Saya Bersyukur atas Mama dan Bapak yang Dikirimkan Tuhan


Tampaknya, fase liburan sekitar dua minggu saya kali ini terlalui hampir dengan biasa-biasa saja. Belum ada, untuk menghindari kata tak ada, panggilan jalan-jalan yang bisa saya penuhi. Nah, sudah sekitar tujuh hari saya lalui liburan ini dengan mengisi setengah dari totalnya cukup dengan ngamar saja. Sebab, sebagai gadis rumahan, hanya kamarlah tempatku hidup dan berkehidupan. Selebihnya, saya gunakan untuk bersua dengan teman-teman yang sebenarnya sudah terlalu sering saya temui. Akan tetapi, hal yang cukup menjengkelkan bagi saya selama menjalani liburan ini adalah kembalinya kebiasaan sulit tidur saya. Padahal, sudah sekitar enam bulan saya memiliki jam tidur layaknya manusia kebanyakan. Tidur dan bangun mengikuti pola umum. Dimana tidur bukan sebuah kemewahan. 

Dalam melalui Minggu malam menuju Senin itu. Maka bertandanglah saya ke media sosial. Saya akhir-akhir ini suka mengunjungi media sosial dalam keheningan malam. Bukan apanya, bagi saya, saat ini media sosial sudah begitu ribut dan ribet. Maka jangan salahkan saya, jika perkara mengujungi media sosial saya perlu dalam ketenangan. Sekitar sepuluh menit saya lalui dengan mengintip beranda. Lantas sampailah saya untuk mengunjungi salah satu halaman orang yang akunnya saya ikuti. Dinding Arman Dhani rupanya menampilkan sebuah statusnya tentang liburan dan ibunya. Tak perlu berpikir panjang, tulisan itu pastilah saya baca.

Rupa-rupanya tulisannya itu tiba-tiba saja menggenggam tangan saya dan mengajak saya kembali ke sebuah masa. Kondisi dimana saya masih bisa bermanja-manja dengan mama saya, pun juga masih terlalu keras kepala jika beradu pendapat dengan bapak saya. Saya mah gitu orangnya.

Singkat cerita, jika Arman Dhani begitu bersyukur dengan ibu yang dimilikinya plus karena ibunya pun tidak mengenal media sosial. Tulisan Arman Dhani juga membuat saya begitu mensyukuri telah dilahirkan dan hidup bersama mama dan bapak saya. Terkadang orang protes, kenapa saya selalu lebih dahulu menulis mama kemudian bapak, bukan sebaliknya. Ini bukan masalah emansipasi atau apa. Saya sedang tak membandingkan kasih dari mama atau cinta dari bapak. Hanya saja, bagi saya, setelah kepergian bapak. Mama adalah seseorang yang begitu dekat dengan saya. Terlalu dekat. Tetapi sebenarnya, mengapa saya selalu menulis kata mama lalu diikuti bapak, itu lebih karena sebuah penyesalan yang masih saya simpan hingga kini. Sebuah hubungan seorang anak perempuan kepada mamanya.

Setali dengan Arman Dhani, kesyukuran saya juga bernada sama. Saya sungguh berterima kasih kepada Tuhan karena dibiarkan lahir dari rahim mama dan tumbuh dengan didikan bapak. Jika sekiranya konsep reinkarnasi benar-benar terjadi. Maka saya akan meminta untuk dilahirkan di keluarga ini lagi. Sungguh.

Saya hidup sedari kecil dengan arahan mama dan bapak untuk selalu menghargai orang lain dan berperilaku baik. Meski sayangnya, saya belum mampu total mengimplementasikannya. Ini masalah kepribadian saya sendiri, bukan perkara berhasil atau tidak mama dan bapak saya mendidik saya. Nah, menjadi besar dalam keluarga yang tak sepenuhnya muslim ini mengajarkan saya untuk menerima eksistensi kepercayaan orang lain. Tidak sedikit keluarga dari garis keluarga mama atau pun bapak saya menganut agama kristen katolik atau protestan. Mungkin karena nenek saya dari sebelah mama berasal dari Ambon, sedangkan bapak saya murni dari Tual, Maluku Tenggara. Daerah-daerah dimana justru populasi penganut muslim cenderung sama dengan kristen, atau bahkan secara kuantitaif lebih rendah. Sehingga menjadi hal wajar jika saat natal, saya bersama mama dan bapak serta adik saya satu-satunya itu berkunjung ke keluarga yang menyelenggarakan natal. Bahkan tidak sekali saya menghadiri misa, meski kami dipersilahkan untuk berada di luar gedung. Bukan karena mereka risih atau tidak peduli kepada kami. Justru karena mereka takut kami yang merasa risih atau kurang nyaman, jika ikut ambil bagian beribadah dengan mereka. Walaupun, saya pernah melihat mama dan bapak tetap saja memasuki gedung dan mengikuti misa, beberapa kali mereka (mama dan bapak) melakukannya. Paragrap ini bukan bermaksud menyudutkan mereka yang hanya mampu mengucapkan selamat natal, tapi tak pernah sampai mengunjungi tetangga atau keluarga yang merayakan natal, atau bahkan yang tak sekalipun ikutan misa. Ingatan saya tentang misa terlalu begitu kabur. Saya melaluinya di saat usia saya masih 6 atau 7 tahun. Kelak ketika saya mulai remaja, hanya mama dan bapak saja yang hadir. Saya dan adik justru lebih memilih tinggal di rumah. Bukan karena kami mulai tidak sependapat dengan orang tua kami. Saya dan adik menikmati natal dengan menonton televisi yang kala itu selalu menampilkan film-film yang seru untuk usia kami. Kami tetap bersuka cita kala natal datang. 

