Doa untuk Ibu

Ilustrasi dari turbanliterasi.com
Pada caption di instagram saya. Saya melampirkan gambar sebuah vihara yang berlokasi di jalan Salahutu. Tempat vihara ini tidak berjauhan dengan rumah yang dihuni oenni (sebutan dari adik perempuan kepada kakak perempuannya dalam bahasa Korea) saya. 

Saya memaparkan bagaimana kedekatan saya dengan oenni yang bernama lengkap Dian Adjeng. Keakraban kami semakin mendalam sejak mama saya mangkat. Hal itu terjadi sekitar 2010. 

Dalam rentan waktu itu - sampai saat ini - tak sekali dua saya berkunjung ke rumahnya oenni. Tersebab karena hal itu, maka saya kemudian mengenal saudara-saudara oenni dan juga ibunya. Ayahnya sudah wafat sebelum saya akrab dengan oenni.

Ibunya oenni, dalam beberapa hal mengingatkan saya tentang mama. Pada rambutnya yang memerak, wajahnya yang tetap jatmika, dan kekhawatirannya terhadap anak perempuannya pun hampir sama. 

Beberapa kali, mamanya oenni sering curhat ke saya. Gaya penyampaian curhatannya selalu saja mengingatkan saya tentang mama. Baik dalam ekspresinya maupun pada tutur katanya. 

Saya tak sedih, saya malah senang. Sebab saya setidaknya bisa melihat sisi-sisi lain dari jejak mama yang masih melekat dalam serakan ingatan. Betul, melalui ibunya oenni tentunya. 

Syahdan, masih pada caption di instagram saya. Saya menyampaikan tentang kabar duka yang berhembus dari oenni. Ibunya telah kembali kepada pangkuannya tepat pada hari Senin, dua belas Desember. Beliau meninggal sekitar pukul 3 sore.

Sayangnya, kabar duka itu telat saya ketahui. Saya mengetahuinya ketika saya menelpon oenni. Saya sedang ingin memastikan bagaimana kondisi ibunya oenni saat saya menelponnya. Sebab, pagi hari, oenni menelpon saya dan menyampaikan kondisi ibunya yang kian menurun. 

Setelah menelpon oenni. Segeralah saya menyampaikan kabar duka itu kepada sahabat-sahabat saya. Memberitakan kapan jenazah dikuburkan. 

Pada hari berikutnya, Selasa. Saya dan beberapa sahabat oenni menuju ke rumah duka. Melihat ibunya oenni untuk terakhir kalinya. Lantas melepaskan ibunya oenni dalam sebaik-baiknya doa.

Bertepatan di tanggal empat belas Desember ini. Saya mengejakan menerbitkan tulisan ini. Sebab, di tanggal yang sama setahun yang lalu, sahabat saya, Nurhusniah Thamrin juga kehilangan ibunya. Sedangkan sahabat saya yang lain, Chaerun Muhtmainna, pada belasan tahun lalu, mengalami hal serupa.

Melalui tulisan ini. Saya berharap, dan jika saudara serta saudari berkenan, kapan pun saudara dan saudari membaca tulisan ini. Mohon kiranya menghadiahkan doa kepada ibu para sahabat saya ini.

Sekadar catatan, tulisan ini tak bermaksud menyerupai tulisan yang bertujuan mengharapkan surga melalui klik share atau ketik aamiin. Sungguh, tulisan ini didasari dengan hati yang tulus kepada sahabat-sahabat saya beserta ibu mereka. Sebab, bagi saya, mereka semua (para sahabat dan ibunya) adalah orang-orang baik yang disisipkan Tuhan dalam kehidupan saya.

Untuk saudara-saudari yang berkenan mendoakan ibu-ibu sahabat saya ini. Saya berharap semoga kita semua bisa hidup bahagia dan selamat sentosa.

Tabik.

Untuk yang ingin menghadiahkan surah Alfatihah, berikut ini nama lengkapnya. 
Ibu Dian Adjeng, Dra. Hj. Rohanna Bella
Ibu Nurhusniah Thamrin, Dra. Hj. Syuhada Paci
Ibu Chaerun Muthmainna, St. Asseng binti Beddu
Sekali lagi terima kasih.

You Might Also Like

0 komentar