Sudahkah Anda Mengunjungi Change.org Hari ini?

Beranda www.change.org

Yah, sudahkah Anda mengunjungi Change.org  hari ini? Jika belum, yah tak mengapa. Kalau sudah, maka, adakah hal menarik yang sudah Anda bagikan, atau sekadar menjadi bahan perbincangan dengan kerabat. 

Apa? Anda belum mengenal Change.org? Tak mengapa kok. Sekiranya Anda penasaran, sana, kunjungi laman www.change.org. 

Lalu saya, memangnya sejak kapan telah mengenalnya? Saya mengenal Change.org saat gemar bertandang ke Jurnal Celebes, salah satu LSM di kota Makassar yang berfokus mendorong upaya perbaikan pelestarian lingkungan hidup, pengelolaan sumber daya alam, dan pengembangan media. Itu berarti sekitar 4 tahun yang lalu.

Yah kalau sudah empat tahun, kenapa memangnya? Yah, tidak apa-apa sih. Tidak ada hal mulia dari siapa yang terlebih dahulu mengenal dan mendaftar di change.org kok. Lagi pula, saya sebatas mengunjungi Change.org acapkali dikirimkan tautan untuk menandatangi petisi tertentu, tak lebih.

Akan tetapi, sekarang, saya setidaknya mulai mengerti bagaimana Change.org dibangun, yah perjalanannya. Dan, bagaimana sebuah petisi mampu memainkan pengaruhnya di dunia maya, melalui sebuah buku yang ditulis oleh Co-Founder Change.org Indonesia, Usman Hamid dengan judul Digital National Movement (Dinamo) .

Menengok Change.org, Melihat Dinamo
Sebelum lebih jauh, saya akan mengawalinya dengan bercerita bagaimana buku ini bisa sampai di tangan saya. 

Jadi begini. Sekiranya pada awal bulan di penghujung tahun lalu, saat mengunjungi sebuah lapak buku di depan salah satu universitas negeri berjas merah di kota kelahiran saya ini. Saya ditawari oleh sang empu toko beberapa buku, kak Mauliah namanya, maklum saja, kehadiran saya tepat di kala diskon berlangsung. 

Sebenarnya, selang beberapa hari sebelumnya, saya telah mengirimkan judul-judul buku yang saya inginkan, salah satunya buku karya Zen RS. 

Hampir sebagian dari buku yang saya pesan dipenuhi buku untuk anak-anak. Rencananya, saya akan membagikan buku-buku tersebut bagi beberapa ponakan saya. Akhir semester telah menanti soalnya. Ini semacam hadiah "terima kasih telah belajar dengan tekun selama satu semester", sebab saya bukan pemuja ranking. Berapapun nilai yang ponakan saya peroleh. Saya lebih memerdulikan bagaimana dia mendapatkannya.

Selain itu, saya juga berbelanja sesuai khittah, novel tentu saja. Ketika mengambil buku-buku pesanan saya inilah, sembari menunggu hujan reda, saya mencoba mengelilingi toko buku itu. Ah, rupanya ada beberapa buku yang saya sukai, satu di antaranya adalah buku karya Sujiwo Tedjo, dalang nyentrik kesukaan saya. 

Saya juga menemukan novel yang berkisah tentang Sherlock muda, salah satu tokoh detektif idolahh akohh. Kelak, buku Sherlock muda ini saya hadiahkan kepada seorang keponakan yang telah berada di jenjang SMP. Seingat saya, anak lelaki itu tidak begitu gemar membaca. Saya berharap dapat membantu memulai kebiasaan membacanya dengan menghadiahkannya sebuah novel detektif. Semoga.

Masih saat mengelilingi toko itu, kak Mauliah tak segan menunjukkan satu dua buku yang menurutnya bagus, entah karena isinya, atau karena penulisnya. Satu buku yang membuat saya tertarik ialah buku yang kak Mauliah sodorkan sesaat sebelum saya menuju ke tempat kasir. Yup, Anda benar, itulah buku karya Usman, Dinamo.

Bagian yang membuat saya tertarik membelinya, adalah karena ada embel-embel Change-nya. Seingat saya, dari Change.org saya kemudian mengetahui apa saja isu-isu yang sedang hangat di beberapa daerah, tentu saja selain menyimak televisi dan arus berita di media sosial, atau mengunjungi portal berita. Melihat bagaimana manusia merespon sesuatu. Yah, bagaimana seseorang memperlakukan sebuah petisi maupun kampanye. 

Dari sini - Dinamo-nya Usman -, kita dapat melihat bagaimana sebuah isu diangkat, lantas kemudian menyulut hati orang-orang, dalam beragam reaksi. Menggerakkan orang-orang ini - seperti yang disampaikan Usman - untuk kemudian membagikan sebuah petisi ke dalam lingkaran atau lingkungannya.  Membuat satu petisi terbang ke orang-orang dengan begitu cepat. Hingga akhirnya, manusia-manusia ini mampu membunyikan sebuah isu yang bisa saja terlalu rendah nadanya.

Saya kemudian teringat tentang petisi pemerkosaan dan pembunuhan yang dialami Yuyun. Ketika membaca petisi tersebut, emosi saya memuncak. Ada kesedihan yang mendalam bercampur dengan kekesalan. Rasanya, mengutuk dan bersumpah serapah tidaklah cukup. Mata saya panas dan berair. Tentu saja, saya bukanlah satu-satunya yang bereaksi  demikian. Banyak pastinya.

