Catatan Menarik Rutinitas Perempuan Kala Ramadan

Ilustrasi berasal dari facetofeet.com

Apa yang terlintas di kepala Anda, jika seseorang bertanya tentang rutinitas Anda selama Ramadan berlangsung? Adakah sesuatu yang berbeda dari bulan-bulan lainnya, perihal khusus misalnya? Hal yang baru mungkin? Atau, rupanya hanya menjejaki ulang perjalanan Ramadan sebelumnya?

Pertanyaan semacam itu, kemudian saya coba lontarkan pada beberapa orang. Saya sebenarnya penasaran dengan kegiatan mereka selama bulan puasa, berdasarkan latar belakang status masing-masing. 

Lantas, saya melakukan sesi tanya jawab kepada mereka. Yah, sekalipun langkah yang saya lakukan ini masih belum cukup dikatakan sebagai penelitian yang memadai, mengingat jumlah partisipan dan metode yang saya gunakan. Pun, yang saya lakukan nyatanya tidak mewakili kebutuhan pengambilan keputusan, pemetaan, atau pemantauan tertentu. 

Dalam sesi itu, saya mengajukan tiga pertanyaan. Pertama, Dengan status yang Anda miliki saat ini, apa saja rutinitas Anda selama Ramadan tahun ini? Kedua, Adakah perbedaannya dengan tahun lalu atau hanya bersifat pengulangan saja? Ketiga, Bagaimana dengan aktivitas mendekatkan diri dengan sang pencipta? 

Mereka yang saya temani dalam sesi tanya-jawab ini, lebih dahulu saya membaginya ke dalam 4 kategori yang begitu memasyarakat. Pertama, seorang kawan yang telah berkeluarga dan memiliki anak, mewakili kelompok ibu-ibu. Kedua, seseorang yang baru saja menikah, pengantin baru, mewakili para istri. Kelompok ini mudah dijumpai, mengingat adanya kecenderungan orang Bugis-Makassar untuk melangsungkan pernikahan sebelum Ramadan tiba. Sayangnya, saya yang jarang hadir di acara pernikahan ini, pada akhirnya sulit menemukan siapa yang bisa saya ajak komunikasi. Saya begitu segan menemui teman-teman saya yang telah menikah ini, bahkan hanya sekadar menyapanya di media sosial. Beban ketidakhadiran terlalu membelenggu saya, mungkin. Syukurnya, saya dapat menemukannya. Seseorang yang sudah lebih dari 10 tahun berkomitmen menjadi saudari saya. Ketiga, sahabat yang kelewat dekat dan akrab dengan saya, yang sedang melalui masa menuju pernikahan, mewakili orang-orang berpasangan berkomitmen. Terakhir, kategori single. 

Semua yang saya temani ini berjenis kelamin perempuan. Apa? Perempuan? Kok bisa yah? Jadi begini, kenapa saya memilih perempuan, bukan didasari karena saya dan mereka memiliki jenis kelamin yang sama. Akan tetapi, saya merasa bahwa perempuan selalu saja penuh warna dan kejutan, serta memiliki begitu banyak dinamika dalam kondisinya. Argumentasi saya terkesan begitu tidak objektif mungkin. Sungguh, saya jujur dengan alasan saya. Suwerrrrr :p 

Contoh kecil, memandang sepatu cantik yang sudah lama diidam-idamkan sedang dalam masa diskon 40% saja, itu bagaimana yah? Coba tanyakan kepada mereka yang single, lalu tanyakan pada mereka yang sedang dalam sebuah hubungan, pada perempuan yang sudah menikah, dan ibu-ibu. Lepas dari latar belakang pendidikan, pengaruh lingkungan, dan selera mencocokkan warna sepatu-tas-aksesoris. Biasanya, para ibu atau perempuan yang telah menikah/istri, mereka lebih banyak pertimbangan sih. Mereka ini berpotensi lebih fokus pada kebutuhan anak atau suami. Sedang yang berkomitmen dalam sebuah hubungan, bisa jadi menempuh jalan gombal agar pendampingnya bisa terperdaya memboyong pulang sepatu itu. Cukup pakai kalimat sakti, sepatu ini LUCU deh Yang. Tetapi ini bisa jadi lho yah. Sebab, ada juga perempuan yang dengan mandiri membeli segala yang diinginkannya. Tetapi, selayaknya orang berpasangan, mereka akan cenderung menyampaikan niat mereka ke pasangannya. Terlepas dari apakah kekasihnya akan menghadiahkan barang itu atau tidak. Sedangan bagi para single, dengan kemapanannya, sepatu adalah kunci. 

