Kabar Buruk dari Teman Tentang Kabar Buruk dari Langit

Ilustrasi berasal dari uberfacts.files.wordpress.com


Pada sebuah lapak online di jejaring sosial, saya menemukan toko dengan motto yang menarik. “Membaca lebih intelek daripada menulis.” Hingga saya mengetik tulisan ini, saya masih memahaminya setengah saja. Saya hanya paham bahwa kalimat ini tentu punya alasan. Saya sampai sekarang masih terus mencari mengapa membaca dikatakan sebagai sebuah aktivitas yang lebih cerdas, jika dibandingkan dengan menulis. Padahal menulis memerlukan keahlian mengolah kata, salah satunya mencakup bagaimana sebuah tulisan menjadi begitu menarik bagi pembaca. Jika diperlukan, bahkan membutuhkan perpaduan antara kemampuan menalar yang baik dengan cita rasa seni yang gurih. Di beberapa bentuk penulisan, semacam berita, kemampuan menganalisis menjadi harga mati. Bahan mentah yang tak boleh ditawar.

Walaupun demikian, saya tetap belum mau membuat keputusan tentang benar atau tidaknya slogan toko buku itu. Saya tidak punya kompetensi untuk menilainya. Untuk ranah setuju atau tidak pun, saya tidak berani memilih. Tapi toh, dari beberapa komunikasi saya dengan beberapa orang penulis, entah wartawan, blogger, bahkan sejatinya novelis. Dan hasil mengikuti satu - dua kali pelatihan menulis. Secara garis besar, semuanya sepakat. Membaca adalah kebutuhan pokok bagi seorang penulis. Selain menambah kosa kata, untuk jenis tulisan yang berat misalnya, juga dibutuhkan kekuatan menalar. Belum lagi dengan jenis kalimat yang bermakna tersirat dan tersurat. Jenis ini, tak hanya butuh menalar, tetapi terkadang justru dibutuhkan kebijakan. Pemaknaan atau menafsirkan sesuatu juga memerlukan bantuan ilmu pengetahuan yang lain, untuk mendukung bagaimana konslusinya nanti. Mungkin ini mengapa dikatakan membaca itu (juga) aktivitas cerdas. Saya hanya belum mampu melakukan perbandingan antara membaca dan menulis. Hanya saja saya menyukai kedua aktivitas ini, meski masih pada level pemula.

Pembaca Tanpa Modal Sekaligus Pegiat Tsundoku
Saya mulai mengenal aktivitas membaca di tahun 2003, tepat ketika saya berada di tingkat II sekolah menengah atas. Walaupun sebenarnya, sejak menduduki tingkat kanak-kanak, mama dan bapak sudah membelikan saya bacaan, majalah Bobo yang kala itu adalah bacaan sejuta ummat yang begitu dinanti dan dibanggakan. Sesekali, saya dan kakak sepupu saya malah saling bertukar edisi yang saya atau dia tak punya. Tetapi membaca di usia sangat belia itu lebih didominasi oleh kegiatan mewarnai ketimbang membaca secara serius. Kalau pun saya membaca, lebih untuk memenuhi rasa penasaran saya saja. Pada setiap edisi, saya terlampau penasaran dengan cerita bersambung di majalah itu. Selebihnya hanya aktivitas untuk memperlancar kemampuan membaca saya yang mesti harus diselingi dengan kegiatan belajar menghitung. Sedikit berbeda saat saya di SMA. Kala itu, saya begitu iri melihat teman-teman dan sahabat saya. Di umur menuju sweet seventeen itu, mereka sudah mengunyah buku-buku yang bahkan dengar judulnya saja saya belum pernah. Akhirnya saya menyampaikan niat membaca saya kepada mama dan bapak. Bapak ketika itu langsung menanyakan minat membaca saya. Apa kecenderungan genre buku yang saya inginkan. Ketika itu, saya tak peduli jenis atau aliran buku yang saya baca. Pokoknya saya harus mengunyah buku apapun yang diberikan. Titik. Islam Tidak Tunggal adalah bacaan pertama serius yang saya miliki. Hadiah dari bapak. Buku itu belum tuntas saya baca hingga kini. Saya ingat, dikarenakan sebuah tugas resensi buku untuk mata pelajaran Bahasa Indonesia. Bapak membelikan saya novel Sayap-Sayap Patahnya Kahlil Gibran dan Menuju Titik Nol karya Agatha Christie. Bapak membeli keduanya, karena, selain beliau memang menyukai Kahlil Gibran. Bapak juga paham, saya begitu senang dengan cerita-cerita detektif atau sejenisnya. Keduanya adalah novel pertama yang saya miliki. Sayangnya kedua buku itu sudah tak saya miliki lagi. Ada yang meminjamnya dan lupa mengembalikannya, saya juga sudah tak mengingat siapa mereka. Salah saya kalau begitu.

