Demikianlah, Rena

Ilustrasi berasal dari heydeerahma.com

Kau menabrakku dengan sebuah pertanyaan dalam ketergesaanmu. 
“Kamu jadi mudik tidak?” Aku diam. 
Kamu mengulang lagi pertanyaan itu. Padahal, semalam, aku dan kamu sudah melalui perbincangan yang alot tentang mudik dan ketakutanku. Kamu seharusnya mampu menyesapi segala penolakanku.
“Jadi tidak?” tanyamu dengan sedikit mendesak. 
Aku hanya mengangkat bahu, menunjukkan keenggananku terhadap pertanyaanmu. Lantas, kamu hanya tersenyum simpul, lalu membalikkan badanmu. Aku membiarkanmu pergi dikejar waktu. Ini pagi pertama kamu telat menuju kantor.
 “Coba dipikir-pikir lagi,” teriakmu sembari menutup rapat pagar di teras.
***

“Apa? Kamu tidak pernah mudik, Ren.” kamu melanjutkan percakapan kita yang sempat dijeda keheningan. Sekiranya 20 menit lalu, kamu membuka perbincangan dengan menanyakan kapan kantorku meliburkan pegawainya. Kemudian, muncullah masalah ini. Sejak awal aku sudah dapat menebak ke mana arah perbincanganmu, makanya aku sengaja terlihat sibuk di depan layar komputerku. Aku yakin, setelah ini, kamu akan bertanya kenapa aku tidak mau mudik. 

Bagiku, tidak ada yang begitu aku nantikan saat berada di penghujung Ramadan, kecuali THR. Mudik, misalnya, seperti yang kebanyakan ditunggu dan digiati sebagian besar orang, selalu berakhir menjadi sebuah tanda tanya padaku. Mudik? 

Aku tak bermusuhan dengan aktivitas yang satu itu. Hanya saja, mudik bukan bagian dari diriku. Bahkan, sampai aku menyentuh umur kedua puluh sembilan, seperti hari ini. Mudik masih menjadi wacana yang tak kunjung terjadi. 

“Mudik? Orang tuaku tinggal bersamaku. Saudara bapak kelewat jauh, sehingga wajib dikunjungi dengan moda transportasi pesawat yang mahal apalagi sesekali delay itu. Atau, dengan kapal laut yang lambat, kotor, dan memabukkan itu. Sedangkan saudara-saudara mama, beberapa di antaranya tinggal sekota dengan kami, hanya 3 orang saja yang berdiam di kepulaun berbeda.” paparku. 

Selain perihal transportasi. Realitanya, orang tuaku memang tak pernah melakoni mudik. Entahlah, mungkin ketika aku dan adikku masih kecil, dan biaya hidup belum semahal sekarang, bapak dan mama mungkin juga pernah menjadi bagian dari rutinitas tahunan ini. Mungkin. 

Kita semua tahu. Bagi para pemudik. Ongkos dalam melaksanakan misi sucinya itu menjadi pelik rasanya untuk sekelompok orang. Beberapa pos, seperti biaya transportasi, oleh-oleh dan semacam duit salam tempel, biasanya menempati posisi tertinggi menelan lembar-lembar Soekarno-Hatta. Ini masih belum masuk biaya konsumsi selama perjalanan, belanja pakaian baru yang dilakoni jauh hari sebelum mudik dilaksanakan, persiapan sembako untuk menyambut tamu di hari suci nanti, meliputi sirup, minuman bersoda, teh, kopi, dan berbagai variasi penganan. Pun, masih ada biaya kesalehan, meliputi pembelian sajadah, mukena, sarung, peci, dan baju koko untuk dipakai saat 1 Syawal tiba. 

