Mengurai Hal-Hal yang Bisa Jadi Kekal Menjejaki Isi Pikiran

Sumber gambar blogspot.com

Di antara kenangan akan manisnya hidup bersama orang-orang yang kamu sayangi. Pun, pada rentetan adegan pilu saat kamu lalui dengan orang-orang yang kamu kasihi. Manakah kejadian yang paling memelukmu erat? Yang saking eratnya, kamu bahkan merasa sesak di dada tiap kali mengingatnya.
***

Setiap pagi adalah musuhku. Padahal, tiada daya dan upaya pada merawat keenggananku menyapa pagi. Aku hanya susah bangun pagi. Itu saja.

Mungkin, di kehidupan sebelumnya, aku telah berbuat kesalahan maha menyakitkan saat pagi hari. Olehnya itu, aku dipaksa menebusnya kini. Aku tak diizinkan bersua dengan pagi dan mentari yang memerah itu. Merekah, indah. Atau, bisa saja ada tragedi memilukan yang menimpaku kala itu, sampai-sampai aku bersumpah agar pada kehidupan selanjutnya tak usah bertemu pagi.

“Telat lagi, Neng?”
“Iya, Pak. Hobi.”
“Oh iya, sudah ada yang nungguin eneng di ruang pertemuan.”
“Saya tidak punya janji temu hari ini, Pak. Yakin itu tamu saya?”
“Yakin seratus persen atuh, Neng. Tamunya sendiri atuh yang langsung sebut nama eneng.”
“Hmmm…, makasih, Pak. Saya masuk dulu.”

Bermusuhan rasanya belum cukup. Aku mesti menambahkan ritual miasuh-miasuh. Pagi serasa kutukan bagiku. Kali ini.

Bagaimana tidak, bisa-bisanya pagi ini kamu datang dalam penampilan terbaikmu membawa undangan pernikahanmu? Di kantorku pula. Demi kekuatan apalagi aku bisa bertahan.
“Aku tahu kamu marah, tetap saja, ini undanganku. Jangan dipaksakan untuk hadir.”
“Undangannya nggak bisa dikirim via pos saja, Mas? Perih banget ini.”

Lalu aku meninggalkanmu begitu saja. Tak menyentuh undangan yang kamu sodorkan. Tunggu dulu. Bukan. Hanya tubuhku saja yang berbalik darimu, menjauh menuju ruanganku, langsung menyatu dengan meja kerjaku. Nyatanya, aku sampai saat ini masih belum bisa menerima ketidakbersamaan kita.

“Aku menganggap jawabanmu sebagai penolakanmu untuk hadir. Aku tahu, aku salah.” Yah, aku masih bisa mendengar suaramu tadi, meski semakin samar.

Ah, sudahlah. Mengaku salah tak membuat keadaan kembali seperti semula. Kamu tetap saja melenggang menuju pernikahan bersamanya. Kamu menerima perjodohan itu mas. Kamu setuju menikah karena aku dan kamu tidak satu tuhan. Terlalu sulit katamu kala itu. Cintaku mendadak salah dan kalah.

Dan, aku tetap saja menyibukkan diri mengurus kertas-kertas di mejaku. Meski aku tahu, kamu sudah meninggalkan ruangan tadi. Bisa jadi, malah sekarang kamu sudah sampai di area parkir. Bertemu satpam yang baru bertugas selama dua pekan. Satpam yang tak tahu kalau tamuku hari ini adalah kekasihku beberapa bulan lalu.

Tanganku tetasp bergerilya dengan apapun benda yang dapt aku jangkau. Memegang map, membolak-balikkan kertas di dalamnya. Menyalakan laptop, meski hanya menggoyang-goyangkan posisi cursor.

Terlihat sibuk, sambil berharap hanya dinding dan sofa saja yang mendengar percakapan kita tadi. Aku benci terlihat sedih, Aku tak suka dianggap menyedihkan.

Dan, kamu dengan segala kenangan kita, serta entah alasan apa yang membuatmu bisa setenang itu saat mengantar undanganmu padaku. Bangsat betul.
***

Sudahkah kamu menengok hatimu yang masih belum dapat beranjak itu? Masihkah kepiluan akan kekasihmu terus saja mengirismu helai demi helai? Menghancurkanmu berkeping-keping lantas terserak. Bukankah itu semua menghantuimu? Dan, kita tahu itu membayangimu.

Oh iya, tidakkah kepiluan ditinggal kekasih dalam cara menyedihkan itu seolah-olah menggerogoti keyakinanmu? Masihkah kamu mampu mencinta dan tak rapuh pad aakhirnya? Masihkah kamu percaya akan hadirnya orang lain, dan menawarimu memraktikkan tata cara beradu kasih? Bisakah bayang-bayang itu tak menarikmu pada sisi kelamnya, hingga kamu lupa beranjak. 
***

Beberapa bulan setelah ditinggal menikah mas Edo. Bapak meninggal secara mendadak. Pergi tanpa sempat membiarkan kami mempersiapkan diri. Aku, mama, kak Rio, dan kak Arif. Rasa-rasanya, bekas tamparan di pipi masih memerah, kini sudah ditimpali lagi. Perih berlipat-lipat, sedih berganda-ganda.

“Kita patah dan hancur. Tapi mama yakin, kita perlahan-lahan harus bisa menerimanya, melaluinya.”
“Aku belum sanggup, Ma.”
“Pelan-pelan.”
“Tapi, Ma. Minggu depan aku diwisuda. Gearku serasa tak ada artinya tanpa kehadiran bapak.”
“Masih ada mama kan?
“Iya….”
….
“Tapi, aku sudah janji akan mempersembahkannya buat bapak.”
….
“Aku sudah berjanji akan menyerahkan togaku untuk bapak. Bapak yang bekerja kerja siang dan malam agar aku, kak Rio, dan kak Arif bisa tetap bersekolah. Padahal kita semua tahu, biayanya sangat mahal.”
….
“Iya, bapakmu keinginannya hanya satu. Bapak ingin anak-anaknya merasakan dunia pendidikan. Sesuatu yang mama dan bapak tidak sempat tuntaskan. Tentu kami bangga kalian semua bisa sarjana.”
….

Dalam jeda yang panjang itu. Lalu aku dan mama saling berpelukan erat. Bahu kami naik turun. Mata memanas. Air mata kini mengalir tanpa dapat terbendung.
***

Pernahkah kamu, misalnya, merasa tak berarti apa-apa? Atau menganggap semua usahamu sia-sia belaka? Semuanya tak bernilai. Semua yang kamu dapatkan itu tak bisa kamu hadiahkan kepada mereka yang kamu kasihi. Tidakkah hal seperti itu membayangimu begitu dekat dan lekat?
***

Pada kepiluan kehilangan. Atau kesedihan yang menyusup bahkan ketika sebuah kebahagiaan kamu peroleh. Pada hal-hal itu, kita harus berbuat apa?

Bayang-bayang kejadian atau orang-orang tertentu terus saja menjejaki isi kepala kita. Yah, yang ada hanyalah tetap merawatnya atau segera memudarkannya. Meski ada juga memilih berdamai dengannya. Membiarkannya terhapus dengan kekuatan waktu. Ada juga yang membawanya hingga ke alam baka.

You Might Also Like

0 komentar