Kebohongan yang Dapat Diterima dan yang Tidak Saya Temui dari Orangtua Saya

Ilustrasi berasal dari kisahlucu-renungan.blogspot.co.id

Rasanya -setidaknya bagi saya, tidak ada kebohongan yang paling menguras emosi, selain kebohongan  yang dilakukan  orangtua kepada anaknya. Misalnya saja, mengaku sudah kenyang, padahal jumlah makanan tiada berbanding lurus dengan jumlah mulut yang akan menikmatinya. Rela keroncongan atas nama buah hati.

Mengatakan bahwa kondisinya sehat atau baik-baik saja, padahal penyakit sedang menggerogotinya, bahkan penyakit itu memakan dirinya pelan-pelan. Dilakukannya agar kekhawatiran anak reda.

Belum lagi saat mengatakan bahwa keadaan dompet masih cukup oke untuk membiayai sekolah anaknya, nyatanya, bisa jadi mereka sedang utang kanan kiri. Atau kerja siang malam, sampai melupakan kesehatan mereka sendiri.  

Beberapa orang dapat saja berpendapat, bahwa kesemua ihwal yang dilakukan orangtua adalah kewajibannya. Sesuatu yang memang sudah seharusnya dilakukan orangtua. Siapa suruh memiliki anak. Orangtua wajib memberikan makanan anaknya, itu pasti. Orangtua sudah seharusnya membiayai pendidikan anaknya, tentu, kita sepakat hal ini.  

Tapi tunggu dulu. Coba lihatlah, ada oknum orangtua yang tega melakukan tindakan aborsi -di luar dari faktor kesehatan/karena pertimbangan sesuatu dan lain hal, membuang bayi yang masih merah, dan menelantarkan anak-anaknya. 

Saya pikir, kewajiban yang kita maksud sebagai tanggung jawab yang mesti diterima orangtua karena memiliki anak, pada akhirnya kembali kepada orangtua sendiri. Kembali ke diri mereka, sebagai manusia yang memiliki kehendak bebas. Lantas, secara sadar menerima tanggung jawab itu dengan pelbagai konsekuensi, dan mengambil jalan untuk tumbuh dan berkembang bersama buah hatinya dengan penuh keikhlasan. Kita menyebutnya kasih sayang dari orangtua kepada anaknya.

Kembali pada kebohongan yang dilakukan para orangtua. Perasaan saya seketika tak karuan setiap kali seseorang berkisah tentang kebohongan orangtuanya. Diam-diam, hatinya saya teriris, dengan sesekali mata saya berkaca-kaca. 

Jujur saja, saya tidak sekalipun menertawakan kondisi tidak menyenangkan yang melatar belakangi kebohongan para orangtua ini -jika ceritanya berkaitan dengan kondisi finansial. Saya juga tidak berpura-pura sedih. Yang ada, saya tersentuh. Tentu, ini berbeda dengan kasihan.

Orangtua memang kerap melakukan pelbagai hal demi sang buah hati. Akan tetapi saya juga perlu menegaskan, betapa saya tidak mentolelir tindakan kekerasan, jika dilakukan hanya untuk membela anak.

Pada kebohongan yang dilakukan orangtua demi kasihnya pada anaknya, kita dapat memahaminya, memakluminya. Bahkan, bisa saja, kita sedang atau telah melakukannya, mungkin bukan untuk anak, bisa saja untuk sahabat atau orang-orang terkasih. Yah, kita diam-diam merawat kebohongan semacam ini.

Kebohongan yang dilakukan orangtua ini, biasanya diketahui sang anak ketika telah dewasa atau mungkin mapan. Orangtua mulai membongkar satu per satu lembar kesulitannya. Bukan, bukan untuk menuntut si anak membalasnya. Saya secara pribadi percaya, para orangtua golongan ini berkisah untuk memberi pelajaran kehidupan bagi sang anak yang kelak menjadi orangtua.

Lantas, bagaimana dengan orangtua saya? Apakah kedua orangtua saya gemar melakukan kehobongan macam di atas?

Jadi begini, lahir sebagai anak sulung membuat saya begitu dekat dengan mama. Walaupun mama dalam setiap kondisi, entah mengapa, selalu saja mengingat adik saya. Bayangkan saja, kalau saya pulang larut, mama jarang sekali menanyakan apa saya sudah makan atau belum. Berbeda kala adik saya yang tiba di rumah saat larut.

Saya sempat memprotes mama. Mama mengawali percakapannya dengan tersenyum. Lalu meluncurlah kata demi kata dari bibirnya, yang intinya, bahwa sebagai orangtua, mama sangat mengenali anaknya. 

