Pada Laku Blakanis Kita Percaya

Gambar koleksi pribadi
Blakanis. Sebuah novel karya Arswendo Atmowiloto yang ditelurkannya pada Juni tahun 2008. Saya termasuk orang yang telat membacanya. Yah, saya baru saja menyelesaikannya di pengujung April. Itu pun lebih karena saya dianjurkan beristirahat oleh dokter. Diagnosa dokter, saya kecapean. Jadilah membaca Blakanis menjadi pilihan paling tepat dalam membunuh waktu kala itu.

Walaupun nyatanya, saya tidak betul-betul dapat beristirahat. Sebab, saya masih harus melakukan pekerjaan rumah, semacam memasak, mencuci piring, menyapu, dan menyiram tanaman. Juga berjalan menuju toko untuk sekadar membeli sarapan. Resiko hidup sendiri. Wajib mandiri. Sakit sekalipun, yah saya mesti meladeni diri sendiri. 

Mungkin, sekiranya sakit saya parah, maka dirawat di rumah sakit tak bisa ditolak. Sekalipun saya benci setengah mati menginap di rumah sakit. Bukannya takut, saya pernah hampir tiga bulan merawat mama di rumah sakit. Saya justru tak senang kenangan merawat itu muncul tiba-tiba, terutama jika pasiennya perempuan tua. Mendadak, rindu pada mama kian menebal.

Syahdan, apa yang bisa saya tuliskan tentang Blakanisnya Arswendo? 
Novel yang berpokok pada nilai kejujuran ini, menampilkan sosok Ki Blaka, yang sebenarnya memiliki nama Wakiman. Seorang lelaki yang memiliki masa lalu yang kurang baik. Pernah melakukan tak sekali dua kesalahan dan kejahatan. Dengan sebab melarikan diri dari masalahnya inilah Ki Blaka akhirnya menetap di sebuah daerah.

Hunian yang ditempatinya kemudian menjadi ramai oleh ulah Ki Blaka sendiri. Baginya, siapa saja boleh berkumpul, asalkan mau bertutur jujur. Bertingkah jujur, entah karena seseorang bertanya akan sesuatu ihwal, lantas yang ditanya harus menjawab dengan jujur. 

Akan tetapi, jika yang ditanya tidak mau berkata jujur, boleh saja memilih untuk diam. Selain itu, kejujuran juga lahir dari pengakuan sendiri. Semacam pergolakan batin, atau rasa bersalah dengan daya dorong yang begitu kuat. Entahlah.

Berlaku jujur, dalam bahasa Jawa blaka, inilah yang melatarbelakangi sampai seorang Wakiman disebut dengan sapaan Ki Blaka. Bahkan huniannya yang semakin hari kian banyak saja pengunjungnya ini dinamai permukiman Blaka, atau yang kebanyakan orang sebut dengan desa Blaka. Sedangkan sebutan untuk para pengikut Ki Blaka disebut Blakanis.

Laku jujur yang Ki Blaka jalani, menarik perhatian Emak. Salah satu tokoh penting dalam novel ini. Emak adalah seorang biarawati yang hidup dalam pencarian dan memohon agar diberi petunjuk atas kegersangan jiwanya. Dalam penuh keputusasaan dan dihinggapi banyak pertanyaan. Pertemuan Emak dengan Ki Blaka pada suatu waktu, membuatnya memilih jalan mendampingi Ki Blaka sebagai jalan pengabdiannya pada Tuhan.

Lain lagi dengan seorang Maretor, mantan polisi, orang yang bertugas melindungi Ki Blaka, sekaligus menjadi orang nomor satu yang ingin membunuh Ki Blaka. Didasari latar belakang pekerjaannya di masa silam, Mar - sapaan akrabnya - selalu percaya bahwa membunuh adalah cara lain untuk menyelamatkan orang. Sekalipun seorang Blakanis yang taat, Mar tetap saja teguh pada keyakinannya itu.

Sedangkan Ai, seorang model serta istri pengusaha terkenal, Linggar Jimaro. Ai jugalah yang memulai ritual adus ai. Sebuah ritual membersihkan diri dengan masuk ke dalam sungai tanpa mengenakan apapun, setelah selesai melakukannya kemudian mengenakan selimut lorek. 

