Pagi Rena


"Apa susahnya bangun pagi, Ren?" ujar teman kantornya, Vesti
"Susaaaaahhhh ajaaaaa," balas Rena.
“Nggak takut apa rejekinya diambil ayam?” tanya Vesti.
“Tidak,” jawab Rena.
“Idiihh, ni anak paling kagak bisa dikasih tahu deh. Bangun pagi itu kudu, neng. Memangnya kamu tidak perlu menyiapkan sarapan atau beraktivitas apalah gitu di pagi hari?" timpal Vesti.
“Kagak,” responnya, sejurus kemudian mengeluarkan senyumnya yang paling lebar. Semakin lebar, semakin merekahlah emosi Vesti.
“Arrgghhhh,” Vesti tak sanggup mendebati pagi Rena.

Bagi Rena, pertanyaan tentang pagi dan sejenisnya hanya dapat dipahaminya sendiri. Atau mungkin hanya akan dimengerti oleh orang-orang yang berspesis sepertinya. Jenis manusia yang secara kuantitas, mereka lebih sedikit dari jumlah tanggal merah dalam setahun. Langka, sedikit lagi hampir punah. Untungnya Rena dan golongannya tak mendapat perhatian lebih dari pemerintah setempat, kalau tidak, mereka sejak lama disuaka, dikarantina, dan dikembangbiakkan demi kebutuhan pengetahuan. Demi sejarah kemanusiaan.

"Anak gadis tidak baik lho tidak bangun pagi. Pamali," celetuk teman lelakinya.

Yang diketusi malah cengar-cengir saja.

Rena. Selain tak begitu suka upacara. Perempuan yang satu ini tak bakalan terpengaruh sesenti pun saat harga emas anjlok tetapi laris beli atau sedang memuncak dan laris jual. Tak seperti kaum hawa lainnya memang, tak anggun dan selalu tampak dekil. Pun Rena tipikal gadis yang tak begitu menyukai kesibukan ekstra di pagi hari. Baginya, pagi adalah masa yang perlu dimanfaatkan semaksimal mungkin. Dia tampak selalu begitu dramatis memaknai pagi. Dirinya selalu merasa wajib mejilati pagi hari dengan pelan tetapi dalam. Menghirup sari pati pagi melalui rongga hidungnya dengan napas panjang. Terlalu banyak aroma di kala pagi. Secangkir kopi yang berisi ruh kehidupan. Bau bantal bekas liur atau keringat karena kamarnya tanpa air conditioner. Wangi bunga dan tanah yang berhembus dari jendela kamarnya, lembaran-lembaran pada beberapa buku yang tersusun tepat di samping bantalnya. Atau aroma kayu tua dari lemari yang berjejer rapi, mati, dan walau bukan jati di kamarnya. Semuanya adalah kemewahan dan keberkahan. Candu dan surga.

Dalam paginya itu. Rena tak henti memandanginya lama tanpa berkedip, sambil berharap mentari semalaman sukar tidur dan selanjutnya teledor akan tugas menyinari bumi. Insomnia dan amnesia. Harapan yang sungguh takkan mungkin terjadi. Nihil. Rena betul-betul pelamun yang handal kalau begitu. Sebab, mentari dan planet-planet lainnya memiliki komitmen dan disiplin yang tinggi. Meski benda-benda angkasa itu tak punya jadwal mengikuti upacara atau apel pagi, tetapi mereka tetap akan bangun dan bertugas sesuai dengan job description-nya masing-masing. Makhluk di bumi mengenalnya dengan sebutan rotasi.

Dan tentang Rena. Tak ada yang bisa diharapkan selain menunggunya selesai mengumpulkan mood, ruh, dan dirinya dari bekas serakan semalam. Menanti pecahannya utuh tentu memakan waktu yang tak sedikit. Hanya saja, Rena begitu ringkas dan cepat kala mandi lalu menggunakan body lotion kemudian mengenakan pakaian dan mengaplikasikan day cream-nya. Mulai beranjak dari kasur hingga meninggalkan rumah, Rena hanya menghabiskan 1800 detik. Itu hanya nol koma nol persen dari satu tahun cahaya.

*

Sudahkah Kau Memeluk Dirimu Hari Ini?
Sudahkah kau memeluk dirimu hari ini? Seperti baris pertama dari puisi berjudul Pelukan karya Aan mansyur. Kelak kemudian "Sudahkah kau memeluk dirimu hari ini" menjadi sebuah judul buku yang berisi 128 judul puisi yang terbagi dalam 4 bab. Yang bagi Rena, kalimat ini adalah kalimat tak biasa. Juga tak sederhana. Bukan persoalan peluk, memeluk, dipeluk, atau pelukan. Bukan. Meski Rena belum khatam dari semua itu. Rena punya kisah sendiri tentangnya.
*

"Sudahkah kamu, Rena, memeluk dirimu hari ini?", ujar seseorang padanya suatu hari. Orang itu adalah sahabat, her beloved partner in crime, tempat melampiaskan rasa dan asanya yang juga adalah perempuan yang melahirkannya.
"Saya sudah cukup dipeluk mama saja," timpanya.
"Tetapi kamu mesti dan wajib tetap memeluk dirimu sendiri, nak. Setiap hari, tiap pagi," balasnya.
"Kenapa Ma?", Rena pasti tahu. Ini adalah sesi penuh penyataan dan pertanyaan. Sebuah malam yang hampir selalu dilaluinya dalam diskusi yang alot tetapi menyenangkan sejak bapaknya meninggal.
"Sebab, memeluk diri sendiri itu mengutuhkanmu, nak. Pun membuatmu lebih mengenal dirimu, sel demi sel, memenuhi hidupmu. Memeluk dirimu di pagi hari bisa diartikan sebagai sebuah gerakan introspeksi diri, sekaligus fase untuk menyiapkan diri menghadapi seburuk apapun harimu. Memeluk diri bertujuan untuk menyerap energi positif, menyatukanmu dengan semesta. Juga menguatkanmu saat pelukan dariku sudah tak bisa mengisi harimu nanti," jelasnya sambil memandang menjauhi wajah Rena.

Lalu, malam akan terlalui dengan Rena yang marah. Wacana kepergian, kedukaan, dan kematian adalah perkara yang paling tak ingin didengarnya dari mulut perempuannya itu.

"Tapi mama tidak akan pernah selamanya berada di sampingmu, nak. Mama kelak akan kembali bersama bapakmu, menujuNya, tetapi kami akan selalu menatapmu dan tetap mengasihimu," jelas mamanya acapkali menemukan anak gadisnya itu manyun atau kesal mendengarkannya berujar pergi.

Hanya saja, Rena masih saja belum mampu memeluk dirinya. Bahkan ketika mama dengan lapangnya pergi meninggalkannya menuju bapaknya.

"Memeluk diri sendiri itu tak mudah Ma," gerutu Rena suatu kali ketika mengunjungi makam mamanya.
"Memeluk diri hanya akan membuat saya semakin sadar, tak ada yang lebih hangat, nyaman, dan damai dari pelukan mama," lanjutnya.

Dan perkara memeluk diri adalah alasan utama mengapa Rena selalu berlama-lama menyambut pagi.
"Sebab pelukan dan pagi adalah mama," ujar Rena.
 *

You Might Also Like

0 komentar