MIWF dan Mengapa Saya Merasa Perlu Hadir

Sumber gambar KabarAustralia.com

Setelah mengajak beberapa orang. Akhirnya, hanya Risma seorang yang menemani saya berkunjung ke Benteng Roterdam. Saya akan mengevaluasi diri kemudian. Apakah ajakan saya kurang provokatif, atau memang saya kurang tepat sasaran mengajak orang - mereka yang saya ajak ini belum gemar pada kegiatan literasi.

Makassar International Writer Festival, bagi saya, adalah sebuah kegiatan yang selalu saya tunggu tiap tahun. Sekalipun baru dua tahun belakangan ini bisa menghadirinya. Tetapi, saya selalu penasaran dengan para penulis yang hadir. Begitu pula dengan ragam acaranya. Serta ihwal apa yang bisa saya bawa pulang. Urusan mencari gebetan di acara ini, bisa berbanding lurus skalanya dengan bersua mantan. Saya mengurungkan niat. 

Jika tahun lalu saya begitu menggebu-gebu bertemu dengan Eka Kurniawan dan utusan Mojok.co - situs yang kukut di 28 Maret lalu, dan saya kok masih sedih sampai sekarang - mas Eddward S. Kennedy. Akan tetapi, karena salah gedung, kemudian tak sengaja mengikuti perbincangan buku Raden Mandasia-nya Yusi Avianto Pareanom. Saya lantas tak kecewa, buku dan orangnya keren betul. Ketidak sengajaan yang diperlukan. Oleh karena itu, sampai sekarang, saya sedang dalam misi ingin membeli Kopi Singa Tertawa-nya. 

Sedangkan untuk tahun ini, selain ingin berfoto dengan pak Djoko Pinurbo - tahun lalu gagal, KZL. Saya tampak bersemangat ingin melihat pak Sapardi Djoko Damono. Mau bagaimana lagi. Sebagai seorang pecinta hujan garis keras. Yah, sekalipun sekarang kena rinai hujan sedikit saja mudah diserang flu, demam, sakit kepala, dan batuk. Misi memburu tanda tangan dan berswafoto dengan pencipta Hujan Bulan Juni mesti terlaksana.

Saya lebih baik tidak mengakui menghadiri MIWF 2017, jika tak menuntaskan misi suci itu. Harga mati pokoknya. Nah, kalau Anda membaca blog ini, dapat dipastikan, saya lulus menyelesaikan misi suci itu. Lancar jaya malahan. 

Oh Tuhanku, pada kegembiraan semacam ini saya berharap semoga kegiatan literasi seperti ini panjang umur. Sungguh, banyak serpihan kebahagian yang lahir dari kegiatan ini. Pada pembaca yang bisa tatap-tatapan, bahkan berfoto bersama dengan idola mereka. Para penulis yang bisa membagi proses kreatif mereka kepada orang banyak. Para penulis pemula atau calon penulis yang bisa saja terbakar dan termotivasi untuk terus berkarya - menghasilkan karya yang bagus. Tak lupa, bagi pelapak dengan tugas mulia, melepaskan dahaga dan menghapus rasa lapar setelah orang-orang berkeliling dari gedung ke gedung.

Para pegiat literasi juga bertaburan selama kegiatan ini berlangsung. Tak hanya para pelapak buku, pustakawan, tetapi juga mereka yang hidupnya dipersembahkan bagi dunia literasi. Mereka yang melahirkan kuda pustaka, perahu pustaka, dan lainnya. Berkomitmen untuk menyebarkan buku sampai ke pelosok sekalipun. Dirgahayu! 

Semoga setiap tanggal 17, banyak buku yang  diterbangkan ke perahu pustaka. Semoga....

Balik lagi ke MIWF 2017. Meski tak sempat menyaksikan pak Sapardi membacakan puisi-puisinya. Saya tetap puas kok. Toh, selama kedatangan saya di sana, tak sekalipun saya melewatkan acara A cup of poetry. Ini adalah sesi pembacaan puisi oleh beberapa penyair saat senja sembari menyeruput kopi. 

