Betapa Malas Layak Dikambinghitamkan (?)

Ilustrasi berasal dari dokterdigital.com
Berada tepat pada pekan kedua bulan Ramadan. Salah seorang dari kelompok kami, yang kok lebih tenteram saya sebut geng saja, mengusulkan untuk mengangkat tema malas sebagai ide dasar tulisan masing-masing.

Apa? Geng? Tenang, tenang. Ini geng loh yah, bukan gerombolan yang bagimu lebih cenderung bermakna negatif. Eh, tapi, geng yang sekarang lebih mudah dikenali dalam kalimat geng motor, lha bukannya berkonotasi negatif juga yah?

Aduh, bagaimana ini? Tolong, ikhlaskan saja saya tetap menggunakan kata geng. Lha geng itu rasa-rasanya terkesan lebih muda dan energik sih, hehehe. Nah, geng kami yang terdiri dari 2 orang lebih ini, tentulah memiliki visi dan misi, dan bekerja sama demi mencapai tujuan bersama. Tunggu, ini kok jadinya seperti definisi organisasi saja.

Jadi begini saudara-saudara. Bersama dua orang teman saya, hai kamu yang hanya seorang lelaki, kita temenan bukan? Kami bertiga membuat semacam jadwal untuk mengisi blog kami. Ikhtiar merangkai kata yang baik dan benar, sekalian menjadikan blog sebagai medium mengeluarkan ide atau umpatan sekalipun.

Kalau Mbak, Mas berkenan, sila mengunjungi blog anggota geng ini, Hairul dan Risma. Kami ini, di setiap pekannya, wajib membuat sebuah tulisan di blog kami, dengan merujuk pada tema yang telah ditentukan sebelumnya.

Lebih spesifiknya begini, setiap hari Rabu, yang lebih tepatnya adalah deadline pengumpulan tulisan, masing-masing dari kami akan mempublikasikan tulisannya. Isi dan jenis tulisan tidak ditentukan bentuk bakunya.

Yang mau menulis cerita pendek atau puisi, yah silahkan. Yang tertarik menulis esai, opini, review film atau buku, bahkan berita, mau liputan khusus atau reportase sekalipun, monggo. Atau menulis seperti postingan saya yang tidak jelas dan penuh curhatan ini juga bisa kok.

Sing penting, jumlah katanya minimal 750 plus menulis judul berabjad, ini makanya judul tulisan saya diawali aksara B, menandai pekan kedua. Saya seketika malas kalau ingat jumlah kata dan ketentuannya, hahaha. Siapa sih yang buat aturan seperti ini? Ngakuuuuuu? :p

Saya akan mengawali tulisan tentang malas ini, dengan terlebih dahulu menuliskan pengertiannya. Secara leksikal, pada Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) online tampil sebagai berikut, ma-las adalah 1. tidak mau bekerja atau mengerjakan sesuatu; 2. segan; tidak suka; tidak bernafsu. Jadi, kalau saya menulis kalimat semacam, saya malas bertemu mantan, dapat diartikan saya tidak suka bertemu mantan ya kan, hahaha.

Tidak mau bekerja atau mengerjakan sesuatu, rupanya menjadi semacam penyakit yang kian menggerogoti orang-orang zaman ini. Eit, memangnya dahulu orang-orang tidak memiliki kecenderungan untuk berbuat malas apa?

Tentu, malas bisa menyerang umat manusia pada zaman apapun itu. Tua, muda. Kaya, miskin. Lelaki, perempuan. Dimana malas selayaknya sebagai kondisi penyebab, juga merupakan sebuah pilihan. Sekaligus bukan kausa tunggal. Kapan pun dan dimana pun Mbak atau Mas hidup, tentulah Mbak, Mas memiliki potensi untuk berlaku malas, pun juga tidak.

Di zaman ini, kehadiran teknologi dinilai berdampak langsung pada gaya hidup dan perilaku orang-orang. Seperti pedang bermata dua. Yang di satu sisi begitu memudahkan kerja manusia. Tetapi di bagian lain justru memupuk stigma negatif. Kemudahan demi kemudahan pada akhirnya melahirkan spekulasi akan munculnya kemalasan.

Orang-orang cenderung memilih tidak memaksimalkan pergerakan tubuh. Mengupayakan yang instan. Padahal patut disadari, bahwa itu adalah pilihan dengan sederet alasan logis, percayalah.

