Perempuan Menonton Perempuan

Saya dan teman nonton berfoto bareng dengan pemeran tokoh ibu, Luna Vidya.
Sumber foto dari Risma Y. Wahab

Kali pertama saya menyaksikan sebuah pementasan pada Maret tahun 2009 silam. Saya sungguh terpukau dengan pertujukan yang dipersembahkan oleh The Indonesian Choir kala itu. Langsung dikomandoi oleh Jay Wijayanto, gedung Usmar Ismail menjadi tempat pementasan yang luar biasa memukau.

Saat menyaksikannya, tak sekali dua bulu kuduk saya merinding. Emosi saya beradu. Pada beberapa bait lagu, saya merasa bahagia tanpa bisa terbendung. Di sela-sela itu, saya terkagum-kagum tiada henti. Baru kali ini saya merasakan dan menyaksikan pertunjukan macam ini. Sebelum-sebelumnya, saya hanya mampu menemukannya pada gambar di koran atau di sebuah situs, video streaming. 

Saya sungguh berterima kasih kepada kakak sepupu saya, Jihan. Karena dialah hingga saya pada akhirnya bisa menyaksikan sebuah pementasan. Utang rasa dari saya padanya.

Pengalaman itu – menyaksikan pertujukan pertama kali – pada akhirnya mengarak saya untuk terus mencarinya, sebisa mungkin menemukan diri saya kembali pada sebuah pertujukan. Entah dalam pementasan teater atau pertujukan musik. Ada semacam keinginan untuk kembali merasakan emosi yang bergejolak itu. 

Sayangnya, selepas menyaksikan Jay Wijayanto bersama The Indonesian Choir. Saya lantas tak pernah lagi mengulang pengalaman itu. Saya kesulitan mendapatkan informasi tentang pergelaran atau pementasan di kota saya. Ini bisa terjadi – mungkin saja - karena saya tak memiliki link atau akses dengan orang-orang yang berkecimpung di dunia seni. Tidak ada orang yang mengarahkan saya. Mana saya juga tak tahu harus memulai dari mana pencarian saya.

Pada akhirnya saya menjadi pasrah. Saya pasrah jika tahun berganti tanpa sempat saya isi – meski hanya sekali saja – untuk menyaksikan sebuah pertunjukan. Jadilah saya mengisi hari-hari saya dengan membenamkan diri pada drama Korea atau anime Jepang. Itu pun hasil copy dari teman atau download.

Semuanya berubah semenjak saya mengenal Nanik dan menceritakan keinginan terpendam saya itu. Saya akhirnya berhasil menonton sebuah pertunjukan berkat bantuan teman sekantor saya itu pada Desember tahun 2015 lalu. Dari Nanik, selain mendapat informasi waktu dan tempat pertunjukan. Saya juga diberi ekstra informasi tentang pertunjukan yang saya tonton. Semacam penjabaran mengapa pertujukan itu mesti saya tonton.

Saya percaya dengan apa yang Nanik tuturkan. Itu semua bukan tanpa alasan, pasalnya, kala masih kuliah, Nanik juga sering ikut pementasan. Nanik bergabung di Teater Satu Mei, sebuah UKM di kampusnya. 

Aktivitasnya dalam berseni terhenti sejak Nanik memutuskan konsen mengajar sekaligus melanjutkan kuliahnya. Semakin bulat lagi, karena kini sedang menikmati masa-masa indahnya bersama anaknya yang masih berusia 8 bulan, Ahsan.

Syahdan, di tahun ini pun, Nanik juga memberikan sebuah jadwal pementasan kepada saya. Teater Studio Makassar akan menggelar sebuah pertujukan berjudul Aku Perempuan. Bergegaslah saya menyebarkan informasi itu pada teman-teman saya. 

Saya menghubungi mereka satu per satu. Si Risma saya informasikan via whatsapp, sedangkan Amma dan kak Dian melalui BBM. Hanya seorang saja yang menyanggupi. Seorang lagi menolak dengan alasan sudah malas jalan bareng jomblo pro, asemmmm. Yang terakhir, kak Dian, tidak ikut dengan alasan yang belum saya ketahui.

Pertunjukkan ini dilaksanakan sejak tanggal 21-23 Desember dengan pembagian waktu pementasan. Penonton dapat memilih menyaksikan pertunjukkan yang disaksikan pada pukul 16.00 WITA atau meluangkan waktu di jam 19.30 WITA. Setelah menyampaikan detail acara, saya pun berdiskusi dengan Risma. Kami lantas memutuskan akan menonton pertujukan pada Rabu malam saja.

Berbeda dengan aksi menonton teater seperti tahun lalu. Kali ini, saya menyaksikan pertunjukkan tak hanya bersama Risma. Sebab, Risma berhasil mengajak seorang adiknya yang akan kembali ke pesantren, bernama Iif. Serta mengajak 2 orang kenalannya lagi. Asal tahu saja, kami berlima semuanya perempuan.

