Makanan, Manusia, dan Restoran

Aruna dan Lidahnya, Sebuah Perjalanan yang Melibatkan Makanan dalam Kehidupan
Sumber gambar : kimfricung.blogspot.com

Siapa yang tak mengenal Laskmi Pamuntjak. Perempuan keturunan Minang inilah yang melahirkan sebuah novel sejarah yang mendapat banyak perhatian negara, Amba. Jauh memang, sangat berbeda dengan Amba, kemudian di tahun 2014.

askmi kembali menelurkan karyanya, kali ini berjudul Aruna dan Lidahnya. Novel ini secara umum membahas tentang kisah perjalanan Aruna, kait mengait dengan flu burung, wisata kuliner, beberapa irisan percintaan, dan sisipan unsur politik.

Sungguh, jika mbak atau mas yang sebelumnya telah mengunyah Amba dari A hingga Z, luar dalam, lalu kemudian diminta mencicipi Aruna dan Lidahnya. Maka dapat dipastikan mbak atau mas akan merasakan sesuatu yang berbeda di lidah mbak atau mas. Sebagian besar bukan karena lidah mbak atau mas sedang tidak berfungsi optimal.

Melainkan, sensasi yang diberikan Amba mungkin terlalu penuh rasa, hingga membuat Aruna dan Lidahnya menjadi makanan biasa, sangat standar, bahkan hambar. Kemudian mbak atau mas akan kecewa terhadap pilihan santapan yang barusan mbak atau mas telan. Lain halnya dengan mbak atau mas yang senasib dengan saya.

Yakni orang yang terlebih dahulu mencoba Aruna dan Lidahnya, lalu kemudian sedikit demi sedikit mengkonsumsi karya-karya Laskmi yang lain. Maka bisa dipastikan, juga akan menemukan pengalaman penuh rasa di lidah. Mungkin akan semakin jatuh cinta terhadap Laskmi yang nyatanya selain seorang penulis, juga koki, atau bahkan bereaksi biasa-biasa saja. Itu wajar, sebab setiap lidah punya penilainnya masing-masing.

Lahir dengan tebal 427 halaman, Aruna dan Lidahnya memulai kisahnya dengan si Aruna Rai, tokoh utama yang kemudian lebih dikenal dengan sapaan Aruna, Run, atau Runi. Aruna diminta untuk melakukan perjalanan dinasnya terkait dengan wabah flu burung.

Tetapi, kerja sambil jalan-jalan atau jalan-jalan sambil kerja yang kian tahun semakin marak dilakoni, juga melanda Aruna. Kerja sambil jalan-jalannya itu hanya punya satu misi suci, menikmati semua masakanan lokal asli daaerah yang dikunjunginya. Dalam mengemban misinya itu, Aruna mengajak dua sahabat sejatinya, Bono, si chef dengan lidah tiada duanya dan otak cerdas tentang dapur, serta Nadezhda, penulis perempuan cantik dengan latar belakang yang sangat mendukung.

Ketiganya, bersama dengan seorang lelaki bernama Farish Chaniago, salah satu kolega Aruna. Resminya, Aruna dan Farish diminta untuk melakukan penelitian kembali tentang flu unggas termasuk tentang peningkatan kesadaran publik dalam menyikapi adanya flu burung yang terfokus pada upaya pencegahan. Juga dengan Standar Pelayanan Minimal dari Sistem Kesehatan Terpadu dalam upaya memerangi flu burung, jika memang terindikasi.

Akan tetapi, sesuai dengan judulnya. Sebelum membacanya, yakinkanlah lidah mbak atau mas, bahwa kelak tak hanya satu rempah yang akan dijumpai pada novel yang dilahirkan perempuan kelahiran Jakarta, 24 Desember 1971 ini.