Salah satu contoh nyatanya ialah bagaimana berkembang pesatnya online shop sekarang ini. Tunggu. Saya tidak sedang mengkritik bagaimana online shop mampu mengubah mindset sebagian pelaku pasar, yang dalam hal ini adalah pembeli, untuk memilih berbelanja dengan bekal jari dan gadget.

Memangkas ruang dan mengefektifkan waktu adalah alasan utamanya, serta tak perlu merasakan panas matahari dan berdesak-desak ditemani bau apek orang-orang di pasar. Padahal, kegiatan mengunjungi pasar merupakan laku yang tak hanya melibatkan perjumpaan fisik, melainkan juga melatih kemampuan daya tahan tubuh saat menjinjing sendiri barang belanjaan atau mengunjungi toko demi toko untuk membandingkan selisih harga, yang memang sejatinya adalah olah fisik, juga meningkatkan kecakapan menawar, kegesitan dalam meraih terlebih dahulu barang idaman, berdiplomasi untuk mendapat bonus jika jumlah barang yang dibeli banyak atau memenangkan tawaran harga termurah, juga melatih kontrol diri agar mampu membedakan mana kebutuhan dan keinginan.

Untuk bagian terakhir, kebanyakan perempuan tahu bagaimana beratnya itu, hahaha. Mbak, Mas mau melakoni pasar jauh apa tidak, yah suka-suka sampeyan. Duit, duit Mbak, Mas. Lagi pula, maraknya online shop juga merupakan pertanda bahwa masyarakat secara langsung sudah terlibat dalam urusan perekonomian. Bergerak sendiri dan secara sadar membuka ruang kerja dan usaha.

Pun, saya juga tidak sedang bersikap nyinyir bagaimana anak-anak masa kini lebih memilih bermain game dengan menggunakan gadget, yang secara total, sukses difasilitasi oleh orang tua mereka. Sehingga anak-anak ini malah cederung malas untuk beraktivitas di luar ruangan atau sekedar bermain adu fisik.

Bahkan, permainan seperti monopoli pun sudah ada versi apk-nya. Bukan, ini bukan berarti saya mendukung kegiatan fisik semacam permainan smack down yang menelan korban di kalangan anak-anak.

Akan tetapi, permainan semacam itu mengajarkan anak tentang makna sakit. Ini biar ketika besar kelak, mereka punya banyak pertimbangan jika akan menyakiti orang lain, apalagi melukai hati, hehehe. Tahukan perihnya hati yang terluka? :p

Jadinya, anak-anak penggemar gadget ini kemudian lebih fokus menatap perangkatnya itu, mereka bisa sangat marah dan begitu sedih ketika orang tuanya tidak ingat memasukkan gadget dalam tas mereka atau perkara gadget yang sudah dalam kondisi low battery.

Maka jangan heran, jika menemukan beberapa anak berkumpul dalam sebuah ruangan, dengan masing-masing memegang gadget dan memainkannya, tampak diam, fokus, minim komunikasi dan sentuhan fisik.

Iya, kayak kita-kita ini juga sebenarnya saat berjumpa. Janji temu, yang kini lebih dikenal dengan meet up. Sampai di TKP, cipika-cipiki, tanya kabar seperlunya, foto berjemaah, lantas sibuk berkomunikasi dengan teman atau kelompok jarak jauhnya, padahal kita semeja lho.

Yah, begitulah beberapa orang memilih untuk berkomunikasi. Beberapa lho yah, tidak semua, ini sebagian. Saya terkadang masuk ke dalam manusia-manusia seperti di atas. Kembali ke masalah anak dan gadget, di usia mereka yang masih dalam tahapan golden age, dengan berkegiatan aktif atau membiarkan anak-anak bermain, anak-anak ini sejatinya sedang diajar bagaimana membangun komunikasi dalam lingkungan sosialnya, memaafkan teman yang mendorongatau menyakitinya, belajar menerima kekalahan atau kemenangan dan meluapkan perasaan itu dengan anggota tim saat main sepak bola misalnya, dilatih memotivasi teman sekelompok atau membujuk teman yang keras kepala atau sedang menangis agar mau bermain lagi, terlebih lagi, guna melatih kreativitas sang anak. Itulah juga mengapa Steve Job seperti yang dilansir tempo.co, melarang anaknya menghabiskan lebih banyak waktunya dengan perangkat teknologi.

