Menengok Atheis dan Si Marxis

Atheis, Sebuah Karya yang Layak Baca
Sumber Gambar : earthindah.blogspot.com
Apa kabar mbak/mas? Sudahkan mbak/mas menikmati sebuah buku di pekan atau purnama kali ini? Terserah mbak/mas-lah. Mau ngunyah buku berbau sastra untuk mengasah empati. Atau bahkan sampai yang mengernyitkan kening demi mempertajam logika. 

Silahkan. Sebab, membaca itu baik. Membaca itu pertanda mbak/mas memberi kegiatan ke otak. Upaya menolak lupa. Melawan usia dalam kepikunan kelak. Bahkan cerpenis Jorges Luis Borges menyatakan,"Membaca merupakan aktivitas yang lebih intelek daripada menulis." 

Membaca juga menunjukkan betapa produktifnya mbak/mas dalam memaksimalkan waktu. Sebab melowongkan waktu guna membaca kadang bukan perkara mudah. Apalagi jika tumpukan film seri sudah pada mewek minta segera dituntaskan. Belum lagi padatnya jadwal meet up cakep/cantik. Tak datang berarti mbak/mas memandang enteng ajakan silaturrahim. 

Mau ikut nongky, eh kerjaan di meja kerja masih numpuk. List to do baru beberapa yang done. Sebuah sepatu kesayangan yang tiba-tiba rusak akibat ulah tikus yang tak bertanggung jawab. Kamar berantakan. 

Dua ribu lima belas dah hampir menuju tangga ke dua belas tapi masih doyan punya teman kencan imajiner. Motor kotor belum dicuci. Isi kulkas kritis. Air di galon juga tak ada. Eh bukannya ini terdeksi curhat colongan yah? Kembali ke asal. Saya sudah lho membacanya. Kali ini menamatkan novel berjudul Atheis.

Bukannya mau mengupas atau membedah karya Achdiat Karta Mihardja ini. Itu terlalu berat mbak/mas. Sungguh, saya tak sanggup. Ujung-ujungnya nanti malah mereduksi, fatalnya sih mendistorsi apa yang mau disampaikan Achdiat. 

Melainkan, karena buku ini terlalu keren dan bagus untuk hanya dipelototin sambil ngerlingin mata sebelah. Maka, jangan salahkan saya hingga jadilah tulisan ini. Novel ini setidaknya mengajari pembacanya banyak hal. 

Bahkan dalam testimoni yang diberikan oleh salah seorang dosen Sastra FIB UI yang juga seorang kritikus sastra, Maman S. Mahayana dengan mendetail memaparkan kepiawaian Achdiat dalam meramu karyanya. Bagi Maman, “... Wajarlah sampai sekarang novel ini masih terus diulas dan dibicarakan.”

Siapa yang atheis?
Lahir sebagai roman yang cukup nyentrik di jamannya. Atheis tampil dengan alur hidup seorang Hasan, muslim taat yang dikisahkan berteman dengan Rusli yang seorang Marxis-Lenin. Hasan awal mulanya justru ingin menyadarkan Rusli kembali ke “jalan” yang benar. 

Kenyataannya menemukan hal yang sebaliknya. Yang ada, justru keimanan Hasan dipertanyakan dan dipertaruhkan. Di sinilah awal mula pergolakan batin Hasan.

Proses pencarian. Pencarian keyakinan. Sebuah perjalanan yang disertai pula dengan pencarian jati diri tentang diri, lingkungannya, dan hidupnya. Selayaknya proses pencarian, terkadang kesasar, salah arah, parahnya tersesat datang tanpa bisa dicegah. Tetapi hebatnya, pencarian meniscayakan adanya kebaruan. Pengetahuan. Tragedi. Pengalaman spiritual. Pemahaman. Kebijaksanaan. Kemanusiaan.

Inilah yang kemudian menjadi bahan baku novel yang dikerja sejak Mei 1948 sampai Februari 1949 ini. Novel ini lahir ketika Achdiat melarikan diri ke Jawa Barat dan bergabung dengan Partai Sosialis Indonesia. Apalagi di masa itu pahaman tentang Marxis-Lenin sudah menjadi ideologi yang paling umum. 

Lagi, berdasarkan data dari Wikipedia, di tahun 1945 Achdiat sudah mulai bergabung dengan kelompok sastranya Chairil Anwar. Maka dengan latar belakang sebagai seorang jurnalis. Sungguh menjadi wajar jika Achdiat menulis sebuah roman yang tak biasa.

