Semua Berubah, Begitu pun Tentang GMT

Ilustrasi berasal dari liputan6.com

Baru mau membahas Gerhana Matahari Total (GMT) yang terjadi tanggal 9 Maret kemarin? Aiihhh, saya sungguh tertinggal. Dari segi manapun saya mencoba menceritakannya, sudah barang tentu lini berita on line lebih banyak mewartakannya, lengkap dengan kepingan gambar dari berbagai belahan negara, lebih detail, lebih menohok, lebih menggiurkan. Masuk ke media sosial, aihhh, ini lebih ramai. Postingan mulai dari gambar, meme, curhatan, status, komentar, esai, cerpen, bahkan yang lebih serius sekalipun tersedia. Silahkan memilih.

Lalu, tentang GMT itu, apa yang akan saya bahas? Hmmm, begini, semalam sebelum GMT terjadi. Teman serumah saya menerima telepon dari salah seorang saudaranya, mereka tinggal di kota yang berbeda dengan kami. Saling bertukar kabar adalah rutinitas yang tak pernah sekalipun tak dilakukan teman saya ini. Setiap hari, dirinya senantiasa meluangkan waktu untuk menghubungi ibu, adik, atau kakaknya. Berbeda dengan saya, berbekal hanya memiliki seorang adik laki-laki, dimana kecenderungan orang memilih untuk hidup bersama adiknya, membangun komunikasi yang sangat intens. Saya dan adik saya memiliki ritmenya sendiri. Kami adalah sepasang kakak beradik yang cuek, tetapi saling membutuhkan. Bagi saya, dalam berkomunikasi bukan masalah seberapa seringnya. Melainkan seberapa berkualitasnya kontennya. Saya, sungguh sangat malas, jika mengirimkan pesan berbau basa-basi. Saya dan adik saya bukan orang lain, basa-basi itu buang-buang waktu tidur saya. Kalau merasa perlu akan sesuatu, kami berkomunikasi. Kalau sedang jengkel satu sama lain, saya yang lebih sering duluan mengutarakannya. Kalau sedang rindu, lagi-lagi saya yang terlebih dahulu menyampaikannya. Adik saya ini betul-betul tipikal lelaki kesukaan saya. Cueknya pooolllll, ngengeninnya tiada tara. Cuma jengkel juga sih kalau doi tiba-tiba kirim pesan, kirain buat nanya kabar. Eh, malah malakin dibeliin pulsa. Sudah begitu tidak pakai kata pengantar, pokoknya jangan harap ada sapaan selamat pagi/siang/malam, atau pertanyaan penuh perhatian semacam “Kakak sudah punya pacar belum?”. Ngengeninkan? Ini bukan satire yah, cuma sedang rindu celotehan doi kalau sampai tulisan ini dibacanya, hahaha. Oh iya, saya sebenarnya secara sadar dan sengaja menulis ini, sapa tahu ada yang niat melamar anak gadis mama saya yang keras kepala dan manja itu. Tolong pelajari karakter adik lelaki saya. Ini penting, sebab doi yang kelak jadi wali saya saat pernikahan.

Oke, lanjut. Kembali ke acara telepon-telepon teman serumah saya ini. Sudah barang tentu percakapan tentang GMT tak bisa dielakkan. Dalam perbincangan mereka yang saya dengar, bukan saksikan. Saya masih saja mendengar perkataan tentang upaya untuk menghindari menatap matahari saat gerhana berlangsung. Seketika saya mengingat bagaimana mama dan nenek saya selalu berujar demikian. Berbekal dengan bantuan mesin pencari dunia, yang kompetensinya sudah tak diragukan lagi, gugel. Saya menemukan bahwa GMT pernah terjadi pada tahun 1983, melintasi pulau Papua, Sulawesi, dan Jawa. Lha kok nulisnya dari Indonesia bagian timur ke barat sih? Biar terkesan anti mainstream begitu? Ahhhh tidak kok. Atau mungkin ini sebagai salah satu bentuk pergolakan saya, bahwa Indonesia bagian timur selalu saja tertinggal dan ditinggalkan? Bukan juga. Lalu? Saya memulainya dari bagian timur, sebab adik saya sekarang berdomisili di bagian sana, Tual lebih tepatnya. Kita anggap saja ini adalah salah satu ekspresi rindu saya kepadanya. Titik.

