Ceritanya ini Resensi Buku

Out of The Truck Box, Buku yang Lahir dari Tangan Dingin Iqbal Aji Daryono
Sumber gambar : jihandavincka.com

Sesuai dengan ajakan amal saleh yang ditawarkan Iqbal (mau nulis mas Iqbal, takut dibilang sok kenal, sok dekat, pun sok akrab sama seleb fesbuk yang satu ini. Padahal apalah sayah ini mas). Sayangnya saya adalah pelaku yang tak benar-benar mengikuti anjuranmu, kak (gini-gini, dari pada manggil mas, lalu kemudian para dedek-dedek atau mamah-mamah itu menaruh cemburu dengan sikap sok akrabnya saya. Sapaan kakak mungkin sedikit menyelamatkan saya.

Saya tidak langsung menggenggam hape, lalu mengambil gambar buku kakak, sesaat setelah saya melahap buku kakak (ini kok terkesan saya pemakan buku yah, penyitraan terselubung, tcuih). Bukan apanya kak. Selain karena kemampuan memotret saya yang parah. Kualitas gambar yang dihasilkan hape saya pun di bawah rata-rata hape para abege labil itu (uhut). Tetapi, di suatu Rabu, saat beberapa orang pada sibuk memilih calon pemimpin daerahnya, sementara saya dapat jatah libur saja (tak ada pemilihan pimpinan daerah di kota saya, Makassar).

Maka, saya memutuskan untuk melalui Rabu yang setengah harinya gerimis dengan membaca buku kakak. Di saat itulah saya menemukan setitik keberanian untuk mengambil satu gambar dari hape saya. Kemudian memasukkannya ke instagram dan twitter. Perlu Mbak atau Mas ketahui, bahwa sesungguhnya buku pada gambar itu sangaaattt baguuuuus, hanya cara pengambilan gambar saya saja yang kurang tepat (hiks). Oh iya, tolong abaikan lembar coloring for adult itu yah, plisssss.

Lanjut lagi yah kak Iqbal (tulisan ini seperti bukan resensi buku deh, rasa-rasanya seperti surat terbuka untuk kakak Iqbal, ehemmmm). Sebelum saya benar-benar akan menulis apa saja yang saya alami dan temukan pada buku merah kakak. Terlebih dahulu saya ingin menyampaikan sesuatu kak. Ini jika sekiranya kak Iqbal meluangkan waktu untuk menyimak tulisan sayah ini, apalagi sampai tuntas (sedang mengimplementasikan sub bab Pede Education :D).

Saya ingin menyampaikan pesan seorang teman. Seorang perempuan, doi masih masuk kategori dedek-dedeklah kak. Nah, teman saya itu rupanya satu dari sekian banyak perempuan yang mengindolakan kak Iqbal (pencitraan yang dipaparkan Puthut EA nampaknya berhasil kak. Semisal dengan sosok suami yang setia mendampingi istri, seorang papah muda yang bertanggung jawab dan sayang anak, serta lelaki jenaka yang bandelnya bisa bikin dedek-dedek pada senyum-senyum simpul :p).

Teman saya ini (dari dialah saya bisa membaca buku Out of The Truck Box ini. Halusnya sih minjam, hahaha), mengirimkan sebuah sms saat saya lagi seru-serunya menikmati kisah-kisah kak Iqbal.

Pesannya singkat, padat, dan mudah diingat, “Nitip salam yah ke mas Iqy.” (Am, salam sampeyan sudah saya sampaikan nih. Tugas saya usai).

Ceritanya ini Resensi Buku
Sedikit banyak saya sepakat dengan testimoni yang dituliskan penulis buku Memoar of Jeddah, Jihan Davincka pada sampul buku ini. Gaya penulisan yang beda serta sudut pandang yang lebih bervariasi adalah kekhasan Iqbal dalam meramu bukunya.

Hampir sama seperti halnya tulisan-tulisan orang-orang yang tinggal di luar negri pada umumnya, buku ini juga sarat budaya dan bertaburan informasi. Pembaca dapat terhibur dalam kisah jenaka yang tertulis di dalamnya, atau menemukan untaian harapan orang-orang tentang Ostrali guna meraih “better life” yang dapat Mbak dan Mas temui pada sub bab Adul dan Perahunya, Hikayat Kaum Pengelana dari Kaki Himalaya, atau Kesaksian Mantan Agen Syiah yang Menyusup ke Indonesia.

Pun, pembaca seperti dihadiahi pengalaman hidup yang dilaluinya, apalagi boleh dibilang tidak satu dua kejadian yang dilalui-diamati Iqbal nyatanya diarahkan ke arus utama kehidupan, agama. Model tulisan macam ini sesuai dengan apa yang biasa orang-orang ujar. Bahwa buku adalah jendela dunia. Dan buku ini salah satu jendela dunia. Buku ini betul-betul bagus bukan?

Para pembaca juga kelak akan menemukan banyak pengalaman yang sekiranya tak melulu seputar tentang moderen apa tidak negara yang dihuni Iqbal dan keluarga kecilnya. Kalau pun ada hal yang kategorikan “maju”. Maka Mbak atau Mas tak perlulah khawatir dan merasa tertekan dengan kondisi Indonesia sebagai salah satu dari negara dunia ketiga. Iqbal bukan penulis yang melulu dan mentok hanya sampai pada acara membandingkan ini-itunya Ostrali dan Endonesah.

Lebih dari pada itu. Buku yang Mbak atau Mas genggam nanti, merupakan sebuah buku yang sekiranya mengajarkan kita untuk lebih menjadi manusia. Mengarahkan kita menjadi manusia di antara kumpulan manusia-manusia lain.

