Kabar Duka

Ilustrasi berasal dari www.ngulik.co

Hari ini, di tempat saya bekerja. Seorang remaja meninggalkan kami untuk selamanya. Budhi pergi dalam kecelakaan tragis. Kedukaan seketika menyelimuti kami. Sayangnya, tidak semua orang mampu mengecap rasa pahit kami. Di beberapa jejaring sosial, mereka-mereka itu menyebarkan gambarnya.

Sebaris paragrap di atas merupakan status yang saya publish pada akun instagram dan facebook saya, beberapa jam setelah kabar duka menghampiri kami. Ini adalah sebuah bentuk kehilangan disertai kejengkelan yang mendalam. Saya memang selalu menyisipkan emosi, untuk menghindari kata emosional atau eksplosif, dalam setiap tulisan dan status saya.

Kemarahan saya lahir dari maraknya orang-orang yang menyebarkan foto Budhi dalam kondisi mengenaskan. Emosi saya semakin memuncak, apalagi jika mereka yang melakukannya adalah orang-orang yang mengenal Budhi, saya, atau berada satu instansi dengan kami. Budhi, ya, lelaki ini adalah seorang peserta didik yang telah mengenyam pendidikan selama 3 tahun di tempat saya bekerja. Saya mungkin tidak memiliki banyak kenangan dengan remaja pendiam itu. Saya hanya berjumpa dengannya selama 2 semester di tahun pertamanya sekolah. Selebihnya, saya hanya berjumpa dengannya di lapangan, atau kantin sekolah, di lorong kelas, di laboratorium, di parkiran, atau berpapasan di jalanan. Tetapi, bukankah duka adalah duka. Dan yang paling penting, Budhi adalah bagian dari kami.

Berbekal rasa “bagian” inilah yang membuat saya begitu marah. Bagaimana bisa orang-orang dengan begitu santainya menyebarkan gambar-gambar itu? Menyebarkan ini termasuk dengan menjadikannya profile picture atau menyiarkannya pada jejaring sosialnya. Sekiranya hal itu digunakan dengan dalih untuk mengklarifikasi kebenaran berita. Saya pikir masih ada opsi lainnya. Jika memang ingin melakukan proses tabayyun, silahkan mengkonfirmasi kepada pihak berkompeten. Kalau penyebaran dilakukan dengan alasan untuk memperjelas kondisi korban. Saya kira ada pilihan menyebarkan kabar dengan menggunakan bahasa tertulis. Lagi pula, kondisi korban susah jelas, Budhi kami meninggal setelah mengalami kecelakaan tragis. Seberapa burukkah imajinasi dan pengetahuan kita sampai membutuhkan gambar korban untuk menjelaskan bagaimana posisi tubuhnya yang tergeletak, atau bagaimana darah berceceran?

Emosi yang saya tunjukkan hari ini, tentu jauh berbeda dengan saya beberapa tahun lalu.  Bukan, saya bukan orang yang sekalipun menyebarkan gambar-gambar dari korban kecelakaan atau gambar orang meninggal dunia baik yang mengenaskan maupun tidak. Saya yang dahulu tidak pernah melakukannya dengan sebuah alasan. Saya tipikal orang yang tidak begitu suka melakukan broadcast. Saya tidak cocok menjadi bagian dari tim yang sedang dalam misi penyampaian pesan berantai. Kala itu, saya selalu berpendapat, pasti ada orang lain yang akan melakukannya. Lalu buat apa saya meneruskan pesan atau gambar itu?

Saya kemudian mengalami perubahan. Saya masih tidak melakukan kegiatan broadcast, saya masih istiqamah untuk satu hal itu, yang berubah adalah alasannya. Sering bergaul pada salah satu LSM yang memiliki fokus ke media dengan mengedukasi masyarakat untuk terlibat dalam pengembangan informasis. Saya kemudian menjadi begitu mengkhawatirkan tentang kebenaran dari setiap hal, entah kata, berita, atau gambar yang akan saya bagikan. Menyebarkan hoax adalah sebuah aib. Saya lalu menjadi manusia yang mengagungkan data dengan level yang paling rendah. Saya belum sepenuh hati memuja data. Saya hanya butuh data penting saja, tak perlu melakukan investigasi mendalam. Sekedar memenuhi hasrat mencari tahu.

Awal mula smartphone menjamur, ditambah dengan banyaknya paket internet dengan daya saing menggiurkan kala itu. Jalur komunikasi virtual terlebih dahulu dikuasai dengan aplikasi semacam bbm. Manusia kemudian menjadi begitu mudah dalam berbagi kabar, cerita, fakta, bahkan kabar burung. Itulah dimana “broadcast” mulai dikenal, dilakukan. Sayangnya, kekuatan dalam menyebarkan kabar ini tak berbanding lurus dengan kemampuan tabayyun.

Lalu, tepat di hari ini. Ketika seseorang yang saya kenal mengalami peristiwa mengenaskan ini. Alasan saya bertambah. Selain karena mengutamakan keabsahan berita sebelum membagikan warta atau gambar. Penghargaan kita terhadap keluarga korban menjadi salah satu perhitungan penting. Menyiarkan gambar penuh luka dan duka dengan seenaknya bagi saya sungguh menjengkelkan. Setega itukah kita? Sesaat saya kemudian teringat tentang kejadian pesawat yang setahun lalu jatuh di negri ini. Media dalam menyiarkan gambar korban selalu disertai dengan mem-blur bagian wajah atau organ tubuh yang dianggap tidak layak ditampilkan. Sensor semacam itu pun dilakukan setelah salah satu media menampilkan gambar korban tanpa sensor sedikit pun, lalu menuai protes dari pihak keluarga korban.

You Might Also Like

0 komentar