Sedekah Kelurahan

Ilustrasi bersumber dari bangka.tribunnews.com

Hari ini, di penghujung Ramadan, hari ke dua puluh sembilan. Seperti tahun sebelumnya, sekiranya 3 hari sebelum tanggal 1 Syawal. Saya membiasakan diri untuk meluangkan waktu hanya beraktivitas di rumah saja.

Ada banyak hal yang bisa saya lakukan sebenarnya. Mulai dari membersihkan kaca jendela, lemari-lemari, kulkas, barang pajangan yang jumlahnya sedikit itu, atau bahkan mencuci perabot yang diperkirakan akan digunakan saat lebaran tiba.

Setali dengan itu, saya juga melakukan ritual bebenah kamar saya khususnya, dan rumah. Memeriksa apakah ada barang yang sudah layak buang, pakaian yang sudah seharusnya di keluarkan dari lemari, berkas-berkas kerjaan yang sudah tak dibutuhkan. Ini ritual pra lebarannya mama. Beliau sungguh sewot saat saya ditemukannya bermasalah-malasan atau tidak membantunya.

Oh iya, acara beres-beres semacam ini senantiasa diselingi dengan bersin berkali-kali. Pun, dengan mata yang berair dan memerah. Yah mau diapa, saya memang alergi terhadap debu. Padahal saya sudah menggunakan masker, berupaya mengonsumsi asupan dengan kandungan vitamin C yang cukup. Tapi, tetap saja. Mengidap flu menjadi tak terbantahkan.

Sedari pagi, saya sudah mulai sibuk di ruang tengah. Membedah lemari mama, memeriksa apa ada perabot yang saya betul-betul tak gunakan. Rencananya akan saya ungsikan ke orang lain. Juga mengecek apa ada yang harus saya buang, mungkin karena sudah tak layak pakai. Dan, menggantinya dengan yang baru, jika stok perabotnya masih ada.

Lantas, lagi asik-asiknya saya merapikan barang-barang di lemari. Terdengar bunyi ketukan dari arah teras. Begitu saya mengeceknya dari celah ruang tengah, rupanya ada seorang lelaki di pagar rumah saya.

Sontak, saya langsung menuju ke arahnya. Kemudian menanyakan perihal kedatangannya. Saya bukannya tidak ramah dengan tak membukakan pagar terlebih dahulu. Tetapi, saya punya pengalaman buruk dengan orang asing yang bertandang ke rumah.

Lelaki berkemeja hitam dan mengenakan celana jeans itu pun menjawab pertanyaan saya dengan memberikan sebuah amplop ke saya melalui pagar yang masih tertutup. Tanpa kata.
Saya diam beberapa detik sambil memperhatikan amplop yang kini telah berada di tangan saya. Rupanya lelaki itu paham dengan aksi diam saya.

“Ini dari kelurahan.” katanya sambil menyebutkan sebuah nama masjid.

Saya masih diam. Tetapi kali ini saya membuka amplopnya. Saya menemukan sebuah stiker bergambar masjid yang desainnya saya kenali. Stiker semacam itu sangat familiar ketika saya masih mengenyam sekolah menengah atas kala itu.

Striker itu biasa digunakan untuk meminta bantuan atau sumbangan kepada orang dengan dalih pembangunan masjid atau membelanjakan duit di jalan tuhan. Biasanya memang marak terjadi kala Ramadan berlangsung.

Saya mendadak paham.
“Maaf, untuk donasi ke masjid telah saya lakukan.” ucap saya.
“Tapi ini dari kelurahan.” imbuhnya dengan sedikit menaikkan intonasi suaranya.
“Maaf pak, saya dan orang rumah sudah menyalurkan sumbangan ke masjid kami.” papar saya.

Yah, saya dan orang di rumah sudah sepakat. Kami setuju, bahwa untuk penyaluran bantuan di Ramadan kali ini. Kami memilih untuk menyalurkannya ke masjid di wilayah kami. Yang posisinya hanya berjarak kurang 50 meter dari kediaman saya.
“Ini untuk kelurahan,” balasnya, dengan kembali menyebut nama masjidnya. Nadanya semakin tinggi.
“Kalau dari kelurahan, apakah wajib bagi saya pak?” tanya saya.
“Ini dari kelurahan. Untuk harga striker itu 2000 rupiah, amplopnya terserah mau isi berapa.” jawabnya ketus. Yang sayangnya, pernyataan yang dilontarkannya tidak menjawab pertanyaan saya.

Saya kemudian masuk ke dalam rumah. Mengambil duit dengan enggan. Saya merasa ditodong untuk bersedekah kali ini. Saya tak hanya mempermasalahkan tutur kata dan tingkah lakunya. Memangnya kenapa kalau anda utusan kelurahan? pikir saya.

