Jomblo, Terima Kasih, dan Keriput

www.amaliaachmad.com


Menemukan diri sudah berkepala tiga, ditambah kebanyakan temanmu sudah pada menikah, yaa Tuhan, berat kali kehidupan ini…. 

Yah, sekiranya dua bulan yang lalu, saya akhirnya berusia tiga puluh tahun. Sebuah angka yang sudah kelewat matang, untuk seorang perempuan yang sampai detik ini masih menjadi bagian dari jamaah gagal move on.

Pertanyaan kapan nikah sudah terlampau sering saya dengar, pada beragam versi, baik dalam selingan sebuah percakapan, guyononan maupun sampai bertanya serius. Dan, di antara semua kalimat-kalimat yang berhilir pada urusan kapan nikah itu, saya selalu saja tersentuh pada orang-orang yang lebih memilih menyampaikannya dalam bentuk doa. 

Mungkin, bagi beberapa orang, pertanyaan kapan nikah adalah hal tak seberapa. Tapi, entah, bagi saya kok pertanyaan itu begitu berat. Acapkali orang-orang melontarkan pertanyaan itu, hal pertama yang melintas adalah mama dan bapak. Bukan mantan lho yah.

Mengapa bisa demikian? Jadi begini, kita sama-sama tahu bahwa dalam pelaksanaan pernikahan, ayah adalah pihak yang akan memberikan wali atas anaknya kepada calon menantunya. Ayah dengan tegarnya melepaskan putri kecilnya. Dengan tegas meminta agar menantunya senantiasa melindungi dan mengasihi anak perempuannya, seperti yang selama ini ayah lakukan.

Sementara ibu, dalam deraian hangatnya air mata di pipinya atau dengan dada yang naik turun menahan air matanya, melepas putrinya untuk melalui tahapan baru. Sebuah fase yang dahulu pun pernah dilaluinya. Dalam berbagai kekhawatiran, ibu, sejak pertama kali anaknya dipinang, selalu saja memberi wejangan kepada putrinya. Bahkan, kelak, setelah resmi menjadi istri, ibu masih saja menjadi tempat pulang terhangat dan ternyaman bagi putrinya. Untuk hal terakhir, mama yang menyampaikannya pada saya.

Kepergian bapak dan mama inilah yang membuat saya kerap sedih. Saya jadi membayangkan, kelak, jika saya melangsungkan pernikahan, kala melaksanakan prosesi sungkeman dan bersimpuh, sudah tentu, itu semua berlangsung dalam kealpaan mama dan bapak. Itulah mengapa pertanyaan kapan nikah kok jadi beraaaaat begini. 

Sesekali, saya masih bisa menimpali pertanyaan kapan nikah dengan guyonan, atau lebih memilih aksi senyum-senyum bak iklan pasta gigi. Namun, pada beberapa kesempatan, saya menunjukkan kekesalan saya.  Apalagi jika yang bertanya merupakan orang yang mengetahui kepergian bapak dan mama.

Ah, kalian pasti berpikir, saya kok kelewat baper begini. Lha, mau bagaimana lagi. Mama dan bapak adalah pemberian Tuhan yang paling berharga dalam hidup saya, adik saya juga. Sebagai perempuan gagal move on tahun keenam, selain kisah cinta-cintaan, saya juga belum mampu beranjak dari kehilangan mama dan bapak. Rasanya, kok dua puluh tahun bersama kedua titipan terindah Tuhan itu berlalu begitu cepat. Sampai di titik ini, asli, saya mah baper maksimal.

Selain perkara kapan nikah yang berujung baper ini. Di tahun ketiga puluh ini, saya justru memiliki banyak hadiah dari tahun-tahun sebelumnya.  Jelas, saya bahagia dan bersyukur.

Saya bersyukur, masih saja dihadiahi sebuah kue ulang tahun tepat saat tanggal berganti. Lilin di atas kuenya sampai bikin bibir monyong, bagaimana tidak, ditiup-tiup tidak mau padam. Sia-sia saja saya latihan pernapasan kalau begini. Napas saya sudah di ujung penghabisan, lilinnya justru menyala dengan sempurna. Yaa Rabb....

Saya bersyukur - lagi -, melalui pesan singkat, telepon, dan pesan di berbagai media sosial, ucapan selamat dan doa masih mengalir untuk saya. Ini hal yang penting bagi saya. Sebab, saya percaya, doa adalah sesuatu yang  selalu saya butuhkan. 

