Firdaus Bernama Liburan itu Pilihan

Sumber ilustrasi gambar blog.raysoutdoors.com.au
Ketika pertama kali anda mendengar seseorang menyebut kata travelling, apa yang terlintas di benak anda?

Liburan, mengunjungi lokasi tertentu, plesiran, berpetualang, menjelajah alam bebas, perjalanan, berpakansi, atau bepergian, adalah beberapa pilihan diksi yang begitu dekat guna menggambarkan suka cita saat travelling. Emosi positif, semacam bergembira dan bahagia. Ini sebelum anda menengok isi dompet tentunya.

Travelling kini lebih kerap akrab di telinga dan status di media sosial anda bukan? Bagi beberapa orang, travelling menjadi lebih sering digunakan, ketimbang kata bepergian, melancong, atau jalan-jalan. Yah, dugaan anda tidak salah, ini jika anda menduga. Penggunaan kata travelling, bagi yang menggunakannya, memang terkesan lebih nginggris, penyebutnya secara tidak langsung menyampaikan pesan bahwa dia (penggunanya kata travelling) adalah orang yang paham bahasa asing. Belum lagi adanya asumsi agar pengguna kata travelling lebih terkesan moderen atau apa pun itu.

Lantas, pernahkah para pengguna kata travelling ini coba mencari perbedaan dari kata traveling dengan travelling? Mana yang benar di antara keduanya? Jangan sampai, para pengguna kata ini justru menggunakan kata yang salah, padahal kesan moderen dan mampu menggunakan bahasa asing sudah digembar-gemborkan. Jadinya, kemampuan berbahasanya seketika diragukan. Atau minimal, kecakapan tabayyunnya dipertaruhkan.

Kalau begitu, cobalah mengunjungi oxforddictionaries.com Dan, anda akan menemukan jawabannya.

Apa itu?

Dalam British English, kata kerja (verb) travel kemudian akan berubah menjadi travelling, dengan penambahan huruf l (el). Berbeda dengan American English yang tak mengalami perubahan, tetap traveling.

Jadi, baik travelling mau pun traveling adalah benar.

Berbekal kata travelling atau liburan, pemantik yang mampu melukis senyuman di wajah, sekaligus mengikis isi dompet anda. Kira-kira, bagaimana sebenarnya liburan mewujud dalam segala lapisan masyarakat? Bukankah liburan cenderung dikaitkan dengan aktivitas yang merogoh kocek sedalam mungkin? Tetapi, bukankah liburan juga di masa kini menjadi medium (salah satu cara) untuk menyerap energi positif atau upaya melepas penat? Itulah mengapa ada semacam slogan “kurang piknik” yang dilekatkan kepada orang-orang yang terlampau serius menanggapi sesuatu atau untuk menggambarkan seseorang yang menegang urat sarafnya. Juga dengan kinerja yang kian surut.

Dalam beberapa penelitian, memang dikemukakan tentang kaitan liburan dan kesehatan atau kinerja seseorang. Framingharm Heart Study, pada tahun 2010 memaparkan data yang cukup menarik. Lelaki yang melakukan liburan secara teratur akan kecil peluangnya terkena serangan jantung, 32 persen dibandingkan dengan lelaki yang tak rutin berlibur. Bagi perempuan, angkanya menarik, hingga 50 persen.

Atau hasil studi dari StateUniversity of New York di Oswego. Riset yang melibatkan 12.000 responden dengan usia berkisar 35 sampai 57 tahun. Hasilnya cukup mengejutkan. Mereka yang melakukan liburan sekali dalam setahun memiliki harapan hidup 20% lebih tinggi ketimbang yang tidak melakukannya.

Masih dari sumber situs yang sama, penelitian dari sebuah perusahaan travel, Expedia menunjukkan, 34 persen pekerja sekembalinya dari liburan dinyatakan bekerja lebih efektif dibandingkan dengan yang tidak berlibur.

Anda sudah punya cukup alasan untuk mengajukan cuti ke pimpinan bukan?

Selain memberikan dampak positif. Meminjam istilah Iqbal Aji Daryono, makhluk lucu bernama liburan mampu mengempiskan dompet atau menguras saldo rekening anda sampai titik angka terkecilnya. Tak jarang bahkan dompet anda kembali ke fitrah.

Liburan pada hakikatnya adalah kegiatan yang wajib menelan rupiah. Uang adalah penggerak untuk mewujudkan niat atau rencana liburan anda. Tentu anda akan berkilah, toh di masa ini ada namanya liburan dengan bermodal duit seadanya. Yah, memang benar. Kita sekarang mengenal istilah backpacker atau wisata beransel. Berbeda tentunya dengan pola liburan para solo traveller, apalagi conventional traveller. Untuk dua jenis pelancong ini, lembar-lembar uang mengambil peran utama.