Kami sekeluarga tahu. Bapakku juga paham tentang esensi mudik. Mudik tak hanya secara tunggal menjadi ritus dalam memenuhi hasrat bertatap-bersua-bercengkrama-berinterkaksi dengan sanak saudara, lebih dari itu, mudik saat menuju Lebaran adalah momentum untuk mengenang budaya dan akar sosialnya sebagai bagian dari manusia dan masyarakat. Merajut kembali jaringan solidaritas dan soliditas terhadap semesta dan lingkungan sosial. 

Aku sadar. Bapakku paham. Mama dan adikku mengerti. Tapi, kami tetap tak menjalaninya. Bapak memutuskan agar aku dan adikku menulis surat saja saban Idul Fitri. Dalam surat itu, kami tak hanya mengucapkan selamat Lebaran, tetapi kami diminta menulis sebuah pengalaman menyenangkan dalam setahun itu. Lalu, bapak dan mama akan menyisipkan beberapa hadiah untuk kakek dan nenek. Pun, juga bagi paman, bibi, dan para sepupu kami di sana. 

Ini semua dirasa lebih efisien. Sebab, dengan bermodal transportasi pesawat, ongkos yang keluar tidak tanggung-tanggung. Jika dijumlahkan, khusus untuk biaya tiket pesawat pulang-pergi bagi kami berempat itu setara dengan sebuah motor bebek. Sedangkan, untuk memilih jalur transportasi kapal laut. Jatah libur bagi seorang pegawai negri seperti bapak sangat sedikit. Untuk sampai ke kampung halaman bapak, dibutuhkan sekitar 4 hari 4 malam. Acapkali bisa sampai 5 hari malah. Sekiranya selama 8 hingga 10 hari kelak akan kami habisnya di atas permukaan laut. Belum termasuk hari-hari yang harus kami sediakan untuk mengunjungi semua keluarga. 

Di sisi lain, kami jadinya terbiasa menjalani Lebaran dengan berkunjung ke rumah kakek dan nenek dari pihak mama, semasa mereka masih hidup. Bapak, mama, aku, dan adik akan berkunjung ke rumah mereka selepas melaksanakan salat Idul Fitri, atau memilih nginap, sehari sebelum Lebaran tiba. Rumah kakek dan nenek hanya berjarak 10 kilometer dari hunian kami, sekota dengan kami. Ini bukan mudikkan? 

Tentu tidak. Sebab, mudik jika dikaitkan dengan masa pemerintahan Ali Sadikin, pada pertengahan dasawarsa 1970-an, adalah sebuah landasan. Itulah masa dimana mudik dikaitkan dengan Lebaran. Tempo dimana Jakarta berubah menjadi kota metropolitan. Kota impian, tempat idaman, wadah pusat orientasi pemerintah, politik, budaya, dan sosial. Magnet yang menarik begitu banyak manusia untuk menghirup udara dan memeras keringat di sana. Yang sebagian besar pekerjanya, memiliki sebuah kaki di Jakarta untuk bekerja, sedangkan kaki yang satunya terpasung di kampung halaman. Mereka yang sesekali didesak rindu daerah asal. Kangen dengan segala seluk-beluk tempatnya bermula. Mudik adalah kesempatan. Sekaligus sebuah kamuflase dari gairah memiliki legitimasi sosial dan mempertontonkan eksistensinya. 

“Lha, kamu ini bagaimana sih. Lebaran itu yah mudik. Mudik yah Lebaran Ren.” ujarmu. Kamu selalu saja membujukku ikut ambil bagian saat masa mudik tiba. Tak tanggung-tanggung, kamu malahan mengajakku berkunjung ke kampung halamanmu. Hanya agar aku ikut merasakan aroma pedesaan saat Lebaran tiba. Kamu memang teman berbagi rumah yang keras kepala. 

“Tidak, terima kasih. Aku sejatinya adalah penikmat kesendirian. Mudik itu yah bertemu banyak manusia yang menghasilkan begitu banyak suara. Aku ini penakut, penakut pada suara. Kamu ingatkan?” ujarku. Memastikan kamu tak berisik lagi tentang mudik. 

