Saya dan Sesuatu yang Disebut Acara Keluarga

Ilustrasi Keluarga.
Sumber : the-exponent.com
Tepatnya dua bulan lalu, ketika bersemuka dengan om dan tante. Saya mendapat kabar bahwa adik sepupu saya - yang juga merupakan anak mereka - akan melangsungkan pernikahannya di awal bulan Desember. 

Selang sekiranya 3 pekan kemudian, om menghubungi saya via telepon. Di Sabtu siang itu, beliau mengabarkan tentang rencana pengantaran uang belanja, yang dalam tradisi Bugis Makassar dikenal dengan sebutan Uang Panai. 

Beliau menginformasikan rencana pelaksanaannya, sembari menyampaikan agar saya turut hadir. Bahkan, di penghujung percakapan kami yang singkat itu, beliau meminta saya menginap saja di rumahnya. 

Sayangnya, kegemaran saya tidur terlalu larut justru membuat saya menghindari setiap ajakan atau seruan menginap di rumah orang-orang. Sebagai penikmat pagi garis keras, saya jelas melawan pola hidup orang kebanyakan - bukan keseluruhan manusia -. Pagi, seperti biasanya, adalah sebuah waktu untuk memulai segalanya. Tetes-tetes keringat sudah mulai mengalir, sedangkan saya masih saja molor. 

Sekalipun saya tak menginap di rumah om, saya berusaha datang sepagi mungkin. Jujur saja, saat mengikuti pelaksaan Uang Panai, saya hanya terlelap sekiranya 2 jam saja. Pas pukul 7 pagi, saya telah membasahi diri dan membasuhnya hingga bersih. Syahdan berganti baju dan memanaskan motor.

Dengan waktu tempuh 10 menit. Saya tiba di rumah om sekitar pukul 8 pagi.  Berhubung rumah itu sudah seperti rumah sendiri. Saya melayani diri sendiri. Lantas menikmati secangkir teh dan beberapa potong kue. Menunggu para sepuh dan saudara mama yang lain. Sebab, rencananya, kami akan bertandang ke rumah calon mempelai perempuan tepat pukul 10.

Mesti tidur masih kurang, hal ini tidak menyurutkan semangat saya untuk ambil bagian pada acara itu. Apalagi saat bertemu dengan saudara-saudara mama dan keluarga yang lain. 

Dan, Ahad kemarin. Empat Desember. Adalah hari dimana pelaksanaan resepsi adik sepupu saya. Sayangnya, saya tidak berkesempatan hadir saat pelaksanaan akad nikah. Sebab, saya sedang bekerja. 

Pun, tidak menghadiri acara pengajian, keluarga om bersepakat tidak melangsungkan acara malam Mappa'cing - dalam adat Bugis Makassar ini semacam malam meminta doa restu dan kesempatan untuk meminta maaf dari calon pengantin - dan menggantinya dengan kegiatan pengajian saja. Saya tidak mendapat informasi kapan pelaksanaannya, di waktu yang sama aplikasi BBM saya juga sedang eror. Sehingga, pesan yang dikirim dan terkirim selalu saja telat tibanya. Sialnya, saya hanya berkomunikasi via BBM dengan para sepupu saya. 

Pada acara resepsi tersebut, seluruh saudara mama, minus yang berdomisili di Bau-Bau dan Mawang, semuanya hadir. Mereka dalam formasi paling lengkap. Suami dan istri, serta anak, menantu, dan cucu. Om Manaf, adik mama yang berasal dari Ambon pun menyempatkan diri hadir. Beliau menghadiri keseluruhan ranglaian acara. 

Om Manaf yang sejak tiba di hari Jumat sampai hari Sabtu belum bersua dengan saya. Pada akhirnya beliau memilih menyidak saya di rumah tepat di Ahad pagi. Pesawatnya sudah mesti lepas landas di Ahad siang. Beliau khawatir tak sempat bertemu dengan saya.

Pukul enam pagi pagar saya sudah berbunyi gaduh. Tanpa sepatah kata. Betapa kagetnya saya. Tetapi tetap saja saya tak bergeming dari tempat tidur. Saya dan teman serumah saya hanya akan membuka pagar bagi orang yang menyahut atau memanggil nama kami saat membunyikan pagar. Ini adalah salah satu cara yang kami gunakan dalam mengidentifikasi tamu kami. Sebab, kami pernah memiliki kejadian dan pengalaman buruk dengan tamu tanpa sahutan. Buruk sekali.

Saya tetap saja diam. Padahal sudah sekitar 5 menit pagar berbunyi. Di saat itu, sebuah pesan dari kakak sepupu saya masuk. Dia menyampaikan bahwa om Manaflah yang sedang berada di depan rumah saya. Bergegaslah saya menuju pintu rumah, lalu membukakan pagar. Beliau menyambut saya dalam senyuman lebarnya, memeluk saya, dan memaafkan saya yang lambat menerimanya di rumah.

Beliau menanyakan kabar saya dan adik saya, Ibo. Pun bertanya siapa teman serumah saya dan apa aktivitas saya. Menyampaikan harapannya agar saya baik-baik dalam hidup ini. Lantas terburu-buru pamit karena masih ada kegiatan yang menantinya. Sebelumnya, beliau bertutur mengharapkan bertemu dengan saya di gedung pelaksanaan resepsi adik sepupu saya. Saya tak hanya berjanji, tentu saja saya akan hadir.

Pada banyak kesempatan, kerinduan saya kepada mama tak sedikit saya salurkan saat menghadiri acara keluarga. Walaupun, bagi beberapa keluarga, saya dikenal sebagai gadis yang selalu telat datang atau bahkan sering bolos pada acara-acara keluarga. 

Selain gemar molor pagi, saya juga cenderung suka bersemedi di rumah. Jadi, jika ada acara keluarga yang mendadak atau tak saya tahu detailnya, besar kemungkinan, batang hidung saya tak terlihat selama acara berlangsung.

Kalau sudah begini, saya mesti siap diserbu pertanyaan dari keluarga. Kemana kah saya? Kenapa tidak hadir? Apakah saya lebih memilih nongky cantik bareng teman ketimbang bersua dengan keluarga? Sungguh, keprihatinan seperti ini biasanya saya hadapi dengan cekikikan atau diam sambil senyum selebar mungkin. 

Selepas itu, dalam setiap kesempatan, om dan tante mendahului saya dengan pernyataan agar saya tak memasukkan setiap kata dari mereka dalam hati atau sakit hati dengan polah tingkah mereka sembari menepuk pundak saya atau merangkulnya. Saya akan menimpalinya dengan sebuah pengakuan, bahwa, yah memang saya yang salah karena tidak muncul. 

Bagaimana pun, mereka semuanya adalah orang tua saya. Mau itu marah, teguran, atau apapun itu, saya harus mampu memaknainya sebagai wujud perhatian dan sayang dari mereka kepada saya. Saya paham betul itu. Dahulu mama sudah menegaskan hal ini kepada saya.

Bagi saya, selama tiada pertanyaan kapan nikah, percakapan itu akan baik-baik saja, sumpah, hehehe.

Sehat terus om, tante, dan sepupu....

You Might Also Like

0 komentar