Rindu yang Tak Disetujui


Aku rindu rumah (?)
Kata mereka, aku tak mungkin bisa merasakannya
Aku, sampai kapanpun tak bisa menuturkan pengalaman rindu rumah
Aku takkan merasa kehilangan terhadap aroma jati dari lemari kayu
Aku takkan mampu mengingat aroma nasi panas ibu
Aku takkan pernah bisa paham tentang luapan kegembiraan dari suara ayah dan ibu saat aku mengabarkan akan pulang ke rumah
Aku takkan tahu bagaimana rasanya jika seorang kakak atau adik atau ponakan meminta dibelikan buah tangan dan menyambutku di pintu rumah saat mereka mendengar suaraku mengucapkan salam saat tiba di rumah
Mereka mengejekku begitu dalam dan membuatku geram

Aku rindu rumah?
Kata mereka, pertanyaan itu seratus persen bualan
Bagaimana bisa seseorang seperti aku merindu rumah?
Mana ada seseorang yang dari pagi ke pagi selalu menikmati kamarnya dan dirinya
mampu membedakan berhari raya di dapur yang mengepul sambil berkumpul dengan tidak?
Dari mana asal rinduku?
Buat apa aku rindu?
"Anak rumahan takkan gelisah tentang sebuah kerinduan atau beberapa lembar penderitaan."
Mereka mengejekku sepenuh hati seperti orang tanpa hati

Padahal pulang tak selamanya hanya milik si perantau
Bukankah pulang adalah menuju tempat aman dan nyaman?
Bukankah rumah berkisah tentang kasih?
Tetap saja aku kehilangan hak untuk rindu pulang dan rumah
Maka di dua belas yang memelas
Pada bulan yang terakhir, aku ingin lagi terlahir
Sebab, rinduku ini adalah rindu yang tak disetujui....

You Might Also Like

0 komentar