Muhsin dan Panda-Pandanya

Panda Pemberian Muhsin
Sumber Gambar : Surya R. Labetubun

Muhsin adalah saudara sepupu sahabat karib saya. Saya dan sahabat saya itu, kami diberi nasib pernah menyukai lelaki yang sama, uhut. Saya mengenal Muhsin dimulai saat dia masih saja berusia beberapa bulan. Dalam ingatan saya, Muhsin merupakan bayi dengan pipi paling montok dan berwajah bulat penuh yang pernah saya temui.

Bayi lucu itu kemudian bertransformasi menjadi balita yang doyan bertanya,mengendarai sepeda, menempelkan stiker, dan bertingkah laku yang lebih sering sukar ditebak, pun menggemaskan. 

Salah satu tingkahnya ialah saat menanyakan mengapa saya dan sahabat saya itu menyisihkan kulit udang di bibir piring kami masing-masing. Atau mengomentari bakso buatan sahabat saya, tidak bagus bentuk baksonya, katanya. Atau menjahili kami dengan menanyakan judul film yang sedang ditayang di televisi, Muhsin secara terus-menerus hanya berujar, "Apa judulnya itu film?". Padahal kami sudah menjawabnya.

Pada pertemuan saya kemarin malam, setelah sekian tahun tak bersemuka dengannya. Layaknya anak-anak pada umumnya, pertemuan saya dan Muhsin diawali dengan aksi malu-malu tapi mau darinya. Setiap pertanyaan dan penyataan yang saya lontarkan, tak satupun diresponnya. Namun, dia sesekali mencuri pandang ke arah saya, atau melemparkan senyum mautnya. Aduh, meleleh saya dibuatnya. Kalau kamu sudah besar, jinak-jinak merpatimu macam ini bisa-bisa memikat banyak hati perempuan, haha.

Komunikasi kami meningkat pada satu titik, kala sahabat saya memberikan dua lembar stiker padanya. Dua lembar penuh stiker yang berbeda motif. Satu lembar stiker berisikan tokoh kartun Winnie The Pooh dan selembar lainnya dihuni panda. Panda? Agaknya, sahabat saya ini masih merawat ingatannya pada lelaki itu.

Muhsin yang kali ini tampak lebih legam - akibat keseringan mengendarai sepeda tanpa mengenal cuaca - itu, mulai mencari tempat atau barang - apa saja - sebagai sasaran menempelkan stikernya. Sebelumnya, Muhsin telah diberi peringatan bahwa malam itu, dia hanya boleh menghabiskan seluruh stiker pandanya. Untuk Winnie The Pooh mendapat jatah keesokan harinya.

Dia  berlari ke sana ke mari. Menunjuk dan menanyakan apakah barang tersebut boleh digunakan olehnya untuk menempelkan stiker-stikernya itu. Proses negosiasinya sungguh luar biasa. Dia tidak akan menempelkan panda-pandanya, jika tak mendapatkan restu. Akhirnya, gawai saya, sahabat saya, dan ibunya serta dompet kakak sahabat saya menjadi lokasi panda-pandanya mendarat.

Hal yang paling lucu pun terjadi. Mengingat panda-panda itu adalah stikernya, maka Muhsinlah yang memilihkan pandanya kepada kami. Walaupun sebenarnya kami dapat meminta panda yang mana yang kami inginkan. Akan tetapi, hal tersebut mesti atas persetujuan Muhsin.

Saya tak ada masalah dengan model stiker yang akan diberikan Muhsin. Saya hanya mengajukan permohonan agar stiker yang diberikan ukurannya kecil. Itu saja. Anak lelaki itu lantas mengamati satu per satu panda-pandanya, kemudian menatap saya. Melihat kembali ke panda-pandanya, lalu melihat saya lagi. Berulang kali hal itu dilakukannya sampai Muhsin menentukan keputusannya.

Dia lantas menunjuk sebuah stiker dengan pose si panda sedang berdiri sembari membaca buku. Wajah pandanya tertutupi oleh buku yang dipegangnya. Lucu sekali. Saya sontak ge-er. Wah, anak ini tahu betul kalau saya memang suka baca - novel atau komik - buku. Tentu saja saya senyum selebar mungkin.

Syahdan, Muhsin kemudian menghentikan gerakan tangannya tepat saat akan menempelkan si panda ke gawai saya. Bukan itu, katanya kepada saya. Dengan cekatan, tangannya kini melompat ke panda yang lain. Ini cocok, ujarnya. Saya lantas mengamati si panda yang ditunjuknya. Yaa rabb, anak ini jeli betul. 

Saya diberikannya si panda yang memegang buku akan tetapi dalam posisi berbaring dan tertidur. Muhsin sungguh sesuatu. Tahu saja dia kalau saya ini memang gemar tidur. Tak sampai di situ, dompet saya diraihnya, lalu ditempelkan sebuah stiker lagi. Ini panda besar untuk kakak, jelasnya.

You Might Also Like

0 komentar