Meski saya belum lahir pada tahun 1983. Saya mengingat suatu waktu, saat di sekolah dasar dulu, guru saya menyampaikan tentang salah satu peristiwa alam semacam gerhana matahari dan bulan. Sepulang sekolah, saya kemudian menanyakannya ke mama dan bapak. Mama adalah orang yang paling pertama meresponnya. Beliau menyampaikan agar manusia menghindari memandang matahari secara langsung saat gerhana terjadi. Kenapa? Tanya saya. Mama berujar tentang teori kerusakan yang berakibat kebutaan saat matahari ditatap tanpa perantara ketika gerhana matahari berlangsung. Walaupun, menatap matahari bahkan dalam keadaan bebeas gerhana pun tak disaran beliau. Balik lagi ke om gugel. Rupa-rupanya, di laman BBC Indonesia. Mitos seperti itu dibenarkan. Di jaman itu, era presiden Soeharto, terdapat semacam larangan menatap matahari secara langsung karena dapat mengakibatkan kebutaan. Setali dengan itu, mz Iqbal Aji Daryono, idola salah seorang teman saya, pun menceritakan tentang pengalaman masa kecilnya pada sebuah status di fesbuknya. Bahwa dulu, mz Iad, sapaan akrabnya, pun mengalami pelarangan yang sama. Dalam kenyataannya, tidak jarang malah para orang tua lebih memilih memasukkan anaknya ke dalam rumah saat gerhana berlangsung. Ada pula yang tak hanya berdiam diri di rumah, tetapi juga menutup pintu rumah dan jendelanya. Lalu, bagaimana mama saya menikmati peristiwa itu? Seingat saya, mama mengatakan bahwa saat gerhana terjadi, nenek atau kakek saya akan mengambil sebaskom air yang kemudian diletakkan di area yang bebas penghalang atau diletakkan di teras rumah. Melalui pantulan cahaya matahari inilah mama dan saudara-saudaranya menikmati gerhana matahari. Beda dengan jaman sekarang, bedaaaaa sekali. Mz Iad juga mengemukakan hal sama.

Sudah? Gitu saja pembahasannya? Hmmm begini, saya kok jadi kepikiran tentang pelarangan itu yah. Begini yah, saya merasa terusik dengan segala bentuk pelarangan yang tak jelas juntrungannya. Pelarangan menyaksikan secara langsung matahari yang dapat berakibat kebutaan, yang kemudian tak dilanjuti dengan pencerdasan masyarakat toh akhirnya melahirkan kebhinekaan solusi dalam memaknai ketakutan kebutaan itu.

