Teman Takut

Ilustrasi bersal dari qureta.com

Pernahkah kau bangun dengan perasaan merasa merdeka? Merdeka dari segala bentuk ketakutan.

Kalau pertanyaanku itu kau ajukan kembali padaku. Aku akan menjawab pernah. Tapi itu dulu, dulu sekali. Tepatnya sewaktu aku masih kecil. Saat aku selalu saja digendong bapak sekembalinya dari bekerja. Bapak senantiasa tersenyum bahagia.

Atau di kala tangisanku merupakan alat negosiasi terbaik antara aku dan mama. Aku akan selalu menangis saat menginginkan makanan atau mainan ketika menemani mama berbelanja. Sebab aku tahu, rengekan disertai air mata adalah senjata paling ampuh untuk memenangkan perang permohonan ini.

Lalu bagaimana dengan sekarang? Sayangnya aku tidak sepenuhnya bebas ketakutan. Ketakutan telah menemaniku melalui masa sekolah dasar hingga kini. Aku yang kini telah matang di usia tiga puluhan. Kalian mungkin tak mempercayainya. Tak mengapa. Toh aku tak betul-betul memaksa semua yang ku rasa dan lalui menjadi sebuah hal wajib dipercaya. Aku hanya mengisahkannya. Paham!

Baiklah. Aku akan memulai ceritaku. Kisah ini aku namakan dengan teman takut. Alasannya sederhana. Aku besar ditemani ketakutan-ketakutan yang dihembuskan orang-orang sekitarku, sekaligus aku berupaya untuk berteman dengan ketakutan itu sendiri. Aku belum di level menaklukkan.

Aku tumbuh dan berkembang dari pasangan suami istri yang selalu melimpahiku kasih sayang. Kecintaan kedua orangtuaku punya caranya sendiri. Di satu sisi, mereka begitu memanjakanku. Memenuhi pintaku. Membuatku selalu tercukupi, bahagia, dan dicintai dalam waktu bersamaan. Tapi di sisi lain, kasih sayang mereka mewujud dalam bentuk yang begitu padat dan keras.

Mereka tak segan-segan berlaku tegas padaku, meski aku satu-satunya putri mereka. Entah mengapa, setiap kali kepadatan ini menghampiriku. Aku selalu maklum saja. Tapi tentu aku tetap menggerutu atau mengomel. Aku paham, ketegasan mereka adalah cara terbaik untuk melindungiku. Toh, pada hal-hal prinsipil, kami tetap cukup terbuka. Keduanya sangat demoratis. Ini kasih sayang dalam bentuk ketiga.

Masa balitaku sudah tak begitu jelas dalam ingatanku yang penuh celah ini. Aku bukan kolektor kenangan yang baik. Saat bersekolah dasarlah yang masih terekam. Aku masih mengingat sepatu hitam model cowok yang aku kenakan. Baju putih dan rok merah yang selalu saja aku anggap menggangguku. Aku begitu tomboy sejak kecil dan rok adalah musuh terbesarku.

Mama selalu saja membujukku setiap pagi untuk mengenakan rok lipit merah itu. Kalau aku tidak bersedia. Dengan sederet kalimatnya yang diplomatis, aku diberi pilihan. Mengenakan rok, maka bekal akan ditambah duit jajan dan bebas main sepuasnya, termasuk dengan menonton film di rumah tetangga. 

Menolaknya berarti menu makananku cuma nasi goreng dan telur. Dalam pertarungan ini, kadang aku menang, di lain waktu mama mengalahkanku dengan mudah. Aku masih ingat tentang sekolah pertamaku yang hanya didatangi selama 2 catur wulan.

Semester terakhir, mama dan bapak memutuskan agar aku ikut tinggal bersama mereka. Aku, mama, dan bapak selama ini hidup bersama nenek dan kakek. Aku cucu putri pertama yang begitu mereka sayangi. Nanti setelah catur wulan ketiga di kelas 1, barulah nenek melepaskanku. Berbeda dengan sekolah saya sebelumnya. Sekolah baru ini melahirkan banyak ketakutan. Di situlah dimulai perjalananku.

Bagi seorang anak berusia enam tahun dan telah menempati kelas 1, belajar menghitung menjadi begitu menjengkelkan. Dahulu, kakak sepupuku yang tinggal di rumah nenek, selalu saja menemaniku setiap malam. Dia tak pernah memintaku belajar. Tetapi, dia selalu saja belajar dengan bersungguh-sungguh saat berada di sampingku.