Aksi jepret-jepret penonton selepas menyaksikan pertunjukan Aku Perempuan
Sumber foto : Surya R. Labetubun

Menuju yang Dituju
Tepat di hari yang disetujui. Kepada senja yang semakin menua. Setelah berolahraga ringan dan sebelumnya mencuci pakaian. Saya kemudian mandi, lantas bersiap-siap menuju ke tempat pertujukan di gedung Kesenian Societeit de Harmonie – kami biasanya cuma menyebutnya gedung Kesenian - yang berlokasi di jalan Riburane 15.

Tepat kurang lima menit pukul tujuh malam, saya meninggalkan rumah dengan mengendarai sepeda motor. Sesaat sebelumnya, saya sempat berbalas pesan dengan Risma. Sekadar memastikan dimana posisi masing-masing.  

Risma berangkat bersama Iif, yang pada akhirnya menjemput Hyobin, kenalan baru kami. Hyobin berasal dari Korea Selatan, dia berdomisili di Seoul. Kedatangannya di Makassar untuk mengunjungi Toraja dan beberapa tempat wisata lainnya. Hyobin mampu berbahasa Indonesia dengan baik. 

Sedangkan seorang lagi teman nonton saya bernama Lisa, saya menyapanya dengan sebutan kak Lisa. Perempuan ini enak diajak omong apa saja. Dia gokil. Kali pertama saya bertemu kak Lisa saat saya ada janji kongkow bersama Risma di Sofikopi. Setelah itu, saya hanya berjumpa dengan kak Lisa saat jogging. 

Saya beruntung, dalam perjalanan menuju gedung Kesenian, lalu lintas di jam tujuh malam saat itu sangat langgeng. Padahal, pada hari-hari biasanya, di jalan raya kompleks hunian saya. Jam tujuh adalah waktu dimana klakson saling mengadu, kendaraan memadat, kadang tersumpat pada lebih dari dua titik. Macet tidak terelakkan.

Melalui jalanan yang lenggang sambil mengendarai motor dengan sangat santai. Saya pun tiba di  tempat pertujukan pada pukul 19.35 WITA. Di parkiran, saya melihat kak Lisa sedang asyik menggunakan gawainya. Setelah memarkir motor. Saya lantas menghampiri kak Lisa, seingat saya, sudah sekitar dua bulan saya tak berjumpa dengannya. Dari kak Lisa, saya tahu keberadaan Risma terkini. 

Karena takut bahwa pertujukannya telah dimulai, saya dan kak Lisa memutuskan untuk melangkah menuju tempat pembelian tiket. Setibanya di sana, kami mendapat kabar bahwa pertujukan akan dimulai tepat pukul 20.00 WITA dan akan berlangsung selama sekitar 60 menit. 

Saat kami sedang melakukan registrasi, Risma bersama Iif dan Hyobin muncul. Tuntas pendaftaran. Segera saja kami membeli tiket, lalu bertukar kabar dan sapa satu sama lain sembari menanti pertujukan dimulai.

Oh iya, sekali pertujukan dapat kamu saksikan dengan cukup merogoh sakumu dan mengeluarkan uang senilai tiga puluh ribu rupiah. Terserah, mau pakai uang yang paling baru – yang katanya serupa dengan uang dari negara Cina – atau tidak. Kamu tetap dilayani dengan ramah kok. 

Kamu pun bisa memboyong pulang buku karya Utuy Tatang Sontani yang berjudul Selamat Jalan Anak Kufur, kisah inilah yang kemudian dipentaskan dengan judul Aku Perempuan, dan sebuah booklet dengan harga dua puluh lima ribu rupiah.

Tiket Aku Perempuan
Sumber foto : Surya R. Labetubun

Menonton Aku Perempuan
Di luar ruang pertunjukan makin ramai dengan para penonton. Kami sibuk dengan kegemaran masing-masing. Ada yang bertengger di rak buku. Beberapa bersuka cita dan asyik jepret-jepret. Ada juga yang memilih duduk sambil bercengkrama. Semuanya tak sabar ingin menyaksikan pertujukan itu.

Saat masih asyik bercakap, pihak panitia penyelenggara menyampaikan bahwa pertujukan akan dimulai dan mempersilahkan kami memasuki ruang pertunjukkan. Kami masuk dengan tertib. Ketika berada di pintu masuk bagian pertama, setiap tiket dirobek. Setelah itu, kami melalui selasar yang berjarak kurang dari tiga meter. Lantas memasuki pintu kedua yang ruangannya digunakan untuk pertujukan. 

Pada pertujukan ini, ruangan yang digunakan bermodel seperti studio. Kursi-kursi merah pada sisi kiri dan kanan. Serta sebaris kursi putih yang berada tepat di depan panggung. Sebuah kipas angin turbo ditaruh di tengah ruangan, sayangnya, saya dan teman-teman tetap saja merasakan panas yang diam-diam semakin menjadi di awal pertujukan.

