Karebosi Tak Melulu Seputar Bakar Kalori

Sekelompok remaja terlihat sedang berlari di area jogging track.
Sumber gambar : Koleksi pribadi

Mengenai urusan berat badan yang berlebih. Saya memutuskan berolahraga sebagai solusinya. Diet dengan model rendah karbohidrat, atau apapun jenisnya, kok rasanya sukar untuk saya lakoni dengan istikamah. Saya ini mudah tergoda oleh makanan yang menjelma dalam beragam bentuk.

Jujur saja, saya tidak begitu takut dengan kenyataan bahwa lingkar pinggang saya kian lebar. Akan tetapi, saya mudah gentar dengan baju kesayangan yang sudah tidak sudi dikenakan. Lagi pula, perkara membeli pakaian baru tak melulu adalah jalan keluar. 

Kegelisahan saya semakin meningkat acapkali diprovokasi dengan sapaan atau sesekali bisikan penuh tekanan dari kawan dan lawan, mantan tidak ikutan, tentang badan yang kian liar menunjuk angka menakjubkan di timbangan. Emosi saya beraduk. Yaa Rabb.

Tetapi, tak bisa saya pungkiri, mengurangi jumlah lemak yang bertengger di badan saya juga dipicu oleh alasan kesehatan. Sudah menjadi rahasia umum, bahwa berat badan yang berlebih juga menggandeng erat beberapa penyakit. Sebagai jomblo bermartabat dan memiliki masa depan, saya harus segera mengakhiri kegemukan ini!

Niat saya berolahraga akhirnya tercapai tepat di bulan Februari lalu. Ini semacam hadiah saat usia kian menanjak. Sebuah daya melawan teror tentang desas-desus hubungan mesra antara usia bertambah dengan minimnya produksi hormon tertentu. Semisal, terjadinya penurunan hormon pertumbuhan yang bertugas menjaga massa otot. Alamak.

Saya menjalani misi suci dengan berjogging. Satu dari sekian alasan mengapa jogging adalah jawaban dari kegendutan ini. Yah, selain perkara murah, dengan asumsi bahwa saya tak perlu mendaftar di sebuah gym, yang secara rutin dibiayai per bulan. Saya cukup mengoreh kocek untuk membeli running shoes bukan?

Jogging juga mudah saya lakukan. Beberapa tempat alternatif jogging di Makassar bisa saya temukan. Pun, didukung dengan hasil kontemplasi setelah berdiskusi ke search engine sekaliber google. Saya menemukan sejuta manfaat perihal jogging yang berserakan di dunia maya. Maka, bulatlah keputusan saya. Jogging adalah koentji.

Pada awalnya, lokasi yang saya pilih untuk jogging cukup beragam. Mulai dari lapangan di sekitar rumah sampai ke beberapa jogging track. Akan tetapi, saya lebih sering jogging di Karebosi Jogging Track. 

Sedari pertama kali saya jogging di Karebosi atau Karbos, orang-orang di sini menyebutnya demikian, saya langsung jatuh cinta dengan tempat ini. Karebosi sangat teduh dengan beberapa pohon rindang yang berdiri pada sisi-sisi jogging track. Letaknya strategis. Dan, saya hanya membutuhkan waktu sekiranya 20 sampai 30 menit untuk mencapainya dari rumah. 

Sebagai lokasi titik nol kilometer kota Makassar. Karebosi dipercaya oleh masyarakat sekitar sebagai tempat diturunkannya juru selamat dari langit, kala masyarakat Sulawesi Selatan ditimpa masa kelam. Di tempat ini, Anda akan menemukan makam yang disucikan bagi masyarakat Makassar yang disebut Tujua. Yang berarti berjumlah tujuh. Yah, makam yang berada di Karebosi berjumlah tujuh.

Sejak dahulu, Karebosi memang digunakan sebagai sarana berolahraga. Namun kini, tak hanya sebatas menuntaskan hasrat jogging saja. Sebagai ruang terbuka hijau, di Karebosi, Anda akan menemukan 3 lapangan untuk bermain sepak bola. 