Malangnya, sebagai seseorang yang begitu bergelora dan berjiwa muda dalam membaca. Saya adalah tipe orang yang mudah bosan terhadap sesuatu. Mudah jenuh terhadap tata letak barang-barang di kamar misalnya. Segera ingin berganti kesenangan. Tidak tahan dengan jenis aktivitas yang itu-itu saja. Tapi untuk jenis pria idaman lha kok saya betah pada satu jenis. Aneh memang. Kebiasaan buruk saya, yakni cepat bosan, kemudian membuat saya meninggalkan aktivitas membaca di tahun ketiga perkuliahan saya. Saya jadinya lebih sering menghabiskan waktu untuk menonton. Membaca hanya sesekali saja. Tetapi di saat itu, setidaknya saya sudah memiliki aliran buku yang saya sukai. Saya senang jika ditawari buku berbau komunikasi, psikologi, novel, atau agama. Agama? Yah, ini lebih karena saya menemukan beberapa tokoh yang begitu asyik tulisan-tulisannya. Bersamaan dengan itu, bapak juga memperkenalkan saya dengan beberapa jenis buku. Saya akhirnya mulai mengenal Gus Dur, Emha Ainun Najib, Jalaluddin Rakhmat, Cak Nur, Goenawan Mohammad, Djenar M. Ayu, Ayu Utami, Muhidin M. Dahlan, Moammar Emka, Quraish Shihab, Syaikh Nizami, Dan Brown, Tuti Alawiah, dan beberapa yang lainnya. 

Sampai pada titik terendah dari seorang pembaca pemula. Saya memiliki kebiasaan aneh. Saya lebih memiliki semangat untuk menghabiskan sebuah buku, hanya jika itu buku pinjaman. Mungkin karena dikejar waktu pengembalian yang telah saya ikrarkan kepada si empunya buku. Saya jadi begitu lebih sering melahap lembaran-lembaran itu. Kegiatan itu saya lakukan sebulan sekali seingat saya. Selebihnya saya gunakan waktu untuk jalan dan ngobrol bareng teman, mengerjakan tugas dari dosen, nonton film, atau tidur. Lagi.

Saya cukup konsisten melakoni hidup santai saya itu. Hingga pada akhir tahun 2009, saat saya mulai memiliki penghasilan. Saya mulai mengikuti jejak sahabat saya. Setidaknya, mereka ini senantiasa menyisihkan duit dari gajinya untuk membeli sebuah buku setiap bulan. Kendala baru muncul. Saya lagi-lagi menemukan alasan baru untuk tidak membaca. Bekerja membuat saya hanya menyisakan waktu libur di hari Ahad saja. Padahal hari itu sudah terjadwalkan untuk membersihkan rumah dan selebihnya menikmati hari, jika memungkinkan. Jadilah saya pegiat tsundoku. Tsundoku yang dalam bahasa Inggris diartikan sebagai kegiatan terus-menerus membeli buku dan pada akhirnya tidak membacanya.

Memasuki tahun 2010 hingga sekarang, saya hanya berputar di 2 hal saja. Membaca buku secara meminjam, sekaligus membeli buku tanpa sempat meluangkan waktu untuk membacanya. Alasannya yah itu tadi, buku yang dipinjam terasa begitu memburu dan menantang. Wajar jika kiranya saya meluangkan waktu untuk menghabiskannya. Setelah itu, saya lalu membuat alasan untuk menikmati hari, sehingga buku yang telah yang beli pada akhirnya menumpuk tanpa saya jamah sekali pun.