Saya hanya merasa permintaan sumbangan kali ini jauh dari seperti yang biasa saya temukan. Kalau memang dari kelurahan, mestinya ada edaran atau surat yang ditunjukkannnya ke saya di awal perbincangan.

Setelah mengambil duit, saya kemudian menghampiri lelaki yang masih berada di luar pagar rumah saya. Mengembalikan amplopnya.
“Ini untuk kelurahan,” ucapnya.

Nadanya kini menjadi semakin tinggi. Sudah bisa saya tebak. Saya sengaja memberinya uang dengan nominal seadanya. Bukankah sedari awal dia berujar bahwa isi amplopnya terserah saya?
“Memang wajib yah pak?” tanya saya mempertegas.
“Wajib… wajib…. Apanya. Kalau tidak mau yah tidak usah,” balasnya.
“Sini amplop dan strikernya,” tambahnya lagi. Saya kemudian menyodorkan amplop itu, yang diambilnya dengan kasar. Dan seketika meninggalkan saya begitu saja. Duit saya tidak diterimanya.

Benar dugaan saya, dia bukan orang dari kelurahan. Bukan pula mewakili masjid yang sedari awal disebut-sebutnya itu. Sebab, saya percaya. Para petugas di kelurahan kami tidak pernah meminta bantuan dana dengan lagak seperti itu.

Lagi pula, di kelurahan saya, tidak pernah ada semacam edaran permintaan bantuan dalam bentuk apapun. Kalau pun mau menjadi perwakilan masjid tertentu juga susah. Saya mengenal karakter para pengurus masjid di sekitar saya.

Mereka juga tidak mungkin sejauh ini meminta sumbangan. Ada semacam zonasi dalam penyebaran permintaan bantuan di tempat kami. Masjid di lingkungan saya, hanya akan meminta bantuan dari masyarakat yang berada di lingkungan kami saja, wilayah rukun warga kami.

Lagi pula, di jaman seperti sekarang. Semisal masjid di lingkungan saya. Para pengurus masjidnya dalam meminta bantuan melalui tahapan tidak seperti lelaki itu. Mereka, para pegurus masjid ini akan berembuk terlebih dahulu dengan ketua RW, para ketua RT, seluruh pengurus masjid, tokoh masyarakat, utusan remaja masjid, dan juga majlis ta’lim.

Setelah mencapai mufakat, mereka akan menunjuk tim yang bertanggung jawab untuk mengumpulkan dan mengelolah bantuan. Biasanya hanya tim dengan anggota kecil. Yang penting ada ketua, sekretaris, bendahara, dan para penggerak.

Lalu, sang sekretaris, atas permintaan ketua dan komunikasi dengan bendahara, akan menerbitkan surat yang berisi rincian dana yang dibutuhkan untuk membangun atau merenovasi masjid. Detailnya ok punya, bahkan dibubuhi paraf ketua pengurus masjid, ketua RW, dan ketua panitia pelaksana pengumpulan dana.

Barulah setelah itu, para penggerak yang biasanya digawangi para remaja masjid akan membagikan amplop berisi surat itu ke masyarakat, dengan terlebih dahulu diberi penomoran untuk memudahkan penelusuran dananya kelak. Penyumbang dapat menuliskan namanya di amplop saat dikumpulkan, atau membiarkannya tetap seperti saat amplop tiba ke dirinya.

Nomimalnya diserahkan kepada penyumbang. Oh iya, setali dengan itu, pengurus juga sekalian menawarkan di lembar suratnya, apakah penyumbang mau memberi tanggung jawab atas zakat fitrah, fidyah, atau zakat hartanya ke petugas masjid. Bahkan, ada petugas yang khusus disiapkan untuk membantu masyarakat menghitung jumlah zakat harta yang mesti dikeluarkannya.

Penyumbang tak perlu takut duitnya akan dibawa kemana. Sebab, setiap malam, sebelum salat tarawih, protokol yang membacakan nama penceramah dan nama ibu-ibu penyelenggara berbuka puasa. Juga akan menyiarkan siapa saja yang menyumbang, berapa jumlah yang diberikannya. Saya yakin, ini hal lumrah.

Setelah itu, akan dibacakan pula kemana larinya uang yang telah terkumpul dengan sangat terperinci. Dahulu, sewaktu saya masih menjadi remaja masjid, biasanya, selain dituturkan, informasi sensitif seperti itu juga ditampilkan pada papan putih yang bertengger di jendela masjid.

Ah lelaki itu. Kenapa mesti jual-jual kelurahan dan masjid sih.

You Might Also Like

0 komentar