Tentang Pagi dan Hal-Hal Rumit yang Terjadi

Ilustrasi berasal dari majalah.ottencoffee.co.id


Tidur bagi saya adalah perkara maha penting. Tetapi, saya tidak lantas membandingkannya dengan makan, bernapas, bergaya sesuai tren, mencari pasangan, hidup bersosial, apalagi menyandingkannya dengan hubungan super istimewa antara manusia dan penciptanya.

Salah satu kemewahan yang selalu saya perjuangkan, yah tidur. Tak peduli apakah dilaksanakan saat malam atau siang, bahkan tidur cantik pada sore hari. Bagi saya, tetap, tidur bukan perkara sekadar memejamkan mata.

Saya mungkin cukup berlebihan jika sekiranya menganggapnya sebagai persoalan hidup dan mati. Tapi, yah, saya seperti itu. Selain untuk mengembalikan stamina atau beristirahat, fungsi tidur bagi saya adalah sebuah kesunyian paling indah. Dalam kesunyian, tidak ada tawar-menawar. Itu bagi saya.

Dalam kamus hidup saya. Tidur adalah me time yang hanya bisa disentuh oleh tuhan, sebagai pemilik roh, itu jika Anda memercayai tuhan dan sistem kerjanya pada alam semesta. Kalaupun ada manusia yang bisa memasuki dan merusak prosesi tidur saya. Itu hanyalah mama seorang.

Mengapa? Jadi begini, mama adalah satu-satunya penghancur mimpi paling mutakhir di dunia ini. Tak hanya lewat suaranya saja, melalui cubitan atau gelitikan di telapak kaki merupakan beberapa senjata untuk membangunkan saya.

Akan tetapi, karena menganggap tidur bukan perkara remeh-temeh, saya selalu saja menyisipkan keengganan acapkali mama membangunkan saya. Tetap mengatupkan mata sembari menarik selimut hingga sebatas dada. 
Melakukannya selama mungkin, atau semampu saya, sebab, segala ikhtiar yang digunakan mama sudah terlalu sering berhasil membangunkan saya.

Sebenarnya, saya bisa saja mencari cara untuk mengagalkan setiap usaha yang dilakukan mama. Bisa. Sungguh. Akan tetapi, saya terlalu malas untuk melakukan perlawan kepada mama. Saya tidak takut kualat, saya hanya begitu senang mendapati pagi dimana mama ada di sekitar saya.

Kalau sudah begini, harusnya, penegasan bahwa tidur adalah perkara maha penting, bisa saja serta-merta tiada berlaku. Toh nyatanya, saya tidak melakukan tindakan pencegahan agar saya tetap bisa lebih lama tidur sekalian menikmati pagi.

Yah, lagi-lagi karena saya memang rela dibangunkan oleh mama. Tapi, hal ini tidak berlaku bagi orang lain. Tidak terhadap adikku, pun juga kepada bapak. Kepada kedua orang ini, jika saja mereka membangunkan saya. Ada semacam perasaan kesal. Rasanya pagi yang nikmat itu telah dirampas oleh mereka.

Persoalan semakin rumit saat saya telah kehilangan mama. Sebelum kepergian mama, bapak terlebih dahulu meninggalkan kami. Setelah kepergian mama, adik saya memutuskan hidup berbeda kota dengan saya. Jadinya saya tinggal seorang diri.

Sungguh, itu adalah kebahagiaan sekaligus duka bagi saya. Saya bahagia mampu merayakan pagi setiap hari tanpa ada gangguan dari siapapun. Akan tetapi, saya malah mudah terusik berhubung sudah terbiasa melakoni hidup sendirian.

Semenjak kepergian mama. Saya semakin larut dalam merayakan pagi. Menikmatinya sesuka hati. Padahal, tuntutan kerja membuat saya sudah harus bergegas meninggalkan rumah sebelum pukul tujuh.

Sudah barang tentu, saya menjadi sering menghadiahi atasan dengan terlambat sampai ke tempat kerja. Malu? Iya. Menyesal? Jelas. Di sinilah pagi menjadi sesuatu yang rumit bagi saya.

Kebiasaan menikmati pagi lantas menunggu sampai mama membangunkan, pada akhirnya membuat saya sekenanya melalui pagi. Bangun bukan di pagi hari sudah terlalu sering terealisasi.

Beberapa kawan memberi masukan, saya mesti profesional dalam bekerja. Saya disarankan berpisah dengan kegiatan menikmati pagi dalam wujud apapun. Pokoknya, selepas fajar, saya tidak diperkenankan kembali merasakan hangatnya selimut atau empuknya bantal.

Jelaslah itu bukan perkara mudah. Kita sudah terlalu sering, dan terlampau muak dengan nasihat ala bisa karena biasa. Tetapi, toh, nyatanya, sesuatu, apapun itu, saat sudah terlampau sering dilakukan. Perlahan namun pasti, dia kemudian mewujudkan menjadi kebiasaan.

Dan, kebiasaan yang berlarut-larut tentu sulit dihadapi, diperangi, dituntaskan. Tetapi tak berarti tak mampu dimusnahkan, bukan?

Dalam keresahan saya, sempat saya berpikir untuk mengganti pekerjaan yang tetap memudahkan saya menikmati pagi. Menukarnya dengan pekerjaan yang dimulai saat siang saja, atau mungkin sore. Saya bahkan lebih sanggup bekerja dengan prima pada malam hari.

Tetapi, sekarang ini, menemukan pekerjaan yang kamu senangi, atau berada di lingkungan teman sekerja yang nyaman, bukan sesuatu yang mudah ditemukan. Bahkan, bagi saya, itu adalah satu dari sekian keberuntungan yang kamu peroleh.

Kamu, boleh berdalih, kamu dapat menentukan dimana saja akan bekerja. Jelas. Kamu boleh memilih perusahaan atau instansi mana yang kamu terima pinangannya. Tetapi, kenyamanan dengan rekan kerja tidak sepaket dengan semua itu. Lagi, saya akan menyampaikannya sebagai sebuah keberuntungan.

Satu-satunya hal yang harus saya lakukan adalah mulai secara bertahap berhenti menikmati pagi. Mengalahkan ego, mengendalikan hasrat untuk berlama-lama di ranjang.

Ahhh, kenapa pagi kemudian menjadi serumit ini sih.




Tulisan ini juga dapat dibaca di https://medium.com

You Might Also Like

0 komentar