Aku selalu begitu semangat melihatnya, sekaligus cemburu. Bagaimana bisa soal-soal yang isinya angka itu bisa membiusnya? Aku bukannya adek kecilnya yang menggemaskan. Aku bukannya lebih mudah menarik perhatiannya ketimbang tugas-tugasnya. Aku memang belum paham tentang kewajiban mengerjakan tugas.

Keseriusannya itu yang membuatku ingin belajar. Aku ingin sepertinya. Dia begitu pintar. Aku ingin menjadi anak pintar. Dia lalu membuatku merasa senang bermain dengan angka dan kata. Sayangnya, perpisahan kami terjadi begitu cepat. Karena ketidaksukaanku ini, aku mengalami ketakutan pertamaku. Aku diberi angka nol saat tugas berhitung.

Tatapan guru dan teman-temanku membuatku begitu jengkel, marah, dan takut. Aku dimarahi guruku karena tidak mampu memperoleh nilai dalam tugas yang diberikannya. Teman-teman mengejekku sejadi-jadinya.

Aku lalu takut pulang ke rumah, aku takut memperlihatkan nilainya pada mama dan bapak. Aku takut kakak sepupuku kecewa karena aku sudah bukan adik kecilnya yang semangat belajar. Aku takut nenek dan kakekku ikut marah. Tetapi yang kutemui, mama dan bapak justru lebih meluangkan waktu untuk menemaniku belajar. Kakak sepupuku setiap kali kami berjumpa, sepekan sekali, akan mengeluarkan jurus barunya dalam menghitung. Nenek dan kakek pelukannya tetap erat, senyumannya tetap merekah, dan aku masih dimasakkan makanan kesukaanku setiap kali berkunjung ke sana.

Bersamaan dengan ketakutan pertamaku muncul, rasa untuk berteman dengan takut juga lahir. Ketakutan demi ketakutan terus hadir. Ada rasa takut saat akan menerima rapor. Entah karena rangking menurun drastis atau terancam tidak naik kelas. Fase ini terus berulang. Bersyukurlah aku, orang-orang yang menyayangiku tidak pernah memandang hasil raporku. Mereka selalu khawatir saat aku lalai dalam prosesnya.

Kemudian, seragam putih biru aku kenakan. Ketakutan di level ini mewujud dalam bentuk yang lebih beragam. Aku sudah mulai takut kehilangan teman-temanku. Aku mulai takut tidak diakui, sehingga orang-orang tidak mau berteman denganku.

Aku mulai takut lelaki yang diam-diam ku taksir menyukai anak lain. Aku mulai takut tidak berpenampilan bersih dan rapi saat berangkat ke sekolah. Meski ketakutan tentang nilai dan tugas masih tetap setia mendampingi. Dan yang aku tahu, mama dan bapak juga masih istikamah sebagai penganut "proses" garis keras.

Hanya satu hal yang membuatku sedih. Kelak ketika aku menamatkan jenjang ini, bapak begitu ngotot agar aku melanjutkan sekolah di madrasah aliyah negri saja. Bukan di sekolah umum. Bukan di sekolah swasta. Kali ini, bapak yang takut. Takut aku terjerembab kemudian menjadi gadis nakal jika tidak belajar agama dengan baik. Aku mengalah, walaupun tak terhitung berapa kali aku menangis. Aku betul-betul berpisah dari teman-temanku.

Keputusan untuk mengikuti pilihan bapak, membuatku berharap. Berasa agar ketakutan tidak menjelma dengan jumlah yang banyak. Nyatanya, pada usia remaja. Ketakutan tak hanya lahir dariku, tetapi tercipta dari mama dan bapak, teman kelasku, guruku, dan lingkungan sekitarku. Guruku takut kewajibannya membina kami akan gagal.

Guruku takut nama baik sekolah kami hancur karena perilaku kami, bahkan belum tentu kami lakukan. Prasangka seperti itu mungkin tak perlu dipelihara. Guruku takut ketika kami mulai akrab antar lelaki dan perempuan.

Lalu, teman-temanku mulai takut ketenaran mereka direbut. Mereka takut label kecerdasannya diambil orang lain. Mereka takut tidak menang setiap kali ikut lomba. Nyatanya, guru kami tak pernah memaksa kami menang. Teman-temanku dan aku mulai takut tidak diakui eksistensinya.