Dengan didasari pada konsep bahwa manusia punya potensi dasar untuk selalu berubah. Dalam kasus di atas, secara garis besar, para perempuan ini sedang memberi batasan-batasan terhadap kebutuhan dan keinginan. Dimana, status asmara atau hubungan pernikahan diasumsikan memberi andil yang sangat besar dalam pengambilan keputusan para perempuan ini. Pengambilan keputusan yang berbeda antar kategori dinilai sesuai untuk dijadikan alasan adanya perubahan pola pikir. Kalau menggunakan alasan ini, kalian sudah percaya saya tidak subjektif bukan? :) 

Jumlah partisipan saya kali ini adalah 4 orang, mewakili masing-masing kategori. Kok cuma segitu sih? Yah, namanya juga penelitian dalam skala super mini. Kalau mau yang komplit dan ok, ngana bikin saja sendiri :p 

Dalam penelitian ini, saya menggunakan media sosial seperti Messeger dan Whatsapp dalam berinteraksi. Keempat partisipan saya ini wanita karir dan memiliki latar belakang pendidikan yang sama, mereka semua adalah orang-orang yang tengah atau telah menjalani program pendidikan pascasarjana dengan cakupan usia antara 28-35 tahun. Kedua hal itu (usia dan pendidikan), sengaja saya pilih. Saya berasumsi bahwa mereka akan merespon pertanyaan saya dengan penuh kekhusyukan. Lain waktu, mungkin saya akan mengganti domain penelitian saya dengan tetap berfokus pada rutinitas. Tapi itu nanti. Saya tak tahu kapan pastinya ;) 

Saya akan memulai membahas hasil penilitian saya yang berfokus pada rutinitas Ramadan. Ini kalau dijadikan judul skripsi, kira-kira jadinya, “Tinjauan Pengaruh Status Asmara Terhadap Perempuan Dalam Rutinitas Ramadan”. 

Baiklah, saya akan mulai memaparkannya. 

Saya mengawalinya dari seorang sahabat perempuan saya. Oh iya, saya tidak akan menuliskan nama para pastisipan saya. Kenapa? Karena mereka semuanya sahabat saya. Lagi pula, percuma juga saya melampirkannya, emang ngana kenal apa? :p 

Kawan saya ini, sekarang menyandang gelar mahmud abas, mamah muda anak baru satu. Tahun ini adalah kali pertamanya melalui Ramadan bersama anak lelakinya, Ahsan. Saya ingat, di awal Ramadan, doi pernah membagikan sebuah foto yang begitu menantang sekaligus mengusik kesendirian saya. Di foto itu, doi membandingkan kondisinya setahun lalu, yang masih Ramadan berdua bersama sang suami. Dengan tahun ini, yang tengah merasakan indah-indahnya puasa bersama suami terkasih dan anak tercinta yang telah berusia 2 bulan. Duh neng, apa yang kamu lakukan ke saya itu jahat! :p 

Baginya, berhubung masih dapat jatah libur dari tempat kerja, rutinitas Ramadan kali ini meliputi kegiatan menyiapkan makanan pembuka dan sahur bagi suami. Sekalipun, kadang-kadang sang suami membantunya di dapur atau masak sendiri, jika Ahsan sedang ingin bersama ibunya saja. Selain itu, yang paling dirasakannya adalah jumlah jam tidurnya yang semakin menyusut. Ketika malam, doi kadang terbangun beberapa kali untuk menyusui atau sekadar menidurkan Ahsan yang terbangun, belum lagi menyiapkan santap sahur. Untuk mengganti jam tidur di kala pagi atau siang hari, rasanya tidak memungkinkan. Mengingat suaminya sebagai seorang wirausahawan, yang saban pagi, pasangan ini saling bahu-membahu mempersiapkan dagangannya. Siang hari terasa begitu panas dan tidak nyaman untuk dijadikan pengantar tidur. Doi mengakui, aktivitas di dalam rumah begitu tinggi, dimana mobilitas sangat rendah. 

Jelaslah baginya, terdapat perbedaan dalam melalui Ramadan kali ini. Tentu saja selain jadi bertiga sekarang. Jika tahun sebelumnya, doi melaksanakan puasa di kota Sragen, yang rasanya begitu penuh warna. Hal ini karena doi masih bisa melakukan aktivitas berjalan-jalan atau mejeng, berburu kuliner tertentu, bahkan sempat melakukan trip. Di Makassar, doi hanya sanggup beberapa jam saja keluar rumah. Selebihnya, doi meluangkan semua waktu yang dimilikinya bersama buah hatinya. 

Sedangkan, untuk pertanyaan ketiga saya. Doi mengaku lebih punya banyak waktu berkhalwat dengan sang pencipta. Berada di rumah rupanya menjadi jembatan positif baginya untuk lebih mendekatkan diri denganNya. Doi menargetkan untuk mengaji lebih banyak dari tahun sebelumnya. Khatam Quran. 

Serupa dengannya, partisipan saya yang mewakili kategori baru saja menikah ini memaparkan hal yang dialaminya. Sebagai pengantin baru, sahabat setara adik bagi saya ini mengaku, bahwa rutinitasnya berfokus terhadap suaminya. Menyiapkan segala kebutuhan suami adalah prioritasnya. Maka itulah yang menjadikan perbedaan Ramadan tahun ini dari sebelumnya. Semisal mengunjungi ibu mertua atau ipar. Sekalipun, ada beberapa kegiatan yang direpetisi dari Ramadan sebelumnya. 

Dalam beberapa aktivitas beribadah, adik saya mengaku melaksanakannya bareng suami. Jadinya memiliki rekan dalam ibadah. Kebersamaan dengan suami dipupuk dalam hampir segala ranah, mulai dari shalat berjemaah, tadarrus bersama, bahkan menyempatkan bertadabbur dengan Quran, berhubung suaminya senang sekali berbagi kisah-kisah Islam yang inspiratif. 

Partisipan saya yang ketiga, sahabat saya sejak Madrasah Aliyah dulu. Teman yang tahu luar-dalam, atas-bawah, baik-buruk saya. Pokoknya, perempuan yang satu ini menyimpan sisi kelam saya semasa Aliyah, hahaha. Saudari saya ini sekarang telah berpindah daerah kerja. Dahulu di Gowa, Sulawesi Selatan. Lantas, berkaitan dengan penempatan wilayah kerjanya, dia ditugaskan untuk berdinas di Kalimantan. Akan tetapi, Ramadan kali ini dilaluinya di Gowa. Mudik katanya. 

Rutinitas yang dijalani seputar tidur, kerja souvenir, silaturrahim dengan sanak keluarga dan karib kerabat, serta mengurus berkas persiapan sidang nikahnya. Tetapi, dia juga masih meluangkan waktu untuk kajian dan membaca buku. 

Baginya, tidak ada perbedaan signifikan pada Ramadan kali ini. Hanya saja, dia lebih banyak menyempatkan diri untuk meningkatkan kemampuan memasaknya, serta mengurangi aktivitas di luar rumah yang dirasa kurang bermanfaat. 

Sedangkan untuk persoalan ibadah, sebagai seseorang yang menjadi bagian dari One Day One Juz. Dia mengaku kembali menjalani kegiatan ini, di samping lebih getol lagi shalat tahajjud. 

Terakhir, datang dari teman saya yang single. Secara garis beras, mbak saya ini mengaku bahwa perubahan rutinitas di tahun ini dengan yang sebelumnya pasti ada saja perbedaanya. Tapi tak terlalu besar. Satu-satunya yang sangat terasa adalah menu buka puasanya yang didominasi pisang ijo, hehe. 

Dalam perkara pendekatan diri kepadaNya, di tahun ini si mbak mengaku selalu berikhtiar untuk lebih mengingat Allah SWT. 

Lantas, apa saja aktivitasnya selama Ramadan? Dengan posisi sebagai mahasiswi pascasarjana, sekaligus seorang pengajar di salah satu kampus di kota saya. Ramadan kali ini digeluti yah berkisar kampus. Silih berganti, mbak saya ini bertukar posisi dari menerima perkuliahan atau memberi materi kuliah. Selain itu, juga masih berkegiatan di sebuah sekolah swasta lho. Begitu aktif bukan? 

Saya tidak akan membuat kesimpulan selayaknya penilitian yang selama ini Anda temui. Kenapa? Sungguh, saya bohong jika mengatakan bahwa saya tak menyampaikan rangkumannya karena takut mereduksi buah pikiran saudara-saudara terhadap apa yang telah saya tulis. Pun, saya tidak takut dituduh menggiring opini pembaca :p 

Hanya saja, saya ini kok merasa gentar kalau ujung-ujungnya, kalian, para pembaca ini justru yang mengarahkan opini saya tentang kejombloan yang ngenes ini :p

Sekian.

You Might Also Like

0 komentar