Bukan hanya perkara natal saja. Bapak saya juga memperkenalkan tentang Kuningan dan Galungan, meski kami (saya dan adik) tak sempat memperingatinya, biasanya hanya mama dan bapak saja. Saya tak memiliki keluarga yang menganut Buddha atau Hindu, apalagi Konghuchu. Tetapi, bapak saya yang bekerja di Kementrian Agama itu memiliki teman dengan beragam latar belakang agama. Salah seorang dari mereka bahkan menghadiahi beliau Bhagavad-Gita. 

Saya mengenal bapak saya sebagai seorang alumni Pemuda Mahasiswa Islam Indonesia garis keras yang memilih berjalan di Nahdatul Ulama. Bapak saya begitu mengidolakan Gus Dur. Menyukai Emha Ainun Najib. Menyintai Quraish Shihab. Ini alur yang sudah bisa ditebak. Beliau juga mengagumi Nurcholis Madjid, Imam Khomeini, dan Soekarno. Saya mengetahui semua itu karena bapak saya selalu membuka ruang berbicara dengan saya ketika saya menginjak tingkat Aliyah. Bapak saya tak mempermasalahkan keliberan Nurcholis Madjid, pahaman Syiah yang dimiliki Imam Khomeini, atau bahkan tuduhan pro komunis yang lontarkan ke Soekarno. Bagi bapak saya, setiap manusia pasti akan mempertanggungjawabkan yang dilaluinya dalam hidup. Pun bagi beliau, bahwa kita selayaknya mengenal seseorang dari berbagai sisinya, baik atau buruk, masa lalu atau depannya. Yah mirip-mirip dewa Yunani, Jannis yang digambarkan dengan wajah menghadap ke depan dan ke belakang. Kelak Jannis kemudian menjadi akar kata Januari pada kalender kita. Si Januari yang mengajarkan kita tentang masa baru di tahun baru dan mengisahkan kita tentang Desember yang telah ditinggalkan. Bapak saya mengajarkan saya menerima setiap individu, termasuk pola pikirnya pun agamanya. Berkasih sayang kepada semua, katanya.

Berbeda dengan mama saya. Dengan berlatar pendidikan sekolah menengah atas. Mama hidup dengan kakek dan nenek saya yang Islamnya sudah mengalami asimilasi budaya, lebih mengarah pada aliran tasawuf tertentu. Sayangnya, tak sekalipun saya menanyakan mama atau kakek bahkan nenek saya, apakah aliran tasawuf yang mereka yakini masuk dalam 40 aliran yang diakui atau muktabar oleh para jumhur ulama. Beliau-beliau menganut islam yang di dalamnya masih banyak peribadatan hasil informasi leluhur yang diturunkan dari mulut ke mulut. Wajar saja, jika sedari kecil saya terbiasa dengan ritual membakar dupa. Atau rutininas do’a-doa yang di bulan tertentu wajib dilakukan, bahkan mungkin puasa ini-itu. Bapak saya tak sekalipun mempermasalahkan keyakinan kedua mertuanya itu. Bahkan bapak selalu ambil bagian, jika dirasa kehadirannya dapat membantu pelaksanaan acara tertentu.

