Dua Perkara Pada Satu Sebelum Tiga


Saat tulisan ini saya ketik, hujan masih saja mengguyur sejak semalam. Sesekali reda, lantas dengan cueknya mendadak deras lagi. Perkara dihujani semalam suntuk lalu berlanjut ke pagi, itu sungguh membuat saya dan teman serumah saya was-was.

Rasa was-wasnya tidak mencerminkan sensasi deg-degan saat bersua dengan sang pujaan hati saat menatapnya dari kejauhan, atau tanpa sengaja berpapasan dengan mantan terindah yang menurut informasi masih single di persimpangan jalan. 

Edisi was-was kali ini lebih ke bentuk kekhawatiran yang cukup mendalam. Selain karena kondisi atap rumah yang tak pernah henti membuat saya dan teman serumah merasa galau dalam rembesannya ke dinding, yang sebenarnya sudah dikerja oleh beberapa tukang, silih berganti malah, tapi tetap saja tak kunjung-kunjung terselesaikan juga. 

Perkara lain yang tururt andil melahirkan kekhawatiran pada kami, itu karena kota kami ini, yang sudah dapat penghargaan Adipura itu, kalau diguyur hujan barang saty dua hari tanpa henti, mendadak akan menemukan semacam sungai kecil di jalan-jalan. 

Beberapa ruas jalan diluapi air tanpa kira-kira. Macet, sudah pasti, panjang dan bising, suara klakson saling mengadu. Banjir dengan seketika membuat kota kami ramai. 

Ramai dengan riuhnya pengisi jalanan untuk berebut ruang agar segera sampai ke rumah, tempat ternyaman dan aman di dunia ini. Ramai dengan keluhan-keluhan karena jalan setapak rumah dipenuhi air yang juga masuk ke dalam rumah tanpa pernah diundang. 

Ramai karena air yang menggenangi rumah itu membuat seisi rumah mesti mengamankan barang-barang mereka, mengangkat sofa dan barang elektronik letaknya rendah atau bersentuhan langsung dengan lantai. Ramai karena banjir membuat kondisi tempat tinggal suhunya menjadi lebih dingin dari biasa. Dinginnya selevel dengan tatapan matamu itu, eh, okay, ini selingan. Lha wong kamu itu masih dalam tahap pencarianku kok :p

Nah, tentang pencarian ini. Setelah sampai pada chapter 29 dalam hidup saya, tepatnya tanggal dua belas Februari. Maka perkara pencarian kamu sepertinya layak ditinjau kembali.

Bukan apanya, sebenarnya sejak menginjak bangku SMA. Saya sudah terlebih dahulu memiliki cita-cita untuk mengakhiri masa lajang di usia dua puluh lima tahun. 

Tidak, saya bukan orang yang mudah termakan anjuran usia produktif nikah itu. Hanya saja, terlahir sebagai perempuan yang begitu mencintai angka dua belas. Saya memiliki obsesi tersendiri untuk mengakhiri masa lajang pada tanggal dua belas bulan dua belas tahun dua ribu dua belas, yah saat saya berumur 25 tahun. 

Akan tetapi, sejak berumur 24 tahun, saya nampaknya selalu dengan begitu setengah-setengah mewujudkan impian itu. Sampai sekarang juga sih. Itu semua terjadi karena saya hanya akan begitu menggebu-menggebu mencari pasangan saat terjadi pergantian tahun masehi atau saat bertambah usia seperti saat ini. Sekiranya terjadi hanya dua bulan pertama saja, segala bentuk ikhtiar disandingkan dengan do’a akan dijalani. 

Saya memulai mengakrabkan diri dengan orang lain sebagai penanda untuk mengawali rencana pencarian saya. Tetapi, begitu memasuki bulan ketiga dan seterusnya, niat saya tetiba surut. Entah mengapa. Mungkin saja, niat saya belum begitu sungguh-sungguh. 

Bisa juga karena saya pegiat gagal move on dari kamu. Kamu? Iya, kamu yang dulu pernah jadi tetangga saya. Apa kabar, kak? 

Atau, saya kemudian tersadar kembali, selalu begitu. Bahwa sesungguhnya, menyegerakan menikah bukan hanya perkara karena usia yang kian menanjak. 

Walaupun tidak bisa dipungkiri, bagi perempuan, memang dianjurkan untuk memikirkan secara matang kapan untuk memutuskan memiliki anak, sebab ada usia-usia produktif yang membatasi. 

Berbeda dengan lelaki, sebab mereka tidak menjalani proses hamil dan persalinan. Mereka bisa membuahi ovum kapan saja.

Tetapi jatah mendidik dan merawat anak tetaplah milik suami dan istri. Jika membahas tentang usia dan pernikahan, saya jadi teringat tentang seorang kakak lelaki, teman sepergaulan saya.

Kakak ini adalah seorang teman sekaligus sahabat yang menyenangkan. Ditanya tentang hubungan usia sebagai salah satu faktor utama mendesak diakhirinya masa lajang. Si kakak menunjukkan reaksi yang tidak biasa dari kebanyakan orang, khususnya pria di luar sana. 

Singkatnya, si kakak menyampaikan dan menyarankan agar menikah adalah keputusan yang betul-betul dilakukan dengan sebaik-baik niat. Sebab menjalani hiruk-pikuk berumah tangga bukanlah sesuatu yang mudah. Belum lagi dengan perihal mendidik anak, Anda tahu sendiri bagaimana anak dan para remaja sekarang menghadapi badai persinetronan tanah air. 

