The Countess: Sebuah Upaya Melawan Tua Demi Cinta

Elizabeth bersama seorang pelayannya, perempuan pertama yang menjadi korbannya.
Sumber gambar : mirabellepictures.com


Penuaan menurut staf Divisi Gastroenterologi Departemen Ilmu Penyakit Dalam FKUI – RSUPN Cipto Mangunkusumo, Ari Fahrial Syam, SpPD-KGEH, MMD., adalah proses biologi secara bertahap, dimana fungsi dari organ-organ tubuh manusia menurun.

Penuaan atau menjadi tua, adalah proses alami yang wajib dijalani setiap manusia. Hanya saja. Tua, adalah kata keramat yang selayaknya tak didengungkan dihadapan perempuan. Kebanyakan perempuan, baik yang masih berusia 20 tahunan, bahkan pada interval usia 30 – 40an, sungguh sangat tidak suka disebut tua. Sebab, tua diidentikkan dengan kecantikan yang memudar dan kinerja menurun.

Terdapat dua survei yang dilakukan di Inggris dan Amerika Serikat berkaitan dengan permasalahan, antara lelaki dan perempuan, siapakah yang lebih takut tua.

Survei pertama yang dirilis di Daily Mail pada 16 Septemer 2014. British Woman menjadi lembaga yang melaksanakan survei tersebut, mengemukakan hasil yang sudah bisa diduga bersama. Perempuan adalah pihak yang paling takut tua.

Dalam survei ini menunjukkan bahwa, satu dari 5 orang perempuan di Inggris merasa tertekan dan selalu khawatir seiring bertambahnya usia mereka. Para perempuan ini tak ingin terlihat menua dan takut keriput.

Sedangkan survei yang dilansir NY Daily News pada 20 Maret 2013, menyampaikan, dari 2.000 warga Amerika Serikat, sekitar 90% responden berpendapat bahwa, perempuan lebih tertekan menjadi tua dan berupaya untuk selalu tampil muda, jika dibandingkan dengan lelaki.

Masih merujuk pada survei yang dilaksanakan di Amerika Serikat, tua yang sejatinya berkaitan dengan adanya penambahan usia dan terjadinya perubaha signifikan pada tubuh manusia. Seperti adanya uban misalnya. Justru mengalami 2 sudut pandang. Bagi perempuan, uban diyakini sebagai sebuah penegasan tentang usia mereka. Membuat mereka terlihat tua.

Berbeda dengan lelaki, uban justru menjadi simbol kematangan dan kedewasaan. Sehingga, lelaki beruban malah cenderung dianggap lebih seksi.

Lantas, bagaimana dengan para perempuan Indonesia? Apakah perempuan tanah air juga memiliki sudut pandang yang sama dalam menyikapi penambahan usia mereka? Ataukah mereka menjadi cukup legowo untuk perihal satu ini.

Menurut Euromonitor International pada laman republika.co.id menyampaikan, negara-negara berkembang berkontribusi sebesar 51% bagi industri kecantikan global, termasuk Indonesia, yang memiliki pasar yang dinamis di kawasan Asia Tenggara.

Rupanya, industri kecantikan di Indonesia dinilai memiliki pangsa pasar yang cukup menjanjikan dalam cakupan Asia Tenggara. Bukankah lima puluh satu persen bukan angka yang sedikit? Walau pun perlu ada rincian sebenarnya. Dari 51% ini, kontribusi Indonesia yang real itu berapa? Jangan sampai, hanya menyumbang bagian kecil. Dan, kalau pun misalnya Indonesia rupanya mengambil jatah besar dari kontribusi di kawasan Asia Tenggara. Maka sekiranya bidang ini (indsutri kecantikan) perlu diperhatikan secara saksama.

Memperbincangkan industri kecantikan tentu bersinggungan ke banyak bagian. Misalnya, secara khusus kita mencoba fokus pada produk kecantikan. Baik yang menitikberatkan pada produk anti aging, yang diasumsikan bahwa konsumennya adalah perempuan yang tak mau lekas terlihat tua, atau sikap menangani penuaan dini.

