Cita-citaku adalah menjadi orang kaya

Ilustrasi berasal dari kompasiana.com
Cita-cita kamu apa?

Ini adalah sepenggal pertanyaan yang begitu membosankan bagiku. Aku masih ingat. Betapa orang-orang sering mengajukannya kala aku masih di Taman Kanak-Kanak. Bapak dan ibu. Tante dan om. Nenek dan kakek. Juga sepupu yang usianya terlampau jauh di atasku. Di sekolah pun demikian. Bu guru kerap melontarkan deretan kata ini. Aku jenuh.

Lantas, aku pikir. Setelah Sekolah Dasar. Setelah menyaksikan betapa riangnya kakak sepupuku berlari-lari bersama teman kelasnya di lapangan sekolah. Aku melihatnya saat ibu dan nenek mengajakku melihat calon sekolah itu. Orang-orang sudah mulai tidak menyukai pertanyaan itu. Rupanya aku keliru. Bahkan, hari pertama ketika aku sah menjadi murid di sekolah dasar itu. Guruku menyebutkannya.

Dan, begitu seterunya. Kala aku mengenyam bangku sekolah menengah pertama, bahkan di saat remaja. Justru, ketika menginjak remaja. Kalimat ini semakin sering dirapalkan guru-guruku, serta bapak dan ibu.
***

Ketika itu. Usiaku baru saja memasuki angka kelima. Di saat itu pula, kedua orang tuaku, setelah berembuk dengan kakek dan nenek, memutuskan agar aku dimasukkan di taman kanak-kanak. Katanya, sudah tibalah masa dimana aku menuntut ilmu. Seketika aku gentar. Bagaimana nanti aku melalui hari tanpa bermain bersama teman-temanku?

Rupanya. Bapak dan ibu tetap memberi keluasan kepadaku. Setiap menjelang sore, aku diperkenankan bermain bersama teman sebayaku. Kami memainkan banyak hal. Mulai dari boneka, masak-masak, berakting jadi perjual dan pembeli, saling merias satu dengan yang lainnya, mengendarai sepeda, main petak umpet, mengerumuni ayam peliharaan adiknya kakekku yang berjejer di kandangnya masing-masing. Tanpa melewatkan adegan berkelahi dan menangis. Hidupku penuh warna.

Menjelang marib, ibu atau nenek akan meneriakkan namaku. Sebab, aku harus mandi sore dan melalui sepanjang malam di dalam rumah. Aktivitasku tidak membosankan sebenarnya. Aku serumah dengan beberapa orang sepupuku. Sehingga, tiap selesai makan malam. Kami selalu berkumpul bersama. 

Jika mereka semua tampak sibuk menuntaskan pekerjaan rumahnya. Di saat itu, aku suka mengganggui mereka. Namun, aku lebih sering ikut serius di samping mereka. DI saat mereka fokus mengerjakan tugas yang diberikan guru mereka. Aku justru sibuk menggambar atau mewarnai. Aktivitas mewarnai adalah hal yang paling aku sukai. Kemudian menggambar dan menari. Aku tidak begitu suka menyanyi, yang aku tahu hanyalah berteriak.

Kesenanganku pada aktivitas mewarnai ini semakin hari semakin dalam saja. Jika buku mewarnai yang dibelikan ibu sudah habis. Aku akan dengan manja atau merengek, mendesak agar ibu atau nenek segera membelikan buku mewarnai yang baru. Dengan syarat, buku mewarnai yang baru itu tidak boleh sama isinya dengan yang telah aku warnai sebelumnya.

Aku selalu merasa tertantang dengan gambar baru. Aku selalu merasa penasaran dengan motif baru yang ku lihat. Aku selalu mengeksplorasi gaya mewarnaiku. Ini belum termasuk dengan rasa penasaranku terhadap sensasi dan hasil dari setiap alat mewarnai yang digunakan.

 Aku sangat ingin tahu bagaimana menggunakan krayon, pensil warna, dan kuas. Bagaimana alat-alat ini memberi kesan berbeda meski gambar yang digunakan sama. Yah, aku pernah melakukannya. Aku meminta pamanku menggandakan sebuah gambar. Pada masing-masing gambar, aku coba menggunakan alat mewarnai yang berbeda. Ahhh, sungguh, itu salah satu pengalaman menyenankang dalam hidupku.

Melihat kegemaranku pada aktivitas mewarnai ini. Ibu dan bapak pada akhirnya mulai membuat aturan. Aku hanya boleh mewarnai satu lembar saja setiap harinya. Sebab, sebelumnya, aku sanggup melahap habis satu buku mewarnai dalam waktu seminggu saja.

Tetapi, aku tidak mempermasalahkannya. Asalnya masih diijinkan untuk terus mewarnai, perkara kuantitas itu tidak begitu memengaruhi. Yang menarik kemudian terjadi. Ibu mencoba mengajakku untuk mengeksplorasi kemampuanku lebih lagi. Peraturan ditambah. Aku hanya boleh menggunakan sepuluh warna saja per hari. Dimana per dua minggu, jumlahnya menyusut satu. Aku mesti putar kepala untuk menghasilkan warna baru. Memikirkan matang-matang warna yang akan aku pilih. Aku semakin gembira melakukannya.