Namun, sebelum memutuskan menjadi seorang backpacker. Ada baiknya anda mengetahui betul apa yang anda butuhkan. Sebab, ketika anda tidak cermat dalam menghitung uang, tak mampu bersosialisasi dengan baik ke masyarakat, kaku dalam menggunakan peta atau GPS, tak tahu cara menggunakan teknologi, gentar bertanya ke penduduk, apalagi malu untuk menggunakan fasilitas publik. Urungkan saja niat bertamasya ala-ala ransel ini.

Mungkin anda lebih cocok menjadi solo traveller atau conventional traveller, kaum penikmat perjalanan tanpa perlu memikirkan upaya penghematan biaya sekecil mungkin. Menjelajah sebuah daerah sembari memastikan sejauh mana saldo di rekening anda mampu membawa anda melangkah.

Bagi sebagian kalangan, liburan memang dipilih menjadi gaya hidup. Salah satu upaya balas dendam untuk waktu-waktu yang habis dimakan kemacetan, dilahap beban kerja, ditelan tekanan hidup sana-sini, terutama bagi para jomblo ngenes atau orang-orang patah hati yang hampir mati, serta kaum gagal move on. Liburan juga dipandang sebagai salah satu penanda status sosial. Ini tak bisa dipungkiri.

Dalam kenyataannya, tak sedikit daya dan upaya, bahkan siasat yang turut andil dalam mewujudkan surga bernama liburan. Sebagai seorang blogger dan traveller, Deesan  menyampaikan, “Setidaknya 10 persen dari total gaji disisipkan untuk liburan.”

Perempuan yang begitu mendamba berkunjung ke Iceland ini, dalam setahun setidaknya merencanakan berkunjung sekali ke luar negeri, serta minimal 2 sampai 3 kali menyusuri nusantara. Meskipun, ada sesekali trip dadakan sekitar pulau Jawa.

Deesan mengaku setuju bahwa liburan menjadi moodbooster untuk mendongkrak semangat kerja dan hidupnya. Selain itu, kepuasan melihat secara langsung daerah atau wilayah yang didatanginya adalah candu mengapa dia menyukai aktivitas berlibur.

Pendapat serupa dituturkan Mustaqim Prakoso, seorang mahasiswa (kelewat) tingkat akhir yang kini juga bekerja pada sebuah perusahaan swasta, “(saat berlibur) Kepenatan yang ada akan hilang digantikan suasana baru.”

Sedangkan untuk menangani masalah biaya, dalam setiap perjalanan yang dilakukan Taqim, lelaki berkacamata yang senantiasa berlibur sampai lupa kapan mengurus skripsi ini, selalu saja menyediakan biaya cadangan untuk hal-hal tak terduga, di samping secara khusus menyiapkan ¼ dari total pendapatannya per bulan untuk masuk ke pos liburan.

Dengan berlatar belakang masih berstatus mahasiswa yang entah kapan wisuda, Taqim senantiasa berupaya melakukan liburan sekali dalam sebulan. Wilayah kunjungannya beragam, tetapi sebagian besar masih berada di Sulawesi.

Deesan dan Taqim adalah dua dari banyak orang, tidak semua, yang memasukkan liburan dalam kebutuhan hidupnya. Liburan menjadi bagian penting, seperti bagaimana seorang pecinta buku yang juga akan menyisipkan sekian rupiah guna membeli buku pada setiap bulannya. Atau para pecinta tas, sepatu, aksesoris, dan hal-hal lainnya.

Lantas, bagaimana liburan bagi mereka yang tak memasukkan kata itu menjadi sebuah keharusan? Mereka ini adalah orang yang menyesapi kehidupan dan membaui aroma surga selain liburan.

Mhimi Nurhaedah, seorang pegawai BUMN di kota Makassar menjawabnya, “Saya bukan seorang traveller. Hanya kebetulan (saya) orang yang suka jalan-jalan ke manapun itu. Karena saya suka hal-hal baru yang saya jumpai. Ketika jalan-jalan itulah saya bisa menemukan banyak hal baru.”

Bagi Mhimi, tidak ada rencana khusus untuk melakukan liburan. Biasanya, perempuan penyuka warna orange ini melakukan liburan jika memiliki waktu luang dan dana berlebih.

Liburan tidak menjadi satu-satunya moodbooster atau upaya menikmati hidup, oleh karena itu, Mhimi mengaku tak menyediakan pos liburan, “Tidak ada (dana khusus liburan), karena liburan bukan sesuatu yang wajib saya lakukan.”

Sekalipun demikian, Mhimi mengemukakan keinginannya untuk bisa mengunjungi Toli-Toli lagi, kota tempatnya menghabiskan masa kecil.


Baik Mhimi maupun Deesan dan Taqim, adalah potongan-potongan kecil dari bagaimana orang-orang memahami liburan dan memilih untuk melaksanakannya. Dengan beragam alasan, tak ada yang benar atau salah. Menjadi kalangan yang mendamba surga bernama liburan atau tidak itu sah-sah saja. Selagi uang mencukupi, waktu anda luang. Lakukanlah….

You Might Also Like

0 komentar