Terjebak Upacara

Sinar matahari menabrak Rena dengan perkasa. Dengan tertatih bangkit sambil memicingkan mata, Rena berusaha menantang cahaya yang tembus melalui jendela-jendela kamarnya. Menatap jam dindingnya sembari menyatukan ruhnya yang berserakan semalaman. Jarum pendek jam dindingnya berdiri acuh tetapi angkuh di angka enam. Menerima kenyataan. Pagi sudah menjemputnya. Kesibukan sudah menantinya. Keramaian juga.


Sejenak. Lantas menuju gadget-nya. Mengecek pesan atau telepon penting yang perlu segera direspon. Lalu, memutar lagu kesukaannya. Mengambil selembar handuk. Mandi. Perlu sedikit pagi yang berisik untuk menghadapi hari yang super berisi.

*

Rena, gadis berusia dua puluhan akhir. Berambut cepak berwarna coklat tua kemerah-merahan. Perkara warna rambut inilah, maka sewaktu kecil, orang-orang lebih suka memanggilnya dengan sebutan "anak jagung". Sang ibu dengan berbagai cara mengupayakan agar rambut anaknya menjadi hitam. Minyak kepala dan minyak kemiri sudah pernah membaui hidung Rena sepanjang malam selama beberapa bulan. Hanya saja, merah coklat menyala itu tak kunjung juga padam, tak sudi menghitam. Setidaknya berubah menjadi lebih gelap, iya.

Perempuan berbadan tambun berkulit coklat itu, Rena, menyukai banyak hal di dunia ini. Hujan adalah satu dari sekian banyak hal yang disukainya. Bagi Rena, hujan adalah segalanya. Dalam hujan dirinya bisa puas melampiaskan dukanya. Mampu menangis sesukanya. Bahkan dengan sesekali disertai teriakan. Bagi Rena, hanya sedikit orang yang mampu membedakan wajah basah karena tumpahan air hujan atau karena tetesan air mata. Rena adalah perempuan penghujan.

Asbab lain dalam menyukai hujan, adalah adanya aroma tanah segar yang selalu dihirupnya setiap hujan reda. Sebuah kedamaian dan kenyamanan bergerombol menyerbu tubuh dan pikiran Rena bersamaan dengan aroma tanah basah itu. Membaui setiap milisenti di dalam rongga hidungnya. Melukiskan senyuman. Menghembuskan kesegaran. Yah, Rena adalah pecandu petrichor.

Kotak kenangan semasa kecil Rena juga secara otomatis terbuka saat langit membasahi bumi. Kenangan sewaktu ibu dan neneknya terus-menerus berceloteh tentang Rena yang basah setiap kali hujan. Membangkitkan keriangannya saat bermain bersama dengan teman-teman semasa kecilnya. Berlari-lari tanpa alas kaki demi memburu corong air rumah tetangga. Air terjun mini. Rena selalu basah kuyup sampai badan terasa menggigil, tapi tetap kukuh mandi hujan. Esoknya masuk angin dan flu. Kadang-kadang disertai batuk dan demam. Tetapi ritual menyambut hujan adalah harga mati. Tanpa dispensasi. Begitu istiqamah dirinya. Sebab Rena adalah bocah hujan.
*

Seperti pagi yang lain. Tepat pukul enam tiga puluh menit, Rena meninggalkan kediamannya. Motornya melaju ke tempat yang dituju. Memburu lima belas menitnya. Jarak tempuh rumah kantornya. Mengendarai motornya senyaman mungkin, berusaha sampai secepat mungkin, serta seselamat mungkin. Sebab, terlalu lama di jalanan dengan kepadatan tertentu bisa membunuhnya. Rena bisa mendadak didera rasa tidak nyaman.

Kamu mengalami gangguan kecemasan Ren. Jalanan yang memadat. Mall yang sesak. Ruangan yang riuh. Bukankah itu selalu membuatmu mengutuk harimu? Kamu selalu membenci hal-hal itu. Tak hanya kurang nyaman. Kamu bisa saja tiba-tiba kehilangan mood, bahkan mudah memerah dalam marah. Jelas Nay, menyimpulkan keluhan Rena tentang ketidaksukaannya akan kejamakan.

Bersyukurlah, pagi ini jalanan lenggang dalam tenang. Rena bersuka cita. Dilalui Selasa paginya sambil bernyanyi kecil. Telinganya penuh dengan suara merdu Eva Celia melantunkan Reason. Tangannya sesekali meninggalkan tugasnya memegang setir motornya. Kadang-kadang menggapai-gapai tak jelas. Rena mungkin mencoba menjiwai lagu yang didengarnya itu.

Selain Senin, hari-hari dalam sepekan adalah teman Rena. Terutama Minggu, sahabat sejatinya. Bagi kebanyakan orang, Senin adalah hari padat sedunia. Rena membenci Senin bukan perkara itu. Padat sedunia terlalu mainstream untuk Rena yang eksentrik itu. Hari setelah Minggu itu selalu saja memberi kesan buruk, bahkan sebelum Rena menamatkannya. Sedari dulu Rena tidak menyukai Senin karena ada upacara di dalamnya. Yah, Rena tak jatuh cinta atau menyinta terhadap kegiatan baris rapi yang khusuk itu.