Saya juga tak kecewa dan menyesal karena tidak bisa hadir selama sembilan hari kegiatan ini berlangsung. Saya tak merasa dibatasi waktu karena pekerjaan atau kegiatan lainnya. Olehnya itu, beberapa hari sebelum acara, saya sudah melihat jadwal keseluruhan acara ini. Mengecek kegiatan apa saja yang bisa saya hadiri. Bahkan, sedari awal, saya sudah merencanakan akan berburu dengan waktu jika ada sebuah agenda acara yang sangat menarik bagi saya.

Syukurnya, satu dari kegiatan yang menarik itu berlangsung selepas saya bekerja. Diskusi panel yang menghadirkan Hasanuddin Abdurakhman menarik perhatian saya. Kang Hasan - sapaannya di media sosial - mulai menarik perhatian saya sejak Januari lalu. Saya mengikuti  kang Hasan - tidak berteman, hiks - di facebook. Saya menggemari status-statusnya. 

Diskusi berdurasi hampir 2 jam ini membahas tentang batasan di media sosial. Ini menarik. Mengingat kehadiran media sosial yang mengubah dunia, cara pandang, sekaligus mempermudah komunikasi. Bagaimana sebuah gajet mampu menampung kenangan sebuah foto, memangkas jarak, bahkan sampai mempermudah penjualan buku, membuka akses informasi.

Sebagai medium bersilaturahim. Gajet didaulat sebagai perantara, entah sebagai wadah diskusi untuk beradu argumentasi atau ruangan tempat bersorak dan menyapa. Grup-grup di media sosial lahir berbondong-bondong. Yang kemudian juga melahirkan getar atau dering yang tiada henti di gajet kita masing-masing. 

Beragam paparan mengemuka dari para panelis. Masing-masing dari mereka, ada yang gemar bermedia sosial, entah dengan membatasi informasi yang akan dibagikan, atau secara terbuka seperti kang Hasan. Ada juga yang tak begitu merasa perlu berlama-lama dalam bermedia sosial. Pengalaman demi pengalaman mereka bagi. Terutama pada hal-hal yang dianggap sensitif saat bermedia sosial.

Pada ihwal sensitif, saran para panelis, sebaiknya perlu mengetahui kondisi sosial, juga menimbang resiko atau reaksi orang-orang. Kalau perlu, paham tentang kondisi budaya atau psikologi orang-orang. Pada sebuah daerah yang penduduknya punya ikatan emosional kepada tim sepakbolanya, misalnya, untuk menyebut tim mereka kalah. Maka, judul berita tak boleh langsung menyematkan kata kalah. Tetapi, mengawali dengan kalimat telah berjuang habis-habisan. 

Ini kemudian yang menjadi batasan. Bagi kita, apa susahnya langsung menyebutkan kekalahan di awal kata judul berita. Realitanya memang demikian kok. Akan tetapi, mengingat bagaimana sebuah berita bisa dengan mudahnya viral - berkaitan dengan efeknya. Maka, bijak dalam bermedia sosial adalah hal penting.

Memilih dan memilih kata yang tepat juga berlaku pada gambar. Gambar? Iya. Media sosial berorientasi pada kekuatan foto membuka lebar setiap penggunanya untuk memasukkan apa saja. Mulai dari hal remeh-temeh, hingga pada sesuatu yang krusial sekalipun. Kita sama-sama tahu bagaimana sebuah gambar bisa melahirkan seribu kata. 

Akan tetapi, ini tak lantas memenjarakan para pengguna sehingga kemudian tidak mengunggah gambarnya. Bukan. Mengunggah gambar sedang makan atau jalan tiada mengapa. Para panelis yang memiliki ekor banyak penggemar ini, ada yang membatasi diri untuk tak memasukkan gambarnya saat bersama keluarga. Atau, mengunggahnya jauh setelah aksi jalan bersama keluarga usai. Bahkan, seorang di antaranya pernah mengubah status akunnya menjadi private. Semacam upaya untuk menyekat ruang pribadi dan diri (jati diri) yang dikenal orang.

Masing-masing panelis membagikan alasan dan pemikiran mereka. Secara garis besar, mereka menguataran apa saja hal yang menurut mereka layak dikonsumsi orang-orang di akun mereka. Apa saja ihwal sensitif sebaiknya dihindari, atau kalau pun tidak, sebaiknya disampaikan dengan bahasa sehalus mungkin. Semua panelis sepakat hal itu.

You Might Also Like

0 komentar