Pembicaraan kali ini melebar, merujuk ke bentuk pelarangan yang lain. Apalagi jika pelarangan itu tidak didukung dengan data ilmiah. Atau mbok yang bagikan pelarangan itu ngerti proses tabayyun nggak sih. Kalau perkara melarang saja, aku sih bisa. Salah satu contohnya, pengalaman memiliki beberapa teman yang hamil, saya sering sekali mendengar pelarangan jangan makan ini itu. Saat saya kemudian menanyakan kenapa kepada mereka, ini bekal saya kemudian hari, semacam ransum untuk persiapan hamil kelak, puasss. Si ibu-ibu hamil ini nurut hanya dengan berbekal kata (((tidak boleh)) saja. Haibat bukan. Lalu kemudian, saya terusik lagi. Kenapa teman perempuan saya ini tak mencari tahu apa memang benar hal itu tak boleh dimakan. Yang saya temukan, cerita tentang larangan itu diwariskan secara lisan dari para tetuah dahulu. Saya jengkel bukan kepalang. Jengkel karena ada pelarangan yang tak jelas itu, juga jengkel kenapa teman perempuan saya tidak begitu getol mencari fakta pelarangan itu. Kejengkelan saya mereda kemudian saat saya berjumpa dengan seorang sahabat yang hamil muda kala itu. Teman perempuan saya yang sangat ribet ini, dengan santainya makan tapai, nanas dihadapan saya. Saat saya bertanya tentang mitos itu, perempuan pemilik anak lelaki bernama Nei ini memaparkan banyak hal. Bahwasanya tapai dan nanas, bahkan durian sekalipun boleh dimakan oleh ibu hamil, tetapi disarankan tidak dalam porsi yang banyak. Ketika saya bertanya kenapa. Dia menerangkan bahwa keberaniannya mengonsumsi apapun selama hamil diperolehnya selepas mengikuti seminar tentang ibu hamil beberapa bulan lalu. Seorang dokter yang menjadi narasumber menyampaikan bahwa tak ada pantangan sama sekali bagi ibu hamil untuk mengonsumsi makanan jenis apapun, selama makanan itu halal, bergizi, baik, dan jangan berlebihan. Sebab perempuan dalam kondisi hamil dikategorikan berada dalam fase spesial, sehingga memerlukan perlakuan berbeda. Termasuk dengan apa saja yang dimakannya. Di luar dari itu, bahasan tentang jangan makan secara berlebihan dari sisi agama juga menjadi pertimbangan kuat. Memang segala sesuatu yang berlebihan itu tak baik, termasuk dengan secara berlebihan menyayangi mantan terindah yang sudah jadi milik orang, haha.

Ini masih mau bahas GMT apa pelarangan? GMT lagi yah kite. Tiga puluh tiga tahun setelah kejadian gerhana matahari yang diceritakan orang tua kita. Anak-anak masa ini dengan semaraknya menanti gerhana matahari total. Adanya edukasi bagaimana menyaksikan gerhana matahari memiliki perannya tersendiri. Media seperti kacamata matahari, bekas film rontgen, atau bekas roll fotografi (klise) menjadi benda-benda layak cari dan wajib miliki. Gerhana menjadi tontonan dengan nilai ketakutan yang kian memudar. Kemudahan mengakses informasi di sisi lain memudahkan kebanyakan orang untuk melakukan proses tabayyun, mencari titik terang, atau melakukan diskusi. Ikhtiar yang menyegarkan.

Tak puas hanya memandanginya, orang-orang masa kini, ini untuk menghindari kalimat anak-anak masa ini yang saya tulis sebelumnya, kok memberi kesan saya terlalu tua atau tidak sejaman dengan kekinian yah. Sekarang ini, orang justru berbondong-bondong mencari tahu daerah mana yang dilalui gerhana matahari total. Bahkan tak sedikit yang kemudian membeli tiket, meminta cuti libur, hanya untuk menyaksi panorama keagungan tuhan. Seorang teman saya melakukannya.

Terakhir. Tren selfie, groufie, dan fie-fie lainnya juga memberi pergeseran makna. Orang-orang menjadi begitu ceria dengan kejadian alam ini. Mereka bahkan memilih keluar rumah, mengenakan pakaian sebaik mungkin, memilih tempat terbuka yang menarik, sekedar untuk memperoleh momen jepret berlatar belakang redup-redup asoi gimana gitu. Ini perkara eksistensi, saya paham.

Semua berubah, semua bersorak dan bahagia. Dan sampai di titik ini, mbok sudahi sajalah pertengkaran tentang judul salah satu koran di kota kita ini. Menolak judul “Atraksi Tuhan” hanya karena ada kata tuhannya, serta lebih menerima konsep “Cosmic Theatre”, entah karena sampeyan inlander atau karena ente otak kiri garis keras. Saya juga kagak paham.

You Might Also Like

0 komentar