Ni perempuan kok tak suka upacara sih? Tanya teman kantornya, Nadya.
Upacara itu implementasi kedisplinan, Ren. Kau akan menemukan indahnya keteraturan dan kerapian dalam barisan. Lagi pula, ada banyak petuah kehidupan yang bisa kau dapatkan saat pembina upacara menyampaikan orasinya, papar teman kantor Rena yang beda bidang itu, Rizal.

Tetapi basah adalah basah. Benar itu benar. Rena juga tetaplah Rena. Dia adalah perempuan yang tak mampu atau belum bisa melabuhkan hatinya kepada si tampan "upacara".

Selain dari kegiatan berbaris rapi, kedisplinan, dan petuah. Apa sebenarnya yang bisa diperoleh para peserta upacara? Tanya Rena suatu saat pada teman-temannya. Kedisplinan juga bisa dipupuk dibanyak kondisi. Kerapian juga bisa diasah dibanyak ranah. Petuah pun sebenarnya bisa dipetik dalam segala aspek dan kejadian. Bangun pagi hanya untuk berdiri kaku selama beberapa menit bukanlah pilihan saya. Saya lebih memilih pagi yang mengasah sensor motorik saya. Mempertajam kreativitas saya. Atau mungkin, perkara baris-berbaris yang dinilai sebagai sila untuk melahirkan generasi mumpuni perlu dirubah. Jangan di lapangan. Jangan terlalu kaku. Sisipkanlah permainan mengasah kekompakan, sebab persatuan lebih mudah ditemukan saat engkau menguji sebuah tim di medan ketimbang pada class theory. Begitulah tutur Rena begitu keras kepala.

Bagi Rena yang kinestetik, berdiam diri dalam waktu yang lama menjadi sesuatu yang tidak disukainya. Dia wajib dijelaskan mengapa mesti diam-berdiri-duduk dalam tenang-rapi. Bahkan ketika mengikuti rapat penting sekalipun, kaki atau jemari Rena tak pernah berhenti goyang. Kadang teman semeja rapatnya menemukannya sedang menggambar tak jelas di kertas catatannya. Sesekali juga Rena mengajak teman rapatnya untuk membahas sesuatu, lebih tepatnya menganggu konsentrasi orang lain, sekaligus mengurasi kebekuan yang dialami Rena. Atau jika bosannya sudah mencapai ubun-ubun, jangan salahkan Rena jika diam-diam dia akan mendengarkan lagu di earphone-nya, sembari mengetuk-ngetuk jemarinya sesuai irama lagu. Maka wajarlah, jika Rena tak mau ambil bagian dari acara baris-berbaris itu.

Rena sedikit mengencangkan laju motornya. Kurang satu kilometer lagi, dia memasuki tempat kerjanya. Hanya saja, Rena menemukan pemandangan yang cukup mengkhawatirkan.

Bukankah hari ini Selasa? Lantas mengapa para pegawai negri sipil di kantor mengenakan baju Korpri? Baju itu hanya dikenakan saat upacara tentunya, ujarnya dalam hati.

Masih dengan bertanya-tanya, Rena tetap memacu motornya untuk sampai sesegera mungkin. Rena berniat akan langsung mengunjungi kantin kantornya setibanya. Sebab sejak semalam Rena tidak membiarkan sesendok nasi melewati tenggorokannya. Rena didera lapar yang terlalu dini. Dia mengutuk dirinya sejadi-jadinya.

Diharapkan untuk segera menuju lapangan, sebab upacara akan segera dimulai. Ujar seseorang yang tak Rena kenali suara dan tampangnya itu.

Perlu sepersekian detik bagi Rena untuk menalar maksud dari suara itu. Laparnya perlahan memudar. Rena menajamkan semua panca inderanya. Ini bukan ilusi.

Great. Selasa dan upacara? Ketusnya.
Ayo-ayo upacara, ajak teman kerjanya, pak Indra.

Rena mencoba menjamah isi otaknya. Ada yang salah dengan Selasa-nya kali ini. Setelah beberapa alasan gugur. Akhirnya Rena mengalah.

Oh damn, hari ini tanggal tujuh belas dan itu berarti hari apapun itu. Upacara takkan bisa dihindari.

Rena penul kesal dan sesal. Tak seperti Selasa yang direncanakan selama perjalanan rumah kantornya. Sejak pukul enam pagi, Rena mengalir dengan sendirinya, tanpa prasangka apapun terhadap pagi, juga kepada Selasa. Sayangnya, Rena dikhianati. Dia terjebak pada hari yang begitu dipercayanya. Rena menyalahkan dirinya yang tak memerhatikan kalender di meja pagi tadi.

Sudahlah Ren. Kamu sudah ditakdirkan terjebak upacara hari ini, ejek teman kerjanya sembari menarik lengan Rena menuju lapangan.
*

You Might Also Like

0 komentar