Seperti yang saya tuliskan sebelumnya, tahun ini, banyak hadiah bertandang ke rumah. Padahal, saya sempat khawatir, usia kepala tiga apa masih layak diberi hadiah dan kejutan? Saya bersyukur, orang-orang di sekitar saya masih mengirimkan hadiahnya, baik langsung, nitip ke adiknya, bahkan memanfaatkan jasa transportasi online yang menyediakan pelayanan pengiriman barang. Baik yang on time, maupun tertunda. Tenang, saya anaknya santai kok. Bagi saya, kado tertunda adalah kado yang tidak on time, itu saja :p

Oh iya, ngomong-ngomong tentang hadiah, saya memiliki seorang teman yang mengajarkan saya tentang kado tepat guna. Jadi konsepnya begini, dibandingkan hanya sekadar membelikan sebuah hadiah. Hadiah yang baik, adalah hadiah yang dibutuhkan si penerima hadiah. Saya setuju-setuju saja dengan tawaran itu. Tapi, tak selamanya saya terapkan. Sebab, adakalanya isi kantong tidak sejalan dengan konsep hadiah tepat guna ini. 

Nah, bagi saya, tak ada dalam kamus hidup saya hadiah tepat guna. Semua hadiah yang diberikan adalah hal yang saya syukuri. Sebab, seseorang sampai mau memikirkan dan mengeluarkan uangnya untuk saya yang doyan ingkar janji di pagi hari, jutek, jarang bersilaturahmi, dan gemar ngambek ini. Sungguh, sesuatu yang membahagiakan bagi saya. Orang-orang ini, yah, pada mereka saya menghaturkan terima kasih. Rasanya kesedihan ditinggal mama dan bapak terobati dengan aksi mereka ini.

Maafkeun, ucapan terima kasihnya sampai tertunda dua bulan lamanya, pemilik blog ini sedang dalam kesibukan yang tidak biasa, alah....

Syahdan, di antara semua hal yang menghiasi usia kepala tiga, ada sebuah hadiah yang cukup mengkhawatirkan. Malah membuat tidur saya semakin singkat saja. Nafsu makan merosot turun. Tapi kok tidak dimbangi dengan bergeser ke kirinya angka di timbangan sih, kenapa? Kenapa?

Perihal hadiah itu begini. Sejak akhir tahun 2016, hadiah yang kelewat prematur saya terima ini, setelah saya perhatikan dengan saksama, dalam tempo selama-lamanya. Terutama saat berswafoto.

Yakinlah saya, bahwasanya, saya sudah memiliki kerutan di area mata. Aduh Gusti. Wejangan mama untuk rajin-rajin masker sedari berusia dua puluhan awal memang saya langgar. Pernah sih setahun konsisten rutin maskeran, tapi selepas dari pengawasan mama. Yah begini ini, beli face mask buat tambah item di meja rias mama saja. 

Saya mesti sterong kuadrat, hadiah yang satu ini memang sukar ditolak. Ingat, ini bukan karena perkara keriput sahaja, saudara-saudara. Kerap setelah keriput mengambil tempat, tanda-tanda penuaan lainnya menyusul tanpa sempat kau lawan, kawan!

Komitmen hidup sehat - yang masih dalam proses merangkak saya lakukan - yang sejak setahun lalu saya gembar-gemborkan itu, nampaknya perlu memperluas sepak terjangnya. Selain berupaya rutin berolahraga dan mengonsumsi sayur, yang realitanya masih butuh perjuangan yang panjang. 

Saya kemudian mulai merambah dunia tea detox di awal tahun ini. Tiga puluh sudah lebih dari cukup dijadikan alasan untuk memilih gaya - dan teman - hidup sehat.

Berbekal bantuan salah satu situs yang berfokus hanya pada gambar. Saya menemukan beberapa resep herbal yang sederhana untuk saya minum sehari-hari. Setelah mempertimbangkan kekuatan aroma dan ketajaman rasa, saya akhirnya memilih kunyit, jahe, kayu manis, teh hijau, madu, jeruk nipis, dan cuka apel untuk kemudian saya ramu menjadi beberapa jenis minuman.

