Genangan Kopi dalam Perjalanannya

Sumber Gambar dari ganecapos.com

Malam Minggu kemarin, saya melaluinya dengan menonton film Filosofi Kopi, sebuah film yang disadur dari karya seorang novelis ternama Indonesia, Dewi Lestari. Yang mana berujung dengan adegan saya menyeduh secangkir kopi Toraja pada dini harinya.

Sebenarnya saya bukan seseorang yang paham betul tentang kopi. Tetapi, bukan berarti saya tidak suka meminum kopi. Kali pertama saya mengenal minuman ini adalah di rumah. Bapak saya seorang penikmat kopi. Ditemani sebatang rokok, kopi adalah teman sejati yang menemani bapak menyongsong pagi, pun mencari inspirasi sebelum bapak menulis, selain seorang pegawai negri sipil, beliau juga seorang kolumnis di salah satu koran lokal di kota kami. Kopi juga membantu bapak mengurangi kepenatan, atau melalui hari-hari beratnya.

Kopi tubruk adalah kopi kesukaan bapak. Kala itu, warung kopi atau kafe belum menjamur seperti sekarang. Variasi kopi pun hanya itu-itu saja. Tubruk atau kopi susu. Oh iya, sesekali perempuan yang datang dari kampung halaman bapak, Tual. Menyeduh kopi dengan air rebusan jahe. Dan saya menyukai kopi jenis ini. Mungkin karena ada sisipan sensasi rempahnya, barangkali.

Dasawarsa itu, tempat untuk ngopi yang belum begitu banyak, pada akhirnya menjadikan istri atau ibunya anak-anak sebagai pemegang kekuasaan tertinggi dalam area penyeduhan kopi. Tanpa bekal pengetahuan yang banyak tentang bagaimana menyajikan kopi yang nikmat misalnya. Berapa suhu yang tepat untuk menyeduh kopi. Atau jenis kopi apa yang bagus di mata dunia. Seorang istri hanya perlu mengawinkan air mendidih dengan bubuk kopi, dengan atau tanpa gula.

Tentu berbeda dengan masa kini. Beberapa barista siap menyambut anda ketika memasuki sebuah tempat ngopi. Pilihan jenis kopinya pun melimpah. Mulai dari keberagaman biji kopi, sampai pada metode penyeduhannya. Anda akan menemukan kejadian serupa di film berdurasi 117 menit ini, dimana Ben (Chico Jericho) bersama beberapa barista yang telah dilatihnya, dengan sigap akan membuat pesanan kopi para pelanggan.

Oh iya, dalam perjalanan menonton film ini, ada sebuah prinsip tersisip yang saya sukai. Ben dengan begitu getol mempertahankan kualitas kopi yang digunakannya untuk para pelanggan. Padahal, dikisahkan, harga kopi sedang melambung tinggi. Saya dan Ben sealiran pikir saya.

Ini adalah realitas yang dihadapi setiap orang yang berkecimpung dalam perniagaan. Harga bahan baku atau pokok yang melesat menghadirkan polemik. Apakah sang pelaku usaha akan tetap bertahan pada kualitas barangnya?

Di kenyataanya, anda dan saya, sebagai pelanggan tentu sering menemukan kejadian semacam ini. Biasanya, para pelaku usaha ini akan menyikapi kenaikan harga bahan baku atau pokok dengan cara yang hampir bisa ditebak kebayakan pelanggan. Opsi pertama, harga jual produk tetap seperti biasa, tetapi kuantitas produk dikurangi. Atau, penjual akan menaikkan harga produknya dengan tetap mempertahankan ukuran atau massa produknya. Ada juga yang menaikkan harga produk, dengan alasan harga bahan baku mahal. Sayangnya, kualitas produk justru merosot, dengan alasan berhemat, mungkin. Inilah seburuk-buruknya solusi.

