Apa yang Menandai Ramadan?

Ilustrasi berasal dari tandapagar.com
Dan akhirnya, Ramadan tiba lagi. Mengunjungi semua yang menantinya. Semua bergembira, sekaligus bergejolak di waktu yang bersamaan. Perihal kegembiraan, sudah tak perlu disampaikan. Kita semua tahu dan paham.

Begitu pun dengan gejolak harga-harga bahan pokok dan sayur-mayur di pasar. Cobalah menjejaki pasar di saat penghujung Syakban. Akan kau temui bawang merah, bawang putih, kentang, dan gengnya dengan pasti naik beberapa oktaf. Gula dan kawan-kawan juga pasang tarif lebih.

Maka jangan heran, jika para pembeli tiba-tiba diserang sesak napas dengan semua itu. Suka tidak suka, mau tidak mau, tidak murah atau kebangetan mahal sekalipun, pembeli yah tetap memasuki pasar dan membeli kebutuhannya. Semacam sebuah rutinitas. Harga yang bikin gemas itu yah setiap tahun begitu adanya.

Lalu, bagaimanakah para pembeli melalui badai semacam ini? Nunggu harga dikendalikan oleh pihak yang berwenang? Aduh, gimana yah. Lha harganya juga tidak begitu drastis turunnya, bahkan cenderung tetap bertahan. Biasanya sih, pembeli tetap saja memboyong pulang apa yang sudah direncanakan akan dibeli. Apalagi bagi pembeli pemula macam saya ini.

Di sini, kemampuan menganalisis pembeli dipertaruhkan. Corat-coret catatan daftar pembelian adalah laku penting. Kuantitas adalah kunci sodara-sodara. Salah hitung berapa jumlah ikan atau gram daging ayam yang dibutuhkan, bisa-bisa meminimalisir stok takjil. Taruhannya tidak main-main bukan?

Akan tetapi, bagi pembeli dengan level mahir semacam mama saya. Persoalan tahunan semacam ini dilaluinya dengan trik yang itu-itu juga, tetapi termasuk berhasil, untuk mama. Bagi mama saya sih, menyikapi harga yang aduhai itu.

Mama biasanya membeli bahan pokok jauh sebelum memasuki Ramadan. Kecuali untuk pembelian ikan dan daging, serta sayuran yang tidak tahan lama. Beliau sudah memperhitungkan dengan matang dan hati-hati tentang segala hal yang dibutuhkan selama bulan puasa. Karena baginya, kecakapan dalam menawar sangat kecil peluangnya untuk dimenangkan olehnya. Lha harga di pasaran memang segitu adanya.

Syahdan, apalagi yang menandai awal Ramadan?

Bagi saya. Ramadan itu yah tentang kenangan. Tenang, ini bukan mau bercerita tentang ijin pergi shalat tarawih, padahal niat utamanya sebenarnya mau melirik doi yang doyan shalat di saf terakhir itu. Atau tiba-tiba rajin olahraga di pagi hari karena gebetan juga sukanya nongky-nongky ganteng selepas shalat subuh dengan teman-temannya. Bukan ituuuu? Tapi dulu sih iya. Masaaah muda coy.

Kenangan itu yah mama. Sederajat dengan anak perantauan, siapa sih yang tidak mendadak kangen dengan mamanya saat Ramadan tiba? Hayo ngaku? Siapaaaa? Kamu atau kalian pasti tahu, pasti ingat, betapa setiap yang dimasak mama tentu enak, hangat, dan mengenyangkan.

Kalau sudah begini, melalui Ramadan tanpa mama pasti rasanya banyak yang kurang. Kurang banyak hari yang terlalui tanpa santapan enak karya mama. Atau bisikan bahwa waktu sahur telah tiba. Plus, celotehan beliau tentang ini-itu. Ahhh, mama….

Bagi saya yang manja ini. Melalui 5 kali Ramadan tanpa sosok mama adalah hal yang tidak mudah. Sukar sekali. Ini derajatnya lebih susah dari melupakan mantan terindah itu. Uhut.

Di tahun pertama saya melaluinya misalnya, saya hanya mampu terus-menerus menitikkan air mata. Menangis sejadi-jadinya. Ritual ini berlangsung di setiap malam menjelang. Atau kadang saat santap sahur tiba.