Setelah mencoba beberapa resep, hanya beberapa, saya akhirnya jatuh cinta pada resep yang memadukan rebusan irisan jahe, taburan bubuk kunyit, perasan jeruk nipis, dan sesendok madu. Meski tak sama reaksinya dengan obat. Ramuan ini sungguh ampuh mengatasi demam dan flu, setidaknya kondisi saya jauh lebih baik dari sebelumnya.

Awalnya, saya hanya mengonsumsinya di saat malam hari. Akan tetapi, setelah menemukan resep morning elixir, perpaduan perasan jeruk nipis, cuka apel, dan biji selasih. Saya akhirnya mengawali dan menutup hari dengan minuman herbal ini. Meski yah, ada juga hari-hari dimana saya alpa pada teatox ini. Khilaf, kita menyebutnya demikian :p

Resep kesukaan saya yang lain adalah memadukan bubuk kayu manis dengan madu atau teh hijau. Teh hijau adalah semesta, percayalah. Sesaat setelah engkau merendamnya, seusai lahirnya secangkir atau segelas teh hijau tanpa ada tambahan bahan lainnya. Ampas teh hijau ini kerap saya gunakan untuk dijadikan masker wajah. 

Untuk urusan masker wajah. Beberapa jenama masker wajah sudah saya gunakan, dan, hanyalah bahan-bahan alami ini yang mau akur. Jenama berharga tinggi itu usah kau tawarkan, isi dompet kelak menjerit. Khawatir aku dibuatnya.

Lagian, bukannya sok-sokan pakai bahan alami, wajah saya yang sensitif ini hanya ikhlas dilumuri semacam madu, kunyit, kayu manis, jeruk nipis, atau teh hijau saja. Irit memang. Satu bahan bisa saya minum sekaligus saya jadikan masker wajah. Wajah saya ini memang tidak gemar mengocek saku lebih dalam. Fresh in dan out side-lah pokoknya. Harga aman terkendali.

Upaya lain dalam meraih hidup sehat dan jalan yang saya tempuh sebagai perlawanan pada kerutan ini, adalah mencoba menanggalkan dan meninggalkan produk-produk kecantikan berbahan kimia. Yaa Rabb, susah pisan. Berhenti menggunakan pencuci muka, krim-kriman, dan kawan-kawannya sebenarnya tak pernah terpikirkan untuk saya lakoni. Wajah sesensitif ini apa kabarnya kalau berwara-wiri di jalanan tanpa dilindungi krim dan dibersihkan oleh facial foam. Apa jadinya?

Bersamaan dengan mulai membiasakan diri mengonsumsi teatox, sekiranya pekan pertama di Januari, saya pun berusaha mengurangi interaksi saya dengan produk-produk kecantikan itu. Sampai tulisan ini saya terbitkan. Saya sudah berhasil melalui hari tanpa menggunakan facial foam, facial toner, night cream, pelembab, dan deodorant berbahan kimia. Semuanya baru memasuki bulan ketiganya, masih bau kencurlah saya ini. Masih kalah jauh sama para pakar yang sudah 8 tahunan ke atas memilih jalan hidup seperti ini.

Fase try and error sampai saat ini masih berlangsung. Coba resep bahan alami sana-sini juga masih saya jalani. Lha, lagi-lagi perkara wajah sensitif ini. Saya kok khawatir, jangan-jangan wajah saya kadar sensitivitasnya melebihi hati. Saking pekanya, doyan menunjukkan protes dalam bentuk jerawat bandel. KZL akooh.

Dalam pencarian saya, oil cleansing method dan honey cleansing method menjadi dua alternatif pilihan yang saya temukan. Setelah menemukan beberapa resep pembersih wajah alami, saya kemudian mengecek harga per item. 

Yaa Tuhan, selain perkara belum banyak dijual umum, yang artinya saya mesti membeli secara online. Selain adanya penambahan biaya pengiriman barang. Minyak kepala murni kualitas premium seberat 250 mililiter itu harganya sekitaran hampir seratus ribuan. Begitu pun dengan minyak jarak atau castor oil seukuran 500 mililiter. Glek, saya bisa beli satu atau dua buku kalau begini. 

Saya perlu teman - hidup - berbagi ongkos dan minyak kalau begini. Syukurnya ada seorang teman yang juga sedang mencari teman berbagi minyak jarak. Bersamanya, kami malah saling berbagi informasi tentang minyak-minyakan, juga perihal minyak esensial. Darinyalah saya tahu tentang cold pressed dan processed.

