Mendendangkan Diskriminasi

Gambar bersumber dari tribunindo.com

Pada words can change the world kita percaya. Mengapa? Sebab, kita sama-sama tahu bagaimana kekuatan kata-kata. Pengibaratan kata sebagai pedang bermata dua sudah terlalu mainstream bukan?

Kata nyatanya tak sebatas lalu lintas dalam berkomunikasi. Kata yang kemudian terangkai menjadi kalimat, memiliki kekuatannya sendiri. Kita paham betul. Apalagi di zaman ini, dimana gawai dan bermedia sosial turut menjadi bagian kehidupan.

Lihatlah sekarang, bagaimana sebuah judul berita - kumpulan dari kata-kata itu - mampu melahirkan like dan share. Menggerakkan semangat orang-orang. Memanaskan suasana. Tetapi juga mampu mendamaikan dan menyatukan.

Sampai-sampai peribahasa mulutmu, harimaumu juga beradaptasi dengan perubahan zaman. Kini, statusmu, harimaumu. Luar biasa bukan?

Kata Kemudian Menjadi Lagu
Tak hanya digunakan sebagai alat dalam bertukar kabar atau pikiran. Kata-kata menjelmah menjadi puisi, cerita, juga berita. Jika diberi nada, kata-kata yang menjadi lirik bertransformasi menjadi lagu.

Lagu? Iya. Apa kaitannya dengan kekuatan kata? Jadi begini, jika sekumpulan kata-kata, entah terserak atau memang tersusun rapi saja mampu menaikkan tensi, misalnya. Lantas, bagaimana efek kata bernada?

Yah, sebagai manusia-manusia yang paham akan kekuatan kata. Kita juga tahu, kata digunakan dalam pelbagai profesi, jenis kelamin, negara, dan sebenarnya menyentuh setiap lingkup hidup kita.

Misalnya, pada guru yang mentransfer pengetahuan ke anak didiknya. Bagi pemimpin untuk mengoordinasi seluruh bawahannya. Seorang penulis novel dalam menyalurkan emosinya agar dipahami pembacanya. Termasuk juga bagi penyiar dan penyanyi kepada pendengarnya.

Untuk saat ini, mari kita fokus pada kata yang didendangkan seorang penyanyi. Mengapa? Sekadar memenuhi hasrat penasaran saya saja terhadap kata dan lagu. Bagaimana seseorang yang terkenal, dikagumi banyak orang ini menggunakan kesempatan itu untuk menyampaikan ide atau gagasannya kepada penggemarnya.

Sebuah lagu yang didendangkan oleh seorang pemusik terkenal, sudah barang tentu menjadi alternatif terenak dalam menyebarkan sebuah keresahan atau ajakan. Bahkan jika penyanyi tak digemari jutaan orang sekalipun, lagu-lagu bertema tak biasa ini memiliki penggemarnya sendiri. Mereka yang selalu menemukan cara untuk menemukan idolanya.

Bagi saya, seorang penyanyi atau grup musik tak hanya sebagai pemusik saja, mereka dapat memainkan perannya sebagai rakyat atau ciptaan. Mereka dapat meneriakkan protes pada pemerintah. Mereka dapat memuja penciptanya. Mereka dapat mengeluarkan pendapatnya dengan jalannya.

Sebagai pendengar atau mungkin penikmat lagu. Kita sudah terlalu banyak rasanya mendengar lagu yang melulu meneriakkan rindu atau meluapkan rasa pilu. Berpanjang lebar tentang cinta atau derita. Tetapi, kita juga dapat menikmati lagu tentang ketuhanan, bahkan ihwal kemanusiaan, bukan?

Tapi tunggu dulu. Saya tidak membahas tentang lagu religius yang dilantunkan saat Ramadan berlangsung, atau dalam rangka merayakan hari-hari besar agama-agama tertentu. Bukan pula lagu saat peribadatan. Bukan.

Sebagai contoh, pada ranah kemanusiaan, John Lennon memopulerkan lagu Imagine yang meneriakkan ketidaksetujuannya pada perang. Sebagai sebuah pernyataan sikap, lagu ini secara lantang mengajak penduduk bumi agar hidup dalam kedamaian dan anti perang, bersatu.

Tentu saja masih banyak contoh yang lainnya. Green Day, salah satunya, iya kan.

Sedangkan untuk di dalam negeri, lagu Sebelum Cahaya yang dipopulerkan Letto. Dalam kajian semantik yang dilakukan salah satu mahasiswa jurusan Pendidikan bahasa dan Sastra Indonesia di Universitas Negeri Surbaya. Lagu ini secara garis besar memberikan pesan kepada pendengarnya untuk senantiasa melaksanakan ibadah kepada sang Pencipta. Tetap berpengang teguh pada keyakinannya.

Pada isu kemanusiaan, ada Efek Rumah Kaca dengan lagu berjudul Di Udara. Lagu yang mengangkat tentang almarhum Munir.

Iwan Fals juga sering melontarkan kritikannya lewat lagu yang dibawakannya. Belum lagi Superman Is Dead, band-band indie tanah air dan penyanyi yang bersolo karir.

God Bless.
Pilihan saya selanjutnya jatuh pada God Bless. Grup musik rock legenda tanah air yang dipimpin Ahmad Albar ini telah menarik perhatian saya baru-baru ini.

Bukan tanpa sebab, saya sebenarnya sedang belajar menulis dengan menggunakan tema tertentu. Saya dan teman berlatih saya ini, secara bergantian menentukan temanya. Nah, pada pekan ini giliran teman saya menentukan temanya. Dia memilih diskriminasi menjadi bahan baku tulisan kami ini.

Berbekal rasa ingin tahu saya terhadap diskriminasi inilah. Saya kemudian memulai penelusuran saya di mesin pencari dengan memasukkan kata kunci yang berkaitan dengan diskriminasi dan lagu. Saya bahagia menemukan lagu berjudul Diskriminasi yang menjadi bagian dari album Apa Kabar yang ditelurkan God Bless pada tahun 1997.

Dngan modal jaringan internet gratisan dari tempat kerja. Saya kemudian menelusuri lirik lagu band yang jaya di tahun tujuh puluhan ini. Berikut saya lampirkan lirik lagu buah karya Eet Sjahranie dan Ian Antono. Siapa tahu ada waktu luang. Yuk, mari mendendangkan diskriminasi.

Diujung lorong aku bingung terasa asing dan tersudut
Ratusan mata memandang seolah aku simbol bahaya
Kucegat taksi malah lari kutawar bajaj pun menolak
Rasa kesal dan kecewa geram mengusik jiwa

Salah apa sebenarnya
Sehingga mereka perlakukan aku begini
Tuhan tolonglah
Tegur mereka
Oo… tolonglah
Tuhan ketuklah
Batin mereka

Muka kasar bukanlah
Berarti nakal atau bengal
Baju camping bukanlah
Berarti miskin atau papa

Aku cinta hidup ini
Takkan pernah kuganggu kehidupan sesama
Tuhan tolonglah
Tegur mereka
Oo… tolong….
Tuhan ketuklah
Batin mereka

Hidup ini kujalani
Dengan sepenuh hati
Wujudku yang memang begini
Tak mungkin aku langgar susila

Salah apa sebenarnya
Sehingga mereka perlakukan aku begini
Tuhan tolonglah
Tegur mereka
Oo… tolonglah
Tuhan ketuklah
Batin mereka

Tuhan tolonglah
Tegur mereka
Tuhan ketuklah
Batin mereka

You Might Also Like

0 komentar