Tak hanya melulu tentang flu unggas atau konflik pemerintah dengan LSM misalnya. Pun tak semata-mata soal kisah cinta Aruna yang kelak berhasil dimiliki Farish. Meski, novel ini sebenarnya lebih fokus pada bagaimana Aruna, Bono, dan Nadezhda mengikuti keinginan terdalam mereka dalam mengarungi kenikmatan makanan-makanan tradisional di negeri ini. Terutama bagi Bono, si chef itu. Jelaslah ini perjalanan yang ditunggu dan wajib dituntaskan. Begitupun dengan si cantik, Nadezhda. Sebagai seorang penulis yang berkaitan dengan kuliner.

Maka acara makan tentu perkara wajib. Tetapi, ketiga kawanan ini bukan makan asal kenyang saja. Mbak atau mas sudah tentu akan menemukan beberapa informasi tentang keberagaman makanan yang ada pada daerah kunjungan Aruna. Entah itu botok pakis, sate lalat, rujak soto, “mi ayam”, atau kari bihun. Tentu saja bagi para backpacker atau pecinta makanan, data seperti itu sunguh-sungguh sangat membantu. Betul bukan mbak atau mas?

You are What You Eat
Tentang tiga sekawan tukang makan ini, perkara makan bukanlah sebatas masuk mulut, kunyah, lalu tergelincir dari tenggorokan menuju lambung. Dalam ritual makan dan debatnya, mereka kadang menyisipkan beberapa emosi dan pikiran. Seperti yang diungkapkan Nadezhda pada halaman 85, “Tapi itu juga masalahnya, Run. Foodism pada akhirnya masalah kelas. Meskipun Brilllat-Savarin adalah dewa gue, gue nggak pernah terlalu setuju sama kata mutiara, ‘You are what you eat.’ Bayangin kalau gue bisa masuk dan memahami otak Bono yang ruwet itu hanya dari menelaah makan paginya. Tapi ketika orang melihat daftar restoran-restoran yang telah gue kunjungi di alam semesta ini, mereka tahu bahwa gue punya duit. Dan bahwa gue seorang snob, karena menolak makan curly fries di sebuah fast food joints tapi bersedia makan truffled fries di restoran kelas atas.”

Bagi Nadezhda, perihal makanan-santapan tidak begitu dengan jelas akan menentukan strata sosial seseorang. Memilih menikmati menu nasi goreng di restoran mewah tertentu atau nasi goreng di emperan tidaklah serta-merta menjebloskan seseorang dari kelas tinggi ke rendah atau memompanya naik kelas.

Makan adalah persoalan lidah, lalu lidah itu yah tentang selera. Tentu selera setiap orang berbeda-beda. Inilah yang berupaya Nadezdha sampaikan. Saya, mbak atau mas bisa saja sepakat dengan Nadezdha, bisa juga tak setuju.

Tetapi, seandainya saja you are what you eat atau ekstrimnya, lidahmu stratamu lebih dilekatkan pada kondisi kesehatan seseorang, tentu saya, mbak atau mas pastilah angguk-angguk saja. Ini harga mati. Jelaslah.

Kalau santapannya memperhitungkan nilai gizinya, sudah tentu tubuh sehat menjadi akibat. Selain efek awet muda, terhindar penyakit ini-itu, sampe pada level penurunan berat badan. Daaaaaan, pastilah ini semua diimbangi dengan olahraga teratur, menghindari stres, dan tidur cukup. Resep standar semua dokter-ahli gizi-pakar kesehatan.

Kritikan lain yang disampaikan Nadezdha tertuang pada halaman 82-83, “Ya lihat aja sekeliling lu, Run. Berapa banyak program kuliner yang membanjiri televisi dan media cetak saat ini? Berapa banyak blog amatir yang membicaarakan makanan dan restoran, berapa banyak foto makanan yang dipasang di Facebook dan Instagram sebagai bukti bahwa pemakannya punya kehidupan yang menarik.”

