Harga Pelanggan

Ilustrasi berasal dari the-mni.com

Kopiku kelewat pekat, piknikku terlalu dekat. Kalau sudah begini, seharian aku bisanya terus mengumpat-umpat.

Umpatan pertamaku dibuka sesaat setelah menerbitkan sebuah status di jejaring sosial. Aku berkomentar sekenanya, merespon para komentator statusku. Mereka sepertinya tak paham maksud tulisanku. Bukan hanya itu, pengambilan konklusinya melampaui batas imajinasiku terhadap status yang terlanjur aku publish. Apakah aku akan menghapusnya dari berandaku? Tentu tidak. Aku akan menyimpannya. Bukan. Bukan sebagai bahan candaan di waktu luang. Aku hanya seseorang yang suka memelihara kenangan.

Lalu aku melompat ke umpatan berikutnya, dan yang lainnya, seterusnya. Sampai malam tiba. Ngantuk muncul. Lorong hening. Aku tidur.
***

Hari ini aku putuskan memulai pagi dengan jogging sekitar 40 menit. Kulakukan seorang diri. Padahal biasanya atau jika memungkinkan, aku jogging bersama beberapa temanku.

“Kenapa kemarin misuh-misuh?”, tanya Rani, teman serumahku.

Aku hanya sanggup menarik napas panjang. Menatapnya. Tersenyum kecil, lantas berlalu.

Rani diam saja. Kami sudah saling memahami satu dan lainnya. Helaan napas aku barusan sudah menjelaskan segalanya. Aku hanya kekurangan energi positif kemarin. Aku sedang tak mampu menetralisir hari seperti biasanya. Tumpukan keletihan disertai tekanan terkadang membuatku bereaksi secara berlebihan.
***

Siangnya, aku dan seorang teman memutuskan untuk menikmati santap siang di sebuah kafe. Lokasinya tak jauh dari kantor kami. Kafe itu dipilih berdasarkan saran seorang sahabatku. Baginya, kafe itu nyaman. Bukankah kenyamanan diperlukan dalam menikmati setiap sendok makanan? Nyaman, sebuah kata menjanjikan bagi kami para pekerja yang setiap harinya diburu waktu, atau mungkin memburu waktu. Kadang aku sendiri tak paham. Aku hanya sadar bahwa rekeningku wajib berisi, sebab hari demi hari dilalui dengan memenuhi janji-janji. Janji traktir teman, ikrar untuk mengisi perut dengan makanan bergizi, sumpah untuk merawat diri dengan produk yang harganya menguras dompet atau memelihara stamina di pusat kebugaran yang lagi-lagi dibayar dengan beberapa lembar duit bergambar Soekarno Hatta.

Berbekal informasi kenyaman itu, maka bergegaslah kami ke sana. Benar saja. Desain interior dari kafenya memang enak dipandang mata. Secara garis besar, kafe ini menyampaikan pesan kearifan lokal dalam setiap incinya. Aku menemukan beberapa kaleng kerupuk yang hanya ditemui saat aku masih kecil. Kursi dan meja dari kayu tua, ditata sedemikian rupa. Topi anyaman. Beberapa patung karya seniman lokal. Foto atau lukisan tentang desa. Semuanya dipadukan dengan dinding kaca dan beberapa pot bunga yang diletakkan di sudut-sudut ruangan. Hanya saja, cahaya menyerbuku tanpa kenal ampun. Moodku dalam sekejap langsung berubah.

Setelah menentukan posisi duduk kami. Sebelumnya, aku dengan setengah memohon, meminta agar dia bersedia memilih lokasi yang minim cahaya. Kami langsung memilih menu yang kami inginkan. Aku dan dia sepakat memilih iced thai tea sebagai pelepas dahaga kami. Untuk makanannya sendiri, lidah kami memiliki cita rasanya sendiri.
“Saya pesan fish and chip yah,” ujarnya kepada seorang waitress.
“Mie ayam,” tuturku.

Menghabiskan masa penantian, kami sibuk dengan gadjet masing-masing. Sesekali saling bertukar kata, kemudian hening, kembali ke layar smartphone. Tiga puluh menit berlalu. Lalu keluarlah fish and chip.