Ada juga bagian dimana Iqbal dalam beberapa bahasan mengritik kita. Yah kita sebagai bagian dari tanah Merah Putih ini. Salah satunya tentang sikap generalisasi yang kita lakukan. Itu loh masa-masa dimana kita merasa minder saat dihadapkan ke depan bule-bule itu. Pola pikir kita bahwa semua produk impor itu cerdas dari orok, pasti kaya, dan selalu saja hebat sudah saatnya diubah. Walau yah, meski memang kita wajib realistis.

Toh mereka memiliki metode yang berbeda dalam mendidik anak-anak di sekolah dan pola asuh yang diterapkan orang tua di rumah. Namun, lagi-lagi Iqbal mengajak kita untuk tetap percaya diri. Sebab, percaya diri adalah koentji.

Bercermin pada Cermin
Seperti yang saya paparkan sebelumnya, buku ini selain wajib beli dan baca. Juga dapat menyebabkan pembacanya menjadi lebih butuh ruang dan waktu untuk merenungkan banyak hal. Berkontemplasi. Beda memang dengan penulisnya yang kiranya memaknai apa yang dilihat-dialaminya dengan melalui proses melamun.

Apalagi dari beberapa lamunannya terjadi saat sedang dinas (nyopir). Ini membuktikan bahwa siapapun Anda, sesungguhnya memetik makna dapat dilakukan kapan pun dalam bentuk bagaimana pun. Ini serius.

Ada satu hal yang begitu saya sukai dari beberapa perkara yang disampaikan Iqbal dalam buku ini. Saya akan memenggal potongan tulisan itu. Bagi pembaca atau calon pembaca buku ini. Silahkan temui potongannya di halaman 179.

“Ada seorang arif, kalau nggak salah dia sutradara film dari Iran. Entah siapa pula namanya, saya lupa. Dia berkata macam begini: Kebenaran itu ibarat sebuah cermin. Cermin yang sangat besar. Lalu Tuhan menjatuhkan cermin itu dari langit ke atas bumi. Pyarrr! Lalu beberapa orang datang, masing-masing memungut satu keping kecil di antaranya, mengangkatnya tinggi-tinggi sambil ngotot berteriak, “Inilah kebenaran! Bukan yang itu!”

Dalam fase selanjutnya, teriakan itu mungkin akan semakin keras: “Inilah kebenaran! Bukan yang itu! Kau masuk neraka! Aku di surga!”. Ujung-ujungnya bisa lebih dahsyat lagi: “Inilah kebenaran! Bukan yang itu! Kau masuk neraka! Aku di surga! Maka.. kau harus mati di tanganku!” Aduhdek..

Dan kita semua menyaksikan, sepanjang sejarah umat manusia jutaan orang asyik berbunuh-bunuhan-atau minimal bully-bullyan-dengan mengatasnamakan kebenaran. Padahal bekal yang sesungguhnya ya cuma satu: perspektif yang tidak beragam dalam memandang kehidupan (gara-gara mereka meyakini ‘kepingan cermin’ sebagai ‘cermin’).”

Pesan moril yang ingin disampaikan Iqbal begitu kuat. Keragaman perspektif! Titik. Ini hal yang akhir-akhir ini sangat dibutuhkan oleh kamu, eh maaf, maksud saya oleh kita semua. Bahwa sesungguhnya hidup itu terlalu singkat untuk dilalui hanya dengan dua warna, hitam-putih, benar-salah.

Dalam banyak lembar, Iqbal mengajarkan kita, bahwa keseragaman perspektif itu takkan menghasilkan apa-apa. Mbak atau Mas tidak akan menjadi individu yang lebih bijak, terbuka, memiliki pola pandang yang lebih kaya lagi, dan lebih memanusiakan manusia. Jika, ini jika yah. Jika Mbak atau Mas hanya memegang potongan cermin itu dan ogah untuk menengok bagaimana kepingan cermin orang di samping Mbak atau Mas. Ingat yah, ini tentang kepingan bukan kenangan.

Adil Sejak dalam Pikiran (bisakah?)
Satu hal yang terus-menerus direpetisi Iqbal dalam buku merahnya ini. Dirinya berupaya dan menganjurkan-mengajak kita semua untuk berpikir adil sejak dalam pikiran. Bisakah? Saya perlu lebih banyak masa untuk memahami apa yang ingin disampaikan Iqbal. Sampai-sampai saya bertanya ke salah seorang teman tentang konsep yang ditawarkan Iqbal.

Teman saya meresponnya melalui BBM dengan penjelasannya, "Salah satu definisi adil adalah menempatkan sesuatu sesuai tempatnya. Berarti dimestikan kita melakukan pengkategorian di dalam pikiran lalu menempatkan sesuatu itu dalam kategorinya. Maka adil bisa kita lakukan sejak dalam pikiran." Jawabannya jelas, BISA.

Lantas, mana bagian dimana saya menunjukkan satu atau dua ketidaksepahaman saya dengan buku ini atau penulisnya? Pliss deh, perlu Mbak dan Mas ketahui. Saya ini juga dedek-dedek yang ngefans sama kakak Iqy :p.

***
Judul : Out of The Truck Box
Petualangan Seorang TKI Supir Truk di Australia
Dan Lamunan-lamunan Liarnya
Penulis : Iqbal Aji Daryono
Penerbit : Giga Pustaka
Cetakan : Pertama, Mei 2015
Tebal : 308 halaman plus-plus

You Might Also Like

0 komentar