Tetapi, mama saya ini rupanya sejak saya menginjak semester pertama kuliah. Sudah mulai tidak berada di jalan keyakinan yang kakek nenek saya bawakan. Mungkin pahaman-pahaman itu luntur sejak kepergian kakek dan nenek. Belum lagi, saudara-saudara dari mama ada yang memilih masuk Muhammadiyah, ada pula yang menganut tarekat tertentu, dua orang di antaranya masih mengikuti kakek nenek, dan seorang yang memilih menjadi jamaah An-Nadzir. Dalam pencariannya itu, bapak saya tak pernah sekalipun meminta, memaksa, atau menghantarkan mama untuk sama-sama dengan dirinya. Bapak mempersilahkan mama memilih. Sampai pada akhirnya mama memilih untuk ikut Drs. K. H. M. Sjukri Dg. Limpo yang kala itu saban pagi selalu berceramah di salah satu saluran radio di kota kami, Makassar. Mama hingga akhir hayatnya menganutnya, sedang bapak tetap saja sebagai seorang Nahdiyyin.

Alur di atas lagi-lagi sudah bisa ditebak. Mama dan bapak saya sudah pasti membiarkan saya memilih apapun yang saya yakini, begitu pun dengan adik semata wayang saya yang mandiri dan ganteng tapi rada manja itu. Akan tetapi, seperti Puthut EA yang tak mempermasalahkan apapun pandangan hidup dan keyakinan anaknya. Namun, klub sepakbola wajib sama. Bapak saya juga memiliki pandangan serupa. Saya mungkin boleh beda ideologi, nikah sama orang berbeda kultur sekalipun, atau pindah warga negara, tapi untuk urusan organisasi kemahasiswaan. Bagi beliau, PMII harga mati. 

Masalah organisasi kemahasiswaan akan saya hentikan di sini. Saya akan berkisah tentang kepenatan saya akhir-akhir ini. Kemewahan dalam berpikir yang dihadiahi mama dan bapak saya ini kemudian yang membuat saya repot bukan kepalang. Sekolah dari level tsanawiyah sampai aliyah, tak sedikit guru saya yang mendogma saya ini-itu. Melarang saya ini-itu. Haram ini, halal itu. Sekarang ini malah maraknya share link pelarangan dan penyesatan ini-itu. Sepengetahuan saya, baik mama dan bapak saya tidak begitu banyak mengeluarkan larangan, pengharaman, apalagi penyesatan dalam proses mendidiknya selama ini. Selain hanya boleh jadi bagian PMII yang dimana saya langgar. Mama dan bapak menitik beratkan pelarangannya hanya pada ranah, menjauhi zina, jagalah makanananmu sehingga hanya yang halal lagi baik yang kau konsumsi, bekerjalah dalam ridhoNya, dan berbuat baik kepada siapapun. Masih teringat dengan jelas dimana ekspresi dari menjauhi zina yang ingin bapak saya sampaikan dengan bahasanya sendiri. Dahulu, sewaktu aliyah, setiap kali ada telepon atau teman lelaki yang datang ke rumah pastilah dikawal mata oleh bapak saya ini. Bapak saya akan mempersilahkan lelaki itu memasuki ruang tamu kami, lalu mama atau adik saya memanggil saya dan memberitahukan kehadiran teman lelaki saya ini. Bapak saya tak satu senti pun meninggalakn kursinya. Bisa ditebak, bapak saya duduk tak jauh dari teman lelaki saya ini. Atau, jika seorang lelaki menelpon saya. Apabila bapak yang menerima panggilan telepon itu, sudah bisa dipastikan bapak akan mengatakan bahwa saya sedang tidur atau tidak berada di rumah. Bapak saya punya ketakutan tersendiri. Beliau sungguh takut jika kelak di akhirat nanti diminta pertanggungjawaban dalam mendidik anak perempuannya ini. Menjauhi zina menjadi prioritas utamanya. Lalu, apakah bapak saya mendidik saya dalam pola neraka-nerakaan? Tidak. Bapak saya lebih fokus pada bagaimana kedudukan perempuan itu. Sejauh ingatan saya, bapak selalu menghadiahi saya buku tentang dunia perempuan. Sampai saat ini belum semua buku-buku itu saya baca. Saya terlalu suka menikmati komik atau novel sebenarnya. Bapak saya mengajarkan saya bahwa dalam kepercayaan kami, zina itu tidak diperbolehkan. Beliau menyampaikan bahwa perkara hamil di luar nikah itu butuh tanggung jawab yang tidak kecil. Seseorang dari dua pelaku zina, dimana lebih cenderung perempuan, akan mengalami sanksi moril yang tidak ringan. Apalagi dengan tidak mudahnya membagi waktu antara mengurus anak dan menyusun masa depan. Siapkah saya? Mampukah saya? 

Dan begitulah mama dan bapak saya. Secara sederhana dibiarkannya saya dan adik menikmati beragama tanpa perlu banyak hal-hal horor atau kecaman kepada yang lain. Sungguh saya selalu bersyukur dibiarkan memiliki marga dari bapak saya. Juga bentuk mata dari mama saya. Terima kasih Tuhan.

You Might Also Like

0 komentar