Senin dan Hal-Hal yang Minta Diselesaikan

Ilustrasi
Sumber : www.sisidunia.com

Diserang flu dan demam sejak Minggu sore. Segera saja saya mengonsumsi tablet vitamin C, kemudian beristirahat. Berharap, Senin pagi, kondisi saya sudah membaik. Minimal, saya dapat beraktivitas walaupun belum dalam kondisi semula.

Nyatanya, entah umur yang berkhianat atau memang karena asupan gizi yang tidak sepenurut standar empat sehat lima sempurna. Belum lagi saya yang tak sekali dua kali bolos dari jadwal berolahraga. Sehingga Senin saya lalui dengan seharian berbaring di tempat tidur.

Kalau sudah begini, tentu saja saya tak bekerja. Ijin. Ah, mungkin, bagi beberapa orang, saya terkesan manja. Masak iya, flu dan demam bisa membuat keder perempuan pecinta hujan macam saya ini.

Oh, tentu saja. Penyakit semacam flu, demam, kepala pening, dan masuk angin yang menyerangnya berbarengan itu bisa membuat saya takluk seketika. Jangankan berjamaah macam begini, flu yang datang sendirian tetapi dalam serangan penuh. Tentunya mampu membuat saya tepar, Bung dan Nona.

Oh ya? Iya. Saya mungkin masih dapat sabar menahan nyerinya perut akibat maag, atau perihnya sakit gigi. Tapi tidak untuk flu dan patah hati, eh.

Sejak kecil, flu adalah serangan yang selalu saja menuai kemenangan melawan saya.  Setiap kali saya didera flu, demam dan sakit kepala tak pernah alpa ambil bagian. Dalam kondisi begini, secara psikis, saya menjadi murah ngambek, gampang berubah suasana hatinya. Bawaannya kelewat manja.

Kalian pasti tahu, keadaan muram bak ini, lebih mudah memancing datangnya penyakit yang lain, bukan? Jika bertepatan dengan musim penghujan, besar kemungkinan masuk angin, batuk, atau diare ambil jatah. Yah, seperti Senin ini.

Apa? Kalian tidak percaya? Jadi begini, kalau Bung dan Nona paham tentang kaitan kondisi psikis dengan tubuh. Maka, Bung dan Nona mengerti maksud saya. Yah, semisal mengapa orang yang tertekan atau depresi justru lebih mudah diserang penyakit atau melemahnya sistem pertahanan tubuhnya (antibodi). Ketimbang mereka yang selalu berupaya berpikiran positif, atau selalu merasa bahagia. Hussh, jangan sampai dikaitkan dengan status  jomblo. Itu berat, berat sekali.

Kembali pada Senin, sebuah hari yang diyakini sebagai permulaan aktivitas dalam sepekan, sebagai simbol mengawali kesibukan, juga hari untuk menyelesaikan segala hal yang tertunda setelah weekend menghampiri.  

Oh, sudah barang tentu. Senin lebih erat dikaitkan sebagai hari yang mampu merenggut kebahagiaan dari indahnya akhir pekan. Dengan antagonis, Senin datang tanpa pernah sanggup dihalangi. Tak pernah telat. Bahkan, terasa tiba dengan tergesa-gesa.

Syahdan, ada juga yang mengutuk Senin. Rasanya begitu berat meninggalkan tempat tidur. Bahkan, untuk berjalan menuju kamar mandi, kok jaraknya seperti sepuluh tahun cahaya. Ini berbeda kalau Bung dan Nona punya rencana atau janji dengan mereka yang terkasih. Rasanya, tak mengapa Senin segera menyambar. Bung dan Nona akan berlarian menuju kamar mandi, lalu bersolek, kemudian menemuinya. Bukan?

Senin dan sakit adalah paduan kata yang tidak selaras. Tak jatmika. Kurang seksi. Tapi apa boleh bikin. Saya rupanya harus rela mengecap perkawinan dua kata itu. Kalau sudah begini, segera mengakhiri flu dan demam adalah misi suci nomor wahid yang terus terngiang. 

Bukan apanya, Senin kali ini, saya punya beberapa urusan yang minta diselesaikan. Sebuah proposal yang sejak sepekan sudah ditanyakan kabarnya. Sebuah janji temu dengan kerabat. Niatan untuk menghabiskan senja dengan membaca, dalam kondisi sehat. Dan, rencana mengunjungi swalayan untuk membeli body lotion dan air mawar, serta sidak ke pasar tradisional guna memenuhi hasrat belanja sayur-mayur.

Arghhh, menjengkelkan betul. Senin dilanda flu dan demam ini justru meminta jatah pelunasan yang lebih lagi. Yah, menyicilnya dimulai pada Selasa dan hari berikutnya. 

You Might Also Like

0 komentar