Perlu mbak atau mas ketahui, bagi Nadezdha, ritual foto-foto sebelum makan yang kadang menyingkirkan aksi berdoa sebelum menyantapnya, lalu menerbitkan di media sosial merupakan sesuatu yang menjengkelkan. Baginya, jadinya orang-orang tersebut secara langsung sebenarnya ingin menunjukkan betapa menariknya kehidupan mereka (dalam hal ini kegiatan mengisi perut).

Entah untuk menujukkan seberapa hebat tempat yang dikunjunginya saat menikmati sajian tertentu, tentang orang yang menemani atau ditemaninya, atau bisa saja tentang acara atau kegiatan apa yang mereka hadiri, lebih-lebih pada menu makanan yang mungkin tak biasa, tak murah, tak ada duanya, tak dapat dinikmati di tempat lain, dan tak-tak lainnya. Nadezdha sungguh mengutuknya. Urusan gizi adalah pokok utama dari semua alasan menikmati sebuah sajian, itulah Nadezdha.

Sayangnya, sebagaimana kita ketahui, mbak atau mas juga mahfum, bahwasanya adegan take a picture sebelum makan itu bisa saja bermakna tentang pemaknaan seseorang erat kaitannya dengan momen yang dianggapnya tak biasa (entah harinya, tempatnya, orangnya), atau ladang promosi produk tertentu, bisa pula sebagai ajakan tak langsung agar yang melihat gambar membuat janji temu dan voila, silaturrahim kembali terjalin dan erat. Bukan begitu mbak atau mas?

Tetapi, seandainya ada ruang untuk bertutur dan bertukar isi kepala dengan Nadezdha, saya ingin menyampaikan bahwa, “Ada sesuatu yang perlu kamu ketahui Nadz, sesungguhnya maraknya dan ramainya acara kuliner-kuliner itu, entah yang muncul pada program di televisi atau pun beberapa tutorial di web dan beberapa postingan di media sosial. Kegiatan berkisar masak, icip, lomba-lombaan, sampai pada review sana-sini justru menjadi gerbang informasi dan pengalaman. Zaman toh sudah berubah, dahulu resep hanya dapat diperoleh dari tabloid langganan atau adanya demo masak sembali jual produk perlengkapan masak. Kemudian masak, icip, dan meliputnya kini menjadi tren baru. Kekinian sebutannya. Orang-orang menjadi hobi dan bangga untuk memasak makanannya sendiri, itu baik bukan? Keakraban di meja makan, cengkrama di pasar tradisional atau supermarket terjalin, manusia lebih produktif dan memaksimal menggunakan waktunya dengan hal positif. Orang-orang juga doyan memperkaya perpustakaan rasanya melalui beraneka ragam jajanan, lagi-lagi entah itu pasar tradisional atau supermarket, ini tanda yang baik untuk para pedagang kita. Dan sungguh, kegiatan yang kamu kritik itu, Nezd. Sangat amat saya butuhkan. Yah karena orang sespesies saya ini baik lisan, tertulis bahkan praktiknya memiliki kemampuan memasak dan mengicip di bawah rata manusia lain. Kehadiran acara dalam berbagai bentuk itu semacam semangat dan sebuah pencerahan tentunya.”

Manusia dalam Restoran
Lagi-lagi tentang makan. Setelah kritikan tentang adanya pergeseran nilai, dari yang dulunya berdoa lalu makan. Kini ada ekstra sesi pemotretan dan update status dahulu, baru (jika tak dilupa) berdoa dan let’s eat. Dimana berdo’a itu adalah wujud penuh kesyukuran untuk segala berkah yang terkandung pada setiap makanan yang akan disantap, kesyukuran tentang rejeki atau kesempatan karena masih bisa menikmati makanan yang hangat dan enak bersama keluarga di meja makan, kesyukuran bahwa mereka tak perlu menjatah makanan di depannya, pokoknya tinggal santap dengan lahap.

Do’a juga dimaknai sebagai sebuah tanda bahwa ciptaan masih juga mengingat penciptanya. Mengakui segala kekuasaan tuhannya. Nilai-nilai ketauhidan yang terasah. Tetapi do’a juga berkisah tentang orang-orang yang sudah atau belum bisa menemani saya, mbak atau mas makan di waktu itu. Kontan saja, saya, mbak atau mas dalam hitungan milisekon akan memanjatkan segala hal-hal baik demi orang-orang itu bukan?