Berkisah tentang pergolakan paling mendasar pada diri seorang manusia. Achdiat mengalirkan kisah dengan begitu unik. Sebab roman ini menggunakan alur yang tak linier. Plot novel ini dimulai dengan tokoh Hasan yang dikisahkan wafat. 

Kemudian lanjut ke bab yang memaparkan Hasan secara utuh. Si Hasan kecil, lalu (kembali) bertemu Rusli, jatuh cinta dengan Kartini, lantas bercerai. Terakhir dengan mengisahkan Hasan yang dituturkan oleh narator.

Pergolakan demi pergolakan dapat ditemui pada novel terbitan Balai Pustaka ini. Dalam banyak bukti, kisah yang dituturkan pada novel ini memertanyakan begitu banyak hal. Terutama bagi tokoh yang bernama Rusli. 

Rusli begitu gamblang mempertanyakan segala bentuk keyakinan, kepercayaan, tarekat, mazhab, sekte, dan aliran agama. Penyataan Rusli dapat ditemukan pada lembar ke 72 dalam buku ini, "... Saudara belum pernah juga memikirkan, kenapa misalnya negara-negara yang beragama Kristen pada zaman sekarang lebih maju daripada negara-negara atau bangsa-bangsa yang memeluk agama-agama Islam? Kenapa dulu Islam maju, sekarang tidak? Kenapa agama-agama itu timbul di Asia? Kenapa di dunia ini ada bermacam-macam agama? Kenapa tidak cukup satu agama saja? Padahal tiap agama mengakukan dirinya untuk segenap manusia? ...."

Begitu pun tentang perilaku dari para penganutnya. Terutama mengenai respon seseorang atau kaum dengan keyakinan tertentu memandang orang yang berbeda pemahamannya. Rusli juga menggugatnya. Seperti yang tertulis pada halaman 74, "Dalam kefanatikan demikian, kau tidak lepas dari perbuatan atau sikap dan anggapan-anggapan yang tidak adil terhadap sesama makhluk. Padahal engkau menepuk-nepuk dada seolah-olah engkau manusia utama dan orang lain yang tidak sependirian dengan engkau adalah murtad dan kafir."

Keseruan dari novel ini semakin bertambah di bagian akhirnya. Pada plot ini, sang narator mengisahkan Hasan yang menemukan semakin banyak pertanyaan. Beberapa penyesalan dan kekecewaan. Penyesalan tentang perseteruannya dengan ayah dan ibunya. 

Kekecewaan terhadap perilaku Rusli dan Anwar. Teman sekeyakinannya itu. Teman sekaligus pembina spiritualnya. Hasan begitu banyak yang dituturkannya kepada narator itu. Tulisan dan pengakuan Hasan sungguh jujur.

Bagi si narator, Hasan datang dengan kebimbangan yang luar biasa. Tentang surga dan neraka yang dulu dipercayanya, kemudian dilupakannya, lalu dipertanyakan eksistensinya lagi. Pun juga tentang psikoanalisisnya Frued. Mengenai tingkatan-tingkatan sadar-bawah dan sadar-atasnya. Sebuah wacana baru yang dibahas Hasan bersama narator. Bahasan terakhir sebelum Hasan akhirnya wafat.

Belajar dari Rusli, si Marxis.
Mbak/mas dan tentunya saya sendiri adalah pengguna jejaring sosial sejati. Tentu saja, yah minimal dalam sekali sehari sebuah media sosial dikunjungi-pelototi. Dalam keseharian kita ini. Pasti tahu bagaimana penuhnya beranda dengan share berita atau artikel. Mulai dari aksi menyesatkan atau mengafirkan yang dilakukan golongan satu terhadap golongan yang lain. 

Penyebarannya begitu masif. Sayangnya, bahkan penolakan terhadap ketidaksamaan ini tak hanya berlangsung di jejaring sosial saja. Mbak/mas pasti masih ingat tentang nasib para penganut Ahmadiyah yang mesjidnya dibakar. Orang-orangnya tidak diizinkan beribadah pada tuhannya. Itu karena mereka dicap sesat. 

Contoh lainnya adalah para pengungsi di Sampang. Dilarang beribadah. Dilarang kembali ke kampung halamannya. Dilarang menganut kepercayaannya. Lagi-lagi karena dicap sesat. Atau mungkin golongan An-nadzir yang bertempat di Mawang, Gowa. Mereka mungkin tak memperoleh tindakan kekerasan. 