Ada juga ragam produk seperti acne care untuk penanganan wajah berjerawat dan sensitif. Serta white beauty yang bertujuan melahirkan wajah cerah dan putih.

Jika misalnya kita dengan sengaja HANYA membagi produk kecantikan pada tiga kategori di atas, acne care, white beauty, dan anti aging. Kira-kira manakah produk yang berkontribusi besar pada perkembangan dunia kecantikan Indonesia?

Ada sebuah penelitian yang menarik. Pada laman kompas.com yang dirilis 15 Agustus 2011, saat P&G Beauty and Grooming melakukan survei yang dirancang bersama ahli dermatologi dari Singapura, Dr. Joyce Lim.

Survei yang dilakukan oleh agen riset independen, Taylor Nelson Sofres (NFS) terhadap 1.800 perempuan berusia di antara 20-39 tahun pada 5 negara Asia ini. Di antaranya, India, Korea, Filipina, Thailand, dan Indonesia, bagi Indonesia sendiri, survei ini dilaksanakan pada 29 Juli-9 Agustus 2011. Survei ini bertujuan mencari tahu jenis kulit apa yang sangat diidamkan perempuan Asia, kapan tepatnya perempuan tampak menunjukkan tanda-tanda penunaan, dan apa upaya yang dilakukan dalam menangani tanda-tanda penuaan tersebut.

Bagi Indonesia yang melibatkan 778 responden. Hasilnya menunjukkan bahwa, sekiranya 66,3% perempuan memilih menggunakan perawatan wajah agar kulit tampah cerah dan putih (produk white beauty). Ada sekitar 46,4% yang menggunakan produk kecantikan sejak mereka berumur 15-20 tahunan dan 57% responden saja yang menyadari tanda-tanda penuaan dini saat berusia 25-30 tahun.

Dari survei ini dapat disimpulkan, betapa korensponden yang ikut pada penelitian tersebut, yang dianggap sample untuk mencitrakan perempuan Indonesia, rupanya lebih mementingkan memiliki kulit cerah dan putih. Ketimbang berupaya menangani penuaan dini sebelum terlambat.

Kita bisa saja berasumsi berbeda. Bahwa, itu survei yang dilakukan pada tahun 2011, dan sekarang sudah 5 tahun sejak survei berlangsung. Sehingga hasil penelitian itu sudah tak relevan kiranya.

Namun, ada baiknya kita coba mengamati produk-produk kecantikan yang beredar, baik yang dijual online maupun tidak. Bagaimana produk-produk kecantikan, baik yang beauty white, acne care, maupun jenis anti aging bersaing. Mana diantaranya yang lebih diminati para perempuan yang telah berusia 25 tahunan, bahkan usia di atasnya.

Akan tetapi sekalipun hasil survei menunjukkan concern perempuan Indonesia maunya terlihat cerah dan putih. Tetap saja, perempuan Indonesia sama dengan para perempuan di belahan dunia mana pun. Mereka tak suka disebut tua atau terlihat tua.

Bagi para perempuan, hanya ada satu kata untuk menyikapi ke-tua-an, yakni LAWAN!

Lalu, sebenarnya apa saja upaya untuk melawan penuaan itu? Perempuan tak mungkin memenangkan perlawanannya, jika ini disebut peperangan, dengan tangan kosong.

Dalam kehidupan nyata, perempuan, dalam kegelisahannya, menempuh berbagai upaya guna mempertahankan cantik paripurnanya. Sekalipun, perempuan Indonesia masih dikategorikan telat melakukan daya dan upaya untuk menangani tanda penuaan dini. Tetapi, lambat laut, semua akan masuk barisan untuk melawan penuaan.

