Biarkan Kami Ikhlas Melepasmu

Sumber gambar ramarose.blogspot.co.id

Saya seperti tersambar petir di siang bolong ini. Berita kepergian seorang kenalan membuat saya terus memikirkannya hingga tulisan ini saya ketik.

Kak Ima, begitu biasa kami menyebutnya. Adalah seorang perempuan yang sangat berpendirian tegas. Kesan itu timbul saat kali pertama saya melihatnya.

Pertemuan saya dan dia berlangsung di tahun 2008 silam, pada sebuah musyawarah. Di waktu itu, saya ambil bagian sebagai panitia, begitupun kak Ima.

Meski berbeda bidang, apa yang saya kerjakan selalu saja ada kaitannya dengan tanggung jawab kak Ima. Hingga saya mengalami kesulitan. Banyaknya beban kerja tak sesuai dengan jumlah panitia yang pro aktif menyelesaikannya.

Capek saya berceloteh. Dongkol. Tapi tetap juga saya laksanakan. Hingga kak Ima mengetahui masalah itu. Wajar saja jika keesokan harinya, beberapa panitia terlihat aktif.

Rupanya semalam kak Ima sudah menyelesaikan masalah itu. Meski tidak seluruhnya, tetapi saya sangat terbantu. Kondisinya menjadi lebih baik.

Saya tak langsung mengetahui aksi kak Ima itu, nanti ketika makan siang sedang berlangsung, barulah seorang teman mengatakannya.

Dalam sekejab, saya langsung menyukai perempuan itu. Sayangnya, setelah musyawarah selesai. Saya mesti langsung KKN. 

Saya tidak melanjutkan perkenalan kami. Baru setelah media sosial hadir, saya dan kak Ima menjalin pertemanan. Kami tidak berkomunikasi intens. Lebih sering tak bertukar kabar dan sapa.

Saya dan kak Ima hanya saling like, untuk sesuatu yang memang kami sukai. Atau saling melempar komentar, kebanyakan berisi guyonan. Selebihnya, saya hanya bertemu dengannya pada beberapa acara. Itu pun tak pernah lebih dari lima menit kami berbicara. Kak Ima biasanya disapa sana-sini, ditegur kiri-kanan. Kak Ima memang supel.

Pada hari ini, sebelum saya mendapat kabar kepergiannya. Sejak semalam memang saya mengingatnya terus. Tak ada firasat buruk. Saya hanya terkenang saat tahun lalu berbagi cerita tentang keseruan kami menghadiri MIWF. 

Kami bahkan berjanji untuk bertemu lagi di MIWF tahun ini. Kegiatannya akan berlangsung pada tanggal 17 - 20 Mei. Dan, itu berarti tinggal beberapa hari lagi. Saya mengingat kak Ima dengan harapan yang saya sisipkan, semoga kak Ima segera sehat kembali. Sebab, sejak bulan lalu saya mendapat kabar bahwa kak Ima sedang dirawat di rumah sakit. Saya baru mengetahui sekarang kalau kanker usus akutlah penyakitnya.

Besar harapan saya di tahun ini agar dapat berjumpa dengannya lagi. Saling bertukar keseruan. Saling memberitahukan siapa saja penulis yang berhasil kami ajak foto bareng dan memeroleh tanda tangannya. Atau momen apa yang paling berkesan di hati kami.

Tapi.... Ah, pahit betul rasanya. 

Kak Ima, semoga senang dan tenang di sana. Semoga memeroleh limpahan kasih dan sayang dariNYA. Dan, biarlah kami melepasmu dalam keikhlasan.

You Might Also Like

0 komentar