Di berbagai media sosial, orang beramai-ramai  mengecam perbuatan tersebut. Bahkan, dengan hastag #nyalauntukyuyun atau saya bersama Yuyun, menjadi kata kunci yang beredar di sana-sini. Video dukungan untuk Yuyun banyak ter-upload. 

Kejadian yang menimpa gadis berusia 14 tahun ini lantas menjadi berita berskala nasional. Menjadikan Bengkulu sebagai obyek pembahasan. Kajian terjadi dimana-mana. Desakan terus berlanjut. Tuntutan demi tuntutan mengalir. Itulah kekuatan dunia maya.

Usman sadar tentang kekuatan semacam itu akan dan terus terjadi. Sebuah kekuatan yang lahir dari adanya perkembangan teknologi. Bagi Usman, perangkat digital tak hanya sebatas benda, melainkan strategi dan senjata baru yang dapat digunakan untuk menggerakkan manusia. 

Olehnya itu, Usmad, dengan latar belakang sebagai aktivis yang berkecimpung lama di KontraS, selalu berharap orang-orang saling berbagi energi dan informasi. Mengawal kebijakan, peka terhadap keadaan, dan  menyuarakan ketidakadilan berbasis dunia digital. Di sinilah fungsi Change.org.

Dihuni beragam latar belakang, Change.org lahir dengan berbagai spektrum berpikir. Yah, tak melulu tentang isu kemanusiaan. Tetapi juga tentang kepedulian terhadap lingkungan, pendidikan berpolitik, dan hal lainnya.

Melakukan Perubahan dengan Berbasis Teknologi? Nyang Benar....
Ah, apa memang dukungan - menandatangi sebuah petisi - kita dapat memengaruhi sebuah kondisi? Kalian jangan pesimis seperti itulah. Ayolah kawan. Perlawanan tak melulu tentang langsung turun ke jalan atau ke medannya. Di era dimana mengomentari atau membagikan tautan lebih cepat ketimbang membaca tautan itu sendiri, perlawan dapat pula ditempuh di dunia maya.

Lagi pula, jika perlawanan masih terlampau jauh dari keberhasilan atau kemenangan. Atau anggaplah Anda hanya menganggap bahwa 'bertindak langsung' adalah satu-satunya jalan dalam perjuangan. Setidak-tidaknya, bertandang ke Change.org dan menandatangani petisi atau bahkan melakukan donasi, bisa dijadikan sebagai sebuah pernyataan sikap dari saya atau Anda terhadap sebuah petisi. Menunjukkan dimana kita berpijak.

Kembali tentang perubahan. Saya tahu, saya sendiri atau bahkan kelompok orang tidak bisa melakukan perubahan signifikan, mengubah dunia, misalnya. Akan tetapi, setidaknya, saya yakin, bahwa hal-hal kecil yang baik atau perlawan yang setia, tentu akan diteruskan atau terpancarkan gaungnya. 

Kita juga sama-sama tahu, kalau perubahan itu memakan waktu, energi, dan perlawanan atau perjuangan yang tiada henti. Mengajarkan orang agar taat menjaga kebersihan, atau cerdas dalam memfilter berita, misalnya, masih terus berlanjut hingga kini.  Atau, sekadar memastikan agar meja kerjamu bebas dari gelas dan piring kotor bukan kepunyaanmu serta tetap rapi dan bersih, juga hal sepeleh yang masih bikin sakit hati hingga sekarang. 

Yah, begitulah perubahan, kita mesti menempuh jalan panjang, begitupun perjuangan. Mungkin terkadang tersisip lelah, tapi bukankah kita masih terus melawan. Sama halnya dengan cinta, eh.

Mendukung Seko Melalui Jempol
Berbicara tentang petisi dan perubahan. Ada sebuah petisi yang sengaja saya bahas pada akhir tulisan ini. Saya berharap, Anda bisa mengambil bagian atau menandatanganinya. Bisa juga menyebarkannya. Apalagi memberikan donasi.

Tepat tiga hari yang lalu, seorang teman yang saya sapa dengan awalan kakak, Wahyu Chandra, mengirimkan sebuah pesan di whatsapp. Pesannya berisi ajakan untuk menandatangani sebuah petisi yang berkaitan dengan kondisi saudara-saudara kita di Seko Tengah, Kabupaten Luwu Utara.

Petisi dengan judul "Jokowi : Tolak PLTA Seko dan Hentikan Kekerasan Terhadap Warga Seko" ini berisi tiga tuntutan. Pertama, menolak pembangunan PLTA di Seko. Kedua, menghentikan kekerasan, intimidasi, dan kriminalisasi terhadap warga Seko. Dan, ketiga, mengusut tuntas kekerasan yang dilakukan aparat terhadap warga di Seko.

Bukan tanpa alasan, petisi yang dibuat oleh akun Solidaritas Peduli Seko ini lahir disebabkan oleh penangkapan 14 warga dan sekitar 20 orang menjadi Daftar Pencarian Orang (DPO), dan kaum perempuan juga mengalami kekerasan yang sama, sebagai akibat dari aksi penolakan warga Seko terhadap pembangunan PLTA oleh PT Seko Power Prima. 

Sampai hari ini, petisi ini masih membutuhkan 145 tanda tangan untuk mencapai 500 tanda tangan. Petisi ini adalah salah satu bentuk dukungan - yang bisa saya dan Anda tempuh - terhadap warga Seko yang sejak tahun 2012 melakukan perlawanan dan mengemuka  di tahun 2014, ketika PT Seko Power Prima mulai beraktifitas di wilayah mereka. 

Mari bergabung dan lakukan perubahan!!

You Might Also Like

0 komentar