Tempat Ngopi Dulu dan Sekarang
Jika menilik ke belakang, kopi, bagi saya di masa itu adalah minuman wajib. Pahaman saya terbentuk karena senantiasa melihat segelas kopi yang selalu menghiasi meja kerja bapak saban pagi. Saya juga masih ingat, betapa seringnya teman-teman bapak berkunjung ke rumah. Bercengkrama satu dan lainnya sambil menyeruput kopinya. Yah, dahulu, ngopi bareng dilakukan di rumah, atau ketika anda bertamu, juga di kantin kantor jika ada. Tidak dengan sekarang.

Film arahan Angga Dwimas Sasongko ini coba menyampaikan bagaimana sebuah tempat ngopi bergejolak mengikuti tren atau pola hidup penikmatnya. Kebanyakan tempat-tempat ngopi yang anda temui sekarang, dapat dipastikan setidaknya mampu menjawab segala kebutuhan pengunjungnya. Bahkan, jika tidak. Pengunjung cukup berpindah tempat dengan mengunjungi tempat ngopi yang lain.

Tidak semua tempat ngopi menyediakan fasilitas internet, view yang apik, suasana yang nyaman, atau  menampilkan band indie. Sebab, anda masih bisa menjumpai tempat ngopi yang mempertahankan fungsinya hanya sebagai tempat untuk menyeruput kopi, Filosofi Kopi contohnya. Itulah konsep yang diusung Ben dan Jody (Rio Dewanto) berfokus pada seremonial menikmati kopi saja. Entah dalam kesendirian atau bersama rekan dan keluarga.

Akan tetapi, munculnya persoalan utang turunan ayah Jody yang melilit, uang sewa yang tertunggak, dan beberapa rentetan permasalahan lainnya. Pada akhirnya membuat Jody mulai menggeser konsep tempat ngopinya dari khittahnya, dengan menyediakan akses internet seperti tempat ngopi kebanyakan saat ini.

Pada adegan lainnya, anda akan menemukan tokoh Jody yang dengan gamblang memaparkan realita saat ini. Yah, kopi bukan lagi digunakan sebagai minuman untuk menyeimbangkan diskusi-diskusi berat. Sekarang, kita tentu begitu familiar dengan kalimat, ngopi-ngopi cantik atau ganteng.

Ngopi sekarang lebih dikaitkan dengan sesuatu yang lebih bergengsi. Beberapa orang cenderung memilih melakukan pertemuan, atau kalau mau sedikit inlander, anda akan lebih senang menyebutnya meeting. Kehadiran tempat ngopi yang multifungsi menjawab kebutuhan manusia jaman sekarang. Pertemuan semi formal atau formal sekalipun bisa diselenggarakan di tempat ngopi.

Pergesaran-pergeseran serupa juga berlaku bagi acara nonton bareng sepak bola yang telah bermigrasi dari pos kamling ke tempat ngopi. Pun, arisan bahkan dilaksanakan mulus di tempat ngopi.

Bahkan, dengan dalih untuk menemukan tempat baca buku yang nyaman, tempat ngopi mendadak menjadi jawaban.

Kopi Kemasan Lalu Ngopi Sebagai Bagian dari Kehidupan
Jika anda lahir di tahun 80-an akhir. Anda akan paham, bagaimana kebanyakan orang pernah mulai meninggalkan kopi tubruk. Yang dipandang beberapa orang sebagai kopi yang sudah tidak relevan dengan kemoderenan zaman. Lantas mengalihkannya ke kopi dalam kemasan. Kopi jenis ini diklaim lebih praktis dengan tetap mempertahankan kelezatan biji kopi.

Kalau ingat tentang era merebaknya kopi kemasan, saya jadi ingat bapak, lagi-lagi. Bapak cukup fundamental kalau berurusan dengan kopi. Bagi seorang militan macam bapak, kopi tubruk adalah harga mati. Kopi tubruk atau tidak ngopi sama sekali. Tidak ada dalam kamus hidup bapak untuk pindah haluan. Tetapi, jika sedang bertamu, bapak cukup toleran dengan jenis kopi yang disuguhkan tuan rumah. Bapak tidak akan menolaknya, bahkan meminumnya sampai tuntas. Nanti, ketika sampai di rumah. Bapak akan meminta mama menyeduhkan segelas kopi tubruk untuknya. “Tadi itu (minum kopi kemasan) belum ngopi,” kilahnya.

