Menyatakan Memang Sebercanda ini

Ilustrasi berasal dari .blogspot.com
Keliru rasanya, jika membandingkan betapa hebatnya seorang pria, yang setelah sekian kali menjalin hubungan asmara, tak sekalipun lelaki ini pernah mengungkapkan perasaannya. Singkatnya, lelaki jenis ini, perempuannyalah yang mengungkapkan perasaannya. Tipe lelaki ini tentu tak layak banding dengan lelaki yang melalui masa mengutarakan perasaan. 

Bukan tentang hebatnya, apalagi keren. Persoalan hati tidak ditinjau dari sisi itu. Mereka yang pernah melalui masa pendekatan, mengutarakan isi hati, prosesi pernyataannya diterima atau rupanya ditolak, tentu memiliki kenangan berbeda dengan jenis lelaki pertama yang saya singgung di awal paragraf. Pun, tidak adil jika kiranya memberi gelar hebat atau keren, untuk lelaki yang mampu mengutarakan perasaannya, dengan membandingkannya ke jenis lelaki pertama. 

Juga keliru rasanya, jika menyamaratakan jenis perempuan yang memilih untuk menyatakan cintanya ke dalam kelas murahan, atau dicaci agresif, dan dilabeli merek tak tahu diri. Memangnya, apa yang salah dengan mengungkapkan perasaan? Ini adalah satu dari sekian wujud apresiasi. Secara garis keras, juga merupakan wujud kemerdekaan seorang manusia Mungkin caranya saja yang belum sesuai dengan keinginan gebetan. Iya sih, lagi-lagi perkara metode. Persoalan klasik, tapi jadi polemik.  

Lagi pula, menyesal karena tidak pernah-sempat untuk menyampaikan isi hati itu perihnya minta ampun. Apalagi, jika gebetan (setelah jadian atau nikah dengan orang lain), rupanya memendam rasa yang sama. Itu sakit. Sakit itu. 

Tetapi, ada hal yang perlu diluruskan dari drama pendekatan dan menyatakan. Selama ini, tidak semua sih, beranggapan bahwa menyatakan cinta wajib berakhir pada kata jadian atau tragedi penolakan.

Eits, tunggu dulu. Hukum seperti itu ngana dapat dari mana? Kalau pun usai acara menyatakan, lantas kemudian lelaki dan perempuan itu jadian. Yah jelas, itu adalah reaksi. Upaya memberi respon atas aksi yang diberikan. Keduanya sepakat saling menyukai dan berkomitmen menjalin hubungan. Titik.

Karena ada jenis manusia yang memilih menyatakan isi hatinya sebagai sebuah usaha untuk membebaskan dirinya. Sebab, memendam rasa itu tidak mudah saudara-saudara sekalian. Uhuk. Mengungkapkan perasaan adalah cara terbaik melepaskan diri dari belenggu cinta. Ehem. Yah, ketimbang panas dingin saat bersua dengan gebetan. Atau nyerocos sendiri sambil tersenyum simpul saat bertatapan dengan doi. Menyatakan adalah obatnya.

Kalau kurang peka, seperti saya ini, itu persoalan lain. Tetapi, sekali pun telat, telat banget malah. Saya masuk ke kategori perempuan yang memilih untuk menyampaikan isi hati saya. Saya merasa wajib menyampaikannya. Walau pun sebenarnya, baru saat tahun 2010-lah saya berani melakukan aksi itu. Bagi saya, menyatakan perasaan itu lebih ke sebuah cara untuk menyampaikan betapa lelaki yang ada di sekitar saya ini memiliki nilai lebih. Limited edition. Tak ada duanya, bahkan sekalipun ngana cari di toko sebelah.

Lelaki pertama, sekaligus kelinci percobaan saya kala itu adalah seorang junior saya. Ini kalau doi baca jadinya terlihat curhat atau bagaimana yah. Masa iya sih saya tega jadikan dirinya kelinci percobaan? :p

Saya memilih untuk menyampaikan perasaan saya, setelah seorang teman perempuan saya menyarankannya. Iya, jadi buat junior saya yang kece itu. Dirimu kudu berterima kasih sama teman seangkatan saya semasa kuliah dulu. Dialah yang memberi saya pandangan baru tentang perihal asmara. Kalau dirimu penasaran dengan sosoknya.