Tetapi pilihan untuk hidup secara berkelompok, hingga membentuk sebuah perkampungan bukankah sebuah indikasi. Ini merupakan bukti bahwa orang-orang masih belum bisa menerima keberadaan mereka. Para penganut agama masih ada yang doyan nepuk-nepuk dada sambil ucapkan mantra kafir, murtad, sesat, atau bukan islam.

Mungkin pula beranda media sosial kita beberapa hari ini dipenuhi dengan kecamanan terhadap salah seorang dai asal kota Makassar. Ustadz tersebut diminta bertobat oleh beberapa kelompok keagamaan. Dicap gadungan pula. Alasannya bahwa sang ustadz sudah tak lagi merujuk pada kitab suci Al-Qur’an. Pasalnya, ustadz tersebut pada suatu hari dalam acara binaannya yang muncul di setiap pagi itu. Berujar tentang tak ada kaitannya keimanan seseorang dalam hal kemimpinan.

Dai ini tak mempermasalahkan keyakinan yang dimiliki seorang pemimpin. Tidak apa-apa, jika pemimpin itu bukan seorang muslim. Sontak saja, argumentasi ini pecah dan menjadi buah bibir. Bagaimana bisa seorang dengan level dai berujar begitu? Lalu muncullah berita dan artikel tentang pro kontra kasus ini. 

Mbak/mas, lagi-lagi kita diperhadapkan pada bagaimana selayaknya kita berperilaku. Bagaimana kita mestinya lebih bijak memaknai perbedaan. Dan lagi-lagi bagaimana orang lain seketika langsung dianggap tidak benar. Salah. Diminta untuk kembali ke jalan yang “sama” dengan jalan dikecam dan dihujat.

Jika dikaitkan dengan realitas sekarang ini (di atas). Agaknya kita membutuhkan sosok Rusli ini. Yakin kita membutuhkan seorang Marxis-Lenin itu? Nanti kita sekuler lalu menjadi atheis. Lagi pula bagi Rusli agama itu candu, bukan? Tapi, iya. Kita butuh Rusli. Butuh Rusli bagian mana? Setidaknya kita membutuhkan Rusli melalui kritikannya tentang perilaku seorang pemeluk agama. 

Bukankah Rusli tidak suka kepada seseorang yang baginya, agamanya saja benar. Mbak/mas sudah tentu pernah dengar guyonan bahwa perkara benar sesat, akhirnya membuat golongan tertentu sudah memiliki lahan tetap di surga kelak. Bagaimana tidak, kalau orang lain sesat langsung neraka. Kalau segolongan, maka merekalah ahli nirwana.

Sekiranya di titik itu, Rusli mengajarkan mbak/mas untuk lebih melihat diri sendiri. Lebih bijak. Lebih mampu mengontrol diri. Yah, ketimbang sibuk mendata para penghuni neraka. Hujat sana sini. Umpat kiri-kanan. Menebar hasutan. Upaya memeluk atau merangkul semua keyakinan/aliran/mazhab/sekte adalah pilihan yang tepat. Sikap kritisnya ini harusnya menyentil kita.

Setidaknya sikap kritis Rusli ini senada dengan pernyataan Sayyidina Ali bin Abi Thalib. Sebagai seorang pemimpin, beliau juga mengajurkan kita agar sibuk mengurus surga kita sendiri, ketimbang repot-repot mengurus neraka orang lain!!

Lantas. Yah, tulisan ini sampai di sini sajalah. Selamat berakhir pekan. Jangan lupa membaca. Jika kelak menemukan roman ini di sebuah toko buku atau perpustakaan. Jangan ragu-ragu untuk memboyongnya pulang. Lalu bacalah. 

Jangan lupa dampingi kegiatan membaca mbak/mas dengan secangkir minuman hangat. Saya tentu lebih memilih kopi hitam. Jangan lupa menikmati ke-dua ratus lima puluh lembar tulisannya dengan lantunan musik yang mbak/mas senangi. Terakhir, jangan lupa bahagia!!


***
Judul buku: Atheis
Penulis : Achdiat Karta Mihardja
Penerbit :  Balai Pustaka
Cetakan : Ketiga puluh tiga, 2009
Tebal : 232 halaman 

You Might Also Like

0 komentar