Ebuset, Rupanya Tak Ada Piknik Kali Ini


Ilustrasi bersumber dari linkedin.com
Akhirnya, setelah bebas menulis selama 2 pekan, disebabkan karena kesepakatan bersama demi menikmati penghujung Ramadan dan menyambut lebaran. Pekan ini, saatnya kita-kita kembali mengisi blog bersama.

Untuk tema tulisan minggu ini, membahas tentang apa saja hal menarik dialami atau dilakukan selama liburan berlangsung. Libur panjang. Yang bagi para mahasiswa malah ini adalah masa hibernasi. Secara, mereka dapat jatah libur 3 bulan. Sedangkan untuk para murid atau peserta didik dan guru, liburan diperoleh karena memang Juni-Juli adalah masa libur akhir semester ditambah dengan libur bersama untuk melaksanakan Ramadan dan menggelar lebaran.


Sedangkan buat para pegawai negri, kuota libur yang bisa dinikmati adalah sepekan. Berbeda dengan pekerja swasta, yang memiliki libur denderung lebih sedikit. Bahkan, bisa nihil liburan.

Nah, berhubung si pemberi tema memilih ide, yang ini kenapa berbau seperti sebuah ikhtiar guna mengetahui segala aktivitas kami, memonitoring gerak-gerik kami, cara terselubung pengen tahu kesibukan kami ini, teman sekelompoknya, hahaha. Kalau doi baca, saya haqqul yaqin. Kalau bukan manyun, paling doi langsung close laman web ini, xoxoxo.

Guys, apa saja sih yang kamu, aku, kalian lakukan selama berlibur? Saya yakin, pasti banyak hal yang kamu lakukan dan lalui. Bahkan, jauh hari sebelum masa libur tiba. Kamu-kamu pastilah sudah merencanakan akan menghabiskan liburan dengan cara bagaimana, bersama siapa, dan dimana sajakah.

Eh tapi sebelum saya memaparkan hal menarik selama saya berlibur, saya mengucapkan maaf lahir dan batin terlebih dulu. Mumpung masih bulan Syawal guys.

Ok guys. Kita mulai perjalanan liburan saya selama tiga pekan lebiiiihhhhhhh ini.

Saya mengawalinya dengan berkisah tentang kegiatan berbuka puasa bersama (bukber). Dimana bukber mungkin tidak akan menjadi sesuatu yang menarik. Apalagi kalau ngabuburitnya bareng mantan yang kitanya sudah berhasil move on ini. Atau bukber dengan teman sebaya yang sudah nikah, pada punya anak, plus banyak nada/rada bawel. Sementara, kita ini masih memilih setia sendiri. Sudah dapat dipastikan, kalau sampeyan tidak kuat mental. Ngabuburit jenis ini hanya akan menghasilkan kedongkolan tiada tara. Percayalah :p

Tetapi, di tahun ini, saya menghabiskan waktu berbuka puasa dengan orang-orang yang begitu spesial bagi saya. Di antaranya dengan ngabuburit bareng PARA cinta pertama saya. Anak wali saya yang telah bersama saya 3 tahun dalam suka dan duka. Mereka sudah pernah merasakan amukan level dewa saya, juga menyaksikan kepolosan dan keteledoran saya. Serta saat saya pecicilan. Meski tidak semua hadir, tetapi saya tetap disusupi kebahagian yang meluap-meluap. Terima kasih untuk waktu luangnya adik-adik. Sukseslah dalam hidup dan berbaktilah pada kebaikan sayangku.

Saya juga melalui satu Ahad bersama teman-teman semasa MAN dulu. Spesialnya itu karena selain ditraktir, saya akhirnya bertemu sahabat saya, Nuni. Doski sekarang sudah berdomisili Kalimantan Timur. Liburnya dimanfaat untuk mudik ke Sungguhminasa, Gowa. Bertemu dengannya selalu saja membuat saya senang dan tenang. Doi senantiasa menyisipkan energi positif dan pandangan-pandangan baik pada setiap pertemuan dan percakapan kami. I love u, dear, muacchhh.