Saya jelaskan deh. Sahabat perempuan saya itu, kini sudah punya seorang putra, salah satu idolamu kalau tidak salah, dan sekarang berdomisili Kendari. Tahu dong siapa yang saya maksudkan? Catatan, kalau dirimu berniat merespon postingan ini, saya tunggu di wa atau bbm ;)

Sebenarnya, saya bisa saja memilih untuk tidak menyampaikan perasaan saya ketika itu. Lalu kenapa saya menyatakannya? Ini karena saya begitu menghargai lelaki yang selisih dua angkatan di bawah saya itu. Seingat saya, aktifitas menyampaikan isi hati itu saya lakoni setelah saya mendapat kabar, bahwa junior saya itu, selepas dari memperoleh gelar kesarjanaannya, akan meninggalkan Makassar.

Kembali ke kampung halamannya. Ini bukan perkara takut kehilangan. Tahun 2010 sudah memasuki masa dimana jejaring sosial adalah solusi bagi jarak dan tagihan pulsa sms dan telepon yang membengkak. Lalu mengapa? Saya juga tak tahu kala itu, yang saya tahu, saya sebaiknya mengutarakannya.

Saya sudah lelah memendamnya. Iya, Hayati sudah lelah bang. Eh tapi. Tolong yah, tak perlu diimajinasikan kayak sinetron-sinetron over ekspresi itu. Apalagi pake back sound yang liriknya ada kalimat setidaknya diriku pernah berjuang itu. Sebab diketahui bersama, cinta itu deritanya tiada akhir. Tsaahhhhh.

Postingan ini tak bertujuan untuk menurunkan penghargaan saya terhadap junior kece saya itu. Asal tahu saja, junior saya itu, dalam merespon pernyataan saya sungguh di luar dari apa yang sebelumnya saya kira. Yah, saya juga pernah berada di titik dimana belenggu takut ditolak atau takut dicap murahan menjadi sebuah nilai dari pemikiran saya.

Sebelumnya, saya hanya mampu sampai di level menyukai dan memendam. Sekaligus menjadi orang yang tak menghargai pernyataan perasaan orang lain. Saya pernah berada di masa dimana menatap orang yang menyukai saya dengan begitu sinis. Saya kesal dengan asas tak masuk akal. Saya kesal,  kenapa dia bisa menyukai saya.

Kenapa mesti dia sih, lebih tepatnya. Jahatnya saya lagi, saya bahkan mampu memblokir komunikasi dengannya, tepat ketika saya tahu tentang perasaan lelaki yang tak saya sukai itu. Saya tak pernah memberi ruang untuk saling mengenal. Untungnya kala itu Ada Apa Dengan Cinta 2 belum lahir. Jika sudah, saya mungkin akan dapat pesan singkat, "Apa yang kamu lakukan ke saya itu jahat, Ya."

Oh iya, kalau ngana penasaran apakah saya dan junior kece saya itu jadian. Yang saya bisa kabarkan, kami berdua lebih sepakat untuk memilih jenis relasi adik kakak dengan level spesial, macam martabak saja pakai kata spesial. Ketika saya menyampaikan bahwa saya ditolak olehnya. Dirinya kembali mengingatkan saya, menyatakan tidak mutlak berakhir dengan jadian atau ditolak. Ketika saya mengingatkan bahwa saya perempuan, tetapi saya yang menyatakan. Dirinya membalas, terus kenapa? Aaahhh, tidak salah memang rasanya saya menyukaimu. 

Reaksi awal yang diberikan junior saya itu, pada akhirnya memudahkan saya, karena selama ini mengungkapkan adalah perkara yang bikin nyesek nomor wahid, ke depannya dalam  mengungkapkan perasaan. Saya kemudian berkhianat dari aturan menyatakan-jadian, yang bagi sebagian orang bak hukum kausalitas. Konklusinya hanya boleh dua saja, jadian atau ditolak.

Orang-orang semacam junior dan sahabat perempuan saya itu, secara nyata, mengajarkan sebuah dogma. Bahwa, kita perlu menyampaikan perasaan kita. Bukan hanya untuk melegakan jiwa kita, jika memang kita merasa terbelenggu. Lebih kepada, bagaimana perasaan kita mewujud menjadi sebuah penghargaan kepada orang lain. Menghormati dan menghargai adalah hal luhur yang mesti dipelihara.

Lagi pula, masalah menyukai adalah sesuatu yang tidak bisa dikendalikan siapa pun. Benar bukan? Persis pendapat Sujiwo Tedjo. Seseorang mungkin bisa menentukan kelak siapa yang akan dinikahinya, tetapi tak seorang pun yang mampu menentukan kepada siapa hatinya. Kira-kira seperti itu inti ucapan Sujiwo.

You Might Also Like

0 komentar