Selain sebagai sajian minuman. Kopi menurut pandangan saya dengan berlatar belakang saat remaja, adalah sebuah alasan untuk berembuk atau berdebat. Tak jarang saya melalui malam dimana sanak saudara yang berjenis kelamin lelaki tetap terjaga di malam hari. Mereka dan bapak, sambil menikmati bergelas-gelas kopi. Menghabiskan malam dengan berdiskusi tentang banyak hal. Semacam, mengapa om saya sudah tidak mau mengikuti ta'ziah lagi. Atau apakah tarikat yang diyakini kakek dan nenek saya menyimpang dari ajaran Sang Utusan.

Dalam obrolannya, tak jarang kala saya mencuri dengar. Persoalan remeh-temeh pun ikut dibahas oleh mereka. Misalnya saja, kenapa di ruang keluarga kami sewaktu itu belum terpajang foto keluarga, mengapa warna dinding keramik dapur rumah berwarna merah muda, atau apakah penting memiliki sebuah akuarium di dalam rumah kami.

Selain kawan beradu argumentasi. Kopi, kretek, dan domino merupakan paketan dalam menghabiskan malam Minggu atau malam di hari libur bapak. Sekalipun tak bapak lakoni setiap pekan. Sebab, mama, saya, dan adik juga butuh porsi untuk ditemani ketika hari libur hinggap. Familiy time kita menyebutnya.

Dalam perjalanan saya menuju remaja. Kopi hadir sebagai sebuah alasan untuk merekatkan hubungan pertemanan atau kekeluargaan yang melonggar. Kopi tercipta untuk dijadikan alasan berkumpul. Bertukar kabar, berbagi pahaman. Sayangnya, kala itu, penikmat kopi masih didominasi kaum adam saja.

Tentu akan berbeda di tahun 2000-an. Kini, kita akan menemukan lelaki dan perempuan pada sebuah warung kopi, tempat ngopi, kedai kopi, atau kafe. Mereka duduk bersama dengan bermacam-macam alasan, tujuan, dan pokok bahasan.

Didukung dengan adanya adegan para perempuan yang mengunjungi Filosofi Kopi. Secara tegas, tokoh  El (Julie Estelle) menggambarkan betapa kopi sudah dinikmati lintas generasi, tak memandang jenis kelamin lagi.  Kini, perempuan bukan lagi golongan kedua dalam dunia perkopian.

El hadir sebagai seorang penikmat kopi yang diakui kemampuannya menaksir kelezatan segelas kopi. El bahkan mampu mengoyahkan dan melahirkan gejolak batin pada diri Ben, barista yang mendaku sebagai pembuat kopi terenak. Ben’s perfect hasil racikan tangan Ben diklaim masih kalah nikmat dengan kopi Tiwus buatan pak Seno.

Perdebatan demi perdebatan menghiasi jalannya film ini kemudian. Meski pada akhirnya, Ben, Jody, dan El lalu berangkat bersama untuk menikmati kopi Tiwus langsung dari tangan pak Seno. Namun, perjalanan ini bagi Ben, adalah perihal kenangannya tentang bapak dan ibu, kisah duka kala lahan kopi yang kemudian dipaksa dikonversi ke sawit. Sawit, musuh kebayakan aktivis lingkungan.

Segelas kopi Tiwus yang dinikmati Ben dibayar dengan ingatannya tentang masa lalu, luka yang mengaga. Tetapi, perjalanannya ini juga justru menjadi titik balik bagi Ben untuk berdamai dengan bapaknya dan dirinya.

Judul : Filosofi Kopi
Tahun rilis : April 2015
Pemain : Chico Jericho, Rio Dewanto, Julie Estelle, Jajang C. Noer, Slamet Rahardjo.
Skenario : Jenny Jusuf
Produser : Angga Dwimas Sasongko
Penulis novel : Dewi Lestari
Penghargaan : Citra Award for Best Writing – Adapted Screenplay, Citra Award for Best Film Editing

You Might Also Like

0 komentar