Pun juga, tahun ini adalah kali pertama saya melaksanakan bukber dengan anak wali saya yang baru. Memiliki sekiranya setengah dari isi kelas kami berkeyaninan Nasrani, kami justru sangat terbantu. Malahan mereka ini justru sangat bersemangat ambil bagian pada acara bukber perdana kami.

Tak hanya itu, anak-anak sekelas ini juga melakukan kunjungan ke sebuah panti asuhan. Bantuan yang diberikan diambil dari dana kelas yang selama ini mereka kumpulkan. Saya bangga dengan sikap baik kalian. Saya bahagia dengan sikap toleran kalian.

Oh iya, edisi bukbernya di stop di sini saja yah. Jika tidak, bisa-bisa, saya hanya memaparkan satu hal menarik saja selama liburan panjang berlangsung. Si pemberi tema tentu akan kekurangan informasi tentang apa saja yang saya lakukan selama liburan ini, hahaha.

Hal menarik selanjutnya meliputi adegan nginap di rumah para perempuan saya. Masing-masing sekali di Manuruki, Tidung Mariolo, dan Tello. Saya menemukan keceriaan yang khas pada setiap rumah yang saya kunjungi.

Jika nginap di Tello, saya seharian akan dihujani pertanyaan oleh 2 orang bocah lelaki yang cukup aktif. Keduanya memiliki energi cadangan dan menyiapkan beribu pertanyaan berkaitan dengan apa saja yang dilihatnya atau hal baru yang didengarnya. Tambahan lagi, si adik yang usianya sangat belia itu, kala jam menunjukkan pukul 10 pagi, alarm menangisnya aktif untuk meminta berbuka puasa. Saya dan mamanya hanya sanggup tersenyum geli saja, sesekali membujuknya untuk menahan puasanya lebih lama. Tapi, jika sudah sampai pada titik kesanggupannya, mamanya akan membuat keputusan. Bocah itu lalu dipenuhi rasa suka cita, dia boleh berbuka. Belajar puasanya dilanjut esok hari :)

Sedangkan nuansa di Tidung Mariolo dan Manuruki sebenarnya tak jauh berbeda. Apalagi orang yang saya kunjungi itu, keduanya memang masih jomblo :p

Bagi saya, mau di Manuruki atau Tidung, saya selalu menemukan nuansa kehangatan yang saya temukan dalam makanan yang dibuat oleh seorang ibu, atau dalam sapaannya. Mendapati seorang ibunya teman masih mencari kehadiran kita di rumahnya itu adalah sebuah keberkahan dan keistimewaan. Walau pun saya tahu, saya memang punya bakat dirindukan orang sih sebenarnya :p

Aktivitas menarik lainnya adalah hunt buku bersama Nuni dan Risma. Perburuan saya dengan Nuni memang adalah sebuah rencana. Tapi ujug-ujugnya, kami memilih membeli buku diskon di sebuah swalayan ketimbang di toko buku. Sedangkan saat bersama Risma, pencarian kami murni karena rasa takjub terhadap buku-buku yang berjejer seksi dengan harga yang bikin ngeces. Tak ada perkiraan sebelumnya.

Dalam dua kali perburuan itu, sekali pun tak lengkap, saya menemukan Balada si Roy karya Gola Gong, saya mengoleksi Laki-Laki yang Salah-nya Lan Fang, kumpulan cerpen Linda Christanty pada Rahasia Selma dan Seekor Anjing yang Mati di Bala Murghab, Dua Belas Pasang Mata-nya Sakae Tsuboi, dan tulisan Kim Dong Hwa pada Sepeda Merah Vol. 1 dan 2.

Selain perkara dengan siapa saya melakukan perburuan, hal menarik lain bagi saya karena masing-masing dari buku itu saya beli seharga sepuluh ribu rupiah pemirsa.

