Jika Ada yang Bertanya, Apa Film yang Paling Kamu Sukai?

Ilustrasi berasal dari www.google.co.id

Apa film yang paling kamu sukai? Apa itu film yang sampai-sampai tak beranjak dari ingatanmu. Bukan, ini bukan ihwal bersama siapa kamu menyaksikan film itu. Kali ini, film itu betul-betul kamu sukai, kesukaan yang berasal dari dirimu sendiri, tiada campur tangan kenangan mantan.

Sesuatu yang berasal dari dirimu? Apa itu? Sederhananya, bisa saja film itu kamu sukai karena kamu teringat akan sebuah masa atau kenangan. Sebuah sejarah di hidupmu terdahulu. Sesuatu yang mendadak bangkit dan memberontak, lantas meminta kamu untuk terus memeliharanya. Merawat kenangan itu. 

Ketika kamu terkenang pada kesulitan atau ketidakadilan yang rupanya berteman denganmu sewaktu kecil, misalnya. Atau, karena kenangan manis saat masih dalam buaian kasih bapak dan mama. Bisa juga semacam film romantis yang kemudian menginspirasimu dalam perkara asamara. Apa saja.

Apa film yang paling kamu sukai? Adakah film tersebut kamu sukai karena film itu mengusikmu. Mengusikmu dari berbagai penjuru. Sampai mampu membuat tertidurmu tiada lelap, mungkin. Atau sekadar merasa sesak di dada, sekalipun sekejap.

Film yang mengusikmu itu awalnya hanya mampu menerobos pori-porimu dahulu. Lalu, karena kamu lena, maka mulailah dia mencoba mengalir dalam darahmu. Hingga, kamu kelewat telat untuk menghentikan aksinya. Kini, film yang mengusikmu itu, tak hanya menyatu dalam darah dan sel-selmu, tetapi telah berhasil sampai mengusik isi kepalamu.

Semacam film yang tiba-tiba menamparmu. Memperlihatkan sesuatu yang selama ini tak secuilpun kamu pikirkan. Film yang memberitahukanmu bahwa kadang orang yang paling berani menusukmu adalah orang yang paling dekat dan lekat padamu. Film yang menyanyatmu pelan, pelan sekali, tetapi berulang.

Atau, film yang mengantarkanmu pada kenyataan, bahwa di dunia ini, di pelosok sana, masih ada orang yang perlu berjuang hanya demi sampai ke sekolah.  Cerita tentang anak yang di awal tumbuh kembangnya justru tuna kasih sayang dari orang tuanya. Kisah orang-orang yang bersedia menetap di garis perbatasan negara yang penduduk aslinya justru lebih bangga menuju ke pusat kota.

Apa film yang paling kamu sukai? Mungkinkah karena diperankan oleh sesosok pujaanmu? Dia yang berparas jatmika. Yang biasa kamu jadikan latar belakang gawai atau laptopmu. Dia yang secara berkala kamu tengok media sosialnya, lantas, kesemua yang kamu temukan di akunnya, kemudian menjadi bahan pembicaraanmu ke sesama para pemujanya. 

Bisa juga, pujaanmu itu kamu sukai tak sebatas perkara wajahnya. Kamu rupanya seperti orang kesurupan menyaksikan bagaimana dia berperan, memainkan tokoh tertentu. Bagaimana dia bertransformasi dari satu peran ke peran lainnya. Betapa aduhai caranya berakting.

Apa film yang paling kamu sukai? Jadi begini, jika kalian yang bertanya padaku, aku hanya mampu menjawab, aku sebenarnya menyukai semua jenis film, mencoba menyukai semua jenis film. Tak peduli genre atau asal negaranya. 

Aku sudah terbiasa menikmati film India semasa remaja, yang kala itu, beberapa teman justru memandang nista jenis film yang diisi tarian dan musik ini. 

Sedangkan semasa sekolah dasar, aku dan adik sudah terbiasa menyaksikan anime semacam Doraemon, Sailormoon, Detektif Conan, Dragon Ball, dan kawan-kawannya. Salah satu saluran televisi membuat kami betah berlama-lama di hadapan televisi saban Minggu.

Beranjak memasuki perkuliahan, barulah aku mulai menggemari film Korea dan Jepang. Kegemaranku pada film Korea dimulai setelah aku menonton Full House dan Princess Hour.  Disusul Cina dan Thailand. Beberapa teman memandang aku telat menyukai film Korea dan Jepang. 

Mau bagaimana lagi. Bagiku, perkara selera adalah harga mati. Tak ada proses tawar-menawar. Kamu, misalnya, tak bisa memaksa orang lain menyenangi warna kesukaanku, termasuk pada klub sepakbola andalanmu, atau jenis kopi favoritmu.  

O iya, kembali ke ihwal perfilman. Beberapa film yang kusukai bukan hanya mengusikku, tetapi mampu membuatku menantinya dengan sabar. Apakah menanti mengindikasikan kesukaan? Bisa saja, bukankah beberapa dari kita memilih hidup untuk menanti orang-orang terkasihnya, bukan?

Pada jenis film yang membuatku menanti ini, kebanyakan dihuni oleh film-film yang membuatku penasaran. Seperti Game of Throne atau Sense 8. Pada Iron Man atau The Avengers, aku lebih senang menunggu aksi-aksi apa saja yang bakal ditampilkan para heroes.

Untuk Serial Sherlock Holmes yang diperankan gemilang Benedict Cumberbacth, sejak tahun 2010, aku setia menantinya. Menunggu kehadirannya per dua tahun sekali. Yah, demi untuk menonton 3 film dalam setiap sesinya

Sedangkan untuk film tanah air. Film berjudul Identitas yang melibatkan Tio Pakusadewo dan Leoni Vitria adalah salah satu kesukaanku. Saat aku menontonnya, sesekali emosiku membuncah. Kesal dan sedih datang berganti. Sesuatu terasa sesak di dada dan membuat sudut mataku berair. 

Syahdan, Ada Apa dengan Cinta pertama juga kusukai. Bukan hanya karena ada sosok Nicholas Saputra, tetapi lebih pada, film ini muncul bertepatan kala saya di tingkat SMA. Semasalah yah. Hebohnya dapat. Didukung dengan original soundtrack keren ciptaan Melly Goeslow. Sampai hafal di luar kepala lagu-lagunya. Sudahlah, kami di masa itu klepek-klepek dibuatnya.  

Yah, begitulah kira-kira aku tentang film yang kusukai. Nah, kalau kamu?

You Might Also Like

0 komentar