“Makan saja duluan,” ujarku
“Tunggu pesananmu tiba ah,” jawabnya

Lama kami menunggu, sekiranya hampir setengah jam setelah pesanan temanku tiba. Bahkan orderan minuman kami belum juga muncul batang hidungnya. Aku langsung memberi isyarat kepada waitress yang kami amanatkan pesanan kami. Responnya menyampaikan isyarat agar kami bersabar.

“Mbok yah setidaknya minumannya dihidangkanlah mbak,” timpaku.

Sang waitress tetap diam. Sepuluh menit kemudian, barulah mie ayamku keluar. Tak berselang lama, minuman kami pun tiba.

“Kalau kita makan di warteg, pesanan telat bisa dikomplain. Yang diprotes pasti gelagapan,” tuturku.
“Setuju. Lha misalnya makanan lama dihidangkan. Mbok minumannya didahulukan. Orang-orang yang masuk saat terik seperti ini pasti butuh air,” balas temanku, mengulang kembali pernyataanku. Iya betul, ingatanku cepat mengarah ke saat aku menyantap ikan bakar di sebuah tempat makan kaki lima dekat rumahku. Di sana, begitu duduk, bahkan belum sempat mengeja menu pesanan dari mulutku. Mas pelayan dengan sigap menyiapkan segelas air putih. Itu semacam standar operasional prosedur bagi para pedagang seperti mereka. Sebab, menuntaskan dahaga semacam kewajiban yang bernilai sopan santun. Juga barang tentu adalah strategi agar pelanggan dapat menunda rasa laparnya sesaat, sementara mas yang lainnya masih sibuk membakar ikan pesanan pembeli. Politis memang.

Kata nyaman yang mulanya aku ikrarkan, kini berubah. Pemilik kafe dan pegawainya mungkin memiliki rasa kepercayaan yang terlalu tinggi. Yah, ini penyakit yang menyerang para pelaku usaha di kotaku. Mungkin juga di negaraku. Ah mungkin juga di belahan dunia lain, ada yang mengidapnya. Penyakit ini melahirkan para pedagang angkuh. Padahal, hukum pembeli adalah raja diobral dimana-mana. Realitanya, komplain keterlambatan pesananku di kafe ini buktinya hanya direspon bahkan tanpa seulas senyuman. Hanya tangan sebelah kanan yang terangkat dengan telapaknya yang mengarah ke kami, pelanggannya.

Pun, tak ada sepatah kata maaf ketika makanan kami telat tiba. Bukan karena aku atau pelanggan lain membutuhkan permohonan maaf mereka, pegawai, waitress, manager, atau pemilik usaha dagang itu. Bukankah ini semacam kode etik antar sesama entitas yang saling menguntungkan? Pembeli dan penjual bukannya harus saling menghargai? Kita sama-sama tahu, kita memiliki relasi yang tak biasa. Kalian butuh kami untuk meningkatkan omset penjualan kalian. Pembeli butuh kalian sebagai tempat kami nongkrong bersama teman, keluarga, atau pacar, sebagai tempat makan, wadah untuk reunian, ruang untuk berteduh sambil menyeruput minuman hangat kesukaan kami, dan lain, dan lain. Mereka, pelaku dagang ini hanya memandang aku dan pembeli lainnya sebatas angka berjalan. Nominal uang yang disenyumi tepat ketika kaki kami melangkah memasuki pintu tempat usaha mereka. Masih tersenyum saat kami memesan, apalagi jika orderan kami banyak, atau setidaknya mahal. Senyum terakhir dilontarkan kala prosesi pembayaran akan, sedang, dan usai dilakukan. Setelah itu secara sah kami melepas ikatan masing-masing. Meski di beberapa tempat usaha, masih ada saja yang mengucapkan kata-kata puitis penuh maknanya semacam, terima kasih sudah berbelanja atau pengharapan agar kami dapat segera kembali ke tempat usaha mereka. Itu saja.

You Might Also Like

0 komentar