 atau 3 penjuru mata angin. Itu pun kalau masih mau dibahas, sebagian besar para pelakunya didominasi oleh orang-orang yang tak memiliki hubungan darah dengan saya. Keluarga inti, keluarga dekat, juga sahabat, dan mereka yang akrab dengan saya. Mereka ini frekuensi bertanyanya minim. 

Kalaupun bertanya, mereka tipikal pejuang tangguh dan gagah berani. Mereka ini yah, kalau mau bertanya tidak main keroyokan macam kalian itu. Iya, kalian yang tiada pernah bosan menanyakan kapan nikah kepada saya dan orang-orang yang belum menikah di luar sana. Mendesak dan senantiasa memeringati. Pokoknya, saban bersemuka, perhatian semacam ini tiada alpa. 

Sedikit saran saja, cobalah kalian ubah bentuk perhatian kalian itu. Sedikit bervariasi begitu. Taktik yang digunakan jangan seragam. Tak usah mengkambinghitamkan usia melulu. Coba serang di titik yang lain. Ini sekadar saran lho yah. 

Kalau misalnya, kalian menemukan orang yang merespon pertanyaan kapan nikah kalian dengan, "Situ kapan mati? Kan jodoh dan meninggal sama-sama misteri. Hanya Tuhan yang mengetahui." Pasti nyesek ye kan.

Saya khawatir saja, seandainya kalian masih menggunakan pola yang sama. Bisa saja kalian akan menemukan lawan yang memilih jalan pikir seperti Socrates. 

Yah, tidak lucu saja kalau kalian bertanya kapan nikah. Lantas direspon macam begini. “Menikah? Buat apa? Menikah hanya untuk melatih kecapakan berdebat saja. Saya bisa melatih kemampuan saya itu dengan menghidupkan ruang-ruang diskusi, yang kini senantiasa terbuka di media sosial.”

You Might Also Like

0 komentar