Mungkin kamu ini lupa dengan ketakutanku. Aku sendiri tak tahu sejak kapan aku menderita ketakutan seperti ini. Aku begitu ketakutan ketika dibenturkan dengan beragam suara dan kemajemukan manusia. Detak jantungku mendadak semakin kencang. Tidak sesekali aku merasakan sesak di dada atau pusing. Jika kondisinya begitu tak terkendali, ketakutanku itu justru membuat aku mual dan muntah. 

“Ayolah, kalahkan ketakutanmu itu, Ren” katamu bermaksud memotivasi, kala aku begitu senewen dengan ketakutanku. Sayangnya, upayamu itu justru lebih terkesan memaksa bagiku. 
“Aku sudah mencoba menaklukkan ketakutan itu. Beberapa kali malah. Untuk yang satu ini, aku menyerah. Kamu ajak aku taklukkan yang lain saja.“ pintaku. 
“Kamu tuh yah. Ajakan mudikku itu tak hanya perkara menaklukkan ketakutanmu. Aku mau memberimu pengalaman menikmati perjalanan selama menuju kampungku. Sesuatu yang sama sekali tak pernah kau lakukan.” tambahmu. 
“Aku menikmati perjalanan?” ujarku setengah berteriak. Kamu betul-betul tak paham aku. 
“Iya Ren, kamu.” balasmu cepat. Daftar ketakutanku di database ingatanmu sedang kacau mungkin.
“Jalan padat dan panjang, lalu ditambahi bumbu keriuhan manusia itu membunuhku.” jawabku. Aku jengkel sejadi-jadinya. Ketus secara total. 

Aku pikir, kamu butuh masa tenang. Kamu butuh memanggil semua informasi tentangku seketika. Kali ini, kamu teman berbagi rumah keras kepala yang mendadak kehilangan sisi memahaminya. Kamu harusnya tahu. Aku selalu menghindari waktu-waktu kala kendaraan sedang tumpah ruah di jalanan, klakson saling beradu, keinginan dengan segala kepentingan untuk segera tiba antar pengguna jalanan saling tumpang-tindih. Aku selalu menikmati kota, rumah, dan kamarku setiap kali bulan Syawal bergulir. Atau pun dalam keseharianku dengan kesunyian. 

“Lantas, bagaimana kamu mengurai kepenatan saat macet menghantui hari-harimu? Kotamu ini, Makassar, selalu saja macet di jam-jam tertentu, di lokasi tertentu. Meski belum separah ibukota negara.” imbuhmu saat aku berujar tentang kebencianku pada kemacetan. 
“Aku akan menelusuri jalanan di saat lenggang. Entah dengan pulang lebih larut atau pergi terlalu pagi.” balasku. Aku tahu tentang apa yang harus aku lakukan. Aku tahu bagaimana mengakali hal yang aku tak sukai. Aku tahu. Camkan itu. 

Aku seketika meninggalkan ruang tengah. Menunjukkan kejengkelanku. Mengakhiri perdebatan ini. Sebab, sampai kapan pun, kamu mungkin akan selalu tak memahami hubunganku dengan mudik. Aku bersama keriuhan. Aku dan ketakutanku. 

Dan, perihal menikmati perjalanan. Tunggu dulu, versimu denganku itu beda. bapak dan mamaku tahu, betapa aku suka menikmati perjalanan dengan berdiam diri sembari mendengarkan musik melalui earphone. Atau menghabiskan waktu dengan membaca buku dengan sesekali menatap jalanan yang aku susuri, memelototi kehijauan sawah, mengagumi jejeran bukit atau gunung, membuka jendela dan menghirup sedalam mungkin bau amis yang berhembus dari pantai, yang kesemuanya ku lakukan dengan khusyuk. Melaluinya dalam kesendirian. 

Aku benci diusik dengan semua kemewahanku itu. Bahkan, hanya sekedar menanyakan kabar atau membahas kondisi cuaca pun aku tak sudi.

You Might Also Like

0 komentar