Hangatnya Kebersamaan di Sofikopi

Bar Sofikopi.
Foto : Surya R. Labetubun
Saya mengenal pemilik Sofikopi jauh sebelum mereka merintis tempat ngopi ini. Indi dan Uchu adalah sapaan akrab masing-masing dari mereka. Keduanya adalah pasangan suami istri yang memiliki passion serupa. Keduanya sejak dulu memang berkeinginan memiliki warung kopi.

Seingat saya, sudah setahun saya tidak mengunjungi Sofikopi. Itu artinya sekiranya 12 bulan saya tidak bercengkrama dengan mereka berdua, pun tidak bersua dengan putri mereka, Sofia.

Berangkat dari nama anaknya, mereka kemudian memilih untuk menamai warung kopi mereka dengan nama Sofikopi. Saya bersyukur pada hari ini (Jum’at, 05/08) bisa bertemu dengan mereka berdua di Sofikopi.

Bagi seseorang yang bukan penikmat kopi. Saya selalu dipenuhi kekhawatiran setiap kali mengunjungi warung kopi atau kafe. Efek semacam mual, detak jantung yang meningkat, serta memperparah kesukaran saya tidur adalah hal-hal begitu saya hindari sekaligus takuti.

Saya punya trauma tersendiri, tetapi untungnya telah berhasil saya tangani. Dahulu, di tahun pertama perkuliahan, saya pernah dibuat mual sampai muntah-muntah hingga lemas. Bersamaan dengan itu, detak jantung yang meningkat justru memperparah kondisi psikis saya.

Setelah kejadian itulah, saya berupaya untuk meminimalisir berinteraksi dengan kopi. Saya melalui tahun-tahun dengan mengakrabkan diri pada teh dan susu. Kalau pun saya terjebak pada kondisi tidak bisa menghindari untuk tak meminum kopi, seperti saat seorang teman yang menraktir tapi syaratnya mesti kopi. Saya memastikan untuk mengonsumsi kopi yang kadarnya rendah saja. Latte adalah pilihan saya.

Kembali ke Sofikopi, saya selalu memiliki kesenangan tersendiri ketika mengunjungi warung kopi ini. Konsep serasa ngopi di rumah adalah kesan pertama saat saya memasuki tempat ini. Apalagi kala saya disapa oleh pemiliknya.

Mengunjungi tempat ini memungkinkan saya kembali mengakses ingatan semasa kuliah dulu. Indi, pemilik Sofikopi ini adalah junior saya semasa kuliah. Ada banyak hal yang kami lewati bersama. Perasaan bagaimana kuliah di tempat yang jaraknya jauh, dimana hamparan sawah yang luas merupakan pemandangan sehari-hari. Kondisi alat transportasi yang masih sangat terbatas. Serta suasana mencekam kala melalui jalan di malam hari. Adalah beberapa hal yang begitu membekas dalam ingatan.

Sedangkan Uchu, suaminya. Saya tidak ingat jelas kapan mengenalnya. Jika ingatan saya tidak mengkhianati saya, mungkin sekitar akhir tahun 2008 atau awal tahun 2009. Saya mengenal lelaki jangkung ini dari teman kuliah saya, Sigar. Uchu dan Sigar bertemu saat kampus kami menetapkan bahwa saya dan teman-teman seangkatan wajib Praktik Kerja Lapangan (PKL) sebelum melakukan penyusunan tugas akhir.

Kedua lelaki ini memiliki ketertarikan yang sama terhadap linux dan jaringan. Atas alasan itulah akhirnya Uchu kemudian diperkenalkan Sigar ke teman-teman seangkatan dan para junior saya. Keakraban kami semua diawali dengan pelaksanaan gathering Slackware waktu itu. Oh iya, dari situlah pula, Uchu mengenal Indi. Yang kemudian terjadilah jalinan kasih di antara mereka.

Selain karena memiliki ikatan emosional junior-senior dan berada satu bidang yang sama, komputer. Indi dan Uchu pada dasarnya adalah orang yang begitu ramah dan asik. Jika anda kali pertama bertemu dengan salah satu dari mereka. Anda tak perlu gentar jikalau rasa kikuk muncul di permukaan. Ketulusan yang berasal dari diri mereka berdua ini terpancar begitu saja. Tiba-tiba anda akan mememukan diri anda sedang dalam perbincangan yang asik bersama pasangan ini.