Sesekali tangisan itu mendadak muncul saat menu pembuka merupakan favorit mama. Saya nangis. Tersedu-sedu. Saya perempuan penangis. Lebih dari sebuah kehilangan yang lara dan kerinduan yang mendalam. Menangis bagi saya adalah agar saya mampu mengalahkan diri sendiri. Membuat saya menemukan titik terkuat saya. Menyadarkan saya tentang semua kondisi ini. 

Mungkin terdengar atau terlihat aneh. Tetapi, saya kadang memilih mengkultuskan diri untuk menjatuhkan diri pada kondisi terburuk. Entah dengan menangis sekuat mungkin atau berdiam diri sampai bosan. Setelah itu, barulah saya membangun satu demi satu kekuatan saya.

Lagi pula, menangis sejatinya menjadi sebuah pertanda. Saya sedang terluka. Betul, kehilangan selalu saja membuahkan luka. Duka nestapa. Sebab, kalau menghasilkan riba, nanti jadi haram hukumnya. Rasa kehilangan yang begitu besar, pada akhirnya membuat saya begitu ketakutan saat Ramadan menjelang. Aneh? Memang.

Rasanya, saya tidak ingin menjalani Ramadan saja, jika bisa. Kenapa takut sih? Yah, itu karena saya belum mampu berdamai dengan kehilangan ini. Oh iya, please deh, tolong tidak usah pakai kalimat badai pasti berlalu yah. Kehilangan itu tak semudah itu Mbak, Mas. Lha dirimu saja bisa sampai gegana-gelisah, galau, merana berhari-hari macam itu, yah perkara putus atau gebetan disabet orang juga.  Apalagi Hayati!

Kemudian, apakah ini dapat diidentifikasikan bahwa saya belum ikhlas tak bersama mama? Tentu tidak. Saya sadar dan paham betul. Setiap yang datang, pasti akan pergi. Kehilangan dan luka adalah sebuah parameter tentang makna dari eksistensi seseorang. Sejauh mana seseorang terluka dan merasa kehilangan, bukankah hanya bisa terjadi, jika, jika orang itu berharga dan dicintai. 

Lantas, bagaimana dengan sekarang? Tetap saja, saya masih menangis dan belum mampu berdamai.
Meski, ketakutan saya sudah mulai menyusut. Sekian.

Setelah persoalan harga barang di pasaran dan kenangan. Apa lagi yang menandai Ramadan telah tiba? Yah, bagi saya, hanya dua itu saja. Walaupun sebenarnya masih banyak sih. Lha iklan di televisi, jauh sebelum puasa sudah pada muncul sirup ini-itu, jenis-jenis obat untuk menangani lambung atau panas dalam. Plus, on line shop sudah pada memanggil dan mengaku sebagai teman setia dalam mendampingi segala kebutuhan dalam menunaikan ibadah suci kita.

Pun, rasanya kita tak perlu membahas dua jenis manusia yang dikemukakan Eddward S. Kennedy pada tulisannya, dan saya sepakat dengannya. Perkara yang beberapa tahun terakhir ini selalu saja mencuat persis Ramadan menjelang. Kedua kelompok manusia yang dimaksud Eddward.

Tipe manusia pertama yang maunya dihormati karena sedang dalam misi memerangi hawa nafsu, sesungguhnya dikategorikan sebagai perang besar, berpuasa. Sedang jenis yang lainnya, golongan yang tak menjalani ibadah puasa, tapi juga ngotot agar dihargai keberadaannya. Ngotot lho yah.

Mbok, tidak bisakah keduanya diam-diam saja sambil menghargai satu sama lain. Yang puasa, silahkan fokus ibadah tanpa berkoar sana-sini. Sedang yang tidak, monggo tetap menjalani hari seperti biasa. Susah tapi yakkk, hehehe.

Akhirul kalam, selamat menjalani bulan tanpa santap siang, tetapi memiliki masa bagi santap jiwa. Bulan baik bagi kita semua. 

Marhaban yaa Ramadhan kariim. Tabik.

You Might Also Like

2 komentar