Seburuk-Buruknya Kabar Buruk 
Lalu sebuah perkara muncul. Tepat di tahun 2011, didasari rasa penasaran, saya dipinjamkan sebuah buku berjudul Kabar Buruk dari Langit karya Muhidin M. Dahlan. Setelah sebelumnya saya menamatkan Izinkan Aku Jadi Pelacur-nya Muhidin di tahun 2004. Buku yang baru dipinjamkan itu membuat saya ingin segera menghabiskannya, saya begitu penasaran dengan bagaimana Muhidin berkisah di bukunya ini. Nyatanya sih tidak demikian, saya cukup lama membacanya. Padahal Kabar Buruk dari Langit saya tenteng kemana-mana. Tidak di rumah, kantor, saat berada di transportasi umum, di kantin, menunggu antrian di bank, bahkan pernah menemani saya rapat. Oh iya, buku ini saya baca dalam rentang waktu 3 pekan. Lama memang, kemampuan membaca saya memang rendah. Sekali baca, saya hanya mampu melahap maksimal 10-20 lembar saja. Setelah itu rehat, entah beberapa jam kemudian baru saya baca lagi, atau mungkin besok hari saya lanjutkan.

Setelah akhirnya buku tersebut tuntas saya baca, seorang teman saya tertarik untuk membaca buku itu. Yah, kita semua tahu bagaimana Muhidin mengemas tulisan-tulisannya. Selain kontroversial, tulisannya cukup vurgal dan kritis. Sebelumnya, saya sempat memaparkan jalan cerita dari buku itu.  Bukan apanya, selera bacaan setiap orang berbeda. Saya memaparkannya agar teman saya setidaknya paham, bahwa novel dalam genggaman saya itu bukan seri remaja yang berkisah percintaan melulu. Rupanya teman saya justru semakin tertarik. Akhirnya, tanpa sepengetahuan dari pemilik buku, saya dengan lancangnya meminjam buku itu kepada teman saya ini.

Hingga sampai akhir 2015, saya lalu tidak mengingat bahwa sebuah buku masih saya pinjam dan juga masih dipinjamkan ke orang lain. Si pemilik buku beberapa kali menanyakan kabar bukunya, saya selalu menegaskan bahwa buku yang dicarinya tidak ada pada saya. Yah, saya telah lalai. Saya tidak mengingat tentang Kabar Buruk dari Langit yang masih dalam genggaman orang lain.

Akhirnya di awal Maret 2016, teman saya yang sudah lama meminjamkan buku itu, setelah setengah berhati-hati saya tanyakan dimana keberadaan buku itu, saya takut ingatan saya salah. Dia menyampaikan bahwa buku itu memang dipinjam olehnya. Saya lega. Dia kemudian melanjutkan pernyataannya, dia mengabarkan bahwa Kabar Buruk dari Langit telah dibakar oleh orang tuanya. Orang tuanya menganggap buku itu tidak layak baca oleh orang. Orang tuanya takut pengetahuan mereka terhadap tuhan dan juga kepercayaan anaknya goyah dengan kehadiran buku itu. Itu adalah seburuk-buruknya kabar yang saya terima.

Seketika saat kabar buruk dari teman saya itu berhembus. Saya tak paham, mengapa sebuah buku bisa dilarang dicetak, atau diedarkan, bahkan dinyatakan tidak layak baca. Beberapa orang masih saja mengkotak-kotakkan mana bacaan suci dan tidak. Kiri atau kanan. Mana tulisan yang dilahirkan dari orang-orang yang berkeyakinan sama dengan pembaca atau tidak. Tidak sedikit kita temui misalnya, tulisan-tulisan Cak Nur dan Cak Nun dinyatakan konten yang dapat menggoyahkan iman atau kepercayaan. Pernyataan Gus Dur dan Quraish Shihab dianggap melunturkan aqidah. Bahkan buku Jalaluddin Rakhmat dilarang dibaca hanya karena buku itu lahir dari seorang Syi’ah. Tetapi di satu sisi, orang-orang maha melarang itu, justru mengonsumsi jurnal-jurnal, majalah, buku, dan hasil penilitian orang luar atau Barat, padahal semua itu lahir dari orang atau kelompok yang tidak seiman dengan mereka.

Sampai di hari ini, saya begitu memiliki rasa penyesalan terhadap teman yang bukunya telah saya pinjam itu. Maafkan saya atuh neng. Saya tidak sepenuhnya marah pada teman yang meminjam buku itu, bukan salahnya buku itu dibakar. Hanya saja, saya menyayangkan karena dirinya tidak membela saat buku itu akan dibakar. Bagaimana pun juga, kesalahannya berawal dari saya. Ini pelajaran. Ke depannya, kita, aku dan teman-teman saya. Mungkin saya akan begitu selektif, jika kalian menawarkan diri untuk meminjam sebuah buku.

You Might Also Like

1 komentar