Dengan pertimbang Risma mudah kaget dengan suara yang mendadak muncul atau dengan nada tinggi, terutama jika duduknya terlampau dekat dengan panggung. Ditambah mata saya minus. Belum lagi karena kami ingin berada tak jauh dari posisi kipas angin. Kami sepakat untuk duduk di baris ketiga. Pencahayaannya pun pas. 

Sejak masuk, ruang pertujukan dipenuhi dengan segala ujar dari seluruh penonton. Segala keriuhan itu mendadak hilang saat sebuah suara menggema. Penutur ini menyampaikan bahwa pertujukan akan segera dimulai. Kami dimintanya menggetarkan telepon selular – baik yang harganya mahal maupun murah - dan memohon kepada penonton yang ingin mengambil gambar selama pertujukan berlangsung, agar tidak menggunakan flash.

Lampu di ruangan dipadamkan. Suara penutur sirna. Kemudian, sebuah lampu sorot mengarah ke panggung. Pertujukan dimulai dengan menampilkan St Rusniaty Onemay sebagai seorang pelacur bernama Titi dengan mengenakan baju merahnya sedang berdiri di sebuah tiang listrik. Di belakangnya, tampak sebuah warung, tempat germonya tinggal. Tampak Luna Vidya memerankan ibu - sebutan untuk germo Titi - duduk di dalam warung. Tepat di samping warung itu, sepetak kamar yang dihuni Titi. 

Percakapan diawali oleh seorang lelaki yang berprofesi sebagai tukang copet yang sedang merayu Titi. Mengajak Titi ngamar padahal tak punya uang sepeser pun. Sudah tentu, Titi menolaknya mentah-mentah. Sesuai ajaran ibu, Titi hanya boleh menerima tamu berduit.

Selanjutnya, pertujukan ini menampilkan tokoh-tokoh yang silih berganti dengan nilai penyampaian yang beragam. Tentang seorang tukang becak bernama Rais yang memiliki rasa pada Titi, menguji kekuatan hati Titi. Tentang seorang lelaki kasar yang di kepalanya hanya mau ngamar saja dengan Titi, meski berduit, Titi menolak lelaki ini. Juga tentang seorang lelaki berusia 42 tahun yang datang berjumpa dengan Titi sekadar bertukar tanya demi tanya.

Pertujukan yang disutradarai Abdul Kadir Anshari ini menampilkan kisah pelacur kelas bawah yang diajar untuk memegang teguh profesionalismenya. Bertindak, berlaku, dan berpikir layaknya sebagai seorang pelacur. 

Selayaknya seorang pro, Titi tak perlu ada asas suka dalam bekerja. Malahan, tiada boleh ada rasa setitik pun. Sebagai seorang perempuan yang pernah dicampakkan suaminya, kamar adalah daerah teritorial Titi untuk merebut kembali kemerdekaannya. Wilayah dimana Titi memegang tampuk kekuasaan tertinggi. Mengendalikan lelaki yang dikendalikan nafsunya.

Pada penghujung pentas, Titi dihadapkan pada dua pilihan. Menerima Rais yang mencintainya, yang telah menunjukkan akan mengorbankan dirinya jika memang Titi menghendakinya. Atau tetap di jalurnya sebagai seorang pelacur bersama ibunya. Ibu yang selama ini memerdekakan Titi dari dominasi lelaki. 

Pertujukan ditutup dengan akting ibu yang luar biasa. Begitu emosional dan alami. Dari tempat saya duduk, saya mampu menyaksikan tatapan Luna Vidya yang penuh amarah dan berkaca-kaca. Saya mampu merasakan suaranya yang bergetar. Sungguh pertunjukan yang bagus.

Menyaksikan pertujukan ini, saya dan teman-teman tidak merasakan waktu yang terus bergulir. Lampu panggung dipadamkan sesaat. Ruang kembali dilimpahi penerangan. Selanjutnya, semua pemain memenuhi panggung, pun juga memanggil para pendukung hingga pertujukan ini terlaksana. Menyebarkan ucapan terima kasih dan bersuka cita.

Salah seorang dari pengisi panggung kemudian mempersilahkan para penonton menuju ke panggung untuk berfoto bersama para pemain. Saya dan teman-teman tidak menyia-nyiakan kesempatan itu, dengan segera kami menuju ke Luna Vidya. Lantas berfoto bersama.

Terima kasih Teater Studio untuk pertujukan akhir tahunnya yang bagus. Terima kasih untuk informasinya, Nanik, kita kapan nonton barengnya? Oh iya, tahun depan kita berkunjung lagi pada pertujukan yang lain yah, ladies….

You Might Also Like

1 komentar