Selanjutnya, saya mengisi waktu, bahasa lebih halus dari pada menghabiskan waktu, dengan menikmati beberapa film yang memang saya simpan untuk ditonton saat liburan tiba. Film-film itu saya peroleh dari berbagai pihak, dari kawan dan lawan, ini apaan sih :p

Saya melakukan proses pengoleksian bahan nonton sebelum bulan puasa tiba. Saya melakukannya dengan si neng yang menghuni rumah di Tidung Mariolo. Oh iya, berkat dirinya, saya akhirnya memiliki “rasa” dalam menonton, hahaha. Thanks beib :-*

Persoalan lainnya yang saya rasa menarik adalah ketika saya secara tak direncanakan berhasil membuat seorang kakak perempuan ngambek sejadi-jadinya. Sukses total. Jadi itu ceritanya, pas si kakak ulang tahun pada bulan Juni kemarin. Saya dan beberapa sahabatnya di Akar7, ini nama geng kami. Melakukan aksi cuek paripurna, perlu digarisbawahi bahwa tak satu pun dari kami janjian melakukannya. Masing-masing dari kami menjalani prosesi membuat marah dengan jalannya sendiri. Tepat dihari kelahiran doi, tak satu pun dari kami menghaturkan ucapan selamat secara langsung. Tidak pula menyampaikan kalimat happy b’day dan semacamnya dalam status di media sosial kami. Tak pula menjadikan profilnya atau ucapan selamat kami sebagai display picture pada media sosial kami. Betul-betul menyebalkan memang.

Si kakak akhirnya kecewa dan kesal betul dengan kami. Ini kesalnya dipelihara sampai lebaran tiba, hiks. 

Aku menyesal kak :’(

Padahal, tahun lalu, saya merasakan kegembiraan lebaran melalui nasu palikku buatan mamanya yang enak itu. Eit, ini bukan perkara makanan lho yah. Saya selalu menegaskan bahwa apapun yang dimasak seorang ibu itu pasti enak, bikin nagih, dan kau pun dapat merasakan ketulusannya dalam setiap sendok yang kau suapi ke mulutmu. Saya hanya sedang mencicil rasa rindu saya pada mama saya melalui masakan, sapaan, pelukan hangat dari ibu-ibu sahabat dan saudara-saudara saya.

Nah, sebenarnya ada satu hal menarik yang hampir saya lakukan saat liburan. Sayangnya, dikejar janji dan diserang flu mendadak membuat saya menghapusnya dari list. Saya berencana mencari sepatu dan beberapa lembar kemeja bersama teman kantor saya.

Kami sebenarnya berencana menyusuri pasar yang berjualan barang bekas, orang-orang di sekitar saya menyebut tempat itu “cakar”, yang kira-kira berasal dari kata cap karung. Dia menyebutkan sebuah tempat ke saya. Rasa penasaran saya terusik. Rasa ingin tahu saya serasa ditantang. Ini kok lebay amat sih. Lha kalau mau beli pakaian dan sepatu bekas saja lagak bahasa sok gitu nih perempuan, hahaha. Tapi yah, sayang sekali, batal pemirsa, hiks.

Baiklah guys. Itulah beberapa hal menarik yang dapat saya kisahkan. Liburan kali ini tak sempat saya isi dengan berjalan-jalan memang. Sebab, ada beberapa jadwal dadakan yang butuh diperhatikan. Edisi jalan-jalan saya hanya khususkan saat lebaran saja, itu pun hanya meliputi kunjungan ke keluarga dari garis mama dan bersilaturrahim bertemu sahabat-sahabat baik.

Eh buset dah, ini kok liburan kali ini saya nihil piknik yah. *mendadak lemas*

Sekian dari saya.
Selamat berhari Selasa.
Tabik….




*si Restu dan Isma apa kabarnya sih kalian. Aku rindu kunjungi blog kalian berdua*

You Might Also Like

0 komentar