Dear My Friend: Sanggupkah Kita Menua Bersama?

Sumber Gambar : dramafever.com
Diserang demam sejak dini hari membuat saya mesti rela melalui sepanjang Selasa di pembaringan. Kala demam datang tanpa dikomandoi di hari kerja, bagi saya itu sebuah pertanda. Saya butuh istirahat. 

Yah, mungkin terkesan manja. Masak iya cuma perkara demam sampai saya wajib istirahat sih? Iya, saya berdamai dengan tubuh saya menggunakan cara-cara seperti ini. Saya memilih istirahat saja. Minum air putih sesering mungkin. Menyantap sayur dan buah lebih banyak dari hari lain, khusus untuk buah, yah jika memungkinkan. 

Sebab, demam itu bermakna ada yang kurang beres dengan tubuh saya. Daripada mengonsumsi obat-obatan kelak, atau didera sakit yang lebih dari sekadar demam. Saya menanggulanginya terlebih dahulu. Saya yakin, sekiranya besok sudah dapat beraktivitas kembali. 

Syahdan, selama masa istirahat ini, saya setidaknya melaluinya dengan berbaring syantik bersama bantal, selimut, buku bacaan, laptop, dan smartphone. Jika rasa kantuk menyerang, saya memutuskan tidur. Itulah misi suci dari istirahat dan ijin saya dari tempat kerja hari ini.

Saya juga menyisipkan ritual membaca novel atau berselancar di media sosial. Masak iya, sakit membuat eksistensimu lenyap barang sehari? 

Nah, selain dari itu. Bersama Levi, nama laptop saya. Saya juga memutar film-film yang tersimpan di dalamnya. Mengecek barangkali masih ada folder film yang belum saya jamah. Atau mengunjungi harddisc external saya, siapa tahu ada film atau drama yang pernah saya copy dan belum sempat saya tonton.

Kala menyentuh Levi siang tadi. Ingatan saya tertuju pada folder film yang berjudul Dear My Friend. Ini adalah drama Korea (drakor) dengan jumlah episode sebanyak 16, yang belum sempat saya tuntaskan (menontonnya). 

Apa? Drakor? Iyalah. Memang kenapa? :p

Jujur saja (curhat), saya sesekali kesal dengan orang-orang yang suka memetakan orang hanya dari kegemarannya menonton sesuatu. Mencela orang lain, memandang dirinya lebih luhur. Jika disarankan untuk menyaksikan film itu, mereka dengan menampilkan ekspresi jijik, bertutur bahwa mereka tak akan menontonnya. Kasta mereka lebih mulia, tak pantas menonton film itu.

Sebentar. Saya adalah seseorang yang percaya bahwa apapun yang Sampeyan lihat, dengar, tonton, dan baca misalnya, setidaknya akan memengaruhi pola pikir Sampeyan. Kalau Sampeyan misalnya doyan santap bukunya Eko Prasetyo, setidaknya dapat dipastikan kalau Sampeyan punya perhatian terhadap kehidupan orang kecil, kritis terhadap kebijakan. Setidaknya yah.

Jika Sampeyan suka mendengar atau menghadiri kajian yang dipimpin Emha Ainun Najib, misalnya. Setidak-tidaknya, Sampeyan juga terdekteksi sebagai seseorang yang dipandang punya perhatian pada perkara keagamaan dengan pola pikir atau pola laku seperti Cak Nun. Lagi-lagi  setidaknya.

Tetapi, saya juga adalah seseorang yang percaya bahwa kita semestinya, tanpa melakukan penyekatan, sebaiknya mau melihat, membaca, dan menonton segalanya. Kita bersikap terbuka kepada banyak hal, dan sesuatu yang baru.

Jika seandainya, Sampeyan tidak suka sebuah drama karena itu drakor, misalnya. Coba ubah perspektifmu. Tontonlah sebuah film atau drama karena pesan yang disampaikan di dalamnya, atau karena kualitas dari para pemainnya, atau karena kisah yang diangkatnya.

Dan perkara ini membuat seorang kenalan saya, bukan teman. Yang bertanya, apakah saya mau menonton sinetron di televisi kita ini yang ceritanya gimana gitu? Iya, saya tonton kok. Saya menyaksikannya untuk mengetahui apakah saya bersedia untuk meluangkan waktu menontonnya lagi. 

Saya juga penasaran jika ada yang mengatakan bahwa sinetron A, misalnya, tidak layak disaksikan anak Sekolah Dasar. Ini contoh yah. Saya menontonnya untuk membuktikan, apakah benar atau tidak. Sudah, itu saja.

Balik lagi ke kegiatan melalui masa demam saya hari ini. Selain menonton, saya juga memutuskan untuk menulis postingan ini. Lengkap kali masa istirahat saya.

Drakor yang saya tonton kali ini kok rasa-rasanya membuat saya mengingat mama. Rindu lebih tepatnya. 