Ai diikisahkan sebagai sosok yang mapan, dia bahkan menyediakan fasilitas kesehatan di pemukiman Blaka, puskesmas putih ini tak terkhusus bagi Blakanis semata. Semua orang boleh mengunjungi puskesmas putih dan diberi pengobatan gratis. Inilah laku blaka yang ditempuh Ai, salah satunya.

Dalam novel ini, pembaca akan menemukan ada banyak kejujuran yang lahir. Sebuah kebutuhan yang disuarakan Arswendo. Ini dapat dilihat dari kejujuran yang ditekankan oleh Ki Blaka meluas, merasuki orang-orang tanpa memandang status sosialnya. 

Seorang mantan menteri bahkan mempertaruhkan sisa hidupnya agar bisa memperoleh kedamaian dengan berkata jujur. Murid-murid di sekolah yang mampu mengerjakan ujiannya tanpa menyontek. Para pedagang jujur dengan harga barangnya dan dimana diperoleh, termasuk berlaku jujur saat mengukur atau menimbang jualannya. Sekiranya ini adalah harapan yang disisipkan Arswendo pada negara ini.

Apakah Blaka Memang Mampu Melahirkan Kebahagiaan?
Kejujuran bak magnet yang mampu menarik kejujuran-kejujuran lainnya, mampu memikat orang-orang. Apa yang pada awalnya dilakukan kelompok kecil yang kerap bersama Ki Blaka, kemudian menarik perhatian orang banyak. Tak hanya tertarik semata, tetapi juga ambil bagian menjadi manusia yang jujur. 

Jamil Akamid, sebagai seorang mantan menteri. Memilih jalan blaka, lebih pada ingin meraih kedamaian. Begitu pun Ai, yang pada akhirnya memeroleh ketenangan dari rangkulan waktu dan kesibukan. Meski pada awal kedatangannya, Ai mengaku hidupnya tak aneh dan tiada lucu. 

Atau mungkin kisah penjual soto Blaka, membiarkan pelanggannya membayar sesuka hati, bahkan tak peduli jika ada pelanggan makan tetapi tak membayarnya. Mesti memperoleh pemasukan yang tak seberapa. Tapi penjual soto Blaka ini senantiasa merasa bahagia dan cukup dengan apa yang diterimanya. 

Semua ini hanyalah sebagian dari banyak kejujuran yang ditulis Aswendo di Blakanisnya.

Yang menjadi pertanyaan, apakah kejujuran pada dasarnya menjadi ihwal mendasar pada diri manusia? Adakah kejujuran sejatinya melahirkan kebahagiaan, sehingga menjadi sesuatu yang dikejar? Apakah berlaku jujur juga berkaitan dengan kesehatan atau memengaruhi organ tubuh tertentu? 

Asal tahu saja, berdasarkan sebuah studi yang dimuat pada nationalgeographic.com dan kompas.com mengungkapkan dalam satu minggu, rata-rata seseorang bisa mengucapkan 11 kebohongan, atau sekitar satu hingga dua kali dalam sehari. Bahkan untuk bohong putih, kebohongan yang dilakukan ketika memuji seseorang.

Masih berdasarkan hasil studi tersebut, penelitian yang dilakukan oleh Anita Kelly, profesor psikologi dari Notre Dame, diketahui bahwa berbohong atau tidak jujur rupanya memberi efek buruk bagi tubuh seseorang. Diantaranya dapat mengakibatkan stres, memicu kecemasan bahkan depresi.

Selain itu, berbohong juga disinyalir mampu memicu munculnya masalah kesehatan lainnya, seperti nyeri punggung, sakit kepala, depresi, pilek, daya tahan tubuh yang rendah, penghargaan diri yang rendah, kecanduan, peningkatan risiko kanker dan obesitas. Horor betul ini.

Kalau sudah begini, tiada hanya butuh memerhatikan gaya hidup sehat, berlaku jujur seperti apa yang dilakukan para Blakanis sudah saatnya dicoba. Minimal jujur mengakui kalau sampeyan yah masih gagal move on dari mantan terindah begitu….

Untuk pertanyaan tentang kaitan jujur dan kabahagiaan cukup sampeyan tanya pada diri sendiri. Ok.

Jadi, sudahkah kita bersikap blaka hari - pertama puasa - ini?

Judul : Blakanis  
Penulis:Arswendo Atmowiloto
Penerbit:Gramedia Pustaka Utama 
Tanggal terbit : Juni - 2008
Jumlah Halaman : 288
Dimensi (L x P) :135x200mm
Kategori : Remaja

You Might Also Like

1 komentar