Lantas, apa lagi maunya makan dan makanan? Selanjutnya, kasus yang ditemukan berkaitan dengan restoran dan manusia. Mbak atau mas yang sering atau selalu ke restoran atau hotel mewah kadang akan menemukan sebuah realitas. Apa itu? Coba perhatikan dengan seksama, apa masih ada pengunjung atau pelanggan yang menyisakan makanan mereka (saat mengunjungi restoran atau hotel kece)? Jika iya, apa alasannya masih sama?

Banyak orang yang saya temui (ketika menyisakan makanannya atau tidak menyantap habis makanannya) beragumentasi bahwa tindakan mereka itu dikategorikan sebagai laku dari strata sosial yang lebih tinggi. Sungguh mbak atau mas, ternyata dunia makan-makanan-menyantap tak murni hanya tentang nafsu atau keinginan untuk mengenyangkan perut atau mata sahaja.

Lagi-lagi kelas sosial dibawa-bawa. Tak menuntaskan prosesi makannya dinilai sebagai sebuah langka tepat untuk menunjukkan betapa berharga dirinya. Sebab, hanya orang kelaparan atau tingkat lapar yang dalam atau yang tak memiliki laku kelas sosial tinggi saja yang akan melahap habis apapun yang ada di piring/mangkuknya.

Kegiatan ini disamakan dengan diperlakukannya kontrol diri yang tinggi, sebuah simbol dari kemewahan atau terdidiknya seseorang. Itulah mbak atau mas, jika makanan kita ludes des, maka kita (meski tak semua orang) akan dicap sebagai seorang insan yang rakus, tak punya kendali pada diri dan nafsu, berpendidikan rendah, dan biasa-biasa saja.

Bahkan, aktraksi makan tak habis ini disebut-sebut sebagai tradisi orang luar negri. Tapi entahlah negri yang mana? Jepang? Tunggu dulu, masyarakat Jepang malah begitu sangat menghargai makanan mereka. Bagi mereka (yang memiliki keyakinan tertentu) menempatkan makanan sebagai sebuah anugerah dewa. Sebutir nasi dinilai dijaga oleh beberapa dewa dan diberkahi.

Awalnya saya tak percaya, tetapi ketika menemukan teman kantor yang berasal dari Jepang. Saya sumpah deh langsung percaya. Bagaimana tidak, acap kali kami makan bersama, piringnya selalu paling bersih (isinya ludes) di antara kami semua. Padahal dan nyatanya, berdasarkan keyakinan yang kami anut (Islam). Kami pun diajarkan dan dianjurkan untuk menikmati semua makanan yang ada dalam piring/mangkuk kami.

Tapi rupanya, teman saya ini lebih taat dalam mengimplementasikan penghargaannya terhadap makanan ketimbang saya yang tak sekali dua kali menyisakan makanan di piring/mangkuk. Malu saya. Jika ingin menyebut negara di Timur Tengah susah juga. Mbak atau mas tahu sendiri bahwa agama Islam lahir dan besar di negara-negara ini. Maka perkara mubazzir tentu saja menyita perhatian.

Yah kalau begitu kambing hitamkan saja Barat. Bukankah segala perihal atau isu atau apa saja yang dilabeli barat atau diberi merek "luar negri" akan terdengar dan memberi kesan moderen, gaul, gaya pikiran terbuka atau bebas, keren, pun juga sesuai dengan perkembangan jaman? Gimana?



***
Judul : Aruna dan Lidahnya.
Sebuah Novel Tentang Makanan, Perjalanan, dan Konspirasi.
Penulis : Laskmi Pamuntjak
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Cetakan : Pertama, Tahun 2014
Tebal : 427 Halaman

You Might Also Like

0 komentar