Saya adalah anak perempuan yang acapkali mudah rindu dan merasa sedih, jika bertemu atau menyaksikan orang tua yang seumuran mama. Dan, saking melownya, saya bisa saja meneteskan air mata, atau setidaknya matanya berkaca-kaca, hanya karena disapa dengan sebutan nak oleh seorang kakek atau nenek, atau orang tua teman/kenalan saya.

Bagaimana tidak menguak rindu, drakornya berkisah tentang para orang tua yang sedang melalui hari tuanya bersama hidup yang terus berlanjut. Beberapa kisah yang mengoyak, juga tentang kerasnya kehidupan. Ini kisah bagaimana mereka yang menua itu berikhtiar merawat kenangan mereka, berupaya tetap memeroleh kehormatan mereka, dan bersikap mandiri.

Drakor ini setidaknya menampilkan 7 kisah orang tua. Diantaranya, kisah seorang ibu bernama Jang Nan-hee (Go Doo-shim) yang memiliki anak perempuan semata wayang bernama Park Wan (Go Hyun-jung) yang diwajibkan tidak menikah dengan penyandang disabilitas atau pria yang sudah beristri. Keputusan Nan-hee ini didasari dari kisah hidupnya yang memutuskan bercerai dengan suaminya karena diduakan, serta memiliki seorang adik penyandang disabilitas .

Tak dinyana, Park Wan justru mamadu kasih dengan 2 tipe lelaki yang dibenci ibunya. Cinta pertamanya, setelah mengalami kecelakaan yang parah, mengalami kelumpuhan pada kakinya. Sedangkan bosnya di kantor, tempat pelarian Park Wan, adalah pria yang telah memiliki istri.

Masih tentang Nan-hee, juga dikisahkan bagaimana kehidupan kedua orang tuanya. Ayahnya yang semasa muda gemar memukuli istrinya, Oh Ssang-boon (Kim Young). Semasa tuanya, Ssang-boon dengan setia, meski diselingi dengan coletahan khasnya, hidup bersama suami dan anak lelakinya.

Cerita yang lain tentang pasangan suami istri, Moon Jeong-ah (Na Moon-hee) dan Kim Seok-gyun (Kim Young-ok). Jeong-ah adalah ibu yang memiliki 3 anak perempuan, anak sulungnya diadopsinya bersama suami dan disayangi selayaknya anak kandung. 

Jeong-ah hidup dengan sabar bersama suaminya yang berjanji akan mengajaknya keliling dunia di masa tua. Seok-gyun digambarkan sebagai lelaki tua yang begitu banyak maunya, egois, keras kepala, giat bekerja, dan begitu memerdulikan kehormatannya sebagai lelaki.

Masalah muncul saat Jeong-ah memutuskan meninggalkan suaminya. Dia memilih hidup sendiri untuk memeroleh kebebasannya. Dengan sebelumnya, pada episode-episode awal, anak perempuan Jeong-ah yang menjadi cerita dalam drama ini.

Lalu ada pula Jo Hee-ja (Kim hye-ja), teman akrab Jeong-ah dan Nan-hee, perempuan yang tidak memeroleh kepedulian dari banyak anaknya setelah kematian suaminya, hanya seorang saja yang mau merawatnya. Hee-ja menderita demensia, pada hari tuanya, dia bertemu kembali dengan cinta pertamanya yang masih disukai oleh temannya sendiri. Kisah cinta segitiga. 

Dan tentu, masih ada lagi kisah menarik lainnya. 

Sekalipun drama ini berfokus pada kehidupan orang tua, dan diperankan oleh aktris yang sudah tak belia lagi. Saya tetap menganjurkan Sampeyan nonton. Setidaknya, Sampeyan dan saya bisa sedikit meraba bagaimana menuju tua nanti ;)

Kesemua orang tua dalam drakor ini dikisahkan adalah orang-orang yang saling berteman. Chinggu, dalam bahasa Korea. Mendengar kata teman, tentu ada banyak masa yang telah saya dan Sampeyan lalui bersama. Mulai dari hal-hal konyol, masa sulit, bahkan tentang perkara bahagia. 

Teman, rasa-rasanya, kita bisa menumpahkan segala hal kepadanya, setidaknya yah. Terutama persoalan yang tak mungkin sampeyan tuturkan ke orang tua atau saudara kita. Seperti, saat kita bolos di sekolah. Masih banyak contoh lainnya kok. 

Sayangnya, sebagai tokoh utama dalam tulisan ini, saya adalah seseorang yang setidaknya cukup tertutup, bagi teman saya. Itu karena saya memiliki mama yang bisa saya jadikan tempat segala-galanya. Kepada mama, saya akan bertutur segalanya. Mengumpat tentang sesuatu persoalan bahkan, tapi dengan level umpatan yang masih terdengar sopan. 

Ya iyalah, lawan bicara saya itu adalah perempuan yang sembilan bulan mengandung saya. Lagi pula, umpatan itu memang bukan untuk mama kok, bisa kualat saya nanti. Lha wong saya sebenarnya sedang curhat tentang kekesalan saya terhadap seseorang.

Dengan menjadikan mama satu-satunya black box saya. Setelah kepergian beliau, saya senyata-nyatanya kehilangan teman. Teman hidup. 

