Kosong

Gambar dari https://pixabay.com
Tampaknya, beberapa hal (beberapa yah) yang diikuti kata kosong, selalu saja dikonotasikan dengan ihwal mengerikan. Gaib. Horor.

Rumah kosong, misalnya. Kejadian ini saya alami kala masih SMP, masih saya ingat bagaimana para tetangga meneror kami - anak-anak setingkat sekolah dasar dan seumuran saya - tentang sebuah rumah kosong yang berada hampir di ujung setapak. Cerita ini kerap disampaikan berulang kali, terutama jika kami masih berkeliaran selepas salat isya.

Para penebar kisah ini, didominasi oleh ibu-ibu, itu berarti termasuk mama saya. Mereka bercerita tentang kejadian demi kejadian yang menyeramkan. Intonasi dan mimik wajah para ibu ini sungguh meyakinkan. Cukup membuat anak-anak seusia saya bergidik dan ketakutan.

Dimulai dari kisah seorang tetangga yang mendengar seseorang memanggilnya. Saya ingat bagaimana ibu itu bertutur tentang kisahnya. Saya mendengar dengan jelas, nama saya yang disebut, ucapnya. Tidak ada orang di situ, tambahnya. Saya langsung lari sekencang mungkin ke rumah, tutupnya.

Tak hanya itu, beberapa tetangga yang lain pernah bercerita ke mama, bahwa dia melihat sesosok makhluk yang tak begitu jelas, mereka lebih memilih lari ketika melihatnya. Tiada sempat mengklarifikasi apa yang barusan dilihatnya. Akan tetapi, mereka sepakat itu hantu.

Masih tentang kosong. Coba tengok dunia perfilman kita. Tentu kalian mengingat film Hantu Bangku Kosong. Film horor ini dirilis pada tahun 2006 dan disutradarai oleh Helfi Kardit. Dengan menghadirkan Adhitya Putri, Cathy Sharon, Bella Esperance Lie, serta masih banyak lagi sebagai pemeran di film ini.

Tunggu, saya tak bermaksud membahas film ini. Izinkan saya melompat pada kata kosong berikutnya.

Kosong yang satu ini nyatanya tidak sepenuhnya kosong. Akan tetapi, kebanyakan orang senang menyebutnya kosong.

Beberapa orang (beberapa lho yah) justru mengisi kekosongan yang satu ini dengan jejak kisah sang mantan. Kita menyebutnya kenangan.

Atau, kekosongan itu mungkin (mungkin lho yah) dihuni sosok idaman yang belum peka juga kalau dia ditunggu. Dinanti. Diharap segera serumah, biar Ramadan ada yang membangunkan sahur, padahal alarm bisa melakukan tugas  - membangunkan sahur - ini. Aduh, Bang. Pekalah.

Ada juga yang berada di level "tak bisa beranjak". Tolong dipahami, tipe ini berbeda dari yang pertama. Kalau yang ini memang hanya mengkultuskan isinya untuk satu orang saja. Sedangkan tipe yang pertama masih mengizinkan orang lain masuk, menjejaki hatinya, pikirannya, dan hidupnya.

Apakah kekosongan itu? Hmmm, jadi begini. Sebagai jomblo yang taat hukum dan rajin makan. Sedikit berbagi rahasia, saya ini cenderung gampang gentar dan mendadak kehilangan kata-kata saat dihadapkan dengan kalimat, "Hati yang Kosong."

Sekian.

You Might Also Like

0 komentar