Semua kesenanganku itu mendadak berhenti. Setelah setahun lebih aku tenggelam dalam kegembiraan yang aku rasa tak berakhir itu. Kakek dan nenekku memutuskan agar aku fokus belajar. Aku merasa sedih luar biasa. Aku merasa dipaksa untuk mengenali huruf dan angka. Aku merasa tersiksa setiap kali memegang pensil dan menuliskan huruf  atau angka itu. Aku benci menulis. Aku tak suka mengeja.

Menulis dan mengeja telah merenggut kecintaanku. Kata nenek, aku terlampau terlena dengan aktivitas mewarnai itu. Ujar kakek, anak-anak seusiaku sudah pandai mengeja nama orangtuanya dan menuliskannya. Aku bermohon pada bapak dan ibu. Sayangnya, bapak dan ibu lebih memilih di pihak nenek dan kakek. 

Semua alat mewarnaiku disita lalu diberikan kepada orang lain. Aku hanya disediakan alat tulis-menulis. Setiap malam bagiku begitu menyiksa. Aku belajar menulis dan mengeja saban hari. Tidak di sekolah, pun di rumah. Apa saja kertas yang berisi kata disodorkan padaku. Siapa saja orang yang ada meminta aku melafalkan nama mereka. Aku benci. Apa mereka, orang dewasa ini tak mampu mengeja nama mereka sendiri? Atau tidak dapat membaca kertas yang disodorkannya padaku itu?

Semua itu semakin keruh saat seorang guru bertanya padaku. Menanyakan cita-citaku. Jujur saja aku terlampau cinta dengan aktivitas mewarnai. Dan, di kepalaku, yang ada hanya sesuatu yang berkaitan dengan warna. 

"Rena ingin jadi pelukis?" tanya guruku. Aku mengiyakan saja. Responku ini sampai ke kakek dan nenek. Terdengar ke bapak dan ibu. Mereka semua kompak menodongku dengan reaksi, "Mau jadi apa kamu nanti, Rena. Pelukis itu tidak punya masa depan."

Semenjak hari itu. Aku benci ditanya tentang cita-citaku. Sebab, para orang dewasa ini tahunya hanya melarangku. Bukannya mengarahkanku. Aku ingat betapa aku menangis terisak selepas mendengar perkataan mereka. 

Aku pikir. Setelah hari itu, aku sudah tak memiliki cita-citaku. Mereka merenggutnya. Mereka menyesuaikan cita-citaku dengan kemauan mereka. Mereka gemar menyuntikkan profesi semacam dokter, aparat negara, dan PNS di telingaku. Katanya, itu cita-cita yang memiliki masa depan. Tapi aku kan tidak suka.

Aku masih ingat, bahkan sampai duduk di bangku SMA pun. Profesi semacam penulis, tukang foto, pembuat film, industri kreatif, dan segala sesuatu yang bukan PNS, dokter, aparat negara masih saja dianggap sebagai cita-cita yang tidak layak. Mengapa cita-cita begitu sempit, tidak bervariasi, dan monoton. Apa jadinya jika negara ini jika kebanyakan diisi dengan profesi yang layak itu? Apa para dokter tidak ingin sesekali membaca sebuah buku yang berkualitas? Atau, apa para aparat negara itu tidak suka menyaksikan sebuah film?

Ah, aku sebenarnya lebih nyaman dengan jawaban seorang teman sekolah dasarku. Setiap kali ditanya apa cita-citanya, dia selalu menjawab ingin jadi orang kaya. Lantas semua orang tertawa. Dalam hatiku, menjadi kaya itu bisa diperoleh dengan beragam cara. Cerdas juga temanku ini. Hingga akhirnya, aku memilih mengikutinya saja. Memelihara pemikiran ini sampai menyelesaikan SMA.

Sayangnya, ketika menjadi dewasa seperti saat ini. Menjadi kaya tidak spesifik bagiku.  Jujur saja, selepas kuliah, aku menerima pekerjaan yang pertama meminangku. Aku tak sempat mensortirnya, sebab aku hanya fokus ingin mengumpulkan pundi-pundi uang saja. Menuntaskan misi suciku, menjadi orang kaya. Nyatanya, aku juga belum kaya. 

Ada yang salah memang. Aku pernah mendengar kata para motivator ulung, bahwa kita hanya dapat meraih apapun itu, asal targetnya jelas. Jalan yang akan ditempuh telah ditentukan. Aku panik. Aku harus merencanakan ulang cita-cita menjadi kayaku ini. Menentukan jalan yang akan aku gunakan.
Kemudian, aku pusing, sebab rupanya kaya itu juga bertingkat-tingkat. Aku bisa kaya, tapi sekaligus bisa tidak kaya di hadapan orang yang lebih kaya dari padaku. Brengsek betul.

Seketika aku ingin memiliki mesin waktu. Rasa-rasanya aku ingin kembali ke masa kecilku. Aku ingin bersikeras mempertahankan kegemaranku itu. Sebab, di saat ini, hobi justru bisa jadi pekerjaan. Dan, aku juga tidak terjebak pada cita-cita menjadi kaya ini.
***

You Might Also Like

0 komentar