Terdapat pula sebuah wahana olahraga yang kerap di hari Ahad pagi digunakan oleh para pegiat Parkour. Walau pun kenyataannya, ini bukan secara khusus menjadi wahana atau taman Parkour. Di sisi berbeda, Anda juga akan menemukan sekelompok orang yang berlatih senam Tai chi. Dan, secara individu ada yang berlatih yoga. 

Karebosi juga memiliki wahana hasil sumbangan BPJS Kesehatan Makassar bekerja sama dengan Pemkot Makassar. Pengunjung wahana ini didominasi oleh anak-anak dan remaja. Dalam setiap kesempatan saya mengunjungi Karebosi, saya menemukan keriangan di tempat ini. 

Anak-anak itu memancarkan keceriannya. Senyum mereka merekah, suara cekikikan mengadu di udara. Oh, betapa semua ini menenangkan. 

Selebihnya, para pengunjung akan menemukan tempat untuk berlatih fisik, seperti sit up, push up, dan pull up pada sisi area jogging track. Juga beberapa spot untuk mengaso, yang biasanya dihiasi dengan para pelapak air mineral botolan dan penganan. 

Selayaknya tempat bertemu, Karebosi memiliki iramanya sendiri. Tempat ini mencapai titik sesaknya pada hari Sabtu, Ahad, dan hari libur nasional. Pada hari yang ramai itu, Anda akan menemukan pedagang yang menjajakan jualannya di tepi jogging track. Anda akan ditawari bervariasi menu, mulai dari yang menyehatkan sampai pada makanan yang hanya  mengenyangkan belaka.

Pada banyak kesempatan, saya justru melihat ada ikhtiar semacam reuni kecil-kecilan di tempat ini. Tak jarang, saya menemukan orang-orang yang sedang mengenakan seragam dengan angka tertentu, berat indikasinya adalah tahun angkatan, entah pada sebuah sekolah atau kampus. 

Saya sendiri malokinya bersama teman saya, tanpa mengenakan pakaian seragam tentunya. Kami adalah teman semasa kuliah. Kami senantiasa berupaya jogging bareng di hari Ahad dan Jumat, itu pun jika saya tidak tertidur. 

Reuni sembari jogging itu sesuai dengan seruan sambil menyelam minum air. Bakar kalorinya dapat, hasrat membangun kembali silaturahmi pun terpenuhi. Bukan begitu? 

Syahdan, Karebosi juga wadah memupuk kebersamaan, mengaitkan emosi, membangun keintiman, bagi mereka yang bekerja dalam satu instansi atau perusahaan. Pun meski hanya sekadar kawan pergaulan, teman sekelas, juga antar tetangga.

Tidak perlu bertanya lebih jauh. Poin yang satu ini pun saya jalani. Bersama teman maupun kenalan. Sambil menggerakkan kaki kami, satu pembahasan meluncur ke pembahasan lainnya. Adu argumentasi tidak dapat dielak. 

Tetapi, atas kesadaran masing-masing, perdebatan kami tak berujung putusnya hubungan silaturahmi. Cukup bertukar isi pikiran saja. Sudah, itu saja.

Terakhir, kita cenderung menyisipkan yang ok di belakang bukan? Nilai fungsi Karebosi sebagai wadah berkasih juga tak bisa dihindari. Anda akan menemukan pemandangan sepasang sejoli yang sedang khusyuk pada ritual kencan sehat mereka. Pasutri muda dengan anak mereka yang masih balita. Atau kakek dan nenek yang berjalan bersama. Mereka itu menjalin kasih sembari memerhatikan kondisi kesehatan masing-masing.

Lantas, bagaimana nasibnya para insan yang belum memiliki kekasih, menghindari penggunaan kata jomblo ngenes atau fakir asmara. Apakah Karebosi mampu menjawab tantangan menemukan pasangan hidup?

Begini, sebagai tempat yang ramai dikunjungi pada pagi dan sore hari, diisi berbagai lapisan strata sosial, beragam profesi. Nyatanya, Karebosi cukup kompeten menjadi media saling lirik, menebar pesona, kemudian menjalin kasih. Tapi ingat, probabilitas berjumpa mantan juga tetap ada.

You Might Also Like

0 komentar