Saya adalah anak mama yang sebenarnya tak perlu selalu diawasi, mengingat saya akan menjaga diri saya sendiri dan tahu apa yang mesti dilakukan terhadap segala kebutuhan diri saya. Kalau lapar, saya pasti makan, tanpa perlu diingatkan, tutur mama yakin. Kalau saya pulang larut, yah, berarti saya telah makan di luar, lanjut mama. Iya juga sih, lha saya ini gemar makan.

Pernah juga saya menunjukkan aksi protes karena mama jarang -jaraaaaaang banget, menghubungi saya kalau pulang kuliah telat. Padahal, beberapa teman kuliah saya kala itu, kerap ditelepon orangtuanya, beberapa kali malahan. Adik saya juga kalau telat pulang, mama selalu saja tak tidur sampai adik lelaki saya satu-satunya itu tiba dengan selamat di rumah. Atau meminta saya menanyakan posisi adik saya ke teman-temannya.

Saat saya menanyakannya, mama dengan santainya berkata bahwa saya adalah anaknya yang senantiasa mengabarinya jika akan telat pulang, menjelaskan secara detail alasannya, termasuk keterangan lokasi dan orang-orang yang saya temani. Iya sih. Anak baik lah pokoknya saya ini.

Tapi, kan, orangtua mereka tetap saja menelpon mereka, mendesak mereka segera pulang, tutur saya. Kalau kamu masih ada urusan, yah diselesaikan saja, mama pasti menelpon kok kalau merasa perlu, jawab mama. Sumpah, saya hampir kehabisan kata-kata mendengar respon mama.

Kalau misalnya saya bohong, kalau misalnya saya tidak ada kegiatan dan hanya keluyuran saja, mama tidak marahkah, tanya saya kemudian. Yah, kalau kamu bohong, itu berarti kamu tidak jujur, jawabnya. SUDAH. 

Yaa rabb, dengar jawaban macam begini, saya biasanya hanya sanggup menatap takjub mama. Apa ini yang membuat bapak jatuh cinta padanya?

Nah, untuk masalah kebohongan orangtua yang dibahas di awal, sebagai anak sulung, mama doyan berbagi kisah dengan saya. Saat kekuatan finansial keluarga kami merosot tajam -terjadi sejak kepergian bapak, mama hampir setiap saat selalu jujur dengan saya bagaimana cara kami hidup. Bahkan, saat bapak masih adapun, mama tak segan untuk berbagi cerita tentang apa yang sedang kami hadapi.

Biasanya, saya menolak mendengar semua itu. Tapi, kata mama, saya mesti mendengar hal itu, ini penting untuk membuka pandangan saya tentang hidup. Sebagai anak perempuan, mama selalu berkata bahwa kelak saya akan menjadi istri dan ibu bagi anak-anak saya. Menceritakan semua itu adalah jalan pembelajaran yang ditempuh mama. Tapi namanya juga anak muda labil, saya hanya mendengar cerita mama tanpa menyimpan hikmahnya. Sekarang baru menyesal. Sungguh.

Mama lebih memilih menyampaikan bahwa uang bulanan kami hanya cukup membuat kami makan daging sebulan sekali, ketimbang menyembunyikannya. Bukan, bukan berarti kebohongan orangtua yang dibahas di awal adalah hal keliru atau buruk. Bukan. 

Sekali lagi, saya tegaskan bahwa saya percaya setiap orangtua memilih jalannya masing-masing untuk mendidik dan mengajarkan anaknya tentang kehidupan, termasuk pola asuh yang ditempuhnya. Hanya saja, mama dan bapak saya lebih terbiasa menyampaikan beberapa hal kepada anak-anaknya. 

Mama sudah terbiasa menyampaikan bahwa lebaran kali ini tak ada baju baru buat saya, atau uang semester saya masih kurang, harga beras naik sementara gaji pensiunan bapak tetap konsisten, atau mama memiliki rezeki lebih sehingga mama menjahitkan saya sebuah baju baru. Yah, mama jujur dalam suka dan duka.

Akan tetapi, ada ihwal yang paling saya benci kalau mama berkata jujur. Asal tahu saja, mama saya ini, saking jujurnya, beliau tak ada beban saat mengatakan bahwa berat badan saya naik dengan lemak berlebihan di sisi tubuh atau memaparkan kemalasan saya tanpa ditutupi secuil pun ke teman-teman kuliah saat mereka bertamu di rumah.  

You Might Also Like

0 komentar