Sidak

Ilustrasi bersumber dari theothersideofshanghai.com
Jika misalnya kamu, iya kamu, kepalang rindu kepadaku. Atau mungkin sudah tak bisa meredam rasa penasaranmu mengapa kita tak bertatap muka lagi. Bahkan bertukar kabar pun tak ku lakoni. Tolong urungkan niatmu untuk melakukan aksi sidak.

Bagi perempuan kelewat suka melakukan semedi, dengan sesekali melakoni pati geni. Aku adalah orang yang begitu menyintai pemberitahuan. Disidak bukan sesuatu yang efektif untuk menuntaskan hasrat kangenmu, tak pula menjawab penasaranmu.

Mungkin kau akan berupaya mematahkan saranku ini. Kamu bisa jadi tetap keras kepala mengunjungiku. Tetiba muncul di tempatku bekerja atau bertandang ke tempatku sering berkumpul. Bahkan tanpa gentar berada di teras rumahku. Datang dengan membawa kegembiraan yang menyeruak atau kangen yang menumpuk.

Maafkan aku, karena bisa jadi, kegembiraan atau rasa kangenmu akan menguap perlahan-lahan. Atau, jika aku terlampau acuh, bisa saja kegembiraan atau kangenmu terpangkas ke titik nol.

Yah, aku adalah seseorang yang masih berusaha mencari titik kebahagiaan dari sebuah usikan yang tak terduga. Bukan, bukan karena aku tak menghargai kedatanganmu. Sebab, aku tetap akan menerimamu di sepuluh menit pertamaku. Setelah itu, aku akan kembali pada apa yang sedang aku kerjakan.

Iya, kemana pengetahuanku tentang menghargai tamu! Kemana pula akhlakku dalam menjamumu.

Maafkan aku. Aku yah seperti ini. Tepat seperti yang aku sampaikan sebelumnya. Tolong kamu ingat bagaimana aku dan kamu memulai pertemanan kita. Aku dengan gamblang selalu menyampaikan betapa aku masih belum bisa menerima upaya-upaya pertemuan dadakan di saat aku sudah memiliki jadwal sebelumnya.

Dijerat kesibukan atau telah memiliki janji dengan orang lain, yang pada akhirnya aku masukkan ke dalam jadwal, adalah alasan utama mengapa aku tidak bisa dengan damai menerima kunjungan tiba-tibamu.

Aku adalah orang yang dengan tegas menyampaikan ketidaksanggupan untuk bertemu, jika memang kondisiku tidak memungkinkan. Aku tak bisa membiarkanmu menunggu dengan harapan besar bahwa aku akan menyisipkan pertemuan kita pada jadwal yang sudah aku buat. Aku juga sedang dalam ikhtiar memegang komitmen dengan orang-orang yang terlebih dahulu membuat janji denganku.

Sekalipun demikian. Tapi kamu tentu tahu. Aku juga adalah orang yang akan meluangkan waktu padamu untuk menebus hari-hari dimana aku tak memenuhi permintaanmu untuk berjumpa.
Sekali lagi, maafkan aku.



*ini adalah upaya klarifikasi dari saya. semoga ke depannya, aku, kamu, dan kalian bisa memahaminya. terima kasih. oh iya, ngambek karena diindahkan pada hari ini boleh kok. memang begitulah kita di awal-awal memulai pertemanan. itulah mengapa kita masih harus saling mengenal bukan? aku pun masih perlu untuk memahamimu*

You Might Also Like

0 komentar