Dan, untuk lebih mematangkan keasikan perbincangan anda. Cobalah temui mereka di Sofikopi. Sebab, keasikan berkomunikasi dengan mereka berdua justru berlipat ganda saat berada di Sofikopi.
Ditemani segelas kopi buatan Indi atau Uchu, atau barista mereka tentunya. Saat saya datang, kopi yang saya nikmati lahir dari tangan barista mereka, Dwi.

Berasa ngopi di rumah adalah perkara utama di tempat ini. Jumlah kursi yang minim memungkinkan anda menyesapi kopi tanpa gangguan. Suasana seperti ini sangat cocok bagi saya yang belum mampu berdamai dengan keriuhan.

Potret lain yang anda dapat temukan di tempat ini adalah anak-anak yang sedang bermain di depan tempat ngopi ini. Keceriaan sekaligus keramaian yang begitu alami. Tetapi anda tak perlu khawatir, anak-anak ini tidak akan menganggu kenyaman anda.

Acapkali saya bertandang ke Sofikopi, saya pasti menemukan orang-orang yang selama ini tak saya jumpai lagi. Entah teman seangkatan atau adik-adik seperjuangan di kampus dulu. Juga kenalan di Plurk, salah satu media sosial yang dalam kehidupan nyatanya tak hanya lahir sebagai komunitas. Orang-orang di dalamnya saling berinteraksi begitu akrab.

Hari ini misalnya, saya bertemu dengan seorang junior yang juga seorang peserta MTQ tersohor. Sudah lama saya tak berjumpa dengan lelaki hitam manis ini. Amin, nama lelaki ini, adalah pengunjung pertama Sofikopi hari ini. Ketika Amin akan pergi karena janjinya dengan seseorang, dia menutup perjumpaan kami dengan membayarkan minuman saya. Junior yang baik yah.

Menjelang petang beranjak pergi, saya kemudian bertemu lagi dengan seorang junior angkatan 2007, Asrar. Anak itu ketika kuliah, adalah lelaki yang banyak membuat alis saya berkerut. Saya kadang merasa kesal dengan tingkahnya. Tetapi begitulah kita berkehidupan bukan? Kesal dan bahagia datang bergantian.

Sekarang ini, saya malah senang melihatnya. Asrar kini menjadi senior yang akrab dan suka berbagi hal positif ke adik-adiknya. Buktinya, selepas magrib, 3 orang adik tingkatnya mengunjunginya. Mereka sedang terlibat pada sebuah perbincangan. Asrar terlihat mengarahkan adik-adiknya. Saya sempat diperkenalkan pada ketiganya. Kehangatan di Sofikopi memang begitu terasa. Pertemuan dan perbincangan terbangun dengan sendirinya.

Tak hanya kehangatan yang muncul dari sesama pengunjung. Atau karena keakraban yang memang lama telah dibina oleh saya dan adik-adik tingkat saya misalnya. Tetapi, Sofikopi menawarkan anda hal yang berbeda.

Dengan tatanan seperti bar, atau konsep open bar. Setiap pengunjung dapat dengan leluasa berkomunikasi dengan pemilik Sofikopi atau baristanya. Anda dapat menyampaikan keinginan anda tentang minuman yang dipesan. Entah ingin lebih manis atau ingin mempertahankan rasa alami dari kopinya. Atau sekedar ingin melihat bagaimana kopi anda diracik di depan mata anda. Dengan jarak begitu dekat, komunikasi pengunjung dan barista diutamakan. Tentu, kehangatan semacam ini tak akan anda temukan di warung kopi yang lain.

Rasanya, tidak ada alasan lagi bagi anda yang berada di Makassar untuk tidak mengunjungi jalan Landak Baru Kanal Selatan 2 No. 82 ini atau cabangnya yang berada di daerah BTP. Hayuk ke Sofikopi.

You Might Also Like

0 komentar