Produk anti aging kemudian menjadi senjata utama para perempuan. Bahan melawan tua ini, produk anti aging, diluncurkan dalam beragam merek dan banyak janji. Pada berbagai level, anti aging dijual mulai dari harga yang masih bisa membuat pembelinya tersenyum, selepas memboyong seperangkat lengkap produk anti aging. Sampai pada produk kecantikan yang harganya selangit.

Kesemua peralatan perang perempuan itu dapat dengan mudah ditemui di pasaran. Entah, di pasar traditional, untuk kosmetik yang harganya ramah. Atau bagi produk mahal, dapat dijumpai di mal, on line shop, bahkan berbasis multilevel marketing atau sistem dropship. Belum termasuk dengan wabah produk anti aging yang disebarkan klinik skin care.

Selain membeli dan menggunakan produk anti aging yang ditawarkan di pasar. Perempuan dapat pula menempuh jalan perawatan tradisional herbal dengan memanfaatkan bahan alami. Tetapi, jalan ini perlu keistikamahan, kedisiplinan tinggi, dan kesabaran. Produk herbal tidak langsung menunjukkan hasilnya, ketimbang kosmetik dari bahan kimia.

Ari Fahrial Syam di selasar.com menyarankan, agar perempuan tetap kritis terhadap produk kecantikan anti aging yang beredar. Perempuan mesti mawas diri, dengan mempertimbangkan kosmetik tersebut sebelum digunakan. Selain mengutamakan keefektifan produk, perempuan jangan buta terhadap efek samping yang dihasilkan dari produk tersebut.

Dalam memerangi penuaan, Ari memberi tips, agar perempuan menerapkan pola hidup sehat, rutin berolahraga, dan menghindari stres.

Berbeda dengan arahan Ari. Atau apa yang selama ini dilakukan para perempuan dan segala jenis kosmetiknya dalam menghadapi penuaan. Jika Anda mau meluangkan waktu sekiranya 98 menit. Silahkan simak film The Countess. Sebuah drama yang berangkat dari sebuah catatan pribadi Elizabeth Bathory yang ditemukan di Budhapest.

Film arahan Julie Delpy ini mengisahkan tentang Elizabeth Bathory (Julie Delpy), seorang bangsawa Hungaria yang begitu terobsesi untuk tetap terlihat muda. Elizabeth berkeyakinan bahwa usianya adalah penghalang terbesarnya dalam perihal kasmarannya dengan Istvan Thurzo (Daniel Bruhl).

Elizabeth yang kala itu adalah janda Ferenc Nadasdy mengalami gejolak cinta setelah kematian suaminya. Ferenc seorang turunan bangsawan yang posisinya lebih rendah dari Elizabeth, dengan jarak usia 10 tahun lebih tua dari istrinya. Suami Elizabeth ini merupakan seorang pimpinan perang yang kala itu memipin jalannya pertarungan dengan Ottoman Empire (Turki Usmani) dan dikenal keberaniannya di medan pertempuran. Bahkan, dikisahkan mendapat gelar kepahlawanan dengan julukan Black Hero of Hungary. Mengenai gelar kepahlawanan Ferenc, dapat dicek di laman wikipedia.

Elizabeth mengaku, apa yang dirasakannya terhadap Istvan adalah sesuatu yang perdana. Sebagai seseorang yang baru merasakan, menjalani, dan menikmati cinta di saat usia sudah tak muda lagi. Elizabeth hidup dalam banyak kekhawatiran. Dia begitu tertekan dengan umurnya, kerutan di wajahnya, dan kulitnya yang sudah tak seprimadona seperti dulu. Belum lagi, kabar Istvan yang telah melupakannya dan menikahi perempuan muda lain. Justru mempertebal keyakinannya tentang kekhawatirannya dan mengutuk penuaannya.

Pada sebuah adegan, Elizabeth memukul pelayannya dengan sisir miliknya. Hal ini disebabkan karena si pelayanan tanpa sengaja menyisir rambut Elizabeth dengan keras. Akibat dipukul oleh tuannya, si pelayanan memercikkan sedikit darahnya ke wajah Elizabeth. Dan entah apa yang disimpulkannya, setelah mengusap darah yang terpercik di wajahnya, Elizabeth justru meyakini bahwa dirinya tampak lebih muda dan cantik.