Saya bersyukur, sesuai dengan perkataan Sayyidina Ali bin Abi Thalib, bahwa teman sejati itu dapat kau hitung saat kau berada dalam kesusahan. Memang adalah sesuatu yang sampai saat ini saya percayai. 

Disambar kehilangan mama, jauh dari adik saya satu-satunya, dan mesti hidup dari nol, membuat mata saya terbuka. Tenang, ini tidak sedang curhat tentang duka saya kok. Wong takaran cawan duka tiap orang pan beda-beda yah.

Betapa orang-orang yang dititipkan Tuhan dalam jabatan sebagai teman ini adalah orang yang berharga. Mereka sudi jadi tempat saya berkeluh-kesah, saat saya mencak-mencak, dan kala saya patah hati.

Teman saya ini tak pernah menagih saya untuk berbagi kebahagian, sampai di sini, saya semakin yakin arti hadir mereka. Akan tetapi, ada semacam kalimat, “Yah, kalau ada yang lagi dekat, kasih kenal dong,” atau “Dia bukan satu-satunya Adam ciptaan Tuhan.” 

Asem. Saya spechless, bisa-bisanya mereka yang mengenal saya hitam dan putih ini mempermainkan saya. Padahal sudah tahu kalau saya adalah perempuan yang gagal move on. Kalian jahat :p

Menjadi Tua Bersamamu
Saya benar punya teman? Sebentar, akan saya sebutkan. Untuk semasa SMA, teman satu gang saya bernama Sexy Eight, sekiranya kami sudah bersama sejak tahun 2002. Ini jika ingatan saya tidak berkhianat. 

Sedangkan untuk teman kuliah, kami bersama sejak 2004, mesti ada juga yang menyusul setelah pelaksanaan KKN. Untuk teman saya di sekitar rumah, Akar 7 namanya, kami memutuskan bersama di Februari 2006. 

Selain itu, saya juga memeroleh teman dari teman saya yang lain. Juga teman serumah saya dan teman di tempat saya bekerja.

Teman yang begitu dekat, saya atau Sampeyan memiliki kecenderungan untuk menyebutnya sahabat. Atau, pada level dimana setidaknya kita begitu intim dalam perkara ideologi, dekat secara emosional, atau apapun itu. Kita mengangkatnya menjadi saudara.

Kesemua teman yang saya sebutkan ini, seiring berjalannya waktu, mereka lantas bertransformasi menjadi sahabat lalu saudara saya. Saya menandainya dengan banyaknya percekcokan, seringnya kami bertikai, beragamnya hal-hal sepeleh yang menguras emosi.

Kami adalah orang-orang yang memiliki pikiran sendiri-sendiri dengan beraneka tingkah laku, yang kadang tidak mampu mengontrol emosi, atau karena terlalu peka hingga bersemulah pertengkaran. Maka, bercekcoklah sampai  puas. Setelah itu, yah damai. 

Tentu itu bukan perkara mudah. Selama pertengkaran berlangsung, kita akan tahu apa yang selama ini teman kita tahan dari diri kita. Pun, kita akan tahu bagaimana rupa mereka aslinya. Ada hati yang tergores? Jelaslah. 

Dalam setiap jenis hubungan manusia. Percekcokan adalah hal yang akan dan selalu muncul. 

Dan, tentang berdamai, pada banyak kesempatan, selalu saja datang dari teman saya. Saya yang mereka kenal adalah anak-anak yang begitu keras kepala nan manja.

Kembali pada Dear My Friend. Dalam perjalanan kehidupan. Realitanya, kita akan dibatasi, jika tidak ingin disebut dikekang, pada tanggung jawab terhadap keluarga, pun pada pekerjaan yang membutuhkan sikap profesional. Kita juga akan mengalami perubahan karena kondisi finansial, latar belakang jabatan, pola pikir, dan hal-hal lain. Manusia keniscayaannya mengalami perubahan. Tak bisa dielak.

Dan kutukan usia, satu lagi jenis kemestian, yakni berkurangnya produksi kolagen dan melemahkan fungsi otak. Pun meniupkan kematangan dan kebijaksanaan. Pengalaman, jika memang benar diambil hikmahnya, adalah sebaik-baiknya mentor kehidupan.

Menyaksikan drakor ini, maka terbersitlah pertanyaan, sanggupkah kita (saya dan teman-teman) menua bersama?



Judul : Dear My Friend 
Produser : Bae Jong-byung, Lee Jong-ok, dan Lee Joeng-mook
Komposer Musik : Choi In-hee, The Chairman, dan Yoo Young-jun
Pemain : Go Hyun-jung, Kim Hye-ja, Na Moon-hee, Go Doo-shim, 
Park Won-sook, Youn Yuh-jung, Joo Hyun, Kim Young-ok, dan Shin Goo
Bahasa : Korea
Jumlah Episode : 16
Saluran Tayang : tvN
Tanggal Rilis : 13 Mei 2016 (tampil hingga 2 Juli 2016

You Might Also Like

0 komentar