Takut dibilang tidak gaul. Takut tidak kategorikan anak keren. Takut ketinggalan jaman. Takut tidak memiliki pacar. Takut kelihatan buruk rupa. Takut tidak terkenal. Takut dikucilkan. Kalau mama dan bapak cuma memiliki satu ketakutan. Takut saya berubah. Berubah menjadi anak gadis yang sudah tak memerdulikan nasihat orang tuanya. Ketakutan kedua orangtuaku terpelihara bahkan ketika gelar kesarjanaan aku genggam. Malahan aku yang kini berkepala tiga tetap saja didengungkan kalimat itu.

Rasa-rasanya aku hidup dengan meloncat dari satu ketakutan ke ketakutan lainnya. Bisa jadi, aku bahkan melompat ke ketakutan yang sama. Dan kini, ketakutan rupanya juga memburuku. Quarter life crisis membuatku tak hanya takut. Melainkan membuatku mempertanyakan tentang aku dan kehidupanku.

"Hampir dapat dipastikan semua orang mengalami quarter life crisis, Syarel" ujar temanku, Indah.
"Kamu hanya perlu menentukan lebih matang tentang tujuan hidupmu. Disertai dengan mensyukuri apa yang kamu miliki sampai saat ini" tambahnya.

Sayangnya, semua tidak semudah yang Indah sampaikan. Berada di lingkungan dimana status pegawai negri sipil dianggap sebagai kerjaan yang dihargai dan dinomorsatukan bukanlah hal mudah. Bekerja sebagai pegawai swasta dengan gaji pas-pasan tetapi aku sukai punya tantangan sendiri.

Dibesarkan dengan kondisi dimana para anak gadis di keluarga kami ikhlas melepaskan masa lajangnya di usia sebelum dua puluh lima, lalu aku sampai sekarang belum memutuskan untuk menikah, bukan main sulitnya. Kedua keputusan itu aku buat melalui perbincangan yang alot dan meletihkan.

Kecuali mama dan bapak, orang lain selalu mengafirmasikan ketakutan-ketakutan mereka. Mereka takut perusahaan swasta itu memberhentikanku tiba-tiba dengan pesangon rendah. Mereka takut aku hidup sengsara. Atau bisa saja mereka takut aku membebani mereka. Mereka takut dengan usiaku. Katanya, perempuan sepertiku kelak bagaimana untuk memiliki anak. Dengan alasan kesehatan, mereka takut aku hamil di usia yang sudah tak muda lagi. Mereka juga takut aku nantinya tidak memiliki anak. Parahnya, mereka takut aku mati perawan.

"Sudah kepala tiga, kapan nikahnya?"
"Teman seusiamu sudah punya dua anak lho, kamu kapan?"
"Kapan nikah kamu?"
"Kalau sudah punya pendamping, minta dilamar cepat yah"
"Pacaran mulu, nikah gih"
"Masih jomblo aja, aku kenalin kakakku mau? Tapi langsung diajak nikah sama dia, bagaimana?"


Rentetan pernyataan dan pertanyaan tentang nikah yang datang bertubi-tubi macam ini, lebih menciptakan rasa eneg. Ketimbang membuatku memutuskan untuk menikah. Hanya karena alasan umur saja, seseorang diberi suntikan ketakutan agar segera menikah. Masalahnya, mereka yang menerorku ini melupakan banyak hal. Harusnya mereka paham alasanku. Aku juga sedang takut.

Ketakutanku adalah tentang siapa yang bisa aku temani menjalani hidupku, tepatkah atau tidak? Layakkah aku baginya atau tidak? Sepemahaman dalam visi misi hidupkah kami atau tidak? Saling memahamikah kami berdua atau tidak? Sanggupkah kelak kami melawan rasa cinta yang mutlak luntur itu atau tidak? Tidak berubahkah lelakiku menjadi kebanyakan pria setelah kami menikah atau memiliki anak? Mampukan aku atau dirinya berlaku adil dalam berumah tangga atau tidak? Bahagiakah aku bersamanya atau mungkin aku lebih bahagia sendiri?

Ketimbang berisik tentang umur. Bukankah ketakutanku lebih mendasar? Aah, bahkan ketika aku mengisahkan ketakutanku ini. Aku justru diliputi ketakutan lainnya. Yah memang, aku, tidak, kita selalu saja hanya berpindah dari satu ketakutan ke wujudnya yang lain.

You Might Also Like

0 komentar