Perempuan Tanpa Agama


“Lha, si Ayu itu Katolik rupanya?”
“Oh ya?”
“Itu di lembar pengantarnya, ada ucapan syukur kepada Santo.”
“Oh.”
“Kenapa cuma oh?”
“Maaf, saya tidak ingat kapan terakhir kali saya menanyakan apa agama yang dianut seseorang saat berkenalan dengannya.”
***

Mereka menyebutku perempuan tanpa agama. Tapi bukan tak beragama. Saya perlu menegaskan satu hal ini. Tanpa dengan tak itu memiliki arti yang berbeda. Saya memiliki, meyakini, dan (sedang terus) berusaha untuk mengimplementasikan ajaran agama saya. Jelas. Saya beragama. Hanya saja, agama - dan apapun manusia menuturkannya, adalah sesuatu yang tak layak untuk dipertanyakan, apalagi diperdebatkan benar salahnya. Lalu berakhir pada acara pemetaan wilayah surga neraka. Basi. Tak edukatif. Monoton. Tanpa gairah.

Agama itu sebuah privasi. Keintiman. Kemewahan dalam kehidupan yang hanya dirimu sendiri jalani, telusuri, petik hikmahnya, dan ujung-ujungnya jelaslah dirimu sendiri yang pertanggung jawabkan kepadaNya.
***

“Kamu sudah dengar wacana ktp kosong? Itu lho yang kolom agamanya bakal ditiadakan.”
“Iya”
“Pendapatmu apa?”
“Kenapa kali ini dirimu butuh pendapat saya? Bukannya sudah jelas, bagi perempuan tanpa agama. Pertanyaanmu melebihi sopan santun yang ada? Terlalu sia-sia.”
“Tetapi aku tetap butuh argumentasi. Aku dan kamu butuh berkomunikasi. Bukankah dalam sudut pandang sosial ini yang disebut berinteraksi?”
“Apa saya dan dirimu butuh bersandiwara untuk menghibur manusia-manusia lain?”
“Bukan menghibur, tetapi aku dan kamu sedang memainkan peran kita masing-masing dalam rantai kehidupan ini.”
“Hmmmm.”
“Seperti biasa, hmm.”
Hening.
“Yah sudah, tentang ktp kosong itu bagaimana?”   
“Masih mau dibahas?”
“M-A-S-I-H!!”
“Ok.”
***

Mengapa saya perlu mempertanyakan apa agama seseorang? Orang-orang di sekitar saya selalu saja tak habis pikir dengan perilaku saya yang satu itu. Bagi saya, selain nama dan mungkin data seputar nomor handphone atau akun media sosial yang dimilikinya, semua itu menjadi informasi wajib untuk saya simpan. Saya bahkan tak begitu perhatian sampai menanyakan berapa jumlah saudara atau saudari yang dimilikinya. Persoalan itu bisa-bisa merembes ke ranah ekonomi mikro atau ke wacana pola asuh orang tua terhadap anak. Terlalu ribet untuk sebuah pertemuan pertama. Terlalu mendalam jika hanya sekedar bertukar sapa. Pertanyaan seputar alamat pun hanya akan saya tuturkan jika memang saya sedang membutuhkan informasi itu. Hobi hanya akan terlontar jika mereka, saya, dan kamu atau kalian sudah berkomitmen dalam hubungan pertemanan yang lebih serius. Entah pacar, sahabat, atau saudara.

Agama? Mazhab? Selain untuk kebutuhan sensus penduduk, saya malas menanyakan atau ditanya seputar itu. Yah, lagi-lagi karena agama itu sebuah privasi. Keintiman yang hanya dirimu sendiri tahu bagaimana rasanya.

Toh, apa dirimu siap jika rupanya, sekalipun dia segama denganmu, tetapi nyatanya kalian berbeda mazhab? Atau mungkin saya, dirimu, dia, atau mereka. Kita berada di kufu yang berbeda. Siapkah? Atau jangan-jangan, dan ini adalah pikiran yang paling saya benci. Ah sudahlah. Sudahi saja isi kepalamu yang melulu beranggapan bahwa dunia ini akan menjadi tempat yang lebih baik, andai, jika semua manusia menganut agama yang sama. Esa. Tak bercorak.

Saya, dirimu, dia, atau mereka memiliki pandangan tentang betapa bahagia dan berberkahnya kehidupan seseorang karena berada dalam sebuah agama tertentu. Sebuah keuntungan dunia dan akhirat. Jalan mulus. Anda lulus. Lolos ke syurga, lagi-lagi. Mungkin pula saya, dirimu, dia, atau mereka bisa saja memiliki pahaman dan pandangan tentang orang-orang yang meninggalkan apa yang dahulu mereka yakini dan imani. Serta merta memberi label murtad kepadanya, lantas meninggalkan orang-orang ini. Toh, mereka itu sesat dan sudah tak punya keberkahan tuhan sama sekali. Atau dengan dalil kasihan dan alasan demi menambah kuantitas agama kita. Sebuah kekhawatiran pada hampir semua keyakinan. Lantas diajaklah mereka, dahulu yang telah pergi untuk kembali lagi. Sebab, dunia dan hidup mereka akan lebih baik, jika mereka menganut agama yang sama (lagi).
***

.”Agama itu bukan sebuah institusi?”
“Hah?”
“Buddha dan Hindu bukanlah agama yang didirikan oleh Siddharta dan Khrisna. Seperti halnya nabi Muhammad SAW bukanlah pendiri Islam.“
“Sejak kapan perempuan tanpa agama mau berkisah tentang agama?”
“Entahlah. Hanya saja, saya menyakini bahwa para nabi dan manusia-manusia suci yang berada pada setiap keyakinan-keyakinan itu selalu dan menjadikannya sila dasar mereka, menyerukan dan mengajarkan tentang bagaimana agama menjadi sebuah jalan hidup. Bukan sebagai institusi atau partai yang butuh banyak massa. Para pengikut yang tak sedikit terperosok pada kotak-kotak benar salah. Lalu agama kemudian menjadi sebuah alat untuk menentukan sesat tidaknya orang lain. Bahkan menjadi alasan paling berkuasa sampai memisahkan nyawa dari tubuh.”
***

Saya sadar. Sekalipun saya adalah perempuan tanpa agama dengan kadar keagamaan yang rendah. Saya sangat tak suka menanyakan agama seseorang yang dianutnya. Tetapi dengan sepenuh hati dan pikiran, saya paham. Saya tahu bahwa agama tak sekalipun menyakiti manusia dengan alasan sedangkal apapun. Agama selalu menjadi cahaya yang tak hanya menyinari dan menerangi, tetapi secara berkelanjutan mampu mengarahkan kehidupan seseorang menjadi lebih bermakna. Membuat manusia betul-betul menjadi manusia dan memperlakukan manusia selayaknya manusia. Hanya saja, kenapa masih saja ada yang menjualnya?
***





Cerpen ini terinspirasi dari tulisan Chen Chen 
dengan judul Agama Institusional : Agama Missionaris dan Kabiliyah.

You Might Also Like

0 komentar