Oh iya, saya dan dia sempat sampai bergerilya mencari minyak jarak ke bagian minyak di beberapa swalayan, kami juga bertandang ke beberapa toko obat ternama yang disarankan beberapa situs berbasis forum. Dan akhirnya kami menyerah, belanja online adalah solusi.

Namun, selain teh hijau, cuka apel, dan minyak jarak serta minyak kelapa yang sama-sama cold processed. Bahan-bahan lainnya, saya upayakan membelinya di pasar tradisional. Untuk madu sendiri, saya membelinya melalui teman serumah yang langsung mengambil madunya dari para pencari madu di Camba, kabupaten Maros.

Saya tak begitu paham tentang kajian ekonomi mikro dan makro, saya juga bukan bagian dari sebuah pergerakan. Akan tetapi, semenjak bergaul dan doyan nongkrong keren pun asik di Jurnal - sudah setahun tidak berkunjung ke sana, hiks - sejak tahun 2012 lalu. Dari mereka, saya selalu diwanti-wanti untuk selalu berbelanja di pasar tradisional atau sebisa mungkin membeli langsung dari para petani. Sebab, semua itu melambangkan bentuk terima kasih kita, juga sebagai jalan berbagi rejeki. Saya setuju tentunya.

Nah, setelah peralatan tempur sudah ditangan. Saya kemudian mencoba oil cleansing method. Saya memulai dengan menggunakan minyak kelapa murni yang dipadukan dengan minyak jarak. Serta beberapa tetes tea tree oil jenama TBS, yang harganya hampir bikin saya mewek di hadapan kasirnya. Karena proses pembilasan yang mesti menggunakan handuk dan air hangat, saya lantas menyerah untuk menggunakannya. Telaten bukan nama tengah saya, T_T

Minyak jarak dan minyak kelapa yang sudah diramu kemudian saya alih fungsikan menjadi body oil. Minyak jarak dan tetesan tea tree oil juga saya gunakan sebagai pengganti night cream. Beberapa situs dan testimoni orang-orang mengatakan bahwa minyak jarak sangat baik bagi kulit, terutama untuk melawan wrinkle. Sebulan terakhir ini, saya memercayakan campuran minyak jarak, minyak biji anggur, dan tea tree oil sebagai pengganti night cream.

Pilihan membersihkan wajah saya selanjutnya adalah honey cleansing method. Hanya saja, madu tidak dapat digunakan untuk mengangkat make up. Madu dalam pengaplikasiannya, bisa digunakan untuk membersihkan wajah saat bangun pagi, atau setelah dilakukan oil cleansing method. Bisa juga menggunakan facial cleanser, lalu menggunakan madu. Ini madu lho yah, bukan dimaduin.

Saya sempat membagi proses membersihkan wajah berdasarkan bahannya. Pagi dengan honey cleansing method, sedangkan malam hari dengan oil cleansing method. Tapi, masih saja repot untuk saya lakoni secara keseluruhan. Untungnya mesin pencari selalu siap sedia saat dibutuhkan bantuannya. Darinya saya mengetahui bahwa campuran baking soda dan madu rupanya dapat dijadikan facial cleanser yang mampu membersihkan wajah.

Akhirnya, honey cleansing method saya lakukan di saat pagi, sedangkan madu dan baking soda kala malam hari. Da-da bye-bye pada oil clenasing method.

Lha, ini kok jadinya semacam ulasan dari seorang beauty blogger yak. Ahhh, apalah akooh ini. Mau menulis tentang terima kasih pada para pemberi hadiah dan ucapan selamat serta doa. Jadinya curhat dan sampai berbagi resep macam ini. 

Ya sudah. Saya menutup tulisan ini dengan sekali lagi menyampaikan rasa terima kasih saya untuk semuanya. Terima kasih masih memilih saya dalam lingkungan dan kehidupan kalian, pun dalam ingatan. Terima kasih.

Terima kasih mungkin tidak cukup untuk membalas apa yang mereka berikan bagi saya. Tapi setidaknya, dengan berterima kasih, saya ingin menunjukkan bahwa saya sangat berbahagia dan bersyukur atas kehadiran mereka mengisi hari-hari saya.

Semoga Tuhan selalu melimpahkan berkahNya dan semesta selalu mendukung rencana kita.

Tabik.


Surya R. Labetubun

You Might Also Like

0 komentar