Dan, inilah awal mula dari narasi panjang pembunuhan yang dipimpin Elizabeth, hingga akhirnya dia digelari The Blood Countness atau The bloody Lady of Csejte.

Setelah kejadian terpercik darah pelayannya itu. Elizabeth lantas dikisahkan memiliki ketergantungan semakin parah untuk terlihat muda. Ini dapat dilihat dari aksinya yang membunuh satu demi satu pelayan di kastilnya.

Dalam menjalankan ritualnya, Elizabeth tak hanya menggunakan darah korbannya untuk membasuh wajah saja. Bahkan, Elizabeth secara keji dan sadar justru menciptakan sebuah mesin pembunuh. Mesin ini digunakan untuk menyiksa dan mengeluarkan semua darah dari tubuh korbannya. Syahdan, Elizabeth menggunakan darah itu untuk membilas tubuhnya.

Diceritakan, bersamaan dengan munculnya segelintir kecurigaan terhadap Elizabeth, mengapa begitu banyak pelayan yang meninggal di kastilnya. Elizabeth lalu mulai menculik dan membunuh gadis yang berada di sekitar kastilnya. Juga menjadikan korban para perempuan muda bangsawan rendahan. Entah yang sewilayah domisilinya, atau tidak.

Dalam catatan pribadi yang ditulis Elizabeth, sejak tahun 1611 M tercatat 650 nyawa gadis yang menjadi korbannya.

Metode melawan tua yang ditempuh Elizabeth tentu dikategorikan sebagai jalan tidak masuk akal. Elizabeth dengan hanya berbekal spekulasinya, darah dapat membuatnya muda tanpa dilakukan penelitian ilmiah terlebih dahulu, melakukan pembunuhan keji tanpa penyesalan.

Apa yang dilakoni Elizabeth, sebenarnya adalah sebuah penggambaran, betapa manusia yang gelap mata tentu akan menempuh jalan apapun untuk mencapai sesuatu yang dikehendakinya. Tak peduli jika apa yang dilakukannya itu benar atau salah. Masuk akal atau tidak. Manusiawi atau tidak.

Dan, dalam setiap jalan atau apa pun keputusan yang dibuat pastilah meminta resiko. Kecil atau besar, tergantung asbabnya.

Lalu, bagaimana dengan Elizabeth? Jika anda menontonnya sampai habis, anda akan menemukan scene dimana Elizabeth dikenai hukuman penjara di dalam kastilnya sendiri. Dimana Elizabeth tidak diperkenankan untuk menatap dunia lagi, kecuali melalui sebuah celah yang digunakan sebagai jalan masuk dan keluarnya wadah makan dan minum Elizabeth.

Perlu anda ketahui, di luar dari alur jebakan yang dibangun oleh ayah Istvan, dan pihak kerajaan yang akan memperoleh keuntungan jika kondisi Elizabeth terpuruk. Elizabeth dikisahkan ditangkap oleh kekasihnya sendiri, Istvan. Perih? Jelas. Tentu kita semua akan berdalih tentang jalan kebenaran yang perlu ditegakkan. Tak peduli kepada orang tua, saudara, guru, bahkan untuk seorang kekasih tercinta sekalipun. Maka, tak salah kiranya jika kita berasumsi, keputusan Elizabeth mengakhiri dirinya dalam penjara kastilnya pastilah karena keperihannya itu.


Judul : The Countess
Sutradara : Julie Delpy
Tanggal rilis : 9 Februari 2009 pada saat 59th Berlin International Film Festival
Produser : Julie Delpy, Andro Steinborn, Matthew E. Chausse, dan Christoper Tuffin
Pemain : Julis Delpy, Daniel Bruhl, William Hurt, dan Anamaria Marinca



You Might Also Like

0 komentar