Lagi pula, tambahnya, perempuan tidak perlu terlalu takut dengan ancaman ((usia produktif)). Sebab, tak ada jaminan menikah di usia belia atau muda, pasangan itu dengan dengan segera memiliki momongan, atau lebih bahagia dan langgeng dari yang terlambat menjalaninya. 

Syahdan, menurutnya, tujuan menikah lebih dalam dan jauh dari hanya sekedar memiliki anak saja. Memiliki keturunan adalah salah satu efek dari menikah. Salah satu yah.

Saya setuju. Lantas niatan segera memiliki pasangan kembali pada alurnya ((lagi)), santai seperti di pantai. Iya, iya, saya tahu. Anda, tak semuanya memang, akan beranggapan bahwa saya sedang mencari pembenaran bukan? 

Tetapi kemudian, tepat di hari kelahiran saya kali ini. Berada di satu lantai sebelum angka tiga puluh. Lagi, dan lagi, saya sadar tentang niatan saya untuk menunjukkan sikap serius terhadap urusan pernikahan. 

Mungkin benar kata seorang sahabat perempuan saya, saya mesti segera move on. Lalu merubah tipe lelaki impian saya. Usulan saudari saya yang lain, adalah memperbaiki kualitas diri dan menentukan beberapa goals yang berkaitan dengan hidup saya. 

Sedangkan saran dari oenni dan chingu saya hanya satu, saya sebaiknya membuka diri kepada siapapun. Saya dianjurkan mengakhiri hobi mengurung diri, apalagi kebiasaan berbicara sendiri, dikira gila iya, laku tidak. 

Cukup sekian perkara usia dan urusan kawin-kawinannya.

Next, masih berkutat di chapter 29. Nampaknya memang benar, umur yang bertambah membuat seseorang semakin mempertimbangkan tak sedikit hal. 

Untuk kasus yang satu ini, misalnya. Saya hanyut pada kecenderungan mayoritas perempuan, berat badan tak terkendali dan kulit yang kurang sehat memaksa dipedulikan. Yang akhirnya, setelah perkara nikah, saya mesti fokus pada berat badan dan soal kulit.

Sebagai perempuan, tentu sadar. Usia yang semakin menumpuk tentu memiliki akibat tertentu pada kondisi tubuh. Sel-sel kulit mengalami penurunan fungsi pergantian sel, berat badan menjadi semakin sukar dikendalikan, kolagen menciut, dan banyak hal-hal horor yang bisa bikin serangan jantung ringan buat perempuan. 

Sudah tentu, demi meminimalisir efek-efek itu, sebagai rakyat ekonomi menengah, yang kadang menengah ke bawah, sesekali ke atas. Kalimat-kalimat saya meluncur begitu saja, ini kalau diperhatikan, model tulisan saya bak iklan on line shop produk kecantikan tertentu yak. 

Saya memutuskan untuk mengendalikan diri dengan membiasakan diri berolahraga dan makan teratur dan bergizi. 

Kalau halal tak usah dibahas lagi, itu pasti sudah jadi pertimbangan utama. Kecuali anda singgung tentang kerudung atau jilbab halal, kita tak sealiran untuk urusan ini. Maaf. Terlalu berat diongkos soalnya.

Jujur saja, ketertarikan saya untuk mencoba pola hidup sehat, selain karena usia, lagi-lagi. Disebabkan karena saya berada dalam persahabatan yang orang-orangnya juga sedang giat-giatnya memilih pola hidup sehat. 

Dalam persahabatan dan persaudaraan saya di Akar7, mereka, kakak-kakak ini pada doyan jogging atau mengikuti kelas tertentu di pusat kebugaran. Salah satu dari mereka, yang kemudian saya ikuti, membiasakan diri mengonsumsi infused water setiap hari. Saya sih, seingat saya saja. 

Lain lagi dengan para perempuanku, kelompok ini berisi penuh perempuan yang berawal dari teman kemudian bermetamorfosis jadi sahabat lalu saudari. Mereka ini memiliki kecenderungan pola hidup sangat beragam. 

Ada yang menerapkan semi food combaining dan memiliki niat mendalam untuk gowes bersama, kalau dibonceng sih besar kemungkinan saya sanggupi. Seorang lagi, yang menjabat posisi mamah muda, doyan makan sayur dan buah serta sangat selektif dalam perkara memilih menu makanan atau minuman. 

Seseorang yang tubuhnya paling mungil di antara kami memilih jalur meniadakan makan malam, atau lebih tepatnya dengan memajukan jam makan malamnya, dan rutin senam plus jogging. 

Nah, ada seorang lagi, kalau yang ini sih tak ada pantangan apa pun, sesekali kami berolahraga bersama, se-se-ka-li. Dirinyalah secanggih-canggihnya penghancur pola hidup sehat kami, hehe. Penyeimbang semesta :p

Demikianlah dua perkara di chapter 29 ini.

Bedewe, terima kasih untuk semua, siapapun itu. Terima kasih sangat bagi ucapan selamat hari kelahiran dan segala bentuk ikhtiar do’a di berbagai jejaring sosial, serta hadiahnya, baik yang on time maupun yang tertunda, juga surprise yang setiap tahunnya pasti datang.

Semoga segala hal baik tercurahkan bagi kita semuanya beserta dengan orang-orang terkasih. 

Terakhir, saya tegaskan, sesungguhnya saya hanya menerima ucapan ((semoga segera nikah)) dan tak melayani pertanyaan kapan nikah di hari berbahagia ini :p


Best regards,


Surya R. Labetubun a.k.a Hujan Hitam
On February 12th, 2016
Happy (fri)day

You Might Also Like

2 komentar