Tetapi, bagi saya, kemalasan yang sungguh sangat berbahaya dan paling saya benci, kemalasan yang lahir masih erat kaitannya dengan adanya teknologi, adalah malas melakukan klarifikasi terhadap sesuatu. Malas check dan recheck. Ogah tabayyun.

Tidak susah menemukannya, beberapa orang teman saya di media sosial, gemar sekali mengirimkan berita atau gambar di beranda saya, ada juga yang menempuh jalur broadcast. Yang sayangnya, apa yang disebarkannya itu, sebagian besar tidak benar adanya atau hoax, ingat yah, penyebutannya houks.

Padahal persoalan mengklarifikasi adalah perkara dasar yang maha penting. Orang-orang yang berkecimpung di media tahu itu. Para penulis dan peneliti paham tentang itu. Dan harusnya penyakit yang semacam inilah yang menggerogoti masyarakat luas, bukan (memilih) malas.

Sejalan dengan itu, seperti yang diutarakan Fahri Salam pada Visi Jurnalisme Gabo di pindai.org, tentang betapa pentingnya kebenaran sebuah informasi atau data, di luar dari pengaruh reportase terhadap karya tulis, mengutip dari Gabriel Garcia Marquez, “Dalam jurnalisme, satu fakta kecil yang keliru dapat menggoyahkan keseluruhan cerita. Sebaliknya, dalam fiksi, satu fakta tunggal yang sahih dapat melegitimasi keseluruhan cerita.

Hanya itu satu-satunya perbedaan.” Ini penting, sekalipun kita ini bukan orang-orang media, peneliti, bahkan penulis. Tabayyun tetaplah wajib ditempuh.

Tak melulu tentang berbagi kiriman berita atau informasi tak valid. Mbak, Mas tentu pernah mengalami hal seperti ini, kalau iya, kita senasib berarti. Kita bertemu dengan teman kita, terserah, mau teman media sosial atau bukan, yang suka sekali beragumentasi dengan berdasar pada berita media mainstream atau alternatif tertentu, itu tuh media abal-abal, media.

Media pemburu rating yang melupakan betapa fakta adalah kebutuhan pokok sebuah tulisan Nah, hanya karena misalnya, judul beritanya bahwa film Uttaran itu dinyatakan dilarang untuk dinonton, teman saya yang malas ini, seenak udelnya main larang-larangan.

Itu kalau balik ditanya, doski dengan santai kayak di pantai nyerocos bahwa dirinya telah membaca berita pelarangan film itu ditonton. Kalau ditanya (lagi) kenapa dilarang nonton, doski kekeuh, bahwa pelarangan yah adalah sesuatu yang terlarang.

Udah, sampai situ. Ngana gemes tidak? Saya sih iya, banget malah. Mbok, coba doski mau memaparkan kenapa film itu misalnya dilarang, apa parameter sampai dikategorikan sebagai film yang dilarang tonton, bagaimana Komisi Penyiaran Indonesia menanggapi kehadiran film tersebut, siapa saja kalangan atau golongan umur yang dilarang untuk menikmati film itu, atau apa sebenarnya imbas atau efek jika sampai film tersebut tetap dikonsumsi para pemirsa.

Dan betapa bodohnya saya, Mbak, dan Mas, jika mau mempercayakan persoalan cinta kita kepada teman sejenis itu. Apa Mbak atau Mas tidak khawatir, jika semisalnya gebetan kita menyampaikan perihal kesukaannya terhadap seseorang kepada teman kita ini.

Lantas, teman kita yang malas tabayyun ini, tak bertanya lebih lanjut siapa gerangan sosok yang ditaksir gebetan kita ini. Pokoknya informasi yang disampaikan teman kita ini kepada saya, Mbak, dan Mas, bahwa gebetan kita sedang jatuh cinta pada seseorang, yang terdefinisikan sebagai orang lain.

Yah, gebetan kita sedang melirik ORANG LAIN saudara-saudara. Padahal, jika sekiranya teman kita ini mau mengklarifikasi, siapa tahu, ini siapa tahu yah, rupanya orang yang disukai itu adalah saya, eh, maksudnya Mbak atau Mas. Bisa bubar jalan asmara kita :p

You Might Also Like

0 komentar