Selamat Jalan Pak....

Sumber gambar : ahmadfarieds.blogspot.com

Pagi ini, aku bangun telat seperti biasanya. Matahari sudah bersinar malu-malu, cahayanya menembus melalui jendela kamar yang dilapisi kain gorden tipis. Sinarnya terasa hangat saat menyentuh permukaan kulit mukaku. Oh, rupanya sudah pukul tujuh lewat lima belas menit.

Serupa pagi dalam seminggu ini. Malamnya, sekiranya setengah jam sebelum aku benar-benar tertidur. Gawai aku matikan, sebelumnya, paket datanya pun aku perlakukan sama. Soalnya, aku ingin beristirahat, begitu pun telepon pintarku. 

Pada setiap pukul 5 pagi hari, teleponku akan kembali hidup secara otomatis, pengaruh pengaturan alarm. Alarmku yang berdering di saat fajar itu sebenarnya tak ada gunanya sama sekali, jika fungsinya dikaitkan dengan bangun pagi. Alarmku hanya mengeluarkan suara sembari bergetar. Itu saja.

Biasanya, setelah mandi kemudian berpakaian. Paket data gawai aku aktifkan, sesaat sebelum akan beranjak ke tempat kerja. Di saat itulah semua pesan masuk satu demi satu melalui akun media sosialku.

Seperti pagi ini. Beberapa rekan mengirimkan pesannya melalui whatsapp dan bbm. Kesemuanya mengirimkan pesan yang serupa. Sebuah kabar duka menamparkanku dengan keras. Seorang dosen kesayanganku telah pergi meninggalkan kami. 

Yusran Bobihu namanya. Aku mengenal beliau di tahun 2004, tahun pertamaku menginjakkan kaki di kampus. Beliau bersama Ketua Jurusan kami dan beberapa dosen lainnya adalah orang-orang yang memulai fondasi di jurusan Teknik Informatika. Beliau adalah satu dari beberapa dosen yang aku dan teman seangkatanku sukai. Kami sudah menganggapnya sebagai orang tua kami di kampus. 

Sosok beliau yang ramah, pengertian, pantang menyerah, dan sabar itulah yang membuat kami mudah akrab dengannya. Sebagai seorang pendidik, beliau tak pernah mengenal lelah dalam menuntun kami, mahasiswa angkatan pertama jurusan Teknik Informatika di kampus. Padahal, beberapa dosen di kala itu mengenal kami sebagai angkatan yang cukup sukar dikendalikan. Polah tingkah kami sangat beragam. 

Dalam ingatanku, beliau tak pernah sekalipun marah kepada kami. Bahkan ketika kami ribut di dalam laboratorium atau terlalu banyak keluhan yang meluncur karena tugas yang menumpuk. Beliau selalu mau diganggu kami dalam setiap kesempatannya. Bahkan saat kami menghubunginya melalui telepon, tak mengenal waktu, tetap saja beliau ladeni.

Kenangan yang paling cemerlang teringat hari ini adalah saat beliau menjadi dosen penguji skripsiku. Rasanya baru beliau, seorang penguji yang hadir tak hanya memosisikan diri sebagai orang yang penuh tanya, curiga, dan ingin tahu banyak hal. Karakteristik penguji yah memang begitu bukan? Meminta mahasiswanya memertanggungjawabkan tugas akhirnya itu.

Beliau hadir di ruang ujian dengan senyumannya paling lebar. Begitu mendapatiku dalam keadaan semi gugup, segeralah beliau menghampiriku. Menepuk bahuku, dan berujar bahwa semuanya akan baik-baik saja. Bahwa ujian memang tak jarang membuat mahasiswa sedikit kikuk, gugup, bahkan grogi setengah mati. 

Tak sampai di situ saja. Ketika melihatku kehilangan konsentrasi saat menyelesaikan perakitan komputerku. Aku memang sedang tidak dalam kondisi prima ketika itu. Sudah tiga hari sebelum ujian berlangsung, makan dan tidurku tak teratur, belum lagi saat itu mamaku sedang sakit. Dan, ah, rasanya terlalu banyak alasan yang memenuhi kepalaku kala itu.

Beliau dengan ringannya lagi-lagi mengunjungiku. Dan tanpa aku sadari, dengan cekatan, tangannya membantuku hingga selesai, termasuk mengoneksikannya. Kemudian tersenyum. Lantas menepuk bahuku, lagi. Fokus, pesannya. Lalu kembali ke kursinya.

Rasanya, terlalu banyak kenangan yang bergulir ketika namanya disebut. Semuanya perkara yang baik-baik. 

Kembali pada pagiku hari ini. Bukan hanya kenangannya yang menyeruak, tetapi melahirkan kesedihan dan air mata. Ahh, kenapa beliau pergi begitu cepat, keluhku. Aku bahkan belum sempat mengajaknya ngopi dari hasil kerjaku selama ini.

Bersama dengan rasa kehilangan yang mendalam, semoga engkau bahagia